
"Bismillahirahmanirrohim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau Agung Putra Aruman bin Alan Aruman, dengan Siska Anggraeni binti almarhum Indrawan. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan, di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Siska Anggraeni binti almarhum Indrawan dengan mas kawinnya tersebut. Tunai!"
"Bagaimana saksi sah?"
"SAH!!"
"Alhamdulillah!!"
Ucap syukur terdengar menggema ke seisi rumah dari semua orang didalam sana. Dengan dilanjutkan lantunan doa dari seorang ustadz yang menjadi saksi disana7.
Acara sakral itu dilaksanakn begitu khidmat, apalagi restu untuk keduanya didapat dari semua orang disana termasuk bu Ratih, ibunya Icha. Ia ikut bahagia kala ada yang bisa menjadi ibu untuk cucu satu-satunya itu.
Senyum bahagia terus terukir dari pasangan manten baru itu. Siska menghadap sang abang, meraih tangannya dan menciumnya takzim. Diikuti sang abang yang mengulurkan tangan kirinya menyentuh kepala sang gadis.
Air dari ujung mata keduanya jatuh begitu saja. Sampai ditahap ini, tentu tak pernah keduanya duga. Butuh banyak waktu dan proses untuk bisa move on dari rasa sakit dan luka dihatinya. Namun kekuatan cinta sang gadis, mampu membangkitkan dirinya dan mampu mengisi kembali kekosongan dihatinya.
Acara tuker cincin dan tanda tangan buku nikah juga dokumen-dokumen, bergiliran dilakukan. Acara foto-foto dan selamat juga mereka lakukan. Satu persatu rangakaian acara terlaksana. Hingga para tamu berlenggang meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal pasangan pengantin itu, kedua orang tua bang Age dan bu Titin saja disana. Dan baby Aska yang semakin menggemaskan dan tampan tentunya. Mereka tengah melakukan makan malam setelah sholat maghrib.
"Dede sekarang jangan panggil Onty lagi ya. Panggilannya harus diganti!" Titah Mamih. "Kamu mau dipanggil apa Sis?" Tanya Mamih pada mantunya itu.
"Emm.. Apa ya bang?" Tanya Siska pada sumainya.
"Terserah kamu aja!" Timpalnya.
"Kalo Mamih. Itu khusus buat kak Icha. Jadi dede panggilnya mom aja ya!" Titah Siska mengusap sayang kepala putra kesayangannya itu.
"Coba de mom!" Titah Siska.
"Timom." Timpal balita gembil itu membuat mereka tergelak.
"Mom aja de, mom!" Titah Mamih.
__ADS_1
"Timom."
Semua geleng-geleng kepala mendengar panggilan baru sang balita. Ternyata panggilan Ti tak dapat dihilangkan dari lidah baby menggemaskan itu. Namun Siska senang dengan panggilan barunya. Ia merasa lebih spesial dari ibu-ibu pada umumnya.
Setelah acara makan selesai. Kini sepasang pengantin baru itu sudah memasuki kamarnya.
"Kenapa dikamar ini bang?" Tanya Siska memecahkan keheningan. Ketika keduanya tiba-tiba saling diam dengan duduk ditepi ranjang.
"Hemm.. Kenapa? Kamu gak suka?" Tanya balik sang suami.
"Emm bukan gitu. Cuma kan gak enak aja kita harus ninggaliin dede sama Papih dan Mamih. Kan kasihan!" Timpal Siska membuat sang suami tersenyum.
Ia menghadapkan tubuhnya dengan sang istri dengan memegang kedua bahunya. Hingga tiba-tiba membuat degup jantung Siska semakin berdebar kencang.
"Abang sengaja memilih kamar ini untuk kita berdua. Jujur banyak kenangan dikamar itu dan itu akan membuat kita merasa tak nyaman." Tuturnya membuat Siska menunduk. Entah kenapa Ia merasa takut sang abang belum benar-benar menerimanya.
Bang Age yang tau kegundahan sang istri menangkup kedua pipi gadisnya hingga mendongak dan mengarahkan padanya. "Kamu gak usah khawatir. Mulai sekarang, kita akan mulai semuanya dari awal. Dikamar ini, akan menjadi saksi dimana cinta abang hanya buat kamu." Tuturnya membuat keduanya tersenyum dengan tatapan saling memuja.
"Bismillah! Izinkan abang buat miliki kamu seutuhnya!" Pintanya dan dijawab anggukan sang istri.
Bang Age mencium keningnya dalam, hingga Siska menutup kedua matanya merasakan kehangatan dari sang suami. Ciumannya turun kekedua matanya. Turun lagi kekedua pipinya. Hingga kedua benda kenyal itu bertemu, menyesap lama sebagai permulaan, hingga Siska membuka sedikit bibirnya membiarkan lidah sang abang melesak lebih dalam mengabsen setiap inci rongga mulutnya.
Bibirnya berjalan menyusuri leher jenjang nan putih itu, mencoba meninggalkan jejak mahakarya pertamanya disana. Dan terus berjalan hingga sampai didua bongkahan yang begitu imut namun seperti menuntut untuk Ia ****.
Tangannya kembali mencari sesuatu dibalik punggung sang istri, mencari kunci untuk membongkar cangkang bukit yang ingin Ia jelajahi. Hingga kain atas sang istri terbuka sempurna. Ia kembali menyambar bibir sang istri, membawa tubuh rampingnya berbaring dikasur empuk itu. Tangannya mulai jahil meremat bukit yang sangat pas digenggamannya itu hingga membuat Siska ingin melayang, tanpa Ia sadari suara sexy dan meresahkan keluar dari bibirnya.
Dan hal itu membuat sang suami semakin bersemangat. Ia membuka piyama yang melekat ditubuhnya juga. Bibirnya kembali menyerang salah satu bukit yang kian menantang itu. Menyesapnya, memberi tanda kepemilikannya disana.
Kini kain ditubuh keduanya sudah luruh, berhamburan diatas lantai. Hingga Siska menggigit bibir bawahnya kala kembali melihat si junior yang dulu melambai kini berdiri tegak didepan matanya.
"B-bang?"
"Hemm" Jawab sang suami yang tengah menatap intens wajahnya. "Kita mulai ya?"
Bang Age hendak mempertemukan si junior dengan martabak kacangnya. Namun Siska menghentikannya. "Tunggu bang!" Hingga sang suami menghentikannya.
__ADS_1
"Itu, itu besar banget. Emang bisa masuk ya?" Tanya Siska yang merasa takut melihat si junior.
"Tenang aja pasti masuk kok." Bang Age kembali siap dan lagi-lagi dihentikan sang istri.
"Tunggu bang!"
"Apalagi?"
"Sakit gak?"
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Tanpa menjawab Ia kembali menyambar bibir yang pastinya akan terus bertanya. Tak tau aja gadisnya itu, kalo hasratnya sudah diujung tombaknya.
Satu tangannya mencari martabak spesial itu, mengelus dan memainkannya hingga sukses membuat sang istri men de sah hebat hingga membuat basah dibawah sana. Hal itu tak Ia sia-siakan, Ia segera mempertemukan sejoli yang sudah siap untuk bersilaturahmi, membiarkan si junior menyantap martabaknya.
Kalau saja bibirnya tak dibungkam sang suami, sudah dipastikan Ia akan menjerit hebat kala sesuatu dibawah sana menyesakan rongga yang masih begitu sempit itu.
Si junior menerobos semakin dalam, menggali kelegitan martabaknya. Perlahan namun pasti, Siska mulai bisa menyeimbanginya. Walaupun Ia harus mengeluarkan air mata terlebih dahulu, namun akhirnya Ia bisa ikut menikmatinya. Gerakan pelan sang suami, kian lama kian cepat. Hingga sesuatu dari dalam diri mereka keluar bersamaan.
"Euurgghhh"
Dengan nafas yang sudah senen kemis bang Age menciumi wajah sang istri dan mengelap sisa kebasahan di kening itu. Hingga Ia terbangun dan melihat si junior yang berdarah namun tak terluka.
"Jangan lihat kesini!" Titah sang abang, ketika sang istri ingin melihat pergerakannya. "Tutup matanya!" Sang abang mengambil tissue diatas nakas dan mengelap junor dan martabak yang tak habis, padahal sudah dimakan si junior.
"Kenapa emang bang?" Tanya Siska heran.
"Abang gak mau ditinggal nangis apalagi tidur!" Balasnya hingga sang istri terkekeh.
**************
Pengennya ini bisa ke up sekarang, tapi entahlah, bisa langsung lolos review atau nggak! Mudah-mudahan bisa lolos sebelum lewat imsak yaa🙏 Takut dosa mak othor euyy🤣🤣
Udah ngebobol lagi euyy😂
__ADS_1
Udah sukses kebobol euyy😂