
Dua tahun kemudian...
"Om!!" Panggil sang istri pada suaminya yang tengah sibuk didepan meja kerja.
Kia membuka pintu ruamng kerja sang suami dan melongokan wajahnya kedalam sana. Dari dalam Rei mendongak mendapat panggilan dari istriya itu.
Ia tersenyum seraya membuka kacamata yang melingkar dimatanya. "Sini!" Ajaknya dengan mengadahkan tangan dan menggerakan jari telunjuknya. Memberi kode agar sang istri mendekat.
Kia tersenyum, dengan senang hati Ia mendekat dan menyembunyikan kedua tangan dibelakang punggungnya. Hal itu tentu menjadi perhatian sang suami. Matanya menyipit mengarah pada lengan itu. Kia tertawa kecil mendapati sang suami pastilah penasaran dengan apa yang Ia sembunyikan.
"Bawa apaan sih?" tanya Rei dengan kerutan didahinya, merasa heran.
"Emm ..." Kia tak menjawab, hanya lipatan bibir saja yang kentara terlihat.
"Surprise!"
Ia mengadahkan kotak yang Ia pegang kehadapan suaminya. Kotak berukuran dus sepatu yang terbalutkan bungkus kado menutupi seluruh kotak itu.
Rei tersenyum melihat itu. "Wow, apa ini?" tanyanya seraya mengambil kotak itu.
"Kado spesial buat om!" balas Kia tersenyum lebar.
"Emm ... Perasaan ulang tahun om masih lama deh?" tanyanya masih dengan keheranannya.
"Isshhh om ya, kasih kado gak harus ulang tahun aja kali. Udah buka aja!" Protes Kia hingga sang suami terkekeh.
"Ya deh! Makasih ya!" ucapnya seraya menarik kepala sang istri dan mencium dalam keningnya.
Terlihat senyum bahagia dari keduanya. Di dua tahun pernikahannya tak ada hal yang membuat keduanya berubah. Rei yang penyabar selalu bisa menuntun sang istri ditengah sifat manjanya.
"Eh! Tunggu dulu!" cegat Kia kala sang suami sudah siap membuka kado tersebut.
Ia mengajak pria tampan pujaannya itu berdiri dan menuntunnya menuju sofa. Kemudian mendaratkan bokong keduanya disana. Lalu Ia mengambil layar pipih dari saku celananya dan mengotak atiknya.
"Ngapain?" Tanya Rei yang merasa heran melihat sang istri yang tiba-tiba merekam keduanya.
"Gak apa-apa buat ngonten!" balas Kia seraya mendudukan layar yang merekam mereka diatas meja dengan menyandarkannya disamping pas bunga yang berada ditengah meja.
__ADS_1
Rei terkekeh melihat itu. "Gimana? Boleh dibuka sekarang?" tanya Rei mematikan dan dijawab anggukan sang istri.
Pria tampan itu mulai membuka kertas itu.kia duduk menghadap kearah sang suami dengan menumpu pipi dengan tangan yang Ia sanggahkan dikepala kursi. Dengan senyum yang terus mengembang, melihat sang suami yang tengah membuka kado yang Ia siapkan.
Satu kertas terbuka hingga terlihat dus sepatu didalamnya. Rei yang penasaran langsung membukanya, hingga nampak lagi kotak yang sedikit kecil dari dus tersebut dan terbalut kertas yang sama. Dahinya mengerut melihat itu, Ia pun mengambil kotak itu dan melihat kearah sang istri.
Kia tertawa kecil melihat ekspresi keheranan sang suami.
"Kamu ngerjain om ya? Hem?" todong Rei merasa curiga pada sang istri.
"Nggak! Ayo buka lagi!" Titah Kia.
Rei menggerakan kado itu dan mencoba mendengarnya. "Ini isinya apa sih? Keknya kecil ya?" tanyanya mendapati kado itu yang terasa ringan.
"Udah ayo buka lagi!" Titah Kia lagi.
Rei menghembuskan napasnya panjang. Ia pun menuruti keinginan sang istri dan kembali merobek kertas pembungkus itu, lalu membuka kotak itu. Lagi-lagi kotak berbalut kertas yang lebih kecil didapatinya.
Kia kembali tertawa, begitupun sang suami yang juga ikut terkekeh dengan tangan tak berhenti membuka kertas-kertas itu. Hingga kertas dan kotak sudah menumpik diatas meja. Menyisakan kotak yang semakin kecil ditangannya.
"Berapa banyak lagi ini?" tanya Rei disertai kekehannya.
Rei hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya. Tidak lelahkah dirinya membungkus begitu banyak kotak-kotak ini? Pikirnya.
"Bismillah smoga ini yang terakhir!" ucapnya berdoa terlebih dahulu membuat sang istri kembali tertawa.
Ia robek kertas itu hingga menampakan kotak kecil berbentuk balok. Ia pun membuka kotak itu, kemudian terdiam melihat isi didalamnya. Merasa tak percaya dengan apa yang dilihat. Ia menatap sang istri meminta penjelasan.
Kia hanya tersenyum manis menanggapi itu. Rei tersenyum merasa tak percaya, dengan mata yang tiba-tiba memanas, hingga berkaca-kaca. Ia terus menggerak-gerakan kotak itu, meminta penjelasan pada sang istri.
"Ini?" Ia ambil benda berbentuk stik dari dalam sana. Fokusnya tepat pada dua garis yang terukir didalamnya.
Ia menggerak-gerakan benda itu dengan sebelah tangan mengusap wajahnya. Suaranya tiba-tiba tercekat hingga sulit mengungkapakan kata-kata. Ia meraih tubuh sang istri dan mendekapnya erat. Air mata yang Ia bendung tumpah seketika, mengiringi rasa haru dan syukur yang menyelimuti hatinya.
"Ini beneran, kan sayang? Gak bohong, kan?" tanyanya memastikan. Takut-takut sang istri hanya mengerajainya, Ia terus melontarkanpertanyaan padanya.
"Nggak om, itu beneran!" balas Kia yang ikut membalas pelukannya.
__ADS_1
"Makasih sayang, makasih!" gumamnya seraya tak henti menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi.
Ingin rasanya Ia berjingkrak dan berteriak untuk mengungkapkan rasa bahagia dihatinya. Penantian keduanya selama dua tahun terjawab sudah. Memiliki buah hati adalah doa yang mereka panjatkan disetiap sujudnya, dan sekarang Tuhan telah mengabulkan doanya itu.
Rei melerai dekapannya Ia tangkup wajah sang istri dan menciumi seluruh wajahnya. "Akhirnya doa kita terkabul sayang, bentar lagi om jadi Papa dan kamu jadi Mama." ucapnya.
Kia tersenyum lebar. Sungguh Ia pun merasakan kebahagiaan yang sama. Menantikan kehidupan baru yang tumbuh dirahimnya.
Rei menundukan kepalanya untuk menjangkau perut sang istri, mengusap sayang perut rata istrinya itu dengan lengkunag bibir yang tak pudar dari bibirnya.
"Sehat-sehat ya sayang. Papa sama Mama tunggu kamu hadir!" ucapnya, lalu Ia pun mencium perut yang terhalang piyama itu.
"Iya Papa, dede akan selalu sehat." Balas Kia dengan suara dibuat kecil.
Keduanya tertawa dengan kembali saling berpelukan. Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira.
Kia kembali mengambil ponsel yang tadi Ia simpan untuk ngonten itu. Kemudian tersenyum melihat siaran didalamnya. Rei yang melihat itu ikut tersenyum.
Kenapa Ia tak menyadari hal itu? Mungkinkah ada yang istrinya itu ingin dan belum terkabul? Ia pun mulai menanyainya, "apa ada yang kamu inginkan, hem?"
Kia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu. "Nggak! Kenapa?" tanyanya heran.
"Biasanya kan, orang hamil itu suka ngidam. Siapa tau ada yang kamu inginkan sekarang?" tanya Rei dengan sedikit penjelasan dan diangguki mengerti oleh istrinya.
Kia terdiam sejenak, hingga tiba-tiba senyum terukir dari bibirnya. "Ada om!" balasnya dengan semangat.
Rei yang mendengar itu tersenyum. Tentu lah Ia begitu senang mendengar ada yang diinginkan istrinya. Apa pun itu pasti akan Ia turuti.
"Apa?" tanya Rei tak kalah semangat.
"Kita shoping ke mall, tadi aku dapat pemberitahuan banyak barang baru yang sudah upgrade dan itu tu lucu-lucu banget. Nih, nih! Om mau lihat." cerocosnya panjang kali lebar seraya memperlihatkan ponselnya.
Rei menghembuskan napasnya panjang. Bukan itu maksudnya, Ia menanyai makanan yang tiba-tiba diinginkan sijabang bayi, semisal rujak dan sebagainya. Bukan keingin istrinya yang akan menguras isi dompetnya.
'Kek nya, aku salah bertanya?' batinnya meratapi.
*****************
__ADS_1
Jangan tanya kenapa loncat ya? Aku imbangi waktunya sama Aka, biar kalian gak pusing🙈 Yuk jangan lupakan jejaknya yaa😙