
Didalam kamar, Kia terus menggerutu kesal. Alih-alih Ia akan mendapat belas kasihan dari seluruh anggota keluarganya. Eh ledekan lah yang Ia dapatkan. Ditemani si boba legend dipangkuannya, gadis cantik itu duduk ditepi ranjang dengan melipat kakinya menyila menghadap ke arah jendela.
"Ngeselin emang. Kek gimana sih calon suami yang mereka gadang-gadang baik dan ganteng itu?" Tanyanya menggerutu pada diri sendiri. "Oppa oppa Korea cenah? Emang gue suka sama oppa korea?" Lanjutnya.
"Dalam kamus gue, gak ada yang lebih ganteng dari om pacar. Titik gak pake koma apalagi spasi."
"Apalagi sama dengan ya?" Suara seseorang dari arah pintu sukses mengagetkannya.
Ia mencebikan bibirnya melihat siapa yang datang menghampirinya. Sang timom mendekat kearah putrinya itu dan mendudukan diri disampingnya.
"Masih ngambek?" Tanyanya.
Kia hanya mengedikan bahunya seraya memalingkan wajahnya. Tak ingin melihat wajah wanita yang selalu jadi panutannya itu, yang sayangnya sekaramg mendadak menyebalkan dimatanya.
"Udah gak usah ngambek terus! Ayo cepet. Sekarang kamu siap-siap!" Titah sang timom dan sukses membuat Kia menoleh kearahnya.
"Ngapain?" Tanya Kia dengan kedua alis yang menekuk tajam.
"Nemuin calon suami kamu." Balasnya dengan enteng.
Hal itu tentu membuat Kia membolakan matanya dengan mulut yang terbuka lebar. "Apa? Calon suami?" Pekiknya dan dijawab anggukan oleh timomnya.
"Mom! Please! Aku gak mau dijodohin. Aku udah punya pilihan sendiri." Protes Kia menangkup tangannya didepan seraya memohon.
"Siapa? Kalo emang kamu udah punya, coba kenalin sama timom?" Tantangnya.
"Aku bakal kenalin sama timom sama papih juga, tapi gak sekarang." Balas Kia.
"Kenapa?"
"Ya, karena kita belum siap buat publikin hubungan kita." Balasnya sedikit ragu, apakah jawabannya itu pas? Pikirnya.
"Idihh Udah kek seleb ya? Pake mau publikin segala." Ledek sang timom membuat bibir mungil itu mengerucut kedepan.
"Udah, kamu lihat aja dulu cowoknya! Siapa tau kamu suka?" Bujuk sang timom.
"Terus kalo aku gak suka, bisa dibatalin dong ya? Ya! Ya!" Tawar Kia.
"Emm.." Timon tampak berpikir sejenak "Nggak!" balasnya hingga membuat Kia menghembuskan napasnya panjang.
__ADS_1
Alih-alih Ia sudah membuat penawaran, tetap saja itu tak berguna sama sekali. Sepertinya keputusan kedua orang tuanya itu sudah mutlak.
Timom tersenyum melihat ekspresi putrinya. Sungguh hati kecilnya tak tega melihat itu. Namun apalah daya, semua keputusan ada ditangan suaminya.
Ia usap surai pirang putrinya dengan sayang. "Timom tau bagaimana perasaan kamu sekarang. Namun cobalah berpikir positif! Papih pasti memberikan yang terbaik buat kamu." Bujuknya.
"Hakekatnya jodoh memang ditangan Tuhan. Kami sebagai orang tua hanya mencoba mengarahkan yang terbaik buat kamu." Lanjutnya.
"Jika memang kalian berjodoh, bagaimanapun kamu mengelak, Tuhan akan tetap mempersatukan."
Kia sudah pasrah dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Hingga sang timom pun tersenyum.
"Ya udah, timom bantu pilihin baju ya?" Tawarnya dan diangguki lagi oleh Kia. Sepertinya, suaranya itu sudah tak mampu keluar lagi. Ia hanya pasrah ketika timomnya itu mengajaknya berdiri didepan lemari.
Sang timom dengan semangat mulai mengobark ngabrik isi lemari didepannya. Memilah dan meilih satu persatu dress yg berderet disana. Hobi shopping sang gadis, membuat lemari itu penuh dengan koleksi baju-baju yang bahkan masih belum terpakai.
Berbeda denga timom yang terus heboh memilihkan baju, Kia terdiam dengan pikiran yang sudah sampai pada sang pacar. 'Apa yang harus aku lakuin om?' Batinnya.
**
"Dah! Cantik." Ucap timom, setelah memberikan sentuhan akhir, dibibirnya.
"Senyum dong!" Titahnya seraya menarik kedua sudut bibir putrinya dengan jempol dan telunjuknya. Hingga lengkungan terpaksa, terukir diwajah cantik itu.
Keduanya berlenggang menuju sofa menghampiri sang papih yang sudah stay disana.
"Bang! Coba lihat putrimu!" Sang papih menoleh kearah dua wanita tercintanya. Senyum manis terukir dari wajah yang masih tampan, meski diusianya yang sudah tak muda lagi.
"Perfect!" Pujinya.
Kia mencebikan bibirnya seraya berdecak kesal dengan pujian sang papih yang malah terdengar sebuah ledekan diindera pendengarannya. Hal itu membuat sang papih terkekeh. Semanja apapun putrinya, Ia tak pernah menentang keputusannya.
"Ya udah yuk berangkat!" Ajak sang papih, seraya beranjak dari duduk manisnya.
Mereka pun berlenggang keluar rumah untuk pergi kesebuah restoran yang sudah disepakati.
**
Sementara itu, Rei yang juga akan menemui calon istri pilihan sang ayah sudah stay duduk diatas kursi dengan bokong yang tak mau diam. Ia terus berusaha mengirim chat pada sang pacar. Jangankan balasan, satu chat pun tak ada yang dibacanya. Ia semakin gelisah, mengingat betapa marahnya tadi sang gadis. Dan untuk pertama kalinya, Ia tak berada disampingnya dalam keadaannya yang seperti itu.
__ADS_1
'Kamu lagi ngapain de?' Batinnya.
Sungguh Ia ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Ingin sekali Ia lari membawa gadisnya pulang kembali kekota besar. Sekarang keadaannya kian rumit setelah Ia menemui calon istri pilihan orang tuanya itu. Ia merutuki dirinya yang kurang sigap dan tak segera berbicara pada kakak iparnya. Ia terlalu menyepelekan semuanya. Seandainya kemarin Ia bisa menentang dan berkata jujur, mungkin Ia takan duduk disini sekarang. Entah kenapa lidahnya begitu kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Seolah ada sesuatu yang menghalangi mebungkam bibirnya.
"Kenapa de?" Tanya Ibu, mengagetkan dirinya.
"Hah?!" Balasnya gelagapan. "Emm.. Nggak!"
Ibu tersenyum menanggapi itu. "Udah jangan tegang. Percaya deh sama ibu. Dia cantik kok!" Godanya dan hanya dibalas hembusan napas panjang.
"Kamu tuh belum mengenal cinta. Coba deh buka hati kamu buat calon istri kamu nanti. Ayah yakin kamu bisa mencintai dia." Tutur Ayah namun sama sekali tak ditanggapinya.
Pikirannya melayang pada sang gadis yang entah sedang apa. 'Dan kalian gak tau. Hatiku hanya untuk dia.' Batinnya.
**
Sementara itu kijang besi yang ditumpangi Kia dan kedua orang tuanya sudah terparkir apik ditempat tujuan. Ketiganya turun, dengan wajah Kia yang masih saja kusut.
"Aduhh timom lupa!" Pekik sang timom membuat mereka menghentikan langkahnya.
"Lupa apa?" Tanya sang papih heran.
"Tadi nyetrika cuma baju doang. Lupa tuh sama muka yang masih kusut." Celetuk sang timom menyindir sang putri.
"Ihh timom!!!" Rengek Kia semakin memberenggut kesal. Kedua orang tuanya tergelak melihat itu.
"Kamu tuh ada-ada aja!" Ucap sang papih mengusek rambut istrinya.
"Senyum dong! Ntar calon suami kamu kabur lagi." Titahnya pada sang putri dan mengusek gemas rambutnya.
"Biarin! Biar perjodohannya batal." Balas Kia.
"Kamu bakal nyesel kalo batal." Balas sang papih dan hanya ditimpali cebikan bibir olehnya.
Ketiganya memasuki tempat itu, dan berjalan melewati beberapa meja. Hingga sepasang paruh baya bersama seorang pemuda yang tengah duduk disebuah meja menyapa mereka. Sang pemuda tersenyum manis menatap kearah Kia.
Kia mengerutkan dahinya melihat seseorang yang sempat Ia kenal. Pria yang sama yang pernah mengajaknya berkenalan siang tadi.
'Dia?' Batinnya.
__ADS_1
***************
Jangan lupa jejaknya yaa🙈