Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Lupa handuk


__ADS_3

Gadis cantik yang sempat menolak untuk mandi dan berdandan, kini dengan senang hati memasuki kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya. Dengan wajah yang ceria, Ia membersihkan dirinya dengan semangat. Mengingat sang pacar yang sudah menunggunya diluar sana, Ia dituntut untuk melakukan ritual itu dengan kilat.


Tak berselang lama Ia pun selesai dengan ritual mandinya, namun karena terlalu semangat Ia sampai melupakan kain pengering untuk tubuhnya. "Handuk gue!" Pekiknya.


Ia mencoba memanggil sang pacar dari dalam sana, namun sepertinya suaranya tak sampai diindera pendengarannya. Entah kenapa, Ia yang tak pernah merasa malu untuk meminta apapun pada sang om bahkan terus bergantung padanya. Kini mendadak canggung, padahal Ia hanya ingin meminta sang om mengambilkan handuknya saja.


Namun tak ada pilihan lain, tubuhnya kian menggigil karena terlalu lamanya Ia diruangan itu. Ia pun memberanikan diri untuk memanggil sang om lebih keras. Ia membuka sedikit pintu didepannya dan memanggilnya.


"Om!!" Satu kali tak ada jawaban dari pria yang tengah anteng duduk disofa panjang dengan netra yang fokus menatap layar pipihnya.


"Omm!!" Panggilnya sedikit keras. Hingga sukses mmebuatnya menoleh.


"Hem? Apa?" Tanyanya merasa heran. Ia yang mendengar suara sang gadis tanpa orangnya merasa aneh.


Ia pun berdiri dan mencoba mendekati kamar mandi, hingga suara gadisnya menghentikan langkahnya. "Stop!"


"Berhenti disitu om!" Larangnya keras. "Tolong ambilin handuk aku om!" Titahnya pelan.


Hal itu mampu membuat sang om tekekeh. Mendengar nada meminta dari gadisnya, membuat Ia gereget sendiri. Tanpa menjawab Ia berlenggang mengambil handuk dari tempatnya.


Didalam, Kia tak mendengar suara apapun dari omnya. Hingga Ia kembali memanggilnya.


"Om! Dengerin aku gak sih?" Tanyanya. "Aku udah kedinginan ini."


Masih tak ada jawaban, hingga Ia pun hendak membuka sedikit lebar pintunya hingga sebuah tangan masuk dengan kain tebal ditangannya, hingga membuatnya kaget. Kia terdiam sebentar melihat uluran tangan itu. Sedikit ragu untuknya mengambil benda yang tengah Ia butuhkan itu.


"Cepat pake handuknya, ntar kamu masuk angin!" Titah Rei, dengan wajah Ia palingkan agar tak dapat melihat pemandangan yang belum harus Ia lihat.


Ucapan sang om membuat Ia dengan cepat mengambil handuk itu. Namun tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan.


Deg!


Merasakan sentuhan dingin dari sang gadis membuat bulu kuduk Rei meremang seketika. Wajahnya memerah, dengan jantung yang berdegup kencang. Ia terpaku dan lupa menarik kembali tangannya. Hingga suara sang gadis membuyarkan lamunanya yang sudah traveling melanglang buana entah kemana.


"Om!!" Sapa Kia yang sudah keluar dari kamar mandi dan berdiri disamping dirinya yang mematung.


Panggilan itu sukses membuat Rei terlonjak kaget. "Iya!" Balasnya dengan wajah kikuk.

__ADS_1


Kia yang mengenakan bathrob dengan handuk kecil dikepalanya, hingga menampilkan leher jenjang nan putihnya. Mampu membuat tatapan Rei terfokus pada kulit putih dengan kucuran air yang seakan memintanya untuk ditandai. Ia sampai harus menelan salivanya kuat-kuat.


"Om!!" Sapa Kia melambaikan tangan didepan wajah om pacarnya. Namun tak ada jawaban darinya membuat Kia keheranan.


"Om!! Om kenapa?" Tanyanya lagi seraya memegang punggung tangannya.


"Hah?! Iya?" Tanyanya terlonjak dengan wajah bingung dan hal itu membuat sang gadis tertawa.


Rei semakin terpaku melihat tawa renyah dari gadisnya. Tanpa diduga tangannya menarik pinggang gadisnya posesif hingga tubuh keduanya menempel. Seketika tawa sang gadis pun hilang.


Tatapan keduanya saling mengunci, hingga Rei sudah memiringkan wajahnya hendak menjangkau benda kenyal yang selalu menarik perhatiannya itu, namun suara lengkingan dari luar kamar membuat keduanya saling melepaskan dan gelagapan.


"De cepatan mandi! Timom udah siapin sarapannya ya! Timom keluar dulu mau kerumah om Rangga bentar." Teriak sang timom dari luar kamar.


Hembuskan napas panjang terdengar dari keduanya bersamaan. Merasa akan tercyduk membuat mereka ketar ketir tak karuan. Keduanya saling tatap, lalu cekikikan bersama.


"Udah cepetan ganti baju! Ntar khilaf lagi." Titah Rei terkekeh.


Kia berdecih, namun tak ayal ikut terkekeh dan segera mengambil baju dari lemari dan kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Sementara Rei, kembali duduk disofa seraya mengecek e-mail yang sudah Ia kirim ke perusahaan.


Tak membutuhkan waktu lama, Kia kembali dari kamar mandi. Ia berlenggang menuju meja rias dan mendudukan diri disana. Ia mulai mengoleskan cream dan kawan-kawannya untuk perawatan kulitnya. Tanpa Ia sadari sang pacar tengah memperhatikannya.


"Jangan dipanjangin ya!" Titah sang pacar membuat Kia menaikan satu alisnya sebelah.


"Kenapa?" Tanyanya heran.


"Biar gak ribet." Balas Rei hingga gadisnya tertawa kecil.


"Ribet gimana sih?" Tanya Kia lagi.


Rei ikut tersenyum mengusek rambutnya gemas. "Ntar juga kalo udah nikah pasti ngerti."


"Ihh.. Paan sih om!" Balas Kia tersipu malu, hingga membuat sang pacar tergelak.


**


"Kalian mau kemana?" Tanya timom pada sepasng manusia yang tengah mengendap-endap keluar rumah.

__ADS_1


Rei yang tengah mengandeng tangan gadisnya segera melerainya dengan menghentikan langkah kakinya. Keduanya gelagapan karena tercyduk hendak keluar rumah tanpa izin.


"Kita itu mau?" Kia bingung hendak menjawab apa, hingga Rei pun menyelaknya.


"Kita mau kedepan kak. Iya kedepan. Mau ke indo juli. Sengaja aku ajak dede buat bantuin milih barang." Balas Rei sedikit ragu.


Timom menaikan satu alisnya merasa aneh dengan tingkah keduanya. "Kenapa gak bawa motor?" Tanyanya.


"Oh iya om. Kan ada motor ya?" Tanyanya tersenyum seraya menampilkan deretan giginya dan mengeplak lengan sang pacar.


"Kenapa gak kepikiran sih om?" Gerutunya pelan dengan menolehkan wajahnya kearah sang pacar .


Rei tersenyum menanggapi itu. "Iya lupa!" Balasnya menggaruk tengkulnya yang tak gatal.


"Indojuli lumayan jauh. Cape kalo harus jalan kaki." Saran timom dan diiyakan keduanya.


"Oh iya Rei, ntar sore ayah sama ibu datang. Kamu disuruh kerumah Rangga!" Tutur sang timom.


"Ngapain?" Bukan Rei tapi Kia lah yang menjawab.


"Eu maksudnya. Ngapain harus kerumah om Rangga? Kenapa gak langsung keruamh kita aja." Lanjutnya setelah melihat ekspresi sang timom yang keheranan.


"Lagian aku juga udah kangen sama nenek sama kakek juga." Lanjutnya dengan memaksakan senyumnya.


"Katanya ada sesuatu yang harus kakek bicarakan sama kedua putranya." Balas Timom. "Tapi, ntar kita juga kumpul disini kok. Kita makan malam bersama." Lanjutnya dan dijawab anggukan Kia seraya melirik sang om, begitupun sebaliknya.


Hingga aksi lirik melirik dilakukan pasangan sembunyi-sembunyi itu. Timom yang mengerti keduanya tengah kepo, hanya tersenyum simpul.


"Ya udah, kalo kalian mau pergi cepetan. Jangan sore-sore ya!" Pesannya dan diiyakan keduanya dengan wajah yang masih kebingungan akan berbagai pertanyaan yang bersarang diotaknya.


Setelah kepergian timom, keduanya juga melesat menumpangi kuda besi milik Aska. Yang ditinggal pemiliknya itu.


"Kira-kira, apa yang mau diomongin sama kakek?" Tanya Kia mendongak kesamping agar suaranya didengar sang pacar.


"Entah! Om juga gak tau." Balasnya.


"Jangan, jangan om!" Kia membolakan matanya merasa shok. "Beneran mau dinikahin!" Cicitnya.

__ADS_1


****************


Jangan lupakan jejaknya yaa🤗


__ADS_2