Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 90 Skip!


__ADS_3

Gelak tawa begitu riuh dihalaman nan luas itu dari para bocil yang asyik bermain ditengah kesibukan orang tuanya. Para orang tua masih sibuk ikut membantu membereskan sisa dari acara.


"Sayang mainnya jangan disana!" Titah bang Ar pada sang putri yang asyik bermain kejar-keajaran didekat meja bekas parasmanan.


Sena yang terus berlarian mengejar Shaka tak mengindahkannya. Ia terus mengejar kakaknya untuk mengambil penjepit rambut yang diambilnya.


"Aka ciniin Empit aku!" Teriakannya tak mampu membuat sang kakak berhenti.


"Aka ihhh!!" Pekik balita cantik itu.


"Ayo kejal Aka!" Shaka terus berlari hanya berbalik sebentar untuk meledek adiknya.


Aska yang melihat itu mencegat dan menghentikan Shaka. "Belenti! Mana empitna kasih Aka!" Pintanya menadahkan tangannya.


"Nda mau!" Tolak Shaka.


"Nda boleh gitu ama dede. Sini!" Peringatnya namun dibalas gelengan oleh Shaka.


"Keh. Aka nda mau maen bola agi ama kamu!" Ancam Aska membuat Shaka cemberut dan berdecak kesal seraya memberikan jepitan rambut yang Ia ambil dari sang adik.


Sementara itu Sena yang kelelahan duduk sebentar diatas rumput, dibawah meja. Ia tersenyum dari kejauhan melihat kakak sepupunya berhasil mengambil jepitannya dari tangan sang kakak durjana.


Ia hendak berdiri dengan menarik kain yang membungkus meja. Tanpa diduga, tempat sup diatas meja ikut tertarik hingga tumpah.


Byurrr!!!


Sena kembali duduk kala tiba-tiba Abi memeluknya. Ia mendongak dan melihat rambut sepupunya basah.


"Ambut Bi bacah." Cicitnya namun Abi hanya terdiam dengan menatap dirinya.


"Ya ampun Bi!" Pekik Ayra yang terkejut melihat keponakannya sudah basah kuyup dengan air sup.


Ia hampiri dua balita itu, lalu membangunkan keduanya. Ia raih kedua pipi balita tampan itu dan menangkupnya. "Ya ampun sayang. Kamu gak papa?" Tanyanya khawatir dan hanya dijawab gelengan balita dingin itu.


Ia buru-buru mengambil tissue dan membersihkan kucuran sup yang menyusuri lehernya.


Bang Ar yang mendengar pekikan istrinya lantas mendekatinya. "Ada apa yang?" Tanyanya.


"Ini bang! Bibi kena tumpahan sup. Untung saja supnya udah dingin, tinggal sedikit pula." Jelas Ayra seraya masih telaten membersihkan rambutnya juga.


Bang Ar ikut berjongkok seraya mengelus rambut putrinya yang menunduk. "Kalian lagi apa? Kok bisa tumpah sup nya?" Tanyanya dengan lembut.


"Aku nda senaja tayik kaen ini." Jelas Sena menunjuk kain meja disampingnya. "Byuy aja ain na tupah. Bi hadan, nda kena aku deh!" Celotehnya panjang kali lebar.


Bang Ar dan Ayra tersenyum mendengar penjelasan putrinya. Ayra berlaih menatap kembali keponakannya, seraya mengusek kepalanya gemas.

__ADS_1


"Makasih ya Bi, udah lindungi Sensen!" Tuturnya seraya mencubit hidungnya.


Seperti biasa Abi hanya menganggukan kepala tanpa suara satu katapun.


"Sekarang Abi mandi dulu ya, biar gak lengket! Yuk!" Ajak Ayra dan dijawab anggukan balita tampan itu lagi.


Ayra pun menuntun Abi memasuki rumah, bahkan Ia melupakan niatnya keluar untuk mengambil mangkuk sup yang tadi tumpah itu.


Sementara itu bang Ar memeriksa keadaan sang putri, walaupun putrinya terus berkata 'nda papa' tetap saja sang Papa masih mencemaskannya. Ia pun menuntunnya untuk bergabung dengan kakak-kakaknya.


"Dede napa?" Tanya Aska yang tiba-tiba melihat adik kesayangannya bersama sang Papa.


"Nggak papa. Kalian main lagi ya! Papa tinggal dulu." Titahnya dan dijawab anggukan oleh kedua balita tampan itu.


Setelah kepergian Papa Ar, ketiga balita itu kembali bermain dengan duduk diteras.


"Nih!" Aska memperlihatkan jepitan digengganmannya pada sang adik.


"Yey Aka ebat!" Pujinya seraya bertepuk tangan. "Aka Sha. Tahat! Banden!" Lanjutnya pada Shaka dan hanya ditimpali juluran lidah oleh sang kakak.


"Aka cama Bi ebat! Batu aku. Maacih!" Ucap Sena.


"Abi bantu apa?" Tanya Aska.


"Dede janan jauh-jauh ya dali Aka! Bian dede aka jagain!" Ucap Aska dan dijawab anggukan balita cantik itu.


Shaka hanya memutar bola matanya malas melihat kakak sepupu dan adiknya yang menurutnya sedikit lebay. Ia menarik tangan kakak sepupunya untuk mengajaknya bermain.


"Aka ayo main bola!" Ajak Shaka.


"Ntal aja. Kita main ama dede aja!" Tolak Aska.


"Aaa Aka ayo!" Rengek balita aktif itu sampai memaksa sang kakak untuk berdiri.


Dengan pasrah Ia pun menuruti keinginan adiknya. Sena tak ikit main, Ia hanya menyemangati keduanya dari teras.


Tak berselang lama, Abi pun kembali setelah membersihkan dirinya. Ia ikut duduk bersama Sena disana.


"Bi!" Sena reflek memeluk sepupunya. "Maacih bi!!" Ucapnya dengan srnyuman manisnya dan hal itu mampu membuat Abi menarik satu sudut bibirnya.


Sena terus berceloteh ria. Entah apa yang Ia bahas, yang jelas tak ada sahutan atau tanggapan dari balita tampan itu.


Ditengah candaan para balitanya, para orang tua disana yang melihat mereka tersenyum. Mereka terharu melihat keakraban putra putrinya yang bisa saling menjaga.


"Sa!"

__ADS_1


"Hmm!"


"Ternyata dibalik dinginnya Abi, dia memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Dia begitu menyayangi saudara-saudaranya. Gue bener-bener terharu melihatnya." Tutur Ayra seraya menatap kehangatan putra putri mereka.


"Hmm iya! Smoga mereka gak kek kita!" Balas Aysa dengan tersenyum kecut. Mengingat bagaimana persaudaraan mereka dulu, yang tak penah hangat seperti putra putri mereka.


Ayra menoleh mendengar nada bicara sepupunya yang terdengar tak baik-baik saja. Ia rangkul bahu Aysa seraya menyunggingkan senyumnya, hingga membuat si empunya menoleh dan ikut tersenyum.


"Harus kek kita dong! Kek kita yang sekarang." Ucap Ayra dan membuat keduanya tertawa kecil.


.


.


Dibalik keramaian diluar sana, kedua orang tua bayi cantik yang tengah anteng dengan bobo nyenyaknya. Tengah menggelar sidang dadakan.


"Sekarang aja yang!" Rengek bang Age.


"Nggak bisa bang! Diluar masih rame." Tolak Siska.


"Gak papa cuek aja!"


"Gak ah bang, malu!" Tolaknya lagi.


"Masa kamu tega sih sama abang?!" Rengeknya lagi dengan nada sendu.


"Bukan gitu bang, tapi kan?" Sangkal Siska dengan ragu.


"Tapi apa?" Tanyanya. "Sekarang ya!" Bujuknya lagi.


"Besok aja lah bang. Sekalian dede imunisasi." Timpal Siska memberi saran.


"Terus gimana acara buka puasanya?" Tanyanya.


"Ya di skip dulu ampe besok malam." Jawab Siska enteng seraya merebahkan diri mengeloni sang putri.


Bang Age hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Ia tak dapat membujuk sang istri untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai buka puasa setelah nifas. Ia harus kembali menahan sijuniornya agar tak berontak.


"Jadi kita bakal melewatkan tragedi empat puluh hari nih?" Tanyanya pada sang istri dan hanya dijawab gumaman olehnya.


"Ck!!" Bang Age berdecak frustasi seraya mengacak ranbutnya kasar. Lalu membantingkan tubuhnya keatas kasur dengan posisi tengkurap dan wajah yang Ia lesakan kedalam bantal. "Sorry jack! Skip dulu!"


***************


Ayo gaiss ramaikan! Meski keleyengan mak othor tetep up untuk kaleann😪 Jangan lupa like dan komennya! Kasih kopi atau bunga gitu biar cepet sembuh😅

__ADS_1


__ADS_2