
Setelah kepulangan sahabatnya beserta suami. Kini tinggalah sepasang orang tua yang tengah sibuk belajar membersihkan putri kecil mereka.
"Pelan-pelan bang! Hati-hati pegangnya." Titah Siska kala sang suami tengah membantunya memandikan bayi cantik itu.
"Iya. Kamu tenang aja! Abang udah belajar ini juga kok." Timpal bang Age.
Siska menggosok pelan tubuh mungil yang tengah berendam didalam washtaple dengan suaminya yang memegang tubuh yang masih lunak itu.
Keduanya begitu menikmati perannya itu. Menjadi orang tua baru untuk putri kecilnya. Hingga acara ritual mandi itu selesai. Mereka membawa bayi cantiknya menuju balkon untuk berjemur terlebih dahulu.
Keadaan yang begitu panas, membuat keduanya menghentikan ritual berjemurnya dan segera membawanya kembali kekamar untuk mengenakan pakaiannya.
"Dah selesai!" pekik Siska girang dengan mengenakan turban dikepala putrinya.
"Uluh uluhh! Cantiknya timom udah wangi yaa." Ucapnya seraya menciumi gemas pipi chuby putri nya.
Siska begitu senang bisa belajar merawat buah hatinya sendiri. Dengan dibantu sang suami, kini balita cantik itu sudah rapi dan wangi.
"Tidurin aja yang!" Titah bang Age yang melihat putrinya sudah kembali terlelap setelah melepas miminya dan diiyakan sang istri.
Bang Age mengambil alih putrinya dari pangkuan sang istri dan menidurkannya didalam baby box nya dan menyelimutinya. Setelah selesai Ia kembali mendekati ranjang dan membantingka tubuhnya dikasur dengan posisi tengkurap.
"Jangan tidur dulu bang! Sarapan dulu, gih!" Titah Siska. Ia yang tau sang suami belum juga sarapan sejak tadi, terus saja memperingatinya.
"Bentar lagi yang, abang ngantuk mau tidur dulu." Timpalnya dengan melesakan wajahnya dibantal.
"Ya sarapan dulu dong bang. Ntar kalo udah sarapan baru tidur lagi, ya!" Bujuknya, namun bang Age hanya diam tak menggubrisnya.
"Bang ih!" Siska mencoba menggoyangkan bahunya untuk membangunkannya, namun hanya gumaman yang terdengar darinya.
Siska menghembuskan nafasnya pasrah. Ia tau, pastilah suaminya begitu kelelahan karena harus begadang semalaman.
"Apa abang pengen juga sarapan spesial kek Lia sama kak Ivan?" Tanya Siska membuat bang Age seketika terbangun.
"Emang boleh?" Tanyanya seraya mendudukan diri.
"Ya kalo abangnya mau kenapa tidak?" Tanya Siska heran dengan tanggapan sang suami.
"Beneran boleh?" Tanyanya lagi.
"Ya bolehlah!" Balas Siska membuat sang suami melebarkan senyumnya.
Bang Age mendekat namun ditahan oleh istrinya. "Ntar dulu! Aku mau nanyain Lia dulu." Titah Siska seraya mengambil layar pipihnya diatas nakas membuat bang Age menaikan satu alisnya.
__ADS_1
"Buat apa?"
"Ya buat tanya. Mereka pesan roti hotdognya dari mana?" Ucapan Siska sukses membuat sang suami menganga lebar.
Ternyata pemikiran keduanya sudah tak sinkron sedari tadi, Siska yang mengira sahabatnya itu benar-benar sarapan roti yang berisikan sosis diatasnya itu. Dan bang Age yang otaknya sudah traveling melanglang buana hingga sampai dimaratabak kacang spesialnya. Tentu membuat pemikiran keduanya tak sejalan.
Bang Age mengambil paksa layar pipih dari tangan istrinya dan membatalkan panggilan yang sempat terhubung pada sahabat somplaknya itu.
"Kok dibatalin sih bang? Kan aku belum nanya?" Tanya Siska membuat suaminya menghembuskan nafasnya panjang.
"Kamu tuh, masa gak ngerti sih?" Tanya bang.
Siska sampai melipat dahinya berkali-kali lipat mendengr pertanyaan suaminya. "Apanya?" Tanyanya balik.
Bang Age kembali menghembuskan nafasnya panjang. "Maksudnya bukan itu sayang." Ucapnya dengan menangkup kedua pipi sang istri.
"Terus?" Tanya Siska yang masih juga belum ngeuh.
"Maksudnya, sarapan spesial tu kek si junior yang suka sarapan martabak kacang. Ngerti?" Jelas bang Age mendekatkan wajahnya dan dijawab oh ria dari istrinya.
Siska yang biasanya langsung tanggap mendadak ngeleg kali ini.
"Mau kita coba?" Goda bang Age menaik turunkan alisnya.
"Isshhh paan sih bang!" Protes Siska mendaratkan telapak tangannya pada wajah tampan suaminya, hingga membuatnya tergelak.
Tok! Tok! Tok!
"Iya masuk!" Teriak Siska.
Pintu terbuka hingga nampak beberapa orang yang memenuhi ambang pintu.
"Surprise!!!"
"Ya ampun! Kalian?" Pekik Siska.
Ia kaget sekaligus terharu mendapati siapa yang hendak memasuki kamarnya dengan membawa kue tart tak lupa dengan balon dan terompet yang mereka bawa.
Keempat wanita memasuki kamar dengan begitu heboh.
"Tunggu dulu!" Siska menghentikan langkah mereka, hingga mereka terdiam ditempat. "Perasaan gak ada yang ulang tahun deh?" Tanya Siska menautkan alisnya seraya berfikir keras.
Keempat wanita itu menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata Siska melupakan ritual yang selalu mereka lakukan, untuk penyambutan baby dan Mama baru. Begitupun bang Age Ia sedikit memijit pelipisnya melihat kelakuan adik dan para sahabatnya, hingga akhirnya Ia memilih keluar untuk meninggalkan keempat wanita yang masih kekanak-kanakan itu menurutnya.
__ADS_1
"Abang keluar dulu yang!" Pamitnya pada sang istri dan diiyakan olehnya.
Bang Age hendak berlenggang keluar, namun sebelum itu Ia berhenti tepat disamping sang adik. "Jangan macem-macem! Jangan aneh-aneh! Jangan sampe istri gue lecet! Jangan-" Belum sempat Ia meneruskan katanya bibirnya dibekap telapak tangan sang adik durjana.
"Udah sono! Mau keluar aja ribet banget deh!" Omel Ayra pada abangnya. Sebelum mereka mendengar kalimat pedas level sekaratnya. Lebih baik mengusirnya terlebih dahulu.
Ayra sampai mendorong tubuh tegap itu keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat agar acara mereka tak diganggu siapapun. Jangan tanyakan dimana para bocil nya, karena sudah pasti suami-suami bucinnya tengah beralih profesi menjadi baby sitter dadakan.
Setelah mengusir sang abang Ayra ikut bergabung dengan emak-emak muda nan kece yang sudah mendudukan diri diranjang mengerubuni Siska.
"Selamat yaa Sis! Akhirnya lu jadi ibu juga." Pekik Feby memeluk sahabat rasa adiknya itu.
"Iya. Makasih kakak!" Balas Siska.
Agel dan Rila pun ikut memberi ucapannya bergilir. Tak lupa mereka juga memberi banyak kado untuk keponakan baru mereka. Hingga papper bag memenuhi sofa tunggal yang dikhususkan menampung kado-kadonya si cantik baby Kia.
"Padahal ya, gak perlu repot-repot kasih ginian segala. Kalian dateng aja aku udah seneng." Tutur Siska.
"Gak papa! Ini tuh harusnya penyambutan lu pas keluar rumah sakit. Berhubung lahiran lu beda dari yang lain, jadi kita bikin acaranya kek gini." Timpal Ayra.
"Tapi gue salut sama lu Sis! Bisa melahirkan tanpa bantuan apa-apa. Amazing!" Ucap Rila berdecak kagum.
"Ini tu keberuntungan besar buat bang Agung. Dia gak ngerasain sakitnya melahirkan." Tutur Agel membuat Siska menaikan satu alisnya.
"Lah, emang yang ngelahirin istri kan kak?" Tanya Siska heran.
"Iya. Yang ngelahirin emang istri, tapi lakik juga gak kalah ngerasain sakitnya." Timpal Feby.
"Kok bisa?" Tanya Siska semakin heran.
"Bisalah! Lakik juga sakit kena jambak, kena cakaran, kena gigitan, dan banyak lagi yang lainnya." Timpal Ayra dan dijawab oh ria oleh Siska.
"Lu tau gak disini yang paling parah tu si Agel." Tutur Rila.
"Kenapa emang?" Tanya Siska penasaran.
"Dia ampe bikin lakiknya trauma." Balas Feby.
"Emang apa yang dilakuin?" Tanya Siska menggebu, sepertinya penasarannya sudah dipuncak ubun-ubunnya.
"Dia narik pisang lakiknya ampe pingsan!" Balas Ayra hingga merekapun tergelak mengingat tingkah salah satu dari mereka. Begitupun Siska, Ia yang sempet kurang mengerti. akhirny tergelak juga.
*************
__ADS_1
Yuk kita siap ketawa bareng gerup reseh🤣🤣
Jangan lupa like dan komennya ya! Yuk ramaikan-ramaikan😊