Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 89 Inget umur!


__ADS_3

Hari ini acara sykuran dimulai. Semua tamu undangan tampak memenuhi halaman rumah yang sudah disulap layaknya pergelaran hajatan. Tenda-tenda menutupi semua halaman luas itu, kursi yang sudah diduduki tamu undangan pun tampak berjejer rapih.


Untuk pencukuran rambut dan pembacaan sholawat dilakukan didalam rumah. Para kyai, ustadz dan tetua komplek tampak sudah siap duduk disana. Acara akan dimulai, tinggal menunggu sang pemeran utama bayi cantik yang akan digendong sang Papih yang belum nampak disana.


Didalam kamar bang Age sudah misuh-misuh karena putri cantiknya tak mau melepaskan miminya.


"De, udah dong! Tuh acaranya udah mau dimulai ya!" Ajaknya pada sang putri seraya mengelus pipinya.


Namun bayi cantik itu tak menggubrisnya. Ia semakin enggan melepaskan miminya.


"Ya ampun!" Bang Age sampai menepuk jidatnya kala meihat sang putri semakin agresif.


"Sabat bang! Bentar lagi juga dilepasin." Ucap Siska.


"Ya tapi kan tu para tamu udah nunggu, kasihan! Yah de ya! Lepas ya!" Titahnya pada sang putri.


Lagi-lagi si cantik masih tak mau melepas sumber kehidupannya. Bang Age hanya menghembuskan nafasnya pasrah.


"Lagian sih abang. Tadi pake acara main bilang mau ambil miminya segala lagi. Kan dia tuh baperan!" Protes Siska.


"Abang kan bercanda yang. Mana tau juga dia bakal baper?" Sangkal bang Age.


Sebelum acara dimulai, bang Age telah mengajak main putrinya terlebih dahulu. Ia yang sudah memikirkan rencana buat tragedi empat puluh hari bersama sang istri, mengatakan akan mengambil alih mimi dari putrinya. Meski dengan nada bercanda, namun itu mampu membuat sang putri baperan.


Bang Age berdecak kesal. Mana mungkin bayi yang masih merah seperti putrinya mengerti dengan apa yang Ia katakan? Ia harus mencoba membujuknya lagi. Meski terlihat mustahil, namun Ia harus tetap mencobanya.


"Dede Kia sayang. Putri Papih yang cantik. Udahan ya mimi nya! Ntar abis acara dede mimi lagi. Papih janji, gak akan ngambil mimi dede, ya!" Bujuknya.


Pluppphh~


Dan benar saja bayi cantik itu melepaskan pucuk kehidupan milik timomnya. Bang Age menganga dengan mata yang berkedip cepat. Sungguh luar biasa bayi cantiknya ini. Bagaimana bisa dia sudah mengerti dengan apa yang Ia katakan?


"Udah bang, cepetan gendong kasihan para tamunya!" Titah Siska menyadarkan lamunan suaminya.


Tanpa mau ambil pusing Ia gendong putri cantiknya dan keluar untuk memulai acaranya.


.


.


Tak terasa acara pun selesai. Para tamu sudah pulang bergantian. Menyisakan keluarga inti dan keluarga Gerup Reseh saja yang ada, tak lupa juga ada Lia dan Ivan disana.

__ADS_1


"Kalo udah kumpul kek gini rame ya?" Tanya Devan kala mereka tengah duduk reuni dimeja panjang khusus para pria.


"Iya. Gak kerasa kita udah jadi ayah." Kekeh Juna dengan pandangannyan melihat pada deretan bocil yang tengah bermain kejar-kejaram disana.


Bang Ar ikut melihat kearah tatapan Juna dan tersenyum. "Iya. Jadi mendadak menolak tua." Kekehnya.


"Lu udah tua. Udah buntutan dua juga!" Timpal Rendi membuat bang Ar memutar bola matanya malas dan enggan membalasnya.


Biarpun kedua pria ini sudah tak memiliki masalah. Namun tetap saja mereka tak pernah akur. Selalu saja ada hal yang membuat keduanya adu mulut.


"Udahlah! Udah pada tua juga. Inget umur! Malu noh sama anak-anak!" Pungkas Rio.


"Kek lu udah bener aja!" Sindir Ivan.


"Menurut lu?" Tantang Rio dan dijawab gedikan bahu oleh Ivan.


"Gini nih. Kalo dendam kesumat masih ganjel dalam hati. Selesaiin napa?" Tutur Devan.


"Perlu ring? Gue siapain." Timpal Juna.


Keempat pria disana terdiam tak menimpalinya.


"Hargai istri lu pada, terutama lu Ren sama lu juga Van. Dengan lu pada masih kek gitu, istri lu pada bakal sakit hati. Karena apa? Sikap lu tuh nunjukin kalo lu masih terjebak sama masa lalu lu." Tutur Devan.


Keempat pria masih terdiam mencerna kalimat sahabatnya. Hingga suara balita cantik mengalihkan atensi mereka.


"Papa!" Pekiknya berhambur keatas pangkuan bang Ar.


Bang Ar tersenyum seraya mengangkat tubuh putri kecilnya keatas pangkuan. "Kenapa sayang? Kenapa gak main?" Tanyanya.


"Aku mau tama Papa aja." Ucap Sena.


"Emang kenapa? Kan lagi seru tuh main?" Tanyanya lagi seraya menunjuk para bocil disana.


"Aku na tape."


"Cape kenapa?" Tanyanya lagi.


"Aku na yebutin muwu."


Celotehan balita cantik itu mampu membuat suasana kembali menghangat. Senyum pun terukir dari bibir mereka.

__ADS_1


"Dede Sen direbutin siapa?" Tanya Rendi.


"Aku yebutin cama Aka cama Bi, cama kak eyiy, cama iki, uga." Timpal si balita cantuk itu. "Aku na pucing!" Lanjutnya dengan memegang kepalanya.


Dan hal itu sukses membuat mereka tergelak. Sungguh kelakuan Sena membuat mereka gemas. Bang Ar menciumi wajah putri cantiknya.


Rendi mengambil alih Sena dari pangkuan Papanya dan iku mencium dan menggelitikinya. Ia yang memang menyukai anak kecil begitu gemas pada balita cantik ini. Mengingat putranya yang tak dapat diajak bermain, terkadang membuat Ia kesepian.


"Ya udah dede Sensen pilih Abi aja ya! Biar dede jadi putrinya uncle!" Tuturnya dan dijawab anggukan Sensen dengan semangat. Dan hal itu semakin membuat mereka riuh dan tergelak.


"Maafin gue Ar! Terkadang sikap gue masih kekanak-kanakan. Mungkin penyebabnya ya kek gini. Bukan karena gue gak bisa move on dari istri lu, tapi karena gue gak bisa ngerasain kehangatan bersama putra gue sendiri." Jelas Rendi tersenyum tipis.


Bang Ar tersenyum seraya menepuk pundaknya. "Jangan terlalu diambil beban. Kapanpun, lu bisa mengajak mereka main. Mereka anak-anak kita." Jawaban bang Ar membuat Rendi tersenyum dan kembali bercanda dengan balita cantik itu.


Semua atensi berpindah kearah Ivan, hingga akhirnya Ia menghembuskan nafasnya pasrah. "Iya. Gue yang masih belum pantes disebut ayah. Maafin gue yo!" Tuturnya membuat mereka tersenyum.


"Lu memang belum jadi ayah, baru akan. Jadi kita belajar bersama." Jawab Rio menepuk pundaknya dan membuat keduanya tersenyum.


"Nah gitu dong kan enak! Noh lihat, para istri aja makin kompak. Masa kita kalah?" Timpal Devan membuat mereka kembali tergelak dengan atensi menunjuk pada para istri yang tengah heboh berfoto ria.


"Eh punya lu ntar cewek ya Van!" Celetuk Devan pada Ivan.


"Kenapa emang?" Tanyanya.


"Kasihan tuh cowoknya udah ada lima. Eh ceweknya baru tiga." Timpalnya membuat mereka kemabali riuh.


"Iya. Gimana dikasihnya aja sih! Lu sendiri cepetlah nambah." Balas Ivan.


"Gue pengen banget punya yang cantik kek gini" Ucap Devan menoel pipi cantik Sensen. "Tapi belum juga dikasih." Kekehnya.


"Mungkin senjata lu udah kurang tajam!" Ledek Ivan.


"Enak aja!" Sangkal Devan.


"Bukan kurang tajam." Selak Juna.


"Apa emang?" Tanya Ivan.


"Udah kekeringan!" Balas Juna. Tawa pria disana pun pecah, hingga ledekan demi ledekan pun terlayang dari mereka.


****************

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaissa😊


__ADS_2