
"Jangan dulu lah bang! Belom nyampe delapan belas plus plus akutuh." Timpal Siska membuat bang Age tertawa.
"Usia belom ya? Tapi otak udah dua satu plus plus." Timpalnya membuat keduanya tergelak.
"Abang sih ngajarinnya yang nggak-nggak!"
"Paan? Abang ngajarinnya iya-iya kok!" Ucap bang Age semakin tergelak hingga Siska menimpuk bahunya.
"Ihh abang mah. Ngajarin tuh yang bener napa?" Protes Siska.
"Ya udah yuk abang ajarin lagi yang bener!!" Timpal bang Age menarik leher Siska, membuat Siska berontak untuk melepaskan diri. Hingga keduanya kembali tergelak.
"Udah ah, yuk anterin aku pulang!" Ajak Siska.
"Nggak! Masih kangen." Timpal sang abang dengan manja dan menenggelamkan wajahnya dibahu sang gadis.
"Abang jangan kek gini, ntar ada yang lihat!" Siska mendorong pelan kepala sang abang untuk menjauh namun tak dihiraukannya.
"Abang ihh! Jangan bikin aku takut!"
Bang Age langsung menjauhkan kepalanya dan menatap sang gadis. Namun Siska malah menutup mulutnya melihat ekspresi khawatir abangnya, hingga tawanya pun pecah.
"Kamu ngerjain abang ya?" Tanyanya tak percaya. Ia yang sudah khawatir dibuat kesal dengan tingkah sang gadis yang meledeknya dengan menjulurkan lidah.
"Wleekkk!!!" Siska kembali tergelak.
"Wah minta dihajar nih!" Bang Age hendak menyerangnya, dengan segera Siska menutup wajahnya.
Sang abang menarik kedua tangan yang menutupi wajah imut gadisnya itu, namun Siska masih tetap mempertahankannya. Bang Age tak kehabisan akal, Ia menggelitik perut sang gadis hingga membuatnya tergelak. Serangan demi serangan ternyata membuat mobil yang anteng bertengger dihalaman itu bergoyang, membuat atensi dua manusia yang baru keluar dari rumah mengerenyitkan dahinya heran.
"Astagfirulloh aladzim!!!"
Sibumil yang baru menginjakan kaki diteras rumah dibuat terkejut dengan adegan didepannya itu. Ia yang tentu tau itu mobil siapa bergegas menghampiri mobil tersebut diikuti sang suami yang mengekorinya dari belakang.
Ia ketuk jendela mobil itu keras, hingga membuat dua manusia didalamnya terlonjak.
Tok! Tok! Tok!
"Abang! Siska! Keluar! Berhenti gak? Jangan dilanjutin lagi!" Teriak Ayra.
"Ya ampun abang! Istigfar bang! Siska kamu juga." Kali ini teriakan Ayra membuat sang Mamih yang hendak menutup pintu merasa khawatir dengan teriakan putri bungsunya, hingga Ia menghampirinya.
Bang Age dan Siska terdiam, mendengar teriakan si bumil. Mereka masih tak membuka pintu dan hanya menghentikan gerakannya.
__ADS_1
"Abang jangan kek gitu bang! Kalo gak tahan aku panggilin pak ustadz." Kali ini suaranya sudah direndahkan satu oktaf, hingga tak terdengar seperti teriakan.
"Udah yang! Kamu harus tenang!" Bang Ar merangkul bahu sang istri seraya menenangkannya.
"Gimana aku mau tenang bang, mereka." Ayra tak meneruskan ucapannya dan hanya menghembuskan nafasnya frustasi.
"Ada apa Ay? Kenapa kamu teriak-teriak?" Tanya Mamih yang menghampirinya.
"Itu Mih. Dudanya Mamih, ya ampun! Aku bener-bener tak habis pikir sama mereka." Omelnya. Mamih yang tak mengerti mengerenyitkan dahinya heran.
Ditengah kebisingan diluar Siska mendorong tubuh sang abang yang terlalu dekat dengannya. "Awas bang! Itu kak Ay kenapa?" Tanya Siska.
Suara dari luar yang tak begitu terdengar jelas kedalam sana, tentu membuat mereka keheranan tak menyadari kalo diri mereka tengah tercyduk.
"Entah!" Jawab bang Age menyedikan bahunya.
"Kita keluar yuk! Takut ada apa-apa." Akhirnya keduanya keluar dengan raut wajah heran melihat wanita hamil yang sepertinya tengah menahan emosinya.
"Napa?" Tanya bang Age tanpa dosa.
Ayra melihat kearah sang abang lalu bergantian kearah Siska, Ia dibuat kembali menghembuskan nafasnya frustasi kala melihat rambut Siska yang sudah acakadul.
Siska yang sudah gatal ingin bicara, akhirnya bertanya. "Kak Ay kenapa?"
"Ngapain apanya sih?" Tanya bang Age masih tak menyadari kelakuannya yang meresahkan si bumil.
"Apa yang seorang duda lakuin sama gadisnya sampe membuat mobil bergoyang-goyang. Hah? Apa? Apa?" Todong Ayra.
Mamih dan Siska sampai kompak menutup mulutnya dengan sebelah tangan kala mendengar penuturan si bumil.
"Menurut lu?" Tantang sang abang. "Enak aja lu ngomong. Gue biar duda tau batasan kali."
"Gak percaya gue! Terus kalo kalian gak ngapa-ngapain, Tuh anak napa ampe amburadul gitu?" Tanya Ayra menunjuk Siska, hingga membuat Siska bingung sendiri. Dan atensi mereka pun pindah ke gadis yang tengah menatap mereka bergantian.
"Ya ampun bang! Kamu apain anak gadis orang?" Pekik Mamih merasa tak percaya dengan kelakuan putranya itu.
Mamih menghampiri gadis yang tengah kebingungan hingga menggaruk pipinya yang tak gatal."Kamu gak papa kan Sis?" Tanya Mamih khawatir dengan membereskan rambutnya.
Siska menggeleng masih belum ngeuh dengan apa yang terjadi. "Ya ampun! Maafin abang ya! Dia sudah keterlaluan sama kamu." Ucap Mamih.
"Ya ampun Mih. aku gak ngapa-ngapain Siska." Sangkalnya.
"Udah deh bang jangan ngelak lagi, udah kecyduk juga." Timpal Ayra.
__ADS_1
"Yaelah belum juga sempat gue apa-apain!" Celetuknya.
"Wah parah lu bang! Tck! Tck!" Bang Ar yang sedari tadi jadi pendengar yang baik, akhirnya bersuara.
"Diem lu, kek lu gak gitu aja!" Sinis bang Age. "Gue gak ngapa-ngapain sama Siska, cuma lagi bercanda aja." Tuturnya.
"Nah kalian?" Ia menunjuk pasutri itu bergantian. "Gue pernah denger ya, suara meresahkan kalian waktu belom nikah. Itu lagi ngapain coba? Hah?" Tanyanya menyindir membuat kedua orang didepannya terdiam. Sial! si abang buka kartu. Untung para readers udah tau ya.
"Suutt!!! Udah-udah, ayo kita kedalam. Kita obrolin ini didalam, malu didenger tetangga." Tutur Mamih seraya menarik Siska masuk kembali kedalam rumah.
"Ck. Semua gara-gara lu!" Ucap bang Age pada sang adik. "Orang gak ngapa-ngapain juga!" Sangkalnya lagi dan hanya dijawab cebikan bibir sang adik. Bang Ar yang melihat keakraban keduanya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Bang Age pasrah dan kembali memasuki rumah diikuti pasangan suami istri yang kena bongkar kartu itu dibelakangnya.
**
"Beneran Mih, kita gak ngapa-ngapain. Tadi tuh." Siska menjelaskan apa yang terjadi didalam mobil kepada semua orang disana, bahkan sang Papih yang sudah terlelap dibuat terbangun kembali ketika diberitahu sang istri untuk mengadakan sidang dadakan. Siska menjelaskan kejadiannya sedetail mungkin, hingga sang Mamih menghela nafasnya panjang kala tau putra dudanya yang udah ngajarin yang iya-iya pada gadisnya.
Bang Age yang mendengar gadisnya yang terlalu jujur kicep sendiri, hingga menghembuskan nafasnya berat.
"Jadi gimana?" Tanya Papih.
"Gimana-gimana Pih. Nikahin aja langsung!" Ledek Ayra.
"Suuutt!" Bang Ar memberi kode pada sang istri untuk diam, hingga sang istripun menurut.
"Gimana bang?" Tanya Papih.
"Siska kan masih sekolah Pih. Kasihan biarin lulus dulu!" Timpal sang abang.
"Terus membiarkan kamu lulus juga ngajarin dia. Gitu?" Tanya Mamih membuat bang Age terdiam.
"Jadi Sis gimana, kamu siap nikah sama abang?" Tanya Mamih, membuat Siska terdiam.
"Maaf!" Jawaban Siska membuat mereka shok dan saling lirik. Begitupun bang Age yang merasa tak percaya, akan penolakan sang gadis.
"Kenapa?"
"Aku gak bisa nolak!" Balasan Siska sukses membuat mereka melongo, dan didetik berikutnya merekapun tergelak.
************
Lanjut besok lagi yaa🙏 Mak othornya kelelahan abis tugas negara🤭
__ADS_1
Eh kemaren tuh, up kek biasa cuma macet dijalan. Baru dilolosin tadi siang😣 Jadi mon maaf yaa udah bikin kalean nunggu🙏🙏