
Pagi ini si anggota keluarga baru sudah membuat kegaduhan. Bagaimana tidak? Belum juga adzan subuh berkumandang, balita cantik itu sudah terbangun dengan lengkingan tangis yang memekikkan indera pendengaran seluruh penghuni rumah.
Tangisnya tak kunjung juga berhenti, biarpun timomnya memberikannya mimi. Bahka sang Papih sudah menyeduh mimi formula untuknya, namun tetap saja bayi cantik itu tak mau meminumnya. Tangisnya semakin kencang dan enggan berhenti membuat kedua orang tuanya kelimpungan.
Ibu dan ayah Dedes yang masih disana ikut membujuk bayi cantik itu. Ibu meraih cucu cantiknya untuk menenangkannya, menggendongnya dipundak dengan mengusap punggungnya. Hingga tangis bayi cantik itu reda, namun itu hanya sebentar. Karena baru satu menit, tangisnya kembali melengking.
Timomnya sudah berkucuran keringat dengan rambut yang Ia cepol asal sudah acakadul. Sang Papih pun tak kalah acakadulnya. Bajunya sampai kena tumpahan susu dari botol dot yang tak rapih Ia tutup.
Ibu tak kalah berkeringatnya dengan anak dan mantunya. Sungguh lengkingan bayi cantik itu membuat mereka tak kalah dari olahraga pagi.
Ibu dan ayah membawa bayi cantik itu keluar kamar. Meninggalkan Papih dan timomnya disana. Ibu terus melantunkan sholawat sembari menggendongnya untuk menenangkannya. Ia juga memeriksa perut mungilnya takut kembung, namun tak ada tanda-tanda masalah dalam perutnya. Hingga suara seseorang mengalihkan atensi mereka.
"Bu?!" Sapa bocah tampan yang menghampiri mereka.
"Ya sayang! Kamu udah bangun?" Tanya Ibu dan dijawab anggukan olehnya.
"Bentar ya ibu nenangin dede Kia dulu!" Ucapnya.
"Dedenya kenapa?" Tanyanya.
"Entahlah! Dari tadi nangis terus tak mau berhenti." Jawab ayah Dedes.
"Boleh aku gendong?" Tanyanya.
"Jangan de! Berat, ntar jatoh." Balas ayah.
"Nggak yah! Sambil duduk aja!" Timpalnya. "Boleh yah bu!" Pintanya pada sang Ibu.
Ibu berfikir sejenak, tak ada salahnya juga dicoba. Siapa tau dipangkuan putranya, cucu cantiknya itu bisa tenang? Pikirnya.
Akhirnya ibu mengangguk. Rei mendudukan dirinya disofa, Ia menerima keponakan cantiknya dengan arahan dari sang ibu. Hingga bayi cantik itu berada digendongannya.
Ia tepuk pelan pahanya seraya mengajaknya berbiacra. "Cup! Cup! Dede sayang jangan nangis lagi ya! Sekarang dede sama om." Ucapnya.
Ayah dan ibu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan putranya. Mereka seolah tak percaya putranya bisa memperlihatkan kasih sayangnya.
Dan hal itu seperti sebuah magic. Tak membutuhkan waktu lama, bayi cantik itu akhirnya tertidur dipangkuan sang om. Kedua orang tua disana tercengang merasa tak percaya, putranya bisa menenangkan cucu cantiknya.
"Gimana bu udah tidur?" Tanya Siska yang sudah tak mendengar suara tangis putrinya.
"Udah!" Jawab ibu pelan seraya memberi kode agar putrinya tak keras-keras bersuara.
Siska melongo melihat putrinya yang sudah terlelap dipangkuan adik sambungnya. Hingga senyum pun terukir dari bibirnya.
__ADS_1
"Ya udah bu, ntar langsung dipindahin box aja ya! Aku mau mandi dulu." Ucap Siska dan dijawab anggukan ibu.
Siska kembali kedalam kamarnya. Ia melihat suaminya yang tengah merebahkan dirinya diatas kasur king size nya. Bang Age yang baru membersihkan diri, ternyata sudah terlelap kembali. Seperti biasa, malam tadi Ia dibuat begadang oleh putrinya.
Ia tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, Ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh suaminya. Lalu berlenggang ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang lengket dengan keringat.
"Bang buruan!" Pekik Siska kala dirinya sudah siap dengan bayi cantik digendongannya.
"Iya. Iya! Bentar." Teriaknya dari dalam kamar.
"Lagi ngapain sih si abang? Lama bener?" Gerutunya.
"Abangnya mana Sis?" Tanya ibu.
"Masih dikamar bu!" Jawab Siska.
"Gak papa kan, ibu gak antar?" Tanya ibu memastikan setelah tadi Ia meminta izin pada putrinya untuk pulang hari ini.
"Gak papa bu! Kasihan juga Rei, dia harus sekolah." Ucap Siska. "Eh tapi ya udah siang?"
"Emang sekolahnya shif siang kok!" Balas ibu dan dijawab anggukan Siska.
"Cucu nenek yang cantik! Nenek, kakek, sama om pulang dulu ya! Ntar kita main lagi kesini." Tutur Ibu menciumi wajah cantik cucunya.
"Aku mau cium boleh?" Tanya bocah tampan yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya hingg keduanya menoleh.
"Boleh dong om! Nih!" Ucap Siska menyodorkan bayi cantiknya untuk dicium sang om.
Rei mencium kedua pipi chuby keponakannya, kemudian tersenyum melihat wajah cantiknya. "Dede jangan nakal ya! Ntar om main lagi kesini." Ucapnya membuat kedua wanita itu tersenyum.
"Udah siap?" Tanya Rangga yang baru selesai memanaskan mobilnya.
"Bentar ya! Ayah masih dikamar mandi." Jawab ibu dan diiyakan Rangga.
Ibu berlenggang menyusul ke dalam kamar untuk melihat sumainya yang belum juga menampakan batang hidungnya.
"Om! Gak mau pamitan dulu sama aku yang cantik?!" Goda Siska dengan kembali suara dibuat kecil.
Rangga tersenyum dan mendekat kearah bayi cantik putri dari mantan gebetannya yang sayangnya sekarang malah menjadi saudara tirinya.
"Om pulang dulu ya cantik! Jangan kangen!" Ucapnya membuat Siska terkekeh.
Bang Age yang melihat kedekatan sang istri dengan pemuda yang pernah Ia hajar, menjadi meradang. Ia mendekat dan menarik pelan kerah baju belakang Rangga dengan jempol dan jari telunjuknya, kala Ia akan mencium pipi keponakannya. Siska melongo melihat tingkah suaminya ini.
__ADS_1
"Jangan gitu lah bang!" Pinta Siska dengan mengambil tangan suaminya.
"Ck! Masih aja posesif. Gue cuma mau pamitan sama ponakan gue." Tutur Rangga.
"Cih! Alasan! Lu fikir gue buta apa? Lu godain istri gue mah iya." Timpal bang Age.
"Paan sih lu. Gaje banget! Siapa juga yang godain?" Elak Rangga.
"Ya lu lah!" Sungutnya.
"Eeh! Udah udah. Kek anak kecil deh!" Lerai Siska.
"Dia tuh pedofil. Mau main comot pipi putri gue. Enak aja!" Sinis bang Age.
"Gak nyadar! Lu yang pedofil. Nikahin gadis dibawah umur!" Balasnya tak kalah sengit.
"Eh gue nikahin dia udah diumur yang pas ya! Lu kalo sirik gak usah mutet-muter ngomong sama gue. Ngomong aja yang jelas, kalo lu masih mengharapkan istri gue kan?" Cecar bang Age.
"Paan sih lu? Omongan lu tuh yang makin muter-muter!" Balas Rangga.
Bang Age hendak melontarkan lagi ucapannya, namun tiba-tiba bibirnya dibungkam dengan bibir manis sang istri.
Rangga sedikit shok dan segera menutupi kedua mata adiknya. "Woy! Lihat sikon dong! Ada bocah nih!" Protesnya.
Siska melepaskan pagutannya, kemudian mengusap bibir basah suaminya. "Bibirnya cukup dipake buat hal yang berguna aja! Contohnya tadi." Ucapnya tersenyum.
Bang Age ikut tersenyum dan mengusek pucuk kepala sang istri.
"Udah! Sekarang baikan. Udah pada tua juga! Malu nih ama yang kek gini!" Tutur Siska mengangkat sedikit putrinya dari gendongan.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ia melirik kearah Rangga yang juga tengah meliriknya.
"Maafin gue!" Ucap bang Age dengan nada dingin.
"Cih! Minta maaf tu yang ikhlas." Ledeknya.
"Rangga!" Peringat Siska.
Rangga menghembuskan nafasnya pasrah. "Iya. Gue juga minta maaf!" Ucapnya dengan raut muka tak bersahabat.
"Nah gitu dong! Yang akur." Tutur Siska. "Ini baru, saingan jadi Adik Kakak ipar judulnya!" Lanjutnya, lalu tergelak sendiri.
**************
__ADS_1
Ayo ramaikan! Udah hari senin lagi, boleh kasih vote nya yaa😊