Love Abang Duda

Love Abang Duda
I LOVE U OM!


__ADS_3

"I LOVE YOU, OM!"


Satu kalimat yang terus terngiang-ngiang dibenak seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun. Pria tampan dengan sejuta pesona yang dimilikinya. Muda, tampan, mapan, seorang arsitek ternama, itulah julukan yang disandang Reihan Adya Darmawan. Sempurna sudah hidupnya di mata semua orang.


Namun dibalik semua itu, masih ada satu hal yang belum Ia dapat. Pasangan hidup. Diusainya yang sudah matang, Ia tak jua menggandeng sorang istri. Bahkan hanya sekedar kekasih saja tak pernah Ia bawa pulang.


Hingga sang ayah, sudah beberapa kali hendak menjodohkannya. Namun tetap saja Ia menolaknya. Tak ada alasan yang jelas yang Ia berikan pada kedua orang tuanya. Ia hanya memberi alasan belum mau menikah dan masih ingin sendiri.


**


Pletekkk!!!


Berulang kali pensil yang dicoretkannya diatas kertas putih itu patah. Ia lempar benda itu sedikit menjauh. Lalu Ia menyenderkan pundaknya diatas kepala kursi kerja, seraya memejamkan mata. Ia pijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.


Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam, dimana Ia dibuat tercengang dengan pengakuan seorang gadis padanya. Gadis kecil yang selalu mengganggu hari-harinya, bahkan selalu menempel padanya dan kini gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja.


"Kenapa kamu mengatakan itu Kia? Om lebih sayang sama kamu? Tapi, apa ini dibenarkan?"


Flash back on


"Om!" Panggilan seorang gadis membuat Rei menoleh sekilas.


"Hmm? Apa?" Tanyanya, lalu fokusnya kembali pada layar persegi diatas pangkuannya dengan jari tangan yang bergerak lincah diatas papan keyboad benda tersebut.


"Ada yang mau aku omongin." Lanjutnya sedikit ragu, hingga membuat jari itu berhenti seketika.


"Apa?" Rei kembali menoleh merasa penasaran apa yang ingin ponakannya itu katakan.


"Aku, aku," Sepertinya kata-katanya itu terlalu sulit untuk Ia katakan. Terlihat dari gerak gerik tangannya yang tak mau diam dibawah sana.


Rei menghembuskan nafasnya pelan, ia simpan laptopnya ke atas meja didepannya. Lalu membalikan badannya menghadap sang gadis."Kenapa de? Cerita sama om, jangan takut!" Titahnya seraya membelai rambutnya sayang.


"Aku, aku," Terlihat wajah sang gadis memerah membuat Rei khawatir. Ia tangkup kedua pipinya dan meraba-raba seluruh wajahnya.


"Ya ampun de! Wajah kamu merah. Kamu sakit?" Tanyanya.


Sang gadis menggeleng cepat, menandakan dia baik-baik saja. "Ng-nggak Om! Aku gak papa." Ucapnya seraya menjauhkan wajahnya.


"Tapi kan kamu-" Ucapan dan pergerakan tangannya yang hendak kembali meraih wajah sang gadis harus berhenti, kala gadisnya menyelaknya.

__ADS_1


"Om!!!" Ucapnya tegas hingga membuat Rei sedikit terkesiap.


"Aku sayang sama om. Aku cinta sama om! Aku gak mau om nikah sama siapapun kecuali aku, Askia Gisellya Arumi." Tegasnya.


Rei termangu mendengar penuturan itu. Sungguh Ia tak menyangka ponakannya bisa mengatakan itu. Ia menatap dalam mata gadis dihadapannya, terlihat kesungguhan yang tersirat didalamnya.


"Aku mohon om, jangan terima perjodohan itu!" Lirihnya seraya memejamkan mata.


Kia yang mendengar sang om akan dijodohkan dengan pilihan kakeknya itu, tentu tak terima. Sudah beberapa kali Ia ikut andil dalam penggagalan perjodohan yang setiap kakeknya lakukan, dan sekarang mereka merencanakan hal yang sama. Bahkan tanpa memberitahu omnya terlebih dahulu. Sungguh hal itu membuat dirinya meradang. Hingga dengan keberanian yang Ia kumpulkan, Ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada sang om.


"I Love you, om!"


Setelah kalimat terakhirnya, Kia berlari menuju kamarnya. Sedangkan Rei masih mematung ditempatnya. Ia bener-bener tak menduga hal ini akan terjadi. Tak dapat dipungkiri, Ia pun merasakan hal yang sama. Namun apa itu dibenarkan? Meskipun tak ada ikatan darah sama sekali antara keduanya, tetap saja itu rasanya mustahil. Ia menunduk seraya mengusap wajahnya kasar dan terlihat berpikir keras.


"Apa yang harus kulakukan?"


Flash back off


**


Setelah mengungkapkan perasaannya tadi malam, Kia terus merutuki dirinya. Bisa-bisanya Ia mengungkapkan itu pada omnya. Memalukan. Pikirnya.


"Gimana ini? Gue bahkan malu banget ketemu sama si om." Ucapnya seraya mondar mandir didepan meja rias.


Ditengah kegundahannya, ketukan dipintu dan suara sang om yang memanggilnya membuat Ia gelagapan. Ia bingung harus bagaimana hingga Ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam selimut.


Ceklek!


"De? Kamu belom bangun?" Tanyanya. "Hari ini gak kuliah?" Lanjutnya.


Kia masih terdiam tak menanggapi, bahkan wajahnya kembali memerah hanya karena mendengar suaranya saja. Terdengar derap kaki yang mendekatinya. Hingga Kia mengeratkan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya.


"De, bangun yuk, Sarapan dulu!" Ajaknya seraya mengusap lengan sang gadis yang tertutup selimut itu.


"De?" Panggilnya lagi namun masih juga tak ada jawaban.


Rei menghembuskan nafasnya pelan, dan berlenggang kembali meninggalkan sang gadis. Kia bangkit membuka selimut yang membungkus seluruh tubuhnya ketika suara pintu terdengar tertutup.


"Mampus gue. Lu emang bodoh Kiy. Bodoh! Bodoh!" Rutuknya dengan mengetuk kepalanya berulang kali.

__ADS_1


"Ehemmm!!!"


Hingga deheman keras, membuatnya menghentikan aktifitasnya. Dengan hati-hati Ia menoleh dan mendapati tubuh tegap dengan lipatan tangan didadanya tengah bersandar didaun pintu dengan santainya dan tatapan yang mengarah padanya. Tetnyata sang om tak benar-benar meninggalkan kamarnya.


Kia melongo sejenak, hingga lengkung bibirnya terbentuk sempurna. Tatapannya kembali menunduk kedepan dengan perasaan malu semalu malunya orang malu pokoknya mah. Ia terus merutuki dirinya dalam hati.


Rei mendekat kearahnya. Dan hal itu membuat Kia semakin tak menentu hingga Ia semakin menunduk. Terlalu malu untuknya menatap sang om yang berdiri di samping ranjang.


"Kenapa?" Tanya sang om.


"Gak papa!" Jawab Kia cepat.


"Terus kenapa gak jawab panggilan om? Kenapa gak mau bangun?" Cecarnya.


"Ini aku bangun." Balasnya masih dengan tatapannya mengarah kebawah.


Teu menghembuskan nafasnya panjang. Tau pasti gadisnya itu tengah memikirkan kejadian tadi malam. "De?!" Sapanya lagi.


Tanpa menjawab Kia bangkit dari tempat tidur hendak berlenggang pergi tanpa menatap sang om, namun kaos oblong yang dipakainya ditarik dari belakang.


"Eeehh!! Om lepasin!" Jerit Kia yang terkejut.


"Nggak! Sebelum kamu lihat om!" Titahnya.


"Lepasin ihh!!" Rengek Kia berontak.


"Tengok dulu sini, ntar om lepasin!" Tawar Rei.


"Nggak mau!" Tolak Kia yang masih enggan menengokan wajah pada sang om dibelakangnya.


"Kenapa?" Tanyanya dan hanya dijawab gedikan bahu oleh gadis didepannya.


"Karena semalam?" Tanyaya lagi, namun Kia masih enggan membalas ucapannya itu.


Rei kembali menghembuskan nafasnya panjang. "De, dengerin om! Kita ini keluarga. Dan rasanya aneh kalo kita sampai terikat hubungan. Apalagi kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang." Jelasnya.


Seketika Kia berbalik dan menatap dalam mata sang om. "Kita emang keluarga, tapi kita gak terikat darah." Balasnya.


"Jika memang perasaan om, berbeda dengan perasaanku. Aku minta maaf!" Lanjutnya.

__ADS_1


***************


Hayoo siapa yang nunggu Kia gede??🤭 Tambah ramaikan! Jejaknya jangan kelupaan yaa🤗


__ADS_2