
"Selamat pagi abang hubby!!"
Sapa Siska dengan senyuman manisnya. Wajah bantalnya tak membuat keimutanya berkurang. Bahkan sang suami begitu menyukai wajah bantal yang membuatnya semangat menjalani hari-harinya.
Ia raih wajah imut itu menciumi seluruh wajahnya bertubi-tubi hingga membuat Siska tergelak.
"Abangg! Ihh berhenti! Geli." Pekiknya disela tawa.
Namun suaminya semakin gencar menyosor seluruh wajahnya, hingga sampai diceruknya juga.
"Abanghh!!"
Suara candu yang selalu membuat bang Age semakin menggebu, terdengar begitu merdu ditelinganya.
Sentuhan dibagian ceruknya yang begitu sensitif, membuat Siska terlena. Apalagi tangan nakal suaminya sudah bertengger di balik kaosnya, semakin membuatnya melayang.
"Abanghh!!"
Lagi-lagi lenguhan itu membuat sang suami semakin bersemangat. Tak ingin aktifitasnya terganggu putranya, Ia sambar bibir yang akan meresahkan hingga membuat putranya terbangun.
Menyesapnya, menyecap rasa manis, dibibir ranum yang membuatnya sulit melepasnya. Satu tangannya turun kebawah, mengelus paha no burick nya. Siska hanya menggunakan hot pants dan kaos saja. Ia sudah tak bisa menggunakan gamis malamnya lagi. Semua koleksi lingery nya habis, kena sobek suaminya yang semakin hari semakin euurrgghh.
"Timom!"
Suara serak khas bangun tidur, terdengar jelas di indera pendengaran mereka. Bang Age melepaskan pagutannya dan menghela nafasnya panjang.
"Kongsi lagi." Lirihnya, membuat Siska tersenyum.
"Udah gak usah lebay. Tiap malam kan milik abang seorang." Ledek Siska.
"Tapi kan pengen tiap wakfu." Tuturnya dengan wajahnya yang ditekuk.
Siska meraih wajahnya dan menyambar bibir yang kian hari kian manja itu. Mengecupnya sedikit. "Udah! Bangun. Tuh aka keburu sadar." Titahnya hendak mendorong dada sumainya yang semakin menempel. Namun bang Age semakin mengeratkan pelukannya.
"Abang ihh!" Rengeknya.
Bang Age hendak kembali menyambar bibir yang menggemaskannya itu, hingga tiba-tiba Ia melepaskan dekapannya dan terbangun. Ia berlari menuju kamar mandi, hingga membuat Siska keheranan.
"Bang! Abang kenapa?" Teriaknya.
Uwhekkk!!! Uwhekkk!!!
Suara sang suami membuat Siska secepat kilat ngibrit kekamar mandi menyusul suaminya.
"Ya ampun! Abang kenapa?" Tanya Siska khawatir dengan mengelus tengkuknya pelan.
Bang Age tak menjawab. Ia masih memuntahkan isi perutnya didepan washtaple. Hingga cairan kuning pun dimuntahkannya. Sepertinya Ia benar-benar menguras semua isi perutnya.
Bang Age benar-benar terlihat lemas. Siska dengan sigap menuntunnya keluar dari sana dan kembali keatas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Nih! Minum dulu bang!" Siska menyodorkan air, mencoba memberi minum pada suaminya.
Bang Age meminum air yang disodorkan padanya. Ia pegang kepalanya yang terasa berat dan memijitnya pelan. "Kepala abang pusing, yang!" Tuturnya.
Siska mengambil kayu putih dari laci nakas, mengoleskannya pada kepala, tengkuk, punggung dan dada suaminya. "Kek nya abang masuk angin deh!" Ucapnya seraya memijit kepala dan tengkuknya.
"Aku ambilin sarapan dulu ya!" Pamitnya dan dijawab anggukan suaminya.
Untung saja balita tampannya tak terbangun. Suara seraknya tadi hanya igauannya saja. Jadi Siska tak terlalu repot untuk mengurus keduanya.
Ia kembali ke kamar membawa nampan berisi nasi dan kawan-kawannya diatas piring dan tak lupa Ia juga membawa obat tolak dingin disana.
"Makan dulu ya bang!" Titahnya.
Ia simpan dahulu nampan diatas nakas. Mencoba membangunkannya, menumpukan bantal untuk menyandarkannya.
Bang Age yang terlihat pucat, benar-benar membuat sang istri khawatir. Ia menyuapi sang suami dengan telaten.
"Aaa!"
Bang Age membuka mulutnya. Baru saja beberapa suapan, perutnya sudah kembali ingin mengeluarkan makanan yang baru masuk kedalamnya.
Siska segera memberinya minum. Hingga bang Age tak jadi untuk mengeluarkan makanannya.
"Nih bang minum dulu obatnya!" Titahnya. Sang suami pasrah mengikuti intruksi istrinya.
Setelah selesai Ia kembali membaringkan dirinya. Siska menarik selimut, menyelimutinya sampai dada dan mengelus kepalanya sayang.
"Gak usah! Elus-elus aja kek gini!" Titahnya memegang tangan sang istri yang bertengger dikepalanya.
Siska tersenyum. Ia sangat menyukai sikap manja suaminya seperti ini. Ia menurutinya dengan senang hati. Mengelus kepalanya dengan sayang. Bahkan menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi.
"Lekas sembuh abang hubby ku!" Ucapanya membuat sang suami tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Ia ambil satu tangan istrinya yang nganggur , memegangnya dan mengelus-elusnya dibalik selimut.
Tak berselang lama, bang Age pun tertidur. Kini giliran balita tampannya yang terbangun. Siska mengambilnya dari baby box, membawanya menuju kamar mandi.
Sebentar lagi kedua orang tua itu harus menyiapkan kamar untuk bujangnya itu. Usianya yang hampir memasuki tiga tahun, sudah terlihat sempit didalam box nya.
"Dah ganteng!" Siska menarik pelan hidung mancungnya membuat balita didepannya tertawa.
Setelah memandikannya, Ia juga memakaikan pakaian dan mendadaninya. Hingga balita itu semakin tampan dan wangi tentunya.
"Cium dulu dong timomnya!" Siska menyodorkan pipinya meminta untuk dicium.
Aska dengan girang mendaratkan bibirnya dipipi timomnya itu.
"Ayang timom!" Ia memeluk leher timomnya sayang membuat Siska tertawa kecil.
__ADS_1
"Ya udah, kita keluar yuk! Papihnya lagi sakit. Biarin Papih tidur ya!" Ajaknya.
"Pih, atit?" Tanya Aska dan dijawab anggukan Siska.
Siska mengandeng tangan putranya dan berlenggang keluar kamar, membiarkan sang suami istirahat.
Waktu masih menunjukan jam tujuh pagi. Setelah melakukan sarapan berdua, Siska mengajak putranya bermain di kursi depan tv. Hingga suara ketukan di pintu membuat Siska terbangun untuk membuka pintunya.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampakan wanita dengan balita cantik digendongannya. Membuat Siska tersenyum bahagia dan segera mengambil balita itu dari gendongan Mama nya.
"Ya ampun baby girl nya timom!" Pekiknya girang. Bukan menangis, balita cantik itu malah tertawa senang.
"Abang mana Sis?" Tanya Ayra.
"Abang sakit!" Jawab Siska sembari mengajak adik ipar dan ponakannya masuk.
"Sakit apa? Tumben?" Tanyanya lagi.
"Sakit kok tumben?" Tanya balik Siska terkekeh. Hingga membuat Ayra tertawa.
"Ya kan si abang jarang banget sakit." Timpalnya.
"Kek nya, masuk angin. Tadi pagi aja sampe menguras isi perutnya habis." Jelas Siska dan dijawab anggukan Ayra.
"Kak Ay cuma berdua? Dede Shaka nya mana?" Tanya Siska.
"Aka sama Papa nya. Katanya mereka mau kerumah ibu. Eh ni si cantik malah nanyain Aka Aska." Tutur Ayra dan dijawab anggukan Siska.
"Aka! Lihat timom bawa siapa?" Siska mendekat membuat balita tampan itu menoleh, hingga senyuman manisnya mengembang diwajah tampannya.
"Dede!" Pekiknya membuat balita cantik digendongan Siska tertawa bahagia.
"Aka!" Celoteh balita cantik itu.
Siska mendaratkan bokongnya diatas sofa hingga kedua balita itu saling sapa dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan balita cantik yang tengah belajar berjalan itu meminta diturunkan dari gendongan timomnya.
Keduanya duduk bermain diatas karpet yang tergelar didepan sofa. Sementata kedua balita sibuk dengan dunianya, kedua emak-emaknya pun sibuk dengan ghibahannya.
"Kek nya ada yang aneh deh sama abang." Tutur Ayra, setelah Siska menjelaskan perkara yang menimpa suaminya itu.
"Aneh kenapa?"
"Pagi-pagi, muntah-muntah, kepala mendadak sakit?" Tanya Ayra memastikan dan dijawab anggukan Siska.
"Fix ini mah si abang ngidam."
********************
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa yaa😉 ayo dong jangan takut, ramaikan kolom komentarnya! Mak othornya bae kok🙈🤣