
Satu hari lagi, tepatnya empat puluh hari Setelah kelahiran baby Kia. Rumah sudah dipenuhi sanak saudara yang tengah membuat makanan untuk acara syukuran dan akikah bayi cantik putri dari bang Age dan Siska ini.
Kerabat sang Mamih dari luar kota tak dapat menghdiri acara tersebut. Hanya kerabat disana, dan para tetangganya sajalah yang hadir. Tak lupa para sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri tampak memenuhi dapur. Bu Ratih pun juga ikut menghadiri acara mantan menantu yang sudah seperti anaknya sendiri itu. Ibu dan ayah Dedes juga sudah hadir disana beserta kedua putranya.
"Alhamdulillah ya bu, kita bisa berkumpul lagi disini." Ucap bu Anita, Ibunya bang Ar.
"Ya bu! Alhamdulillah, akhirnya kita semua jadi keluarga." Balas bu Titin.
"Iya. Saya juga bersyukur masih bisa jadi bagian dari keluarga ini." Timpal bu Ratih, ibunya almarhumah Icha. Dan langsung mendapat rangkulan hangat dari Mamih.
"Tentu Bu. Sampai kapanpun ibu adalah keluarga kita. Neneknya Aska. Jadi kalo ibu butuh apapun pada kami jangan sungkan ya!" Tutur Mamih dan dijawab senyum dan anggukan bu Ratih.
Semua wanita paruh bayu yang masih cantik diusinya ini tersenyum melihat kehangatan dikeluarga ini. Mereka tengah duduk di meja makan dengan tangan yang sibuk dengan adonan kue yang dibuat.
"Saya juga bersyukur bisa kabur dari suami saya. Jadi bisa ikut kumpul disini." Timpal tante Asmi, ibunya Aysa. Dengan cekikikan.
"Emangnya kenapa mesti kabur?" Tanya bu Anita heran.
"Suami saya tu gak bisa lepasin saya. Kemana-mana pasti saya harus ngintil. Kerjaan yang membuatnya harus keliling kota, membuat saya gak bisa ikut acara-acara kek gini. Ya kecuali kek sekarang. Saya kabur sebelum dia berangkat." Timpal tante Asmi membuat mereka tergelak.
"Bu Titin gimana setelah jadi bu kades? Pasti sibuk ya?" Tanya bu Anita.
"Iya bu. Kadang saya cape, kek nya lebih baik bikin adonan kue aja dari pada harus ikut suami ngikutin pertemuan-pertemuan kek gitu. Ribet!" Jawab bu Titin membuat mereka tersenyum.
"Ibu sendiri gimana kesibukan sehari-harinya?" Tanya bu Ratih pada bu Anita.
"Saya mah ibu rumah tangga. Stay dirumah tiap hari, jagain cucu aja. Itu pun sekarang udah pada main sendiri. Ya palingan ikut acara arisan ibu-ibu komplek." Timpal bu Anita.
"Ibu sendiri kenapa gak nikah lagi? Padahal kan ibu masih muda?" Tanya bu Titin pada bu Ratih.
"Entahlah. Saya lebih suka menyendiri. Setelah kepergian Icha, saya lebih menyibukan diri dipasar bu. Sampai saya mempercayakan cucu saya sama neneknya disni. Apalagi sekarang alhamdulillah pelanggan semakin meningkat, makin sibuk saya tuh!" Timpal bu Ratih.
"Ya deh yang pada punya kesibukan. Saya mah senasib sama bu Anita, hanya dirumah aja ya bu?" Kekeh Mamih pada besannya.
"Iya! Padahal pengen punya kegiatan juga ya!" Timpal bu Anita ikut terkekeh hingga membuat mereka tergelak.
"Sama aja bu. Ngurus rumah juga sibuk." Ucap bu Titin.
__ADS_1
"Iya. Ditambah lagi jagain cucu. Saya berterima kasih banget itu." Timpal bu Ratih membuat mereka kembali tertawa.
"Oh iya As. Besan kamu gak diajak kesini?" Tanya Mamih pada sang adik.
"Udah kak. Katanya lagi sibuk. Mungkin besok! Maklum lah dia kan wanita karier." Timpal tante Asmi dan dijawab anggukan mereka.
Ditengah kehebohan para nenek muda ini, si ibu muda pun datang menghampiri mereka.
"Gimana ibu-ibu udah pada beres belum?" Tanya Ayra.
"Kamu tuh bisanya cuma mandorin. Bantuin gih! Gak malu apa sama mertua?" Omel sang Mamih pada putri bungsunya.
Ayra hanya tersenyum dengan menampilkan deretan giginya. Ia mendudukan diri disisi ibu mertuanya dan bergelayut manja ditangannya.
"Gaklah. Ibu aku ini baik, aku berasa kek bukan mantu tau. Tapi kek putri sendiri. Ya kan bu?" Tanyanya pada sang ibu dan dibalas senyuman juga usapan dilengannya.
Mamih hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu. Sungguh sikap manja pada orang tersayangnya tak pernah berubah meski dirinya sudah menjadi ibu dari dua anak pula.
"Gak kek Mamih. Aku tuh udah kek anak tiri kalo sama Mamih!" Ledeknya dan sukses mendapatan alungan adonan kue darinya.
"Kamu tu ya sama Mamih sendiri." Mamih hendak bangun untuk menjewel telinganya namun ditahan bu Titin hingga Ayra tertawa.
Mamih benar-benar sudah berdiri, hingga putri bungsunya ikut berdiri dan ngibrit terlebih dahulu meninggalkan kursinya hingga menghilang dari dapur.
.
"Huhh!! Alhamdulliah selamat nih kuping! Kalo nggak, bisa dower!" Ucapnya bermonolog sendiri dengan mendudukan diri diatas karpet yang tergelar bersama para sahabatnya.
"Napa sih lu ngomong sendiri? Aneh." Tanya Rila yang tengah melipat uang untuk acara saweran besok. Dan hal itu juga membuat mereka yang disana menoleh.
"Nggak! Tuh si Mamih mau nyabit telinga gue." Penuturan Ayra membuat mereka tergelak.
"Lu sih so so an mau nanyain kerjaan, kena semprot kan?" Ledek Feby.
"Lagian napa coba bukannya bantu, malah pada diem disini?" Tanya Agel.
"Ya lu sendiri kenapa coba?" Tanya balik Feby.
__ADS_1
"Ya karena gue males!" Jawab Agel membuat mereka riuh hingga dapat toyoran dibahu dari Feby.
"Kakak kakak jangan pada malas dong masa kalah sama bumil kek aku!!" Ledek Lia.
"Emang lu ngapain? Perasaan dari tadi gak ngapa-ngaapin?" Tanya Ayra heran.
"Dari tadi aku kerja kak!" Balas Lia.
"Kerja apa?" Tanya Rila.
"Kerja mandorin kalian!" Jawabnya membuat mereka riuh dan langsung dapat lemparan uang koin dari Feby.
"Dasar emang lu. Pantesan Siska kadang somplak, bestie nya lebih sengklek!" Ledek Feby membuat mereka semakin riuh.
"Jangan gitu lu Feb. Sengklek-sengklek gini, kesayangan bang Ivan. Harusnya lu dulu sengklek kek dia biar dapetin bang Ivan." Ledek Rila dan sukses juga dapet lemparan uang receh dari sahabatnya itu.
"Ogah gue! Gue milih waras sama ayang Rio gue." Selaknya.
"Idihh emang lu waras sama Rio. Gue rasa makin koplak lu!" Ledek Agel.
"Njirr!!! Gue dipojokin. Ay!!" Ucap Feby dramatis.
"Kasihan! Sini-sini peyuk!" Ajak Ayra merangkul pundaknya. "Kenapa lu milih dipojokin? Harusnya kan disuksrukin!" Penuturan Ayra sukses membuat mereka semakin tergelak.
Si bumil sampai menahan perutnya, kala Ia tak bisa berhenti tertawa. Ternyata bergabung dengan mereka membuatnya mendapatkan berbagai macam predikat, dari somplak sampe sengklek didapatnya. fix ini kumpulan kaum gesrek!
"Sa! Dari tadi lu diem bae. Ngomong dong!" Titah Feby.
"Lah lu kek gak tau Aysa aja. Dia tu cukup menyimak, dia kan paling waras diantara kita semua" Timpal Ayra.
"Paan! Gue gak diem. Nih gue gerak!" Timpal Aysa dengan tangan yang sibuk melipat uang.
"Terus kenapa gak ngomong-ngomong?" Tanya Feby.
"Gimana gue mau ngomong? Mak othornya gak ngasih gue dialaog!" Balas Aysa. Hingga didetik berikutnya tawa merekapun pecah dan kembali meramaikan suasana disana.
*************
__ADS_1
Yuk ramaikan gaisss!!! Jangan lupa like dan komennya yaa!! Biar rame gituu😊