
Setelah perdebatan yang panjang kali lebar didalam sambungan telepon, bersama bestie somplaknya. Akhirnya Siska mengerti dengan penjelasan sahabatnya itu.Hingga membutuhkan waktu yang lumayan lama, sampai bang Age terlelap diatas sofa diruang depan karena lamanya menunggu kanjeng nyonyanya berghibah dengan sahabatnya.
Gelak tawa Siska tak membangunkan suaminya sama sekali. Namun sayangnya tingkahnya membuat balita yang akan keduanya tinggalkan terbangun.
Aska bangun kala mendengar suara timomnya diluar sana. Ia bangkit dari tidurnya dan keluar kamar dengan sempoyongan.
"Timom!" Panggilnya seraya berjalan mendekat.
"Ya ampun Aka. Kenapa bangun?" Tanyanya seraya berjongkok dan menangkup wajah bantal putranya. Tak lupa Ia pun mematikan sambungannya terlebih dahulu.
"Timom apain?" Tanyanya balik.
Siska baru tersadar, kalau dirinya berencana akan pulang. Ia celingukan kebelakang mencari suaminya. Hingga atensinya tertuju pada kaki yang menjuntai disamping sofa. Ia pun menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata diskusinya bersama Lia sangatlah lama hingga sukses menidurkan kembali bayi besarnya.
"Timom sama Papih mau pulang. Aka mau ikut apa tetap disini?" Tanyanya pada sang putra.
"Itut! Aka juda mau puwang!" Jawabnya.
"Ya udah, kita bangunun dulu Papihnya ya!" Ajak Siska dan dijawab anggukan oleh putranya.
Keduanyapun mendekat dan membangunkan sang Papih yang sudah anteng dengan mimpinya. Dengan sedikit pemaksaan, bang Age pun akhirnya terbangun.
Tanpa berpamitan pada si pemilik rumah, ketiganya berlalu meninggalkan rumah sang adik.
Didalam mobil begitu senyap, bang Age melirik kearah samping dan mendapati sang istri dan putranya sudah terlelap dikursinya.
"Ya ampun! Gue ditinggal tidur ternyata." Ucapnya seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Tangannya terulur mengusap lembut pucuk rambut sang istri dan putranya bergantian. Dan kembali fokus pada jalan didepannya, hingga suara sang istri membuatnya menoleh.
"Bang?!"
"Hemm!"
"Laper!" Ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
"Mau makan apa? ini udah malam, restoran sama kafe udah pada tutup." Tanya bang Age.
"Ada yang masih buka bang." Jawab Siska semangat.
"Apa?"
"Tuh! Warung nasi 'Kuli Jalan' masih stay bang!" Jawabnya seraya menunjuk salah satu warung nasi yang dipastikan masih buka. "Yuk kita kesana. Aku pengen sesuatu disana!" Ajaknya dengan semangat.
Bang Age hanya pasrah dan mengikuti keinginan istrinya. Mobilpun menepi dan parkir dibahu jalan. Keduanya turun dan memasuki tempat itu, dengan bang Age yang menggendong putranya.
"Bu aku mau makan sama semur jengkol, sama ikan teri juga." Ucap Siska membuat suaminya shok.
__ADS_1
"Sayang! Kok jengkol sih? Jangan jengkol dong, gak sehat buat baby kita." Protes bang Age.
"Kata siapa? Jengkol juga bergizi bang. Enak lagi." Elaknya.
"Tapi itu bau sayang. Entar baby kita kebauan didalam sana, gimana?" Tanya bang Age tak mau kalah.
"Gak bakalan lah bang. Biarpun satu perut, tapi kan pencernaan sama rahim berbeda." Timpal Siska ikut tak mau kalah.
"Tapi kan tetap aja, nutrisinya terserap ke rahim. Baby kita ngerasain apa yang kamu makan. Kalo dia pingsan gimana?" Pertanyaan suaminya sungguh membuat Siska ingin mencubit juniornya.
"Jangan ngadi-ngadi deh bang. Mana ada baby dalam perut pingsan!" Protesnya.
"Ya kan bisa jadi?" Tuturnya dan langsung dapat geplakan dilengannya dari sang istri.
"Maaf! Gimana ini neng, mau dengan apa?" Tanya si ibu penjual yang sedari tadi melipat bibirnya kala melihat tingkah pasangan suami istri dihadapannya.
"Semur jengkol."
"Goreng ayam."
Jawaban berbeda dari dua orang itu membuat sang ibu penjual kebingungan.
"Abang ih!" Siska kembali mengeplak lengan suaminya.
"Udah ayam aja yang!" Bujuknya.
"Harus mau!"
"Aku ngidamnya semur jengkol gimana?" Tanyanya seraya membelai perutnya dengan alisnya yang dinaik turunkan.
Bang Age pun akhirnya menghembuskan nafasnya pasrah dan membiarkan sang istri memakan apa yang dia mau.
Makanan pun akhirnya tersaji, Aska juga terbangun dari tidurnya kala mendengar perdebatan kedua orangtuanya dan siap untuk ikut makan bersama.
Senyum lebar begitu terbentuk dari bibir Siska, entah kenapa belum juga jengkol itu masuk dilidahnya, Ia sudah merasakan nikmatnya. Baru saja Ia mencicipi makanan nikmat yang menjadadi idola semua orang itu, Siska menukarkan piringnya dengan punya suaminya. Dan hal itu membuat bang Age melongo.
"Kok dituker yang?" Tanya bang Age heran.
"Aku udah cicipi, maunya abang yang makan!" Ucapnya dengan enteng dan mulai memasukan nasi beserta ayam ke mulutnya dari piring sang suami.
Bang Age menganga mendengar penuturan istrinya.
"Abang harus makan jengkol? Ditengah malam gini?" Tanyanya merasa tak percaya dan dijawab anggukan istrinya.
"Ya ampun yang! Yang bener aja. Abang pesen lagi aja deh, jangan jengkol!" Tolaknya. Bukan Ia tak doyan jengkol, namun harus makan jengkol tengah malam seperti ini rasanya tak mungkin sanggup Ia makan.
"Nggak! Pokoknya abang harus makan jengkol!" Titah Siska dengan menyuapi sang putra dengan telaten.
__ADS_1
"Tapi yang abang gak bisa makan si jengki malan-malam gini." Bang Age masih berusaha menolaknya.
"Tapi aku maunya abang yang makan!" Titah Siska lagi tak mau ditolak.
"Tapi-" Belum selesai ucapannya, sang istri sudah mendaratkan sendok berisi si jengki kedalam mululutnya. Hingga Ia bungkam dan terpaksa mengunyahnya, bahkan menelannya.
Siska tersenyum lebar melihat suaminya mengunyah dan menelan makanan yang Ia mau. Bahkan Ia kembali menyuapinya dengan semangat. Bang Age hanya pasrah menerima setiap suapan dari istrinya.
Bahkan saking semangatnya Ia hanya menyuapi suami dan anaknya. Melupakan perutnya yang tadi kelaparan. Melihat dua orang tercintanya makan dengan lahap, membuat dirinya kenyang duluan.
"Kamunya juga makan dong! Katanya tadi laper?" Titahnya.
"Nggak! Aku udah kenyang. Kek nya dede nya, cuma pengen lihat Papih sama Akanya makan deh." Tutur Siska membuat sang suami terkekeh.
Ia menuduk menjangkau perut sang istri dan mengelusnya sayang. "Sayangnya Papih ngerjain nih kek nya? Atau timomnya nih yang ngerjain?" Tanyanya seraya mengajak ngobrol baby dalam perut istrinya.
Siska terkekeh mendengar ocehan suaminya. "Ini keinginan dede Papih. Mamih mah gak tau apa-apa." Tuturnya dengan suara dibuat kecil membuat bang Age tertawa.
Mendengar suara kecil Siska membuat balita disampingnya keheranan. Hingga Ia pun bertanya pada timomnya.
"Timom!" Sapanya membuat Siska menoleh.
"Ya sayang?" Balasnya sembari mengelus sayang kepalanya.
"Dede di peyut dah bica oboy ya?" Tanyanya polos dengan mata yang berkedip lucu, hingga membuat Siska tertawa.
"Nggak sayang! Tadi tu suara timom." Jawab Siska memberi pengertian dan dijawab anggukan balitanya.
Karena acara makan tengah malam sudah selesai, ketiganya hendak kembali kedalam mobil.
"Yuk!" Ajak bang Age hendak merangkul bahu sang istri, namun ditahannya.
"Kenapa?" Tanya bang Age heran.
Siska langsung menutup hidungnya. "Jangan deket-deket! Abang bau." Tuturnya membuat bang Age melongo.
"Ini kan kamu yamg minta abang buat makan si jengki?" Protes bang Age.
"Tapi aku gak suka baunya!" Timpalnya.
"Pokoknya ya abang gak boleh deket-deket sebelum gosok gigi dan kumur-kumur!" Titahnya seraya berjalan menggandeng sang putra mendahului suaminya yang masih mematung disana.
Bang Age hanya menghembuskan nafasnya panjang. Kenapa ngidamnya sang istri ini sungguh luar biasa? Membuat dirinya harus benar-benar extra sabar menghadapinya. Ia pun berjalan gontai dengan menggerutu kesal. "Si jengki meresahkan!"
************
Jangan lupa jejaknya yaa😊 Makasih buat kalian yang selalu stay nemenin abang duda🙏
__ADS_1