
Setelah pertemuan malam terakhirnya, sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara itu benar-benar tak bertemu lagi. Keduanya hanya melakukan panggilan video untuk mencairkan rindu yang kian hari kian membelenggu. Setiap malam tak terlewat untuk keduanya saling melaporkan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan keduanya tertidur dengan panggilan tak terputus, sampai pagi menjelang.
Waktu terus bergulir, hari ini Siska sudah menyelesaikan ujian akhirnya. Bukannya terganggu dengan setiap panggilan sang abang, Ia justru semakin semangat untuk mengerjakan setiap soal yang berjejer diatas lembar kertas yang harus Ia isi. Hingga akhirnya ujian selesai dan dia sangat puas bisa mengerjakan ujiannya tanpa takut dan juga ragu.
Kata-kata semangat dari sang abang ternyata membuatnya mampu melewati setiap mata pelajaran yang Ia kerjakan. Bahkan matematika yang selalu menjadi ancaman baginya, tak membuatnya mengeluh sama sekali. Sungguh luar biasa emang kekuatan cinta.
"Eh ntar malam mau diadain acara perpisahan, makan-makan gitu. Lu mau ikut gak?" Tanya Lia.
Kini keduanya tengah berada dikantin bi Lastri, menikmati kerupuk basah dan kawan-kawannya dengan kuah cabe yang membuat bibir keduanya jontor. Seblak spesial yang menjadi pilihan keduanya kali ini, melupakan sejenak si aci favoritnya.
"Dimana?" Tanya Siska heboh. Bukan karena penasaran dengan tempat diadakannya acara. Namun karena kehabisan air untuk menghilangkan rasa terbakar ditenggorokannya.
"Ya ampun! Air gue mana?" Ia celingukan kekiri dan kanan mencari minumannya. Dan ternyata Ia lupa memesan minumannya.
Ketika Ia hendak berdiri untuk membeli minumannya, seseorang datang membawakannya air kuning dengan rasa masam, namun menyegarkan keatas mejanya.
"Nih minum! Makanya kalo mau makan yang pedes itu, jangan lupain minumannya!"
Tak kuat untuk menjawab, Siska hanya menegak minuman itu hingga tandas. "Ahh!! alhmadulillah!"
"Makasih Ga!" Ucap Siska dengan senyumnya dan dibalas senyum pula oleh pemuda yang sudah duduk disampingnya.
"Makasih aja gak cukup!"
"Terus harus gimana? Mau gue ganti?"
"Gak usah! Cukup lu mau bareng gue aja, ke acara perpisahan ntar malam." Timpal Rangga.
"Emm tapi kek nya gak bisa deh." Tolak Siska.
"Kenapa?"
"Gue gak bisa ikut, ada acara lain soalnya."
"Yah, ikut dong Sis! Ini kan acara terakhir kita. Kapan lagi coba kita makan-makan sama kumpul bareng lagi?" Ajak Lia.
Siska terdiam sejenak, Ia yang sudah memiliki janji dengan sang abang menjadi bingung sendiri. Ini adalah pertama kali untuknya bertemu kembali dengan sang abang. Namun ini juga akan jadi yang terakhir untuk dirinya bisa kumpul dengan teman-temannya. Mengingat setelah ini mereka akan libur dan akan kembali ke sekolah untuk wisuda dan pengambilan ijazah, itupun akan dilakukan satu bulan mendatang.
"Emm.. Ya udah deh, ntar gue kabarin lagi."
"Nah gitu dong! Apalagi ntar lu kekota, kita mana bisa ngumpul lagi." Ucap Lia.
"Emang acaranya dimana?" Tanya Siska.
"Itu dikafe yang baru buka itu." Jawab Lia.
"Ohh! Kafenya kak Ay itu?" Tanya Siska dan diiyakan Lia.
Bang Ar memang mendirikan sebuah kafe didekat perkebunannya. Kafe dengan nuansa asri yang instragameble itu baru buka satu bulan yang lalu. Bang Ar sengaja mendirikannya untuk memajukan desa yang sudah seperti rumah baginya itu, agar juga dapat memperkenalkan keindahan alam untuk yang berkunjung kesana.
"Ya udah, ntar malam gue jemput ya!" Ucap Rangga.
"Gak usah Ga. Gue bareng sama Lia aja, ya kan Ya?" Tolak Siska seraya memberikan kode pada bestienya itu.
__ADS_1
"Iya!" Jawab Lia.
"Gak boleh nolak. Gue anggap sebagai terimakasih lu tadi." Ucap Rangga sembari berlenggang pergi membuat Siska menghembuskan nafasnya panjang.
"Udah lah Sis gak papa, lagian disana kita rame-rame kok. Cuma dijalan doang." Lia yang tau kegundahan bestienya, memberi pengertian padanya dan dijawab anggukan pasrah olehnya.
"Yang penting lu izin dulu sama abang lu itu. Yang detail kasih taunya, bilang juga perginya harus bareng Rangga!" Peringat Lia.
"Iya! Iya! Bawel lu." Timpal Siska membuat keduanya tertawa.
Keduanya terus mengoceh, hingga tak terasa bel pulang pun tiba. Karena sudah tak ada lagi jam pelajaran, merekapun bebas nongkrong di kantin.
**
Sesampainya dirumah, Siska membantingkan tubuhnya keatas kasur. Dengan masih berseragam lengkap, Ia mencoba menghubungi sang abang. Waktu yang sudah menunjukan jam empat sore, tentu sang abang sudah pulang juga dari kantornya.
Ia buka laman WA, dan menekan panggilan terakhirnya hingga muncul nama sang abang dilayar pipihnya. 'Love Abang'
Tak membutuhkan waktu lama, panggilanpun tersambung. Hingga nampak wajah sang abang yang terlihat begitu lelah.
"Assalamualaikum abang?!" Sapanya.
"Waalaikumslaam!!"
"Ihh gitu doang, gak ada panggilan apa gitu?" Goda Siska.
"Emang mau dipanggil apa?" Tanya sang abang tersenyum. Lelahnya seketika hilang kala melihat wajah imut gadisnya.
"Apa? Martabak?" Tanya bang Age tertawa.
"Ishh masa martabak?" Protesnya.
"Apa dong?"
"Apem kukus." Timpalnya membuat keduanya tergelak.
"Jangan mancing deh!"
"Apanya? Abang yang mulai ihh." Elak Siska.
"Kan jadi pengen martabak kacang yang spesial." Ucap bang Age membuat keduanya kembali tergelak.
Tak ada kecanggungan lagi diantara keduanya, biarpun hanya berkomunikasi lewat panggilan tapi tak membuat keduanya jauh. Yang lebih mencengangkan, mereka juga saling memberikan kiss pada layar pipihnya yang seolah itu wajahnya. Entahlah emang absurd tingkah mereka.
"Oh iya bang, aku mau minta izin buat kumpul sama temen-temen, makan-makan gitu. Katanya mau ngadain acara perpisahan." Tutur Siska.
"Kapan? Dimana?" Tanyanya.
"Dikafe nya kak Ay. Ntar malam."
"Kan abang mau kerumah. Apa abang besok aja kerumahnya?" Tanyanya.
"Gak papa bang kesini aja. Acaranya kan abis maghrib, palingan bentaran doang."
__ADS_1
"Ya udah, ntar abang kesananya lepas isya aja ya! Biar gak lama nunggu kamunya."
"Okeh sipp! Tapi abang nginep kan?"
"Emm... Entah kenapa emang?"
"Nggak. Nanya aja!"
"Pengen nginep sii, tapi khilaf gak ya?" Goda sang abang.
"Isshh paan sih bang? Omongannya kesana mulu ihh.." Timpal Siska membuat keduanya tergelak.
Lama keduanya bercanda didepan layar pipih itu, hingga waktu semakin senja. Siska memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu. Ia harus segera membersihkan diri dan siap-siap untuk menghadiri acara tersebut. Ia juga tak lupa meminta izin pada sang abang untuk berangkat bareng teman cowoknya itu. Walaupun harus melalui perdebatan panjang terlebih dahulu, akhirnya sang abang mengizinkan.
"Assalamualaikum?!" Sapa seseorang dari balik pintu yang terbuka.
"Waalaikumsalam!!" Balas Siska yang kebetulan hendak keluar.
"Eh lu udah disini? Ya udah gue pamit dulu sama ibu." Ucap Siska dan dijawab anggukan Rangga.
Setelah pamit pada sang ibu, keduanya menaiki kuda besi si pemuda yang menjemputnya.
"Loh! Jalannya kok kesini?" Tanya Siska heran. Ketika kuda besi itu bukan maju kejalur kafe yang dituju.
"Tempatnya ganti." Timpal Rangga.
"Terus dimana?"
"Di rumah keluarga gue, yang diperbatasan." Jawabnya dan dijawab anggukan Siska.
Siska mengambil layar pipihnya dan mengetikan sesuatu disana.
Tak berselang lama kuda besi itu pun tiba disebuah rumah yang berada di perbatasan desa.
"Kok sepi?" Tanya Siska heran seraya turun dari motor.
Tanpa menunggu persetujuan, Rangga menarik tangannya kedalam rumah itu. Siska yang shok berusaha berontak. Hingga keduanya tiba di dalam rumah membuat Ia semakin shok.
Deg
************
Mau bikin degdegan dulu ahh🤣🤣
Ayo digoyang jempolnya! Ramaikan kolom komentarnya!😊
Si abang duda yang bikin melehoy😍
Adek imut yang bikin greget😘
__ADS_1