Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 76 Nano nano


__ADS_3

"Terus gimana? Mau pulang aja?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan sang istri.


Entah kenapa boneka besar berbentuk cup dan sedotan diatasnya, tiba-tiba saja ikut bersamanya kala menginap dulu dirumah sang ibu. Dan sampai sekarang si boba terus menemaninya tidur.


Apalagi dari semenjak hamil mencium aroma si boba sebelum tidur bagai candu baru untuknya. Entah karena pembawaan hamil atau memang itu hoby baru untuknya.


"Ya udah, abang mandi dulu bentar ya!" Ucap bang Age dan dijawab anggukan sang istri.


Meski dengan mata yang dipaksakan untuk melek, Ia pun berlenggang memasuki kamar mandi.


Siska mengambil layar pipih diatas nakasnya hendak melihat jam dilayar itu, ternyata waktu sudah menunjukan jam sebelas malam. Ia begitu tak tega dengan suaminya. Namun Ia juga tak mau kalau sampai harus terjaga sampai pagi.


Atensinya teralihkan pada satu pesan chat dari nomor baru yang belum sempat Ia save itu. Ia yang baru melihat Hpnya tentu tak tau bestienya itu menghubunginya. Ternyata banyak panggilan tak terjawab darinya.


"Ada apa nih anak?" Tanyanya bermonolog sendiri. Hingga tiba-tiba pikirannya tertuju pada pembhasan tadi didalam mobil.


"Jangan! Jangan!" Pekiknya.


Ia buka isi dari chat tersebut, hingga Ia membolakan matanya dengan mulut yang terbuka lebar.


081333999xxxx📥


Gue udah ngerasain pria dewasa dan rasanya nano nano😘


Pesan itu sungguh membuat Siska shok bukan main. Ia kembali mencerna ucapan sang suami untuk menasehati sahabatnya itu. Dan benar saja kekhawatiran bang Ar kini Ia rasakan pula.


"Ya ampun oneng, kenapa lu lakuin itu!" Omelnya seraya hendak menghubunginya.


Ia berjalan mondar mandir dengan benda pipih menempel ditelinganya. Sudah terdengar nada masuk namun belum jua bestie somplaknya itu angkat.


"Ini anak kemana sih? Kok gak diangkat sih?" Gerutunya. "Lagi apa sih dia?"


Ia kembali menghubunginya dengan pikiran terus melayang, membayangkan sahabatnya yang tengah apa. Hingga otak kecilnya berhenti disebuah kegiatan yang selalu membuatnya candu.


"Jangan-jangan! Lagi ngulang lagi?" Tanyanya bermonolog sendiri. "Wah! Bener-bener nih anak." Siska terus menggerutu sendiri dengan layar pipihnya yang stay didepan telinganya.


Tanpa Ia sadari, sang suami sudah selesai dengan ritual mandinya. Bang Age yang melihat sang istri bolak balik layaknya setrikaan langsung menghampirinya.


"Kamu kenapa?" Tanya bang Age khawatir. "Apa ada yang sakit?" Tanyanya lagi meraba seluruh tubuh sang istri.


Tiba-tiba saja Siska berhambur memeluk tubuh yang hanya dililiti handuk hingga pinggangnya itu dan menangis didada polosnya. Dan hal itu membuat sang suami shok.


"Ya ampun yang kamu kenapa? Ada yang sakit? Sebelah mana yang sakit? Kamu bilang sama abang? Kita kerumah sakit sekarang, oke!" Cecarnya semakin khawatir.


Namun Siska masih menangis tanpa mengeluarkan kata-katanya dan hanya gelengan kepala yang Ia berikan sebagai tanggapan. Bang Age mengusap surai hitamnya dan menciumi pucuk kepalanya untuk mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Ia lerai pelukan itu dan menangkup wajah cantik yang berantakan dengan air mata yang membasahinya.


"Kamu kenapa hem? Bilang sama abang? Jangan bikin khawatir!" Tuturnya mencoba bertanya pelan agar sang istri dapat tenang.


Ia usap jejak kebasahan dipipi chuby itu menggunakan ibu jarinya dan menatapnya dalam. Sedikit demi sedikit Siskapun mulai tenang. Hanya tersisa isakan kecil saja dari bibir ranumnya.


"B-bang!" Ucapnya tersendat-sendat.


"Iya. Kenapa?" Timpal bang Age setenang mungkin. Meski tak dapat dipungkiri, kekepoannya sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Li-Lia bang!" Tuturnya dengan air matanya yang kembali luruh.


"Lia. Kenapa Lia?" Tanya bang Age. Sedikit merasa malas membahas nama yang sudah membuatnya dalam masalah tadi.


"Lia. Lia beneran mencobanya bang!" Ucap Siska dengan kembali menangis histeris membuat bang Age melongo. Ternyata kekhawatirannya itu benar terjadi.


"Gimana ini bang?" Tanyanya disela isak tangisnya.


Bang Age sampai dibuat bingung karenanya. Ia dekap kembali tubuh ringkih istrinya dan membelai rambutnya seraya menenangkannya. "Udah yang! Ini mungkin udah nasibnya Lia. Kita bisa berbuat apa?" Ucapnya.


"Ya kalo nanti terjadi apa-apa sama dia, paling kita seret prianya aja buat tanggung jawab. Udah kamu jangan terlalu banyak pikiran!" Lanjutnya lagi.


"Tapi bang ini salah aku! Aku yang nyaranin dia buat nyoba kan?" Timpalnya masih dengan isak dibibirnya.


"Udah kamu tenang! Jangan sampe baby kita kenapa-napa. Soal si Lia somplak, kamu tenang aja! Kalo perlu abang kasih pelajaran cowoknya." Lanjutnya dan langsung diselak sang istri.


"Jangan bang!" Tolaknya membuat sang suami heran.


"Kenapa?"


"Pelajaran abang tu enak. Aku gak mau berbagi sama pisangnya Lia." Penuturan Siska sukses membuat bang Age menganga.


Ini yang somplak si Lia apa istrinya? Pikirnya. Hingga bang Age menghembuskan nafasnya panjang.


"Maksudnya, bukan pelajaran yang itu. Yang itu mah pelajaran khusus buat kamu." Tuturnya seraya menarik hidungnya gemas, membuat Siska tersenyum juga.


"Lagian siapa sih cowoknya yang mau diajak coba-coba sama si Lia?" Tanyanya.


"Kak Ivan!" Jawab Siska.


"Hah?! Ivan?" Tanyanya lagi shok dan dijawab anggukan dari sang istri.


"Terus dari mana kamu dapat infonya?" Tanya bang Age.


Siska menyodorkan benda pipih yang sedari tadi Ia genggam, memperlihatkan isi chatnya pada sang suami.

__ADS_1


Bang Age mengerutkan dahinya membaca pesan dari sahabat somplak sang istri. Hingga Ia baca chat itu berulang-ulang.


"Coba kamu tanya lagi, ngerasain apanya? Ini chat belum jelas yang." Tuturmya.


"Aku dari tadi coba buat telepon dia, tapi gak juga diangkat. Kalo dia lagi ngulang gimana?" Tanyanya Siska khawatir.


"Udah jangan kamu pikirin. Lagian tu chat belum jelas. Entah apa yang dia rasain. Bisa aja masakannya kan?" Ucap bang Age menenangkan.


"Tapi bang itu udah jelas!" Ucap Siska tak mau kalah.


"Ya udah sii, udah jelas juga cowoknya. Kalo terjadi apa-apa tinggal kita bawa ke KUA, udah beres, kan?" Final bang Age.


Siska hanya menghembuskan nafasnya panjang. Akhirnya Ia pun menuruti perkataan suaminya.


Bang Age sendiri, akhirnya bisa mengganti pakaiannya. Setelah rapih, Ia mengajak sang istri untuk mengajak sang putra pulang. Aska yang tidur dikamar Shaka dan Sena hendak dibangunkannya. Keduanya mengurungkan niatnya, kala melihat ketiganya yang tengah tertidur lelap. Ketiganya tidur diatas satu ranjang yang sama. Dengan Aska berada ditengah kedua adiknya. Sungguh pemandangan yang begitu manis.


Kedua orang tuanya pun membiarkan itu. Mereka memilih pulang tanpa membawa sang putra. Keduanya berlenggang keluar rumah, hingga dering Hp Siska menghentikan langkahnya.


"Siapa?" Tanya bang Age.


"Ini si Lia." Jawabnya dan dengan semangat Ia mengangkat panggilannya.


"Eh Li. Lu hutang penjelasan sama gue!" Cecar Siska langsung.


Namun hanya terdengar desisan dan jeritan dari sana.


"Li.. Wah parah lu, Li berhenti jangan diterusin!" Tutur Siska panik.


"Li nyebut Li.. Astagfirulloh!"


"Li.." Pekiknya.


"Apa sih lu? Gak jelas!" Timpalnya dari sebrang telepon.


"Lu yang apa-apaan? Lagi ngapain lu?" Cecar Siska.


"Gue lagi ini." Balas Lia.


"Apa?" Tanya Siska dengan nada sedikit nyolot.


"Lagi ngobatin jari gue. Kena pisau!" Balasnya. Penuturan sahabatnya sukses membuat Siska geram dan Ia ingin sekali menoyor kepalanya.


***************


Ayo dong ramaikan! Jadi kurang semangat akutuh🤧

__ADS_1


__ADS_2