Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 81 Baby Kia


__ADS_3

Ucapan bu Dewi membuat mereka menganga. Perasaan khawatir yang sempat mereka rasa berubah menjadi rasa lega.


"Bu Dewi ini membuat kami khawatir aja! Mana bisa kek gitu bu." Tutur Mamih membuat bu bidan yang tengah menantikan buah hati bertahun-tahun itu tersenyum.


"Ya, siapa tau aja, boleh buat saya." Kekeh bu Dewi membuat mereka tertawa.


Ia serahkan bayi mungil itu pada dada ibunya untuk melakukan IMD. Dengan perasaan haru dan bahagianya, Siska mendekap sayang putri cantiknya. Bulir dari ujung matanya keluar tak dapat Ia bendung. Puji syukur Ia lantunkan berulang kali dalam hatinya. Pengalamannya menjadi seorang wanita yang diinginkan banyaknya wanita, sungguh takan pernah Ia lupakan seumur hidupnya.


Bang Age pun merasakan hal yang sama. Ada rasa trauma yang menghinggapi hatinya, hingga rasa takut sempat menghampirinya. Ia yang pernah kehilangan diwaktu yang sama, yang saat ini tengah Ia rasakan tentu membuat jantungnya berpacu tak karuan sedari tadi.


Ia mengucap beribu-ribu syukur, kala sang istri dan putrinya sehat dan selamat. Ia usap kepala sang putri sayang, lalu mencium keningnya.


"Adzani dulu bang!" Titah Mamih.


Sang Mamih mengambil alih cucunya dan meberikannya pada sang putra dan bang Age pun menerimanya.


"Awas bang Adzan!" Ledek Ayra membuat sang abang hanya menyebikan bibirnya. Ia lagi tak mood untuk mengeluarakn jurus kosa katanya.


Ia mulai mengumandangkan adzannya ditelinga kanan putrinya, hingga selesai. Setelahnya Ia juga mengumandangkan iqomah ditelinga kirinya.


Setelah segala sesuatu nya selesai, bu Dewi bersama asistennya pun pulang. Ayra dan Mamihpun ikut keluar. Kini tinggallah sepasang orang tua itu bersama putri kecilnya.


"Dia cantik ya bang! Idungnya kek abang mancung banget." Tutur Siska gemas menoel pipi putrinya yang anteng tertidur disampingnya. Dengan bantuan infus, kiniIa sudah terlihat lebih segar.


Bang Age yang duduk disisi sang istri tersenyum. Ia ikut menyentuh pipi lembut putrinya. "Cantiknya. Kek timomnya!" Balasnya.


Keduanya tertawa, bang Age mendekap tubuh ringkih yang tengah bersandar dikepala ranjang itu dan mengusap surai hitam sang istri dan menciumi pucuk kepalanya berkali-kali.


"Entah kata apa lagi yang harus abang ucapkan untuk mengungkapkan rasa terima kasih abang sama kamu. Yang jelas abang sangat, sangat, bahagia." Tututnya.


"Sama-sama bang! Aku juga bahagia. Sangat bahagia. Dengan abang selalu disampingku dan memberikan cinta yang besar untukku, itu sudah lebih dari cukup." Tutur Siska.


"Oh iya bang! Mau dikasih nama apa?" Tanya Siska melerai pelukannya.


"Emm.. Abang udah nyiapin nama, cocok gak ya sama kamu?" Tanya bang Age.


"Apa?"


"Askia Gisellya Arumi" Tutur bang Age.


Siska tersenyum mendengar penuturan suaminya. "Bagus bang aku suka." Timpalnya girang.

__ADS_1


Ia menoel kembali hidung mancung itu dan kembali mendaratkan kecupan didahinya. "Haii, dede Kia!" Sapanya.


Baby Kia sama sekali tak terusik dengan pergerakan timomnya. Bahkan suara cemperengnya tak membuat bayi mungil itu terbangun.


Bang Age tersenyum ikut menoelnya gemas. Ia pun berpindah posisi pindah dibagian sisi sang putri. Keduanya terus bercanda dengan terus berusaha membangunkan putrinya untuk mimi. Hingga suara seseorang membuka pintu membuat keduanya menoleh.


"Timom, tete ayina ana?" Tanya balita cantik yang datang bersama putra sulungnya.


"Nih disini." Balas Siska.


"Dede na Aka!" Sapa Aska. Ikut naik keatas kasur yang diikuti Sena dari belakangnya. Mendaratkan diri didekat sang Papih.


"Pih? Dedena tantik ya?" Tanyanya pada sang Papih.


"Iya. Kek timom ya?" Ucap sang Papih membuat mereka cekikikan.


"sapa namana Pih?" tanya Sena.


"Namanya dede kia." Balas bang Age.


"Alo te Kia. Ini Aka Sen." Ucap balita cantik itu memperkenalkn diri dan sukses membuat mereka tersenyum melihat kegemasannya.


"Ya udah de, Aka aja!" Titah Siska.


Balita cantik itu nampak berfikit sejenak. "Ya utah, ini Aka besan!" Tunjuknya lagi pada Aska dan membuat kedua orang tuanya kembali tertawa.


"Emang kenapa harus disebutin namanya?" Tanya Siska.


"Kawena, Akana banak. Ata aku, ata Aka Sha, tan ini aka besan ja, ya!" Celotehnya.


Siska tak berhenti menahan perutnya, mendengar celotehan dari balita bawel ini. Sungguh Ia sangat mirip dengan Mamanya.


Bang Age sampai mengusek pucuk kepala ponakan cerewetnya itu. Hingga kedua orang tua dan kedua balita itu hanyut dalam candaan mereka.


Ditengah canda tawanya, suara pintu yang terbuka keras membuat atensi mereka teralihkan.


Braakkk!!!


"Alhamdulillah! Cucu nenek udah selamat." Pekik seorang wanita paruh baya yang menghamburkan dirinya memeluk sang putri.


"Selamat ya Nak, kamu udah menjadi ibu!" Ucapnya dengan derai air mata harunya.

__ADS_1


"Maafin ibu! Ibu gak bisa disamping kamu, disaat kamu membutuhkan ibu!" Sesalnya.


Siska memeluk erat tubuh wanita terhebat dihidupnya itu. "Iya bu. Aku udah jadi ibu sekarang. Maksih untuk semua doa ibu!" Balasnya.


"Gak papa bu. Doa ibu selalu ada bersamaku. Aku bersyukur banget bisa lahir kedunia ini dari rahim wanita tangguh seperti ibu. Sekarang aku ngerasain gimana rasanya diposisi ibu. Dan rasanya sungguh luar biasa. Makasih bu! Makasih!" Lirih Siska.


Keduanya hanyut dalam haru yang menyelimuti kebahagiaan ini. Selain meluapkan rasa bahagianya, keduanya juga meluapkn rasa rindu yang tertahan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya mereka akan terpisah oleh jarak. Namun cinta diantara anak dan ibu itu tak dapat diragukan lagi.


"Timom ama nenek napa nanis?" Tanya balita tampan itu.


Siska dan Ibu akhirnya melerai pelukannya kala mendengar celotehan putranya.


"Nggak sayang! Kita gak nangis cuma lagi seneng aja, kita bisa ketemu lagi, ngumpul lagi." Tutur Siska memberi penjelasan pada putranya dan dijawab oh ria oleh si tampan.


"Timom, ini sapa?" Tanya balita cantik itu pada bocah laki-laki yang dibawa neneknya.


Bocah tampan berusia sekitar delapan tahun itu hanya menatap diam pada semua orang disana.


"Oh iya!" Ibu berbalik dan kembali berdiri memegamg kedua bahu putra sambungnya.


"Ini Reihan. Putra bungsu Kakek Dedes. Putra nenek juga." Ucap ibu memperkenalkannya.


Sena segera turun dari ranjang menghampiri kakak tampan yang sepertinya sukses membuat Ia tertarik untuk mengenalnya.


"Alo kak. Aku Sen! Aka tanteng banet deh." Celotehnya seraya mengulurkan tangannya.


Orang-orang dewasa itu tertawa melihat tingkah balita cantik itu. Ternyata princessnya bang Ar benar-benar amazing. Baru segede gitu sudah belajar ngegombali lawan jenisnya, bukan main emang putri dari pasangan fenomenal itu.


Si bocah hanya diam seraya menjabat tangan gadis kecil didepannya.


"Adek, gak mau salam sama kakak?" Tanya Siska.


Reihan menyalimi kakak dan kakak ipar tirinya bergantian. Tak lupa juga pada putra sulung si tuan rumah yang sudah menampilkan wajah tak bersahabat itu padanya.


"Adek sapa dulu dede bayinya, ya!" Titah ibu pada putranya dan dijawab anggukan olehnya.


"Hai dede bayi?!" Ucapnya seraya menoel pipi merah bayi cantik didepannya. "Siap main sama om?" Tanyanya. Dan hal itu sukses membuat mereka terkekeh.


***************


Ayo dong makin rame in, sama kek ramenya baby-baby disini😁 Yang belom kasih hadiah buat baby Kia ditunggu yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2