Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 22 Ciuman


__ADS_3

Hening!


Tak ada suara apapun dari keduanya setelah Siska melontarkan kalimat terakhirnya. Keduanya terdiam dan menyelami perasaannya masing-masing. Mencoba meruntuhkan ego yang selalu menjadi benteng keduanya.


"Sudahlah lupakan! Kita harus cepat, ntar acaranya keburu selesai lagi." Ucap Siska dengan menolehkan wajahnya kesamping jendela. Menekan rasa sesak dari diamnya sang abang.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Bukan Ia tak ingin memeperjelas hal ini, namun Ia sendiri yang meminta adek imutnya itu untuk memfokuskan pendidikannya.


Ia raih sebelah tangan Siska dan menggenggamnya, hingga membuatnya menoleh. "Biarlah seperti ini dan jangan berubah! Kita lihat apa yang akan terjadi esok!" Tutur bang Age tersenyum kearahnya, membuat Siska juga ikut tersenyum.


**


Mobil melesat meninggalkan tempat itu hingga sampai dan terpakir diparkiran yang disediakan dikediaman mempelai wanita. Keduanya berjalan beriringan, membuat semua atensi para tamu melihat kerah keduanya.


Siska dibuat gugup dan merasa canggung ditatap seperti itu oleh semua orang, Ia hanya menunduk untuk menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Layaknya sepasang pengantin kedatangan mereka menjadi pusat perhatian, bahkan terdengar grasak grusuk orang-orang membicarakannya.


Bang Age juga merasakan hal yang sama. Setelah kejadian tadi didalam mobil, Ia masih berperang dengan hatinya. Bergulat dengan pikirannya. Benarkah rasa ini?


Hingga mereka sampai dikursi dan dimeja yang sama dengan Mamih Asti. Ternyata acara akad sudah selesai, sepasang pengantin itu tengah melakukan ritual adat. Siska mengambil alih baby Aska dari pangkuan Mimihnya.


"Gantengnya Onty! Kangen gak sama Onty?" Siska menciumi wajah baby Aska hingga membuatnya tergelak.


Bang Age yang melihat keakraban keduanya tersenyum. Ia melihat seperti ada ikatan batin diantara keduanya. Mamih melirik putra sulungnya yang tengah melihat interaksi keduanya tersenyum dan memegang bahunya membuat bang Age terlonjak.


"Gimana sudah dimantapkan?" Goda Mamih membuat bang Age berdecak.


"Paan sih Mih?" Elak bang Age.


"Jangan terlalu lama menimang! Putramu juga butuh orang tua lengkap! Atau kamu nunggu seseorang?" Tanya Mamih melirik kearah Siska dan didikuti mata bang Age.


Bang Age berdehem untuk menetralkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


"Mih, Kek nya dede mau mimi deh." Ucap Siska.


"Bentar ya, Mimih bikinin dulu!" Mamih berlenggang meninggalkan dua orang itu bersama baby nya. Kebetulan Papih dan Bang Ar tengah bergabung dengan para pria lainnya. Sedangkan Ayra dan para sahabatnya mungkin ada didalam rumah.


"Bang?!"


"Hemm."


"Mmm gak jadi."


"Hemm apa?" Tanya bang Age.


Belum sempat Siska menjawab datang seorang perempuan menghampiri keduanya. "Haii Gung!" Sapanya dan ikut duduk disamping bang Age dan disambut senyum olehnya.


Siska terdiam dan menatap keduanya bergantian.


"Dia siapa?" Tanyanya menunjuk kearah Siska. Siska yang ditanya seolah sibuk dengan baby dipangkuannya.

__ADS_1


"Dia Siska." Jawabnya.


"Dia pacarmu? Eh gak mungkin ya, kamu kan paling setia sama Icha." Sindirnya.


Bang Age tersenyum mendengar penuturan mantan pacarnya itu.


"Eh tapi bisa jadi ya, kamu penggantinya Icha. Secara kek nya tu anak nurut banget sama kamu." Ucapnya lagi.


"Udahlah Key, ngapain sih lu urusin gue. Urusin aja sana urusan lu!" Timpal bang Agung.


"Aku cuma pengen lihat aja. Gimana kamu setelah kehilangan Icha. Udah punya pengganti atau emang setia?" Tanya Keyla sinis.


"Dia takan terganti."


"Oh ya? Terus ini?" Tunjuknya pada Siska.


"Aku adalah penyemangat baru yang Tuhan takdirkan untuk melengkapi baby ini dan Papihnya. Bukan pengganti! Karena sampai kapanpun kak Icha tak akan terganti." Tutur Siska tersenyum manis membuat bang Age juga tersenyum. Keyla hanya memutar bola matanya malas mendengar itu.


Mamih datang membawa susu baby Aska hingga mengalihkan perhatian mereka. "Sayang! Nih miminya!" Ia menyerahkan botol susu itu pada cucunya dan segera disambutnya seraya dipegang sang Onty.


"Yuk de kita kedalam! Disini panas!" Siska menggendong baby Aska seraya bangun dan berlenggang masuk rumah.


Bang Age ikut bangun dan bergabung dimeja bang Ar dengan para pria lainnya. Menyisakn Mamih yang keheranan dan Keyla yang mengumpat kesal didalam hatinya.


Siska membawa baby Aska masuk kedalam, karena dia sudah tertidur dibahu Siska. Ketika baru masuk Ia bertemu dengan kakak angkatnya dan Ayra mengajaknya untuk menidurkannya di kamar bersama baby Shaka dan baby Deril.


"Gue kira lu gak akan kesini?" Tanya Ayra.


"Tadinya sih, gak akan kesini! Tapi karena ada taxi gretongan, ya udah berangkat aja." Timpal Siska.


"Dijemput bang Agung?" Tanya Ayra penasaran.


"He'em!" Jawabnya seraya meminum minumannya.


"Kalian pacaran?" Pertanyaan Ayra sukses membuat Sisika menyemburkan minumannya.


Byurrr!!!


"Lu kenapa?" Tanyanya seraya meyodorkan tissue dan langsung disambut Siska.


"Gak! Ini minumannya asem banget, kek nya lupa dikasih gula deh." Elak Siska dan menyimpan kembali gelasnya.


"Masa sih?" Tanya Ayra mengangkat gelas yang hendak Ia minum dan melihatnya.


"Iya.Ya udah kak aku keluar dulu, laper pengen makan. Bye!" Tutur Siska ngibrit keluar dan tak menghiraukan panggilan Ayra.


Setelah diluar Siska menghembuskan nafasnya lega, bisa menghindar dari pertanyaan kakak angkat yang sebentar lagi akan jadi adik iparnya itu. Namun baru saja keluar seorang pria menghampirinya.


"Sis! Makan yuk!" Ajak Ivan.

__ADS_1


"Boleh!" Jawab Siska, hingga keduanya berlenggang menuju parasmanan.


Setelah makanan lengkap ditangannya, Ia yang hendak duduk dimeja bersama Ivan ditarik sang abang. Ia pun hanya pasrah mengikutinya dan duduk dimeja yang dipilihkannya.


"Cepetan makannya! Gue anter lu pulang!" Titahnya dan hanya dijawab cebikan bibir oleh Siska.


Siska menikmati makanannya tanpa memedulikan orang didepannya. Bang Age tersenyum melihat tata cara makan Siska yang tak ada anggun-anggunnya itu.


Setelah makan Siska berpamitan terlebih dahulu pada kedua mempelai dan kakak-kakaknya untuk pulang. Siska yang tak bisa menginap karena besok harus kembali sekolah tentu harus segera pulang.


**


Beberapa saat keduanya hening dan hanya deru mesin mobil yang terdengar. Entah kenapa kala berdua seperti ini membuat keduanya canggung. Hingga bang Age memulai obrolannya terlebih dahulu


"Emmm Sis?!"


"Hem. Iya?"


Bang Age menghentikan kendaraannya didekat perkebunan teh setelah memasuki perbatasan desa. Ia buka seltbeltnya dan memutar badannya menghadap Siska. Bagitupun Siska yang sudah membuka seltbeltnya.


"Kita harus bicara?"


"I-iya!"


"Apa lu serius dengan ucapan lu itu?"


"Ucapan? Yang mana?"


Bang Age memegang kedua bahu Siska dan menatapnya dalam.


"Lu serius bersedia menjadi pelengkap kami?"


Jantung Siska kembali berpacu, dengan ragu Ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapannya. Ia menganggukan kepalanya pelan.


"Tapi kenapa? Lu seorang gadis, perjalanan lu masih panjang, lu pentes dapet cowok yang masih single dan lebih baik dari gue." Tuturnya. "Gak kaya gue, gue duda Sis, punya buntut lagi." Kekehnya seraya tertunduk.


Siska meberanikn diri menangkup kedua pipinya hingga membuat mata keduanya bertemu. "Kalo abang tanya kenapa? Aku juga gak tau." Timpal Siska menggelengkan kepalanya.


"Yang jelas otak dan hatiku udah sinkron hanya pada kalian berdua. Aku juga gak ngerti, kenapa begitu. Yang jelas aku sayang sama kalian. Dan aku ingin jadi bagian dari kalian!" Jawabnya.


Bang Agung tersenyum seraya memegang tangan Siska dan menggenggamnya. "Sekolah yang bener! Luluslah dengan nilai terbaik! Abang akan tunggu kamu!" Tuturnya membuat Siska benar-benar tak percaya dengan apa yang Ia dengar.


Tanpa diduga bang Age menarik kepalanya dan mendaratkan ciuman dikeningnya lama. Membuat Siska memejamkan matanya merasakan kehangatan yang diberikan sang abang.


Keduanya benar-benar menumpahkan rasa yang selama ini mereka hindari. Memporak porandakan ego yang selalu jadi batu keras didalam hati mereka.


***************


Mana jejak kaleann! Komen dong mau loncat ini🤭

__ADS_1


__ADS_2