
Hari ini baby Aska benar-benar menempeli Onty imutnya itu. Kecintaan Siska terhadap anak-anak membuat balita gembul itu tak bisa jauh darinya. Ia tak memberi celah untuk sang Papih mendekati Onty kesayangannya. Bahkan Ia selalu berusaha berada ditengah-tengah mereka dengan celotehan yang menggemaskan.
"Boweh, Ti de!" Dengan melambaikan tangan dan gelengan dikepalanya seraya melarang mendekat membuat sang Papih memberenggut kesal.
Rencananya yang ingin menghabiskan waktu dengan adek imutnya itu gagal kala Ia harus berbagi dengan sang putra. Ia hanya bisa pasrah dan membiarkan keduanya bermain.
**
Malampun tiba sang baby sudah berada digendongan Onty imutnya. Setelah meminum susunya, balita gembil itu akhirnya terlelap. Ia yang tak mau lepas dari Onty nya, tak mau tidur langsung dibox. Ia meminta sang Onty menggendong dan menimangnya terlebih dahulu. Dengan senang hati Siska menuruti keinginan balita gembil itu.
Ia tidurkan baby Aska didalam box nya. Menyelimutinya dan menciumi wajahnya. Entah kenapa Siska begitu suka dengan aroma baby yang Ia cium dari baby yang baru Ia tidurkan itu.
"Udah tidur?" Tanya bang Age mengagetkan Siska hingga Ia berbalik.
"Ih abang ngagetin aja." Timpal Siska mengusap dadanya membuat abangnya tersenyum.
"Sini!" Ajaknya seraya duduk ditepi ranjang. Dengan ragu Siska menghampirinya dan ikut duduk disampingnya.
"Biasa aja sii." Bang Age mengusek pucuk kepalanya." Gak akan abang apa-apain kok!" Ucapnya membuat Siska memberenggut.
Atensi Siska kembali melihat foto mendiang istri abangnya itu diatas nakas. Ia yang masih penasaran akhirnya mengambil pas foto itu dan menatapnya.
"Kenapa? Apa kamu gak suka abang pajang fotonya?" Tanya bang Age hati-hati, namun dijawab gelengan olehnya.
"Kenapa? Hem?" Tanyanya seraya mengelus rambutnya sayang.
Siska terdiam dan tak menggubris pertanyaan abangnya. Otaknya memutar memori beberapa bulan kebelakang. Hingga sampai memorinya berhenti disuatu mimpi.
Deg!
"Mimpi itu?" Siska shok hingga menutup mulutnya. Air matanya luruh begitu saja, Ia terus menggelengkan kepalanya dengan bergumam. "Gak mungkin!"
"Sis? Kamu kenapa?" Tanya bang Age khawatir. Namun Siska tak menjawab Ia semakin terisak dengan memeluk pas foto didadanya membuat sang abang semakin panik.
Ia tarik gadisnya kedalam dekapan membiarkan Ia terisak didadanya. Meski Ia tak tau apa yang membuat gadisnya itu menangis, namun Ia terus berusaha menenangakannya.
Lama Siska terisak didada sang abang hingga membuat Ia sesenggukan. Bang Age hanya terus mengelus rambutnya dan menciumi kepalanya. Entah kenapa Ia ikut merasakan sakit ketika melihat gadisnya itu menangis. Sampai tangis itu mulai mereda sang abang melerai dekapannya. Ia tangkup kedua pipi yang berantakan dengan lelehan air mata disana. Mengusap jejak kebasahan itu dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Udah lebih tenang?" Tanyanya dan dijawab anggukan Siska.
"Mau minum?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukan Siska lagi.
Bang Age mengambil air putih yang Ia tuangkan dari teko kedalam gelas dan memberikan gelas berisi air itu pada gadisnya. Siska menerimanya dan menegak air itu hingga tandas. Ternyata menangis sesenggukan sungguh membuat tenggorokannya kering.
"Gimana sudah enakan?" Tanya bang Age seraya mengambil gelas dari tangan gadisnya dan dijawab anggukan lagi darinya. Sepertinya suaranya masih belum bisa keluar.
"Udah mau cerita?" Tanyanya lagi.
"A-aku ingat!" Ucap Siska tergagap membuat sang abang menaikan alisnya sebelah.
"Ingat? Ingat apa?" Tanyanya merasa heran.
"Kak Icha." Jawab Siska. Ia mendongak menatap sang abang yang tengah menatapnya heran.
"Dimana aku pernah bertemu dengannya. Aku ingat!" Lanjutnya.
"Dimana?" Tanya bang Age semakin penasaran.
"Mimpi? Mimpi apa?"
Akhirnya Siska menceritakan mimpinya ketika bertemu dengan Icha. Ia juga menceritakan ketika pingsan dan ternyata Ia tak pingsan namun hanya tidur panjang dan akhirnya bertemu dengan sukma Icha.
Bang Agung terdiam, mendengar cerita gadisnya. Apa ini yang disebut takdir? Apa benar gadis dihadapannya adalah gadis yang dipilih langsung mendiang sang istri untuk menjadi ibu bagi putra mereka? Bahkan sang istri menitipkan langsung bayi mereka pada gadis imutnya itu?
Siska melihat kembali foto itu, ibu jarinya bergerak mengelus wajah difoto itu. "Sekarang aku ingat kakak! Makasih kakak udah percayain keduanya padaku! Aku janji, aku akan menjaga mereka. Kakak yang tenang ya disana!" Tuturnya dengan air mata yang kembali lolos.
Bang Age kembali menariknya kedalam dekapannya. Menyalurkan rasa yang sempat Ia ragukan. Mengelus rambutnya dan berulangkali mencium pucuk kepalanya. Ia yang sempat berfikir rasa itu salah, terjawab sudah. Ini memang sudah takdir yang mak othor berikan padanya.
Ia melerai pelukan itu dan menangkup wajah gadisnya. " Sekarang abang yakin, kamu adalah takdir yang telah Tuhan gariskan untuk abang. Makasih udah hadir untuk mengisi kekosongan ini. Makasih udah menjadi pelangi setelah badai ini berlalu!" Tuturnya tersenyum dan dijawab senyuman juga olehnya.
Siska menangkup wajah sang abang, dan mengelus rahangnya sayang. "Aku juga makasih sama abang. Mau nerima aku jadi bagian kalian." Timpalnya tersenyum.
Keduanya kembali saling mendekap hingga hanyut dengan perasaannya. Menyalurkan rasa yang semakin tumbuh dihati keduanya. Hingga suara ketukan pintu terbuka membuyakan keduanya. Membuat keduanya terlonjak dan segera melepaskan diri.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Ayo kita makan malam dulu!" Ucap Mamih melengos, tak mau melihat adegan didepan matanya. "Mamih duluan!" Ucapnya berlenggang pergi.
Keduanya tersenyum, pasti Mamihnya melihat adegan mereka. Bang Age mengambil pas foto mendiang sang istri dan hendak memasukannya kedalam laci.
"Ehh! Kok dimasukin sih bang?" Siska menghentikan pergerakan abangnya.
Bang Age tersenyum. "Abang gak mau kamu cemburu." Ucapnya.
"Isshhh paan sih bang. Siapa juga yang cemburu. Biarin aja lah simpan disini!" Siska mengambil alih foto itu, dan menyimpan kembali ditempat semula.
"Emang gak apa-apa?" Tanyanya.
"Ya nggak lah bang! Ngapain juga mesti cemburu. Yang ada justru kebalik mungkin, kak Icha akan cemburu juga sakit hati kalo abang simpen gitu aja fotonya." Tuturnya membuat abangnya tersenyum.
Ia genggam erat tangan gadisnya hingga membuat Siska tersipu. "Yuk kita makan dulu!" Ajaknya menggandeng tangan gadisnya. Siska hanya pasrah mengikuti langkah sang abang keluar kamar.
Keduanya sudah bergabung dimeja makan. Kedua orang tua abangnya ikut bahagia melihat putranya yang sudah bisa menemukan dunianya lagi. Mereka makan dengan berbincang hangat. Tau kalau keduanya baru memulai, mereka tak menanyakan hal yang lebih jauh pada keduanya.
Setelah selesai, Siska dan sang abang memutuskan untuk berbincang sebentar di gazebo halaman samping. Karena waktu yang masih menunjukkan jam delapan. Membuat mereka masih memiliki waktu untuk berdua.
"Emm bang!" Siska memulai obrolannya.
"Hemm apa?" Tanya bang Age.
"Emm emang gak papa abang nunggu aku sekolah dulu?" Tanya Siska ragu dan menunduk. Ada perasaan khawatir, takut abangnya meminta untuk segera menikah.
Bang Age tersenyum, mengahdapkan dirinya pada sang gadis. Menyelipkan anak rambut yang menjuntai dipipinya. Ia raih dagunya hingga menghadap padanya. Mata keduanya kembali bertemu.
Bang Age memiringkan wajahnya, menjangkau benda kenyal yang membuatnya penasaran itu. Ia raup bibir yang baru Ia cicipi itu, ingin menyecap rasa yang belum Ia rasakan betul. Mencoba mengabsen setiap inci kemanisan didalam rongganya. Memberi pengajaran kedua untuk gadisnya. Siska memejamkan mata merasakan hal yang ingin Ia ketahui, membiarkan lidah sang abang melesak menyapu rongga mulutnya dengan degup jantung yang berdebar Ia mencoba mengibanginya, membalas setiap perlakuannya.
Lama keduanya berpagut, hingga entah dimenit keberapa barulah keduanya saling melepaskan setelah merasa kehabisan oksigen. Bang Age menyapu sisa saliva dibibir sang gadis dan memberikan kecupan sekilas pada bibir yang membengkak itu.
"Sampai kapanpun abang akan tunggu kamu. Biarpun abang jadi duda karatan. Tapi percayalah junior abang anti karat!" Ucapnya hingga keduany tergelak.
*************
Ayo gaisss tinggalkan jejak kaleann! Ramaikan kolom komentarnya, biar mak othor tambah semangat😊
__ADS_1