
Malam ini sepasang suami istri itu benar-benar menginap dirumah sang adik. Mereka hendak pulang, namun sang putra merengek memaksanya untuk menginap. Akhirnya keduanya pun pasrah menuruti putra sulungnya itu.
"Yang buka dong!" Titah bang Age.
"Jangan lah bang!" Larang Siska.
"Dikit aja!" Bujuknya lagi.
"Gak boleh, ntar aja dirumah!" Tolak Siska.
"Ayo dong yang, dikit aja pengen nyicipin nih!" Bang Age masih tetap membujuknya.
"Nggak! Ntar aja besok."
"Gak papa yang! Gak bakal kenapa-napa kok! Aman. Ya, ya!" Rengeknya dengan manja.
"Pokoknya nggak boleh! Ya gak boleh!" Tolak keras Siska.
Bang Age akhirnya pasrah. Ia tak bisa memaksa bahkan merengek lagi. Keputusan sang bumil seakan keputusan mutlak untuknya.
Ia pun harus berusaha menahan apa yang Ia inginkan. Padahal keinginannya sudah berada diujung lidahnya, namun sang istri tak memberikan yang Ia mau.
Ia hanya menatap nanar apa yang tengah istrinya pegang itu, dengan menelan salivanya susah payah.
Siska segera menyembunyikan bingkisan ditangannya. Ia tak mau sampai sang suami memakannya. Bukannya tega, namun Ia mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu. Ketika sang suami yang menginginkan rujak buah seperti yang tengah Ia pegang saat ini, lalu memakannya dilarut malam. Dan hasilnya sampai pagi Ia bolak-balik kamar mandi.
Dan sekarang Ia tak ingin sang suami mengalami hal yang serupa, yang akhirnya akan membuat Ia kewalahan sendiri.
"Ya udah deh, besok ya!" Tawar bang Age dan dijawab anggukan Siska.
Ia mendekat dan duduk diatas sofa disamping sang istri. Kemudian dengan tiba-tiba memeluk perutnya yang sudah terlihat sedikit membucit itu. Ia singkap piyama istrinya, mengusapnya lembut, lalu memciuminya dan mengusekan hidung mancungnya disana. Dan hal itu sukses membuat Siska tergelak kegelian.
"Geli bang!" Protes Siska disela tawanya.
"Biarin, abang pengen rasain dia gerak." Tuturnya.
"Sekarang masih jarang bang, ntar bulan depan makin aktif kata dokternya." Timpal Siska dan dijawab anggukan Siska.
Bang Age tak memperdulikan kegelian istrinya. Ia begitu senang bermain dan mengajak ngobrol calon baby nya. Hal yang selalu menjadi agenda rutinnya sebelum keduanya tidur.
__ADS_1
"Sayang! Maaf ya, malam ini Papih gak bisa makan rujaknya. Timomnya lagi rewel." Sindir bang Age dengan mengajak ngobrol baby didalam perut sang istri, membuat istrinya terkekeh geli.
"Tapi tenang aja, Papih ganti deh. Papih kasih kamu mainan, ya!" Tutur bang Age membuat Siska menaikan alisnya sebelah.
"Mainan apa bang?" Tanya Siska keheranan. Otak kecilnya tak dapat mencerna ucapan suaminya. Mainan apa yang bisa dikasih sama baby dalam rahim? Pikirnya.
Hingga terlihat jelas dirinya begitu berfikir keras. Namun tetap saja, otaknya tak dapat connect dengan baik.
"Abang kasih si junior buat nemenin dede bayi didalam sana!" Tuturnya seraya menujuk perut buncitnya.
Dan hal itu membuat bang Age sukses mendapatkan keplakan keras dilengannya. Siska yang sudah berfikir keras tentang sebuah mainan, tentu merasa kesal. Alih-alih mendapat jawaban yang serius, eh jawaban sang suami benar-benar membuatnya ambyar seketika.
"Abaannggg!!" Pekik Siska membuat suaminya tergelak. Hingga keduanya tertawa bersama. Gelak tawa memenuhi ruang kedap suara itu.
"Ya udah! Abang mau nyicipi yang lain, boleh ya?" Bujuk bang Age.
"Apa?"
"Ini!" Tunjuknya pada dua buah yang kian hari kian membesar dan menantangnya itu.
Tanpa menunggu jawaban sang istri tangan nakalnya sudah bergeliyara mencari kunci dari cangkang kedua buah itu hingga terlepas. Ia raup lambe yang hendak memprotesnya, menyesap dan melu matnya lembut hingga benda itu bungkam tak bersuara.
Hingga suara candu begitu menggema diruangan itu, membangunkan si junior yang siap bermain dan mengobrak ngabrik martabaknya.
Ia angkat tubuh sang istri menuju gelaran terempuk yang akan menemani keduanya menuju nirwana. Ia tarik seluruh kain yang menutupi pahatan indah tubuh sang istri. Bibirnya berjalan menyusuri lekukan demi lekukannya, membiarkan bibirnya mengabsen setiap inci kulit putihnya.
Hingga si junior bertemu dengan calon babynya. Membiarkannya menemani sang baby bermain didalam sana. Suara candu begitu mengalun indah dikamar temaram itu membuat suasana semakin panas didalam sana.
Tak jauh berbeda dari kamar sebelah. Kamar utama pun tak kalah panas. Kerinduan yang dirasa keduanya begitu membara. Dua hari tak bertemu membuat energi bang Ar melemah dan kali ini Ia begitu meresapi alunan tempo yang akan mengisi kembali energinya.
Begitupun sang istri, wajah kusut yang tadi meminta disetrika. Kini berubah begitu bergairah. Gaya sinona makan pisang menjadi pilihannya kali ini. Ayra yang begitu merindukan sentuhan suaminya, tentu berinisiatif menjadi leadernya.
"Abanggghh!!"
"Yess babyhhh"
Ayra terus berpacu, hingga pencapaian itu hampir mencapai puncaknya. Bang Ar membalikan posisi, tak ingin melewatkan pencapaian bersama. Ia mulai berpacu mengambil alih leader dari sang istri. Hingga akhirnya keduanya tumbang bersama.
Nafas keduanya nampak senen kemis, keringat pun membanjiri tubuh keduanya. Menandakan pembuatan part yang sungguh luar biasa. (Noh! Mak othor selipin, gak usah ngomel lagi Ay!)
__ADS_1
Berbeda dengan pertempuran dikamar utama. Kamar sebelah, belum juga terdengar erangan panjang. Kelembutan yang diberikan bang Age membuat tempo semakin panjang. Tak ada niatan keduanya mengakhiri alunan lembut nan lambat itu. Keduanya begitu meresapi setiap pergerakannya.
"Uhh banngghh!!"
"Yeahh sayangghhh!!"
Lama kedunya mempertahankn tempo itu. Hingga pelepasan itu akan datang, bang Age pun sedikit mempercepatnya dan keduanyapun tumbang bersama.
Ia mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Dan menarik tubuh berisi itu untuk Ia dekap.
.
Setelah mengetahui kehamilan sang istri bang Age tak pernah meminta pengulangan. Takut akan terjadi sesuatu pada keduanya Ia pun menuruti saran sang dokter. Walaupun Ia tak sepenuhnya mengikuti sarannya juga. Sang dokter menyarankan untuk berhubungan suami isti tiga kali dalam seminggu, tentu hal itu tak digubrisnya. Karena semalam saja tak menyentuh sang isti bagai imposible untuknya.
.
Malam pun semakin larut, namun si bumil itu tak jua memejamkan matanya. Ia bangun dari tidurnya dan hendak membangunkan suaminya.
"Bang bangun!" Ia menggoyangkan lengan sang suami untuk membangunkannya.
Bang Age membuka sebelah matanya mendapat guncangan dari istrinya. "Kenapa yang?" Ucapnya seraya mengucek matanya.
"Bangun bang! Aku gak bisa tidur!" Rengeknya.
Bang Age yang mendengar rengakn sang istri segera membangunkan tubuhnya. "Kenapa kok gak tidur?" Tanyanya seraya membelai sayang rambutnya.
"Aku rindu!" penuturan Siska sukses membuat bang Age membulatkan matanya.
"Rindu siapa?"
.
.
"Rindu si boba!"
.
.
__ADS_1
Jangan lupa yaa jejaknya! Aku tuh suka bingung, redersnya kok pada ngilang ya? Apa ceritanya makin gak enak? Makin ngebosenin? Tolong dong jawab! Mak othor bingung nihðŸ˜