Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 68 Reunian


__ADS_3

"Siska!!"


Seseorang berhambur dan menabrakan dirinya memeluk tubuh si bumil hingga membuatnya hampir saja kejengkang. Kalo saja tubuhnya seramping dulu, sudah dipastikan dirinya ambruk bersama si penubruk.


"Ya ampun bestie, gue kangen banget!" Tuturnya dengan mengeratkan pelukannya.


Siska tersenyum dan ikut memeluknya erat. Mendapati seseorang yang berebut dress dengannya dan yang kini tengah mendekapnya, ternyata adalah bestienya.


"Gue juga kangen sama lu, Li." Pekik Siska.


Lama tak bertemu membuat keduanya benar-benar melepas rindu dengan saling mendekap. Bahkan keduanya melupakan petugas toko yang tengah kebingungan melihat keduanya yang sempat berebut barangnya.


Siska melerai pelukannya dan menautkan tangan keduanya. "Gue seneng banget bisa ketemu sama lu. Lu apa kabar?" Tanyanya.


"Gue baik. Lu sendiri gimana?" Tanya balik Lia.


Belum sempat Siska menjawab, Lia sudah menyelaknya terlebih dahulu. "Ntar dulu! Kek nya ada yang berubah deh sama lu?" Tanyanya seraya memindai penampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan itu membuat Siska tersenyum.


"Coba apa yang berubah dari gue?" Tanya Siska.


"Lu?" Lia kembali memeperhatikannya. "Lu gendutan ya Sis?" Tanya Lia. Namun pertanyannya itu, seperti sindiran baginya. Hingga membuat Siska berdecak kesal.


"Ck! Kok gendutan sih. Gue gak gendutan ya." Protesnya membuat Lia terkekeh.


"Idihh gak nyadar bu. Situ gendutan woy!" Lia malah semakin gencar menggodanya.


"Ishh enak aja. Gue gak gendutan!" Siska masih tetap mengelaknya.


"Terus kalo gak gendutan ini apa coba?" Lia menarik kedua pipi chuby Siska, "Nih! Ini" beralih pada kedua tangannya. Ketika tangannya hendak mencubit perutnya Siska menahannya.


"Etthh jangan!" Larang Siska mengahadang tangan Lia.


"Kenapa?" Tanya Lia sedikit kaget.


"Ini tuh saham berharga gue. Jangan dicubit!" Penuturan Siska sukses membiat Lia tergelak.


"Iya! Saham penimbunan lemak." Ledek Lia. Ia yang tak mengetahui kehamilan bestienya tentu menanggapinya sebagai guyonan.


"Enak aja lemak. Ini tuh bibit unggul bang Age. Tau gak?"Jelas Siska membuat Lia menghentikan tawanya.


"Hah?! Serius?" Tanya Lia shok dan dijawab anggukan Siska.

__ADS_1


"Aaa.. Sis, selamat ya!" Lia kembali memeluk bestienya itu. "Gue gak nyangka, akhirnya cebongnya bang Age ada yang nyangkut juga." Tuturnya.


Lia yang tau sahabatnya itu sulit sekali untuk hamil, tentu ikut bahagia mendengarnya. Apalagi Ia juga tau dulu Siska sempat kehilangan calon baby nya.


Siska tergelak mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia kembali melerai pelukannya itu. "Ya iyalah. Lu gak tau aja sih. Bibit suami gue itu limited edition. Gak sembarang tumbuh dimana aja. Kudu dengan penyiraman yang teratur, penggalian yang tepat, dan pemupukan yang stabil." Tuturnya membuat Lia tergelak, namun beda dengan penjaga toko disana. Ia tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar percakapan keduanya.


"Oh iya. Lu kemana aja? Udah hampir setahun lu ngilang? Gue terus coba hubungi lu, tapi gak bisa?" Cecar Siska.


Lia hendak menjawab, namun si bumil ini terus nyerocos membuat Lia mengalah dan membiarkan si bumil terus melontarkan petanyaannya.


"Terus lu ngapain disini? Katanya dikota besar? Dan lagi lu sama siapa disini? Kenapa gak nemui gue?" Cecaran dari Siska membuat Lia terdiam dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Kok lu diem sih. Jawab dong?" Cecarnya lagi mengguncang lengan bestienya itu.


"Iya! Iya! Ini gue jawab." Lia menghentikan guncangan bestienya itu.


"Ya udah cepet jawab. Napa diem mulu?" Tanyanya lagi. Sepertinya ke kepoannya sudah sampai diujung lidahnya. Hingga Ia terus mencecar sahabatnya, tanpa mau mendengar jawabannya.


"Ya ampun! Gimana gue mau jawab oneng. Lu nya nyerocos mulu?" Protes Lia membuat Siska tersenyum menampilkan deretan giginya.


"Ya udah lu jawab! Tapi kita duduk dulu. Kaki gue pegel nih!" Siska menyeret sahabatnya duduk di sebuah sofa panjang.


Setelah keduanya duduk. Atensi Siska teralihkam pada petugas toko yang senantiasa membuntutinya dan hanya berdiri disampingnya.


Si mbak penjaga toko tersenyum kikuk. "Nggak mbak! Makasih. Saya disini aja!" Tolaknya.


"Ohh! Ya udah jangan ditingguin! Saya gak tanggung jawab kalo mbak sampe kenapa-kenapa." Titah Siska.


"Kenapa emang mbak?" Tanya si mbaknya dengan mulai waswas. Bolehkah Ia curiga pada dua orang didepannya takut merencanakan sesuatau pada toko dan dirinya? Pikirnya.


"Takut mbaknya gak bisa duduk lagi." Jawab Siska. Membuat si mbaknya mengerutkan dahinya.


"Maksudnya, takut kaki mbaknya kaku. Mbak gak tau aja. Kita tuh kalo udah reunian, ngalahin baca novel satu season." Balas Lia membuat si mbaknya shok. "Kalo mbaknya sanggup sih gak papa." Lanjutnya.


"Ya udah deh, saya permisi dulu. Nanti kalo acara reuniannya selesai, panggil saya aja!" Balasnya dan bergegas meninggalkan keduanya.


Keduanya cekikikan melihat mbaknya yang ketakutan dengan dua bestie somplak ini.


"Udah sekarang lu jelasin! Gimna ceritanya lu bisa disini?" Tanya Siska meminta penjelesan.


"Jadi, waktu dikota tuh. Gue kena jambret. Raib deh duit sama Hp gue semua. Dan lu tau sendiri, gue gak pernah ngapalin nomor siapapun." Tutur Lia dan dijawab anggukan Siska.

__ADS_1


"Terus?"


"Ya kek biasa gue kerja, tanpa ngabarin ibu gue juga. Dua bulan gue gak ngabarin ibu, sampe akhirnya gue ketemu si Didi. Baru deh dari situ gue bisa hubungi ibu gue." Lanjutnya.


"Terus? Terus?"


"Ck! Lu mah terus, terus mulu. Kek kang parkir dah." Protes Lia membuat si bumil itu tergelak.


"Ya terus gue harus gimana? Gue masih penasaran ini. Next! Lanjut!" Titahnya.


Meski dengan perasaan dongkol, Lia tetap melanjutkan ceritanya.


"Terus gue ketemu sama cowok!" Tuturnya dengan senyuman dan otaknya yang sepertinya sudah melanglang buana.


Siska menatap heran bestienya itu. Kemudian Ia menarik satu sudut bibirnya. "Cieee bucin!" Ledeknya membuat keduanya tergelak.


Lia menghentikan tawanya. "Tapi nasib gue kurang beruntung." Tuturnya sendu.


"Kanapa?"


"Dia udah sold out." Ucapnya dengan tangis tanpa air mata, begitu dramatis.


"Yah! Ya udah deh cari lagi. Bukan jodoh tuh!" Saran Siska.


"Tapi gue maunya dia tuh jodoh gue." Ucapnya membuat Siska tercengang.


"Isshh lu ya!" Siska sampai menoyor kepalanya. "Jangan ngadi-ngadi deh! Gak usah pengen jadi pelakor segala!" Omelnya.


"Lu tau? Karma tu makin sini makin instan. Lu jadi pelakor hari ini, besoknya giliran lu yang diusik pelakor." Tutur Siska memasehati.


"Bukan gitu. Ya kali, nasib gue sama kek lu. Bininya meninggal, terus gue jadi penggantinya gitu. Gue ikhlas dunia akhirat." Tuturnya dramatis.


Siska kembali menoyor kepalanya. "Ishh lu mah. Jangan gitu lah. Gak baik lu doain orang mati!" Ucapnya.


"Cih! Kek lu gak aja. Dulu juga lu gitu, nyumpahin bang Age duda kan?" Ledek Lia.


"Nggak! Gue gak nyumpahin." Elak Siska.


"Terus?" Tanya Lia menaikan satu alisnya.


"Gue cuma doain, bang Age duda terus gue jadi jodohnya." Balasnya tergelak. Hingga toyoran didapatnya dari sang sahabat.

__ADS_1


******************


Jangan lupa like dan komennya yaa!๐Ÿ˜‰ Yuk ramaikan, sepi amat๐Ÿ™ˆ


__ADS_2