
Suara cemperng seorang wanita mengalihakan perhatian mereka. Para bocil menoleh, melihat siapa yang menyapa mereka.
"Mama?!"
Salah satu gadis kecil dari mereka mendobgak seraya menyapanya.
Lia mendekat melihat aktifitas apa yang tengah merkea kerjakan. "Siapa yang punya siapa, hayo?" Godanya.
"Itu onty kata dede Kia, kak Rei punya dia." Timpal Sena seraya melerai pelukannya pada sang kakak.
Lia terkekeh mendengar penjelasan gadis kecil itu. "Terus Sensen punya siapa dong?" Tanyanya menggoda bocah cantik itu.
"Sensen punya semuanya. Katena Sensen sayng semuanya." Balas bocah cerewet itu dan langsung dapat usekan dikepalanya dari Mamanya Vani itu.
"Oh iya. Apa timom ada kak?" Tanyanya pada Aska.
"Ada, timom didalam." Balas Aska dan dijawab anggukan Lia.
"Ya udah Mama kedalam dulu ya!" Ucapnya pada Aska. "Sayang jangan nakal ya! Mama kedalam dulu." Pamitnya pada sang putri seraya mengusap kepalanya.
Vani hanya mengangguk sebagai jawaban. Merkea kembali pada aktifitasnya setelah Mama Lia berlenggang masuk kedalam rumah.
"Kak! Ini na kasih wayna apa ya?" Tanya Vani menyodorkan coretan hasil karyanya pada Aska.
Bocsh tampan itu mrndongak dan mengambil ketrtas itu dari tangan gadis kecil disampingnya. Ia tersenyum melihat betapa cantiknya, hasil karya gadis pendiam yang ternyata sudah menunjukan bakatnya itu.
"Ini kamu yag buat?" Tanya Aska dan dijawab anggukan kepala oleh gadis kecil itu.
"Bagus banget! Kamu suka menggambar ya?" Pujinya seraya bertanya kembali.
"Iya. Aku cuka buna meyati. Cantik, wani agi." Balasnya dan langsung dapat usekan dikepalanya dari Aska. "Kata Mama. Buna na buat nikah." Lannjutnya.
"Vani mau nikah?" Tanya Aska dan dijawab anghukan gadis kecil itu.
"Ntan kao dah becan." Ucapnya membuat Aska tetawa kecil.
"Emang sama siapa?" Tanyanya lagi.
"Cama Aka!" Balas Vani membuat Aska tertawa lepas. "Kata Mama cih gitu." Lanjutnya dan kembali dapat usekan lagi dari Aska.
Jangankan Vani, Aska pun belum tau mengenai hal itu. Menikah? Tentu mereka belum mengeti apalagi memahami arti kata itu. Keduanya hanya mendengar kala orang dewasa mengucapkannya saja. Dan pemikiran mereka, mungkin hal itu sebuah hal yang menyenangkan menurutnya.
"Apa sih? Nikah-nikah?" Tanya Shaka yang sedari diam, akhirnya ikut nimrung.
"Menurut kamu nikaj itu apa?" Tanya Aska.
__ADS_1
"Nikah? Hemm!" Shaka tampak berfikir sejenak. "Oh! Nikah tu, kita berduaan lake baju putih, foto-foto sama bunga juga." Lanjutnya.
"Bukan itu aja kak. Nikah tu dua-duaan, peluk-pelukan!" Balas Sena.
"So tau!" Ledek Shaka. "Tau dari mana coba?" Tanyanya.
"Dari hape Mama! Udah peluk dicium ininya." Jawabnya seraya menujuk jidatnya.
"Aka bilangin Mama ya, Sensen buka-buka hape Mama." Ucapnya mengancam seraya berdiri dan hendak pergi.
"Aka jangan! Ntar akunya marahin Mama lagi." Larangnya, seraya menahannya.
"Biarin. Wlek!" Shaka meledek sang adik dengan menjulurkan lidah dan berlari meninggalkan tempat itu.
"Akaa!!!" Pekik Sena seraya ikut berlari menyusul sang kakak jahara.
Aska dan Rei hanya menggelengkan kepalanya melihat tingakh dua bersaudara itu. Berbeda dengan kedua balita yang belum tau apa-apa itu, keduanya hanya menatap heran mereka.
"eman na nikah tu apa cih om?" Tanya balita cantik yang serba ingin tau itu.
"Nikah tu, nyatuin dua orang dewasa yang saling sayang." Balas Rei.
"Gitu ya om. Ntan kao dah becan, aku mau nikah na cama om aja!" Celotehnya membuat Rei tersenyum.
"Kenapa sama om?" Tanyanya.
"Udah jangan bahas nikah lagi. Kita masih kecil. Ntar kalo udah besar kita juga bakalan tau!" Tutur Rei dan diajwab anggukan ketiga bocah disana.
"Sekarang kita makan ini dulu. Siapa ynag mau?" Rei mengasongkan buah pisang diatas pirinh yang tadi ibunya bawa.
"Aku mau!!"
Ketiga bocah itu berebut mengambil buah itu. Apalagi Aska dan Vani yang memang menggemari buah panjang dan kuning itu. Mereka memakan buah itu dengan lahap. Satu sisir pisang raja yang disediakan ibu tandas tak tersisia. Meninggalkan kulitnya saja diatas piring itu.
"Uhh kenyan na." Ucap Kia seraya menyandarkan diri dilengan sang om.
"Kamu makannya paling banyak sih! Aka aja yang doyan gak sebanyak itu." Balas Aska dan disambut gelak tawa adik dan om nya itu.
Tiba-tiba saja kepala gadis yang sedari tadi stay disisinya, menerobos pahanya. Aska yang kaget hendak protes, namun melihat matanya yang tertutup rapat Ia hanya tersenyum dan menghembuskan nafasnya pelan.
Vani yang kekenyangan merasa ngantuk, matanya sudah tak bisa diajak kompromi. Jam memang menunjukan sudah waktunya Ia bobo siang. Tanpa aba-aba Ia mendaratkan kepalanya dipaha bocah disebelahnya. Hingga Ia pun terlelap. Bahkan suara dari mereka tak dapat didengarnya.
"Yah! Vani mbo?" Ucap Kia.
"Kek nya dia masih suka bobo siang ya?" Tanya Rei.
__ADS_1
"Iya. Tiap lagi main dia suka tiba-tiba kek gini. Gak lagi seru gak apa, kalo udah jam nya bobo. Ya dia bobo." Balas Aska.
Ia yang tau gadis kecil yang menempelkan kepala dipahanya sudah tak asing lagi untuknya. Begitupun Kia, bahkan Ia sering sekali ditinggal bobo pas lagi asyik-asyiknya.
Aska celingukan melihat benda yang dapat menutupi tubuh gadis kecil dipangkuannya. Karena tak menemukan apapun, akhirnya Ia berinisiatif membuka jaket yang dipakainya dan memasangakannya ditubuh imut itu. Menutupi tangannya yang terbuka, karena dress tanpa lengan yang Ia kenakan.
"Ya udah dede juga bobo, ya!" Pinta Rei pada ponakan yang tengah anteng bersandar dilengannya srraya membelai rambutnya.
"Nda mau. Kao cian mbo, mayam na nda bica mbo agi." Jawabnya.
"Emang kalo malam dede masih suka bangun?" Tanya Rei.
"Iya." Jawbanya.
Rei yang tau tentang pemyakit ponakannya menghembuskan nafasnya panjang. "Kasihan dede nya om!" Ucapnya sendu.
"Mmm, ntar malam dede bobonya sama om, biar om jagain dede." Ucapnya.
Kia segera bangkit dari sandarannya. "Cius om, boweh mbo cama om?" Tanya Kia dan dijawab anggukan Rei.
"Nggak boleh!" Larang Aska. "Kata timom, cewek sama cowok tuh gak boleh bobo bareng. Ntar dosa!" Lanjutnya membuat Rei yang sedikit sudah mengerti terkekeh.
"Iya deh!" Balas Rei tersenyum.
"Aku cama aka juda cuka mbo bayen." Protes balita cantik itu.
"Ya beda lah de. Kamu kan adek nya Aka." Balas Aska.
"Om juda om na dede. Cama aja!" Protesnya lagi tak mau kalah.
"Ya udah, ntar tanyain dulu sama timomnya ya! Boleh apa nggak nya?" Final Rei menengahi, takut-takut berisik dan membangunkan seseorang yang tengah terlelap.
Kia berjingkrak senang mendengar hal itu. Sedangkan Kedua bocah tampan hanya tersenyum dengan gelengan kepala melihat tingakah gadis kecilnya.
"Ya ampun! Dede Vani bobo ya?" Tanya Mamih, ketika menghampiri mereka.
"Iya. Mih!" Balas Aska.
"Ya udah Mimih gendong kedalam aja ya!" Usulnya.
"Gak usah, Mih!" Tolak Aska.
"Kenapa?" Tanya Mimih heran.
"Bairin, dia lagi nyaman!" Balasnya tersenyum. Mimih ikut tersenyum dan memimilih membiarkan hal itu.
__ADS_1
***************
Ayo bikin lebih rame😊 Gimana ini bocah-bocah udah pada ngomongin nikah🙈 Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😉