
Gelak tawa begitu menggema diruangan yang lumayan luas itu. Candaan dan adu argumen terdengar bersahutan disana. Hingga salam dari seseorang yang baru masuk tak sampai ditelinga mereka.
"Pantes abang ucap salam dari tadi kagak ada sahutan. Lagi kedatangan tamu rupanya." Bang Ar yang menghampiri mereka langsung mendaratkan bokongnya disamping sang istri.
"Abang?!" Ayra menyambut tangan sumainya dan menyaliminya takzim. Tanpa canggung bang Ar mendaratkan ciumannya bertubi-tubi diwajah bidadari hatinya. Membuat pasangan baru itu diam dan saling lirik. Kek nya pengen juga tuh manten.
"Nah, ini salah satu pelajaran yang harus lu lakuin Sis, eh kak!" Ayra cekikikan mendengar panggilan barunya. Lama bermain bersama tentu membuat Ayra masih terasa kaku menyematkan panggilan kakak untuk adik angkatnya itu yang sekarag berganti status menjadi kakak iparnya.
Hal itu adalah salah satu yang kedua bersaudara itu debatkan sedari tadi. Panggilan untuk kakak iparnya yang tak kunjung mendapatkan titik terang.
"Ya udah sii kak, Siska aja gak papa!" Tutur Siska membuat sang abang menoleh.
"Gak bisa gitu dong. Kamu kan istri abang, sudah seharusnya Ay panggil kamu kakak. Bukan malah kebalik. Dikira gorengan apa biaa dibolak balik." Cerocos bang Age membuat mereka tersenyum.
"Iya deh iya! Yang waras ngalah." Ledek Ayra.
"Eh lu bilang apa?" Lagi-lagi bang Age tersulut, dan hendak melayangkan kata-katanya. Namun dengan segera Siska menyambar bibir suaminya, membungkamnya untuk tak mengeluarkan kata-katanya lagi.
Bang Ar dan Ayra tercengang dengan perlakuan Siska. Mereka tak menyangka Siska yang mereka tau masih kecil ternyata sudah pandai dalan adegan delapan belas plus plus. Mungkin juga dua satu plus plusnya sama pinternya sekarang.
Keduanya sampai tak mengedipkan mata melihat adegan itu, hingga suara bang Age yang menjeda ciumannya membuyarkan lamunan mereka. "Jangan cuma dilihat! Prakteknya juga dong!" Ledek sang abang seraya melanjutkan aksinya.
Untung saja para bocil tengah kabur kedalam kamar Shaka, hingga tak melihat adegan meresahkan itu.
Bang Ar berdecak kesal melihat pemandangan itu. "Yang ngamer yuk!" Ajaknya pada sang istri.
"Hayuk lah!"
Bang Age dan Siska melepaskan pagutannya dan tergelak mendengar penuturan adik iparnya itu.
"Udah lah kita mau pulang! Udah sore juga." Pamitnya dan diiyakan bang Ar dan Ayra.
Keduanya bangun dan hendak membuka pintu kamar, namun ternyata kedua bocah itu keluar dari sana dengan berlari. "Eh! Jangan lari-lari! Ayo kita pulang!" Ajak bang Age pada putranya.
"Ti uwang ya?" Tanya Shaka.
"Iya! Onty sama Aka pulang dulu ya!" Jawab Siska.
"Itut!" Rengek Shaka.
"Gak usah! Ntar kita kesini lagi." Timpal bang Age membuat balita gembil itu berkaca-kaca.
__ADS_1
"Itut Ti." Rengeknya menarik celana Siska.
Ayra yang mendengar rengekan putranya datang menghampiri mereka. "Kenapa?"
"Mau ikut katanya, boleh yah?" Izin Siska seraya mengelus rambutnya.
"Ya udah! Aka boleh ikut tapi jangan nakal ya!" Titah Ayra dan disambut girang balita itu.
"Gak biaa gitu dong Ay! Gue butuh waktu sama istri gue. Masa malah lu titipin bocil?" Protes bang Age.
"Biarin aja sii bang. Ada Mamih kan?"
"Mamih pulang kerumahnya." Selak bang Age. Mamih dan Papihnya memang menghubunginya untuk memberitahu jikalau keduanya akan pulang kerumahnya setelah mengantar ibu pulang.
"Udah bang gak papa biarin aja yuk!" Ajak Siska yang sudah ditempeli kedua balita itu membuat suaminya berdecak kesal namun tak ayal Ia pasrah juga.
Malam panjang yang sudah Ia rencanakan akan ambyar dengan hadirnya dua bocah yang pastinya meminta kongsi istrinya. Ia harus siap berbagi dengan keduanya. Kalo saja hanya dengan putranya masih bisa Ia atasi, ini dengan ponakannya juga. Sudah dipastikan Ia takan kebagian.
Siska sudah menasuki mobil bersama kedua balita itu. Hingga sang abang yang hendak masuk kembali teralihkan dengan teriakan si bumil dari depan pintu.
"Hati-hati dijalan ya!" Pesan Ayra dengan senyum yang menjengkelkan dimata sang abang hingga dijawab cebikan olehnya. "Eh bang! Jangan lupa ya, praktekin si nona manis makan pisang!" Ledek Ayra kemudian tergelak.
Bang Age tak menghiraukannya dan segera memasuki mobilnya. Ternyata berkunjung kerumah adiknya itu membuat moodnya benar-benar down.
Bang Age tak menimpali dan hanya menghembuskan nafasnya panjang.
"Bang?!" Sapa Siska dengan manja melihat kearah spion depan, dengan wajah dibuat seimut mungkin.
Lagi-lagi sang abang menghembuskn nafasnya melihat ekspresi wajah sang istri. "Udah deh mukanya jangam digituin, abang kan jadi pengen nerkam!" Timpalnya membuat Siska tergelak dan tak ayal Ia pun ikut tertawa.
**
Tak terasa mobilpun sampai dipekarangan rumah. Bang Age hendak menggendong balita itu satu persatu, namun keduanya malah terbangun bersama.
Kedua balita pun turun diiringi kedua orang tuanya itu hingga tiba didepan pintu bercat cokelat.
"Dede sama de Shaka mau lanjut bobo gak?" Tanya Siska kala mereka sudah duduk disofa depan tv.
"Mbo!"
"Da!"
__ADS_1
Keduanya menjawab tak senada. Aska yang menginginkan tidur dan berbanding terbalik dengan Shaka yang masih ingin bermain.
"Jadi gimana dong?" Tanya lagi Siska.
"Ain ja timom!" Timpal Aska membuat Shaka bersorak bahagia.
Akhirnya kedua bocah itu kembali bermain. Siska meminta sang suami untuk menjaganya, selama Ia menyiapkan makan malam untuk mereka.
Karena udah terlalu sore bang Age pun berinisiatif untuk memandikan mereka. "Boys! Udah sore, kita mandi dulu oke!" Ajaknya pada keduanya.
Kedua balita itu kegirangan kendapati diri mereka akan dimandikan. Itu artinya mereka akan bermain air. Suatu hoby yang sangat digandrungi para anak-anak.
Mereka memasuki kamar mandi dan memulai ritual mandinya. Bermain bersama, hingga membuat sang Papih ikut nyebur juga disana.
Setelah selesai, ketiga lelaki beda generasi itu pun menghampiri timomnya didapur dengan berpakaian rapih dan sudah tercium aroma khas bayi yanh melekat ditubuh kedua balita itu.
Siska yang tengah memepersiapkan makanan pun menoleh. "Wah udah pada wangi nih! Yuk kita mamam!" Ajak Siska membuat kedua balita itu bersorak riang.
"Yeay!! Mamam."
Meski perbedaan usia keduanya jauh, nmaun pertumbuhan mereka sama. Dari mulai berjalan, berbicara, bahkan tinggi badannya saja sama. Aska yang memang lahir prematur, menjadikan pertumbuhan mereka berkembang seimbang. Jadilah kedua balita itu layaknya anak kembar.
Keduanya makan dengan disuapi timomnya. Seperti biasa timomnya disuapi sang Papih. Hingga makan malam ala keluarga kecil nan manis itu selesai.
Kedua balita itu langsung tepar dan sudah berjejer diatas kasur dikeloni sang timom.
"Kalo kek gini, kita jadi kek punya anak kembar ya bang?" Tanya Siska membuat suaminya tersenyum.
Bang Age ikut merebahkan diri dibelakang sang istri, memeluk perutnya seraya menenggelamkan wajahnya diceruk yang sudah menjadi aroma candunya itu. "Yuk kita wujudin, bikin yang kembar!"
****************
Awas jempolnya jangan lupa😁 Ramaikan kolom komentarnya yaa! Makasih buat kaleann yang selalu dukung author retjeh ini🙏 Sehat-sehat buat kaleaann😇😘
Ini yang mau bikin kembar😂
**Ini timom yang selalu siap😂
__ADS_1
.
Buat yang nanyain visual Dede Aska ntar yaa, belom nemu🤭**