Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 121 Memantapkan hati


__ADS_3

Hanna tergelak mendengar penuturan pemuda disampingnya. Sungguh modus yang sangat klasik. Semudah itukah seorang pria membicaraakn soal hati? Bahkan mereka baru dua kali bertemu. Pikirnya.


"Emang ya, kalo dasarnya kang modus mah modus terus!" Tuturnya disela gelak tawanya.


Hal itu tentu membuat Rangga menaikan satu alisnya keheranan. Padahal kata-kata seperti itu sangat sulit diucapkan olehnya pada gadis manapun, kecuali Siska. Dan entah kenapa, sekarang Ia bisa mengatakan hal itu pula pada gadis yang baru Ia kenal.


"Kenapa? Apa salah?" Tanya Rangga.


"Jadi ceritanya kamu? Eh bentar, gak sopan ya! Kek nya kamu lebih tua dariku. Aku panggil abang deh." Tuturnya membuat Rangga tersenyum tipis.


"Jadi ceritanya, abang mau PDKT nih sama aku?" Tanyanya dan hanya dijawab gedikan bahu oleh Rangga.


"Tapi sayang bang. Aku udah ada yang punya tuh!" Lanjutnya membuat Rangga menaikan satu alisnya.


"Oh ya?" Tanyanya tak percaya dan dijawab anggukan Hanna.


"Siapa? Orang tadi?" Tanya Rangga penasaran.


Hanna mengerutkan dahinya. "Abang nguping ya?" Tanyanya.


"Oh itu. Gak sengaja denger!" Elak Rangga beralibi seraya membuang mukanya, karena wajah yang terasa terbakar.


Hanna tersenyum misterius melihat itu. "Iya. Tadi pacar aku." Ucapnya. "Jadi, masih mau modusin cewek orang?" Sindirnya tersenyum miring.


Rangga menghembuskan nafasnya pelan. "Perlu kamu ralat. Apa yang aku ucapkan itu bukan modus." Ucapnya menatap dalam mata sang gadis. Lalu wajahnya mendekat kearah sang gadis yang terpaku.


"Karena pria sejati, tak perlu bertele-tele untuk memantapkan hati. Saat Ia sudah menemukan orang yang tepat, Ia takan membuang waktu untuk mendekat." Lanjutnya membuat Hanna semakin terpaku melihat detail wajah pria didepannya.


Hening!


Tak ada suara dari keduanya, hanya detak jantung yang berdegup cepat dan saling bersahutan saja yang terdengar. Tatapan keduanya kian terkunci, hingga keduanya hanyut dalam tatapan itu.


"Han?!"


Panggilan seseorang akhirnya memutuskan tatapan mereka. Keduanya gelagapan, layaknya tercyduk tengah melakukan hal yang iya-iya.


Keduanya berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang kian berpacu lebih cepat. Bu Dini yang melihat itu tersenyum misterius. Mungkinkah?


"I-iya bun!" Balas Hanna sedikit gugup.


"Gimana tadi, abang yang nelpon kan?" Tanyanya.

__ADS_1


"Hah? I-iya!" Balas Hanna lagi yang masih gugup dan tanpa sadar membuat Rangga tersenyum.


"Terus gimana? Abang udah nyampe belum?" Tanyanya lagi. "Bilangin jangan keseringan makan mie! Waktu makan kerumah tante Ina aja!" Titahnya.


"Emm, emang siapa bu?" Tanya Rangga.


"Itu Haris, putra sulungnya bunda. Abangnya Hanna." Jelas bu Dini dan sukses membuat Rangga tersenyum lebar.


Berbeda dengan Rangga, Hanna dibuat menganga dengan penuturan sang bunda. Alih-alih Ia sudah beralibi tentang abang yang Ia akui pacarnya. Eh! Sang bunda malah membeberkan faktanya.


"Ehemmm! Abangnya ya?" Rangga berdehem keras dan berucap seraya menyindir, dengan melirik ke arah sang gadis dan dijawab anggukan oleh sang bunda.


Hanna ikut melirik kearah pemuda disampingnya dengan perasaan dongkol. Ia menghembuskan napasnya panjang seraya menundukan kepala merutuki ucapan bundanya.


Rangga semakin melebarkan senyumnya melihat ekspresi gadis disampingnya. Ternyata masih ada kesempatan untuknya mengenal lebih dekat sang gadis.


"Baiklah nak Rangga, kita pamit pulang dulu ya!" Pamit bu Dini.


"Iya bu! Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk bilang sama saya!" Pesan Rangga seraya melirik lagi ke arah sang gadis dan diiyakan sang bunda.


Hal itu membuat Hanna mendongak kesamping melihat wajah pria yang membuatnya kesal sekesal kesalnya seraya mencebikan bibirnya.


Akhirnya ibu dan putrinya berlenggang meninggalkan rumah itu setelah berpamitan. Senyum terus terukir dari bibir Rangga. Hingga saat Ia memasuki rumah, sapaan dari orang tuanya tak dapat didengarnya. Ia hanya berlenggang menuju kamarnya dengan siulan dan wajah yang berbunga-bunga.


"Rangga kenapa Yah?" Tanya ibu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Entahlah! Putramu memang aneh." Balas Ayah membuat sang istri menoleh.


"Putramu itu, Yah!" Kekeh ibu.


"Ya udah, kita bikin putra kita berdua." Ucap Ayah seraya merangkul pundak sang istri dan menyeretnya pergi dari ruang tamu.


Dengan canda dan gelak tawa sepasang orang tua itu berlenggang menuju kamar. Sepetinya mereka benar-benar akan membuat putra made in mereka berdua.


*


Sementara itu, ditengah hamparan hijau gelak tawa para bocah masih terdengar begitu riuh. Keluarg besar itu belum ingin mengakhiri acara kumpul bersama itu. Para kakek dan nenek sudah pulang terlebih dahulu untuk beristirahat sebelum pulang. Sedangkan para orang tua dan bocil-bocilnya masih stay disana. Mereka memutuskan untuk pulang sore hari dan akan kembali ke kota dimalam harinya.


"Rasanya gak pengen deh pergi dari sini. Terlalu nyaman!" Ucap Ayra.


"Iya! Andai hari libur tuh di perpanjang. Jangan tanggung-tanggung, sebulan gitu." Celetuk Lia.

__ADS_1


"Gagal jadi sultan dong!" Balas Siska membuat mereka tergelak.


"Kalo kalian gak doyan duit, kita para lakik juga pengennya traveling terus. Ya gak?" Balas bang Age.


"Iya. Enaknya sih rebahan mulu." Timpal bang Ar.


"Apalagi sambil ngeloni. Travelingnya double-double tuh!" Balas Ivan membuat suasana kian riuh.


Obrolan demi obrolan terus berlanjut dari para orang tua yang melupakan bocah-bocahnya itu. Entah apa yang tengah mereka lakukan dibawah pohon teh yang berjejer disana.


"Udah belum?" Teriak Shaka, seraya menutup matanya dengan kedua tangan sambil berjongkok.


Sepertinya mereka tengah melakukan permainan petak umpet. Dan Shakalah yang tengah berjaga.


"Ihh kak Sen, apa itut kita?" Protes Kia pada Sena kala dirinya tengah bersembunyi dengan sang om dibawah tanaman teh.


"Ihh kamu aja sana. Aku mau sama kak Rei." Balas Sena.


Kedua gadis kecil itu terus berebut argumen untuk memenangkan siapa yang akan bersembunyi bersama bocah tertua disana. Rei menghembuskan nafasnya panjang mendengar perdebatan keduanya.


"Udah-udah, kalian tuh ya?" Lerai Rei. "Kalo kek gini, kita bakalan cepet ketemu." Lanjutnya.


"Jadi udah, kaliam diem ya!" Titahnya dan dijawab anggukan keduanya.


Akhirnya Rei harus bersembunyi ditengah-tengah kedua nya. Untung saja kedua gadis itu mau senyap. Jadi mereka bisa bersembunyi dengan apik.


Sementara itu, Aska yang melihat kedua adiknya bersembunyi dengan sang om hanya menghembuskan nafasnya panjang seraya wajahnya yang ditekuk sempurna. Ia hanya berdiri mematung melihat keduanya yang mengapit tubuh sang om. Namun tiba-tiba tangan lembut menggenggam tangannya dan menyeretnya pergi dari tempat ketiganya.


Aska tersenyum melihat gadis kecil yang mengajaknya untuk bersembunyi. Ia pun hanya mengikuti langkahnya hingga sampai ditempat yang agak jauh dari ketiganya.


"Dicini aja kak!" Ucapnya seraya menarik tangan Aska untuk ikut berjongkok bersamanya.


Aska kembali tersenyum melihat mata waspada yang diperlihatkan Vani. "Udah kamu tenang aja. Aka yakin Shaka gak bakal nemuin kita disini." Ucap Aska dan diangguki Vani.


"Duduk sini!" Titahnya menepuk rerumputan disampinya. Vani hanya mengangguk seraya mendudukan diri disebelah Aska yang sudah duduk sejak tadi.


Lama keduanya menunggu, namun Shaka belum juga menemukan mereka. Hingga tiba-tiba Aska merasakan pundaknya yang terasa berat. Ia menoleh dan mendapati gadis disampingnya yang sudah tak berdaya.


Ia tersenyum dengan menggelengkan kepala. "Tidur lagi. Kek nya, kamu sangat suka ya bobo dipundak Aka?" Kekehnya. "Dasar putri tidur!" Lanjutnya seraya membelai rambutnya.


***************

__ADS_1


Jangan lewatkan jempolnya yaa🤗 tunggu up ny lagi😅


__ADS_2