Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 37 Sweet family


__ADS_3

Setelah melakukan drmaa sebelum subuh, keduanya kembali terlelap setelah melaksanakan dua rakaat kewajibannya dengan berjamaah. Rencananya keduanya akan istirahat sampai siang. Namun relity tak sesuai ekspetasi.


Baru saja keduanya kembali memejamkan mata, gedoran dari luar kamar membangunkan keduanya.


Tok! Tok! Tok!


"Timom! Timom!"


Siska terlonjak dan segera bangun ketika mendengar panggilan menggemaskan dari putra kesayangannya.


Ia berlenggang membuka kunci pintu dan menyunggingkan senyumnya kala pintu terbuka dan menampakan balita lucu nan tampan dengan senyuman termanisnya.


Siska berjongkok untuk mensejajarkan tingginya seraya mengusap pucuk kepalanya. "Iya sayang. Kenapa?" Tanyanya.


"Timom bo dede da?" Tanyanya. Balita yang sedikit sudah dimengerti bahasanya itu, berceloteh dengan riang.


"Nggak! Kenapa? Dede mau bobo sama timom ya?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh balita menggemaskan itu.


"Ya udah, ntar siang kita bobo bareng ya!" Ajak Siska, dijawab tepukan tangan dan jingkrakan olehnya.


"Yeay bo timom!" Ucapnya girang dan membuat Siska tersenyum.


"Ti mamam!"


"Dede mau mamm?" Tanyanya memastikan dan dijawab anggukan olehnya.


"Emang udah mandi?" Goda Siska.


"Dah."


"Mana timom cium, udah wangi belom?" Tanyanya seraya menciumi dan mengusek perut dan ketiaknya hingga membuat sang balita tergelak.


Ternyata interaksi keduanya diperhatikan sang Papih, Ia tersenyum melihat kedekatan keduanya. 'Kamu emang gak salah Cha milih Siska untuk melengkapi kami. Makasih udah nuntun dia berada ditengah kami. Sekarang kau boleh tenang disana!' Batinnya.


"Bangunin dulu Papih yuk!" Ajak Siska.


"Nda!" Tolak baby Aska menggelengkan keplaanya.


"Kenapa?" Tanya Siska heran.


"Pih, aummmrg. De na atut." Timpal balita menggemaskan itu dengan menirukan cakaran macan membuat Siska tergelak.


Ia dekap tubuh balita montok itu dan menciumi pipinya gemas. "Dede tenang aja ya, jangan takut sama Papih kan ada timom! Sekarang Papih gak auummrg lagi kok." Bujuk Siska.


"Yuk! Kita bangunin!" Ajaknya, menuntun tangan putra sambungnya itu menuju ranjang dan naik menghampiri sang Papih.


"Dede yang bagunin ya!" Titah Siska dan dijawab anggukan baby Aska.


"Pih! Anun. Pih!" Balita itu menepuk-nepuk pipi Papihnya, namun tak membuat sang Papih terbangun.

__ADS_1


"Pih...!!!" Jeritnya membuat sang Papih tersenyum dan membuka matanya.


"Mana yang mau bangunin Papih? Sini, Papih gigit!" Bang Age menarik putranya kedalam dekapannya, membuat Ia berontak menjerit dan tergelak kala perutnya diusek sang Papih.


"Apun Pih apun!" baby Aska meminta ampun membuat kedua orang tua itu tertawa mendengarnya. Hingga keduanya bergantian menciumi pipinya gemas.


"Udah-udah! Yuk bangun! Kasihan dede pengen makan." Ajak Siska.


"Dede apa dede? Timom juga kek nya laper." Goda Bang Age.


"Iya! Aku juga laper. Kehabisan energi aku tuh." Timpal Siska membuat sang abang tergelak.


"Emang bisa jalan?" Goda sang abang lagi.


"Gak. Aku ngempor!" Timpal Siska membuat sang abang kembali tergelak.


Intinya memang masih terasa sakit, namun Ia mencoba baik-baik saja demi putra kesayangannya dan suami yang sekarang jadi tanggung jawabnya.


Akhirnya ketiganya bangun dan berlenggang keluar kamar bersamaan dengan baby Aska di gandeng kedua orang tuanya menuju meja makan. Didapur sang Mamih dan ibu sudah mempersiapkan sarapannya. Mereka pun duduk dan siap memakan sarapannya.


"Dede disini biar Mimih suapin!" Ajak Mamih.


"Nda! Au timom." Tolaknya dan tetap duduk disisi timomnya.


"Udah Mih gak papa. Biar aku suapin!" Timpal Siska dan dijawab anggukan Mamih.


Siska mengambil nasi goreng untuk sang suami, kemudian untuk sang putra. Ia mulai menyuapi putra kesayangannya itu dengan telaten. Ia sibuk menyuapi sang putra dan lupa menyuapi dirinya sendiri.


Siska menengok kesamping, ternyata sang suami ingin menyuapinya. Siska tersenyum dan menerima suapan itu. Tanpa menghiraukan tatapan kedua orang tua mereka. Keduanya asyik sendiri, dengan sang suami yang menyuapi istrinya. Dan sang istri yang menyuapi putranya.


Pemandangan yang begitu menghangatkan dikeluarga mereka. Kedua orang tua mereka tersenyum ikut merasakan kebahagiaan keluarga baru itu. Mereka begitu menikmati sarapannya, hingga tandas tak tersisa.


Setelah selesai, Siska hendak ikut mencuci piring. Namun dicegat sang putra. Ia mengajak timomnya itu bermain diruang tv. Akhirnya Siska pasrah mengikuti langkah putranya.


"Timom, ecim!" Pintanya seraya memainkan mobil-mobilan ditangannya.


"Masih pagi sayang. Ntar ya siangan." Tolak Siska.


"Ecim." dengan kekeh sang putra memintanya.


"Ya udah diem dulu, timom ambilin dulu." Dengan terpaksa Siska berlenggang kedapur, membuka freezer dan mengambil satu wadah eskrim berukuran kecil.


Ia kembali dengan membawa eskrim itu ditangannya dan menyodorkannya pada sang putranya. "Nih!"


Namun tanpa diduga balita itu malah menggeleng membuat Siska mengerutkan dahinya heran. "Kenapa? Katanya mau eskrim?" Tanyanya.


"Nda! Ecim." Siska sampai menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Ecim paan de? Bukan eskrim ya?" Tanya Siska dan dijawab gelengan balita itu.

__ADS_1


"Terus apa dong?"


"Mbim..Ecim" Balita itu memperagakan mobilannya bergerak dan berhenti seolah dipom bensin dan mengisinya. "Ecim."


Siska memperhatikannya seraya beroh ria. "Jadi maksudnya bensin? Ya ampun!" Siska sampai menepuk jidatnya kala ucapan sang balita baru Ia mengerti.


Keduanya kembali bermain, dengan celotehan-celotehan yang terkadang tak dimengerti Siska. Mereka hanya bermain berdua karena yang lain tengah sibuk masing-masing. Kedua neneknya tengah beres-beres sisa acara kemarin. Sang kakek yang sudah kembali bekerja dan sang Papih yang juga bekerja didalam kamar.


Hingga balita itu terlelap dipangkuannya. "Dede tidur?" Tanya sang abang menghampiri keduanya yang tengah duduk lesehan diatas karpet.


"Iya! Nih bang!"


"Ya udah abang pindahin ke kamar ya." Ucapnya dan diangguki Siska.


Sang Papih menggendong putranya dan membawa ke kamarnya diikuti Siska dibelakang.


"Tidurinnya ditengah dong bang, ntar jatoh!" Titah Siska ketika melihat sang putra malah ditidurkan disisi dengan guling sebagai penghadang.


"Nggak! Biarin aja disamping. Biar kamunya bisa di kongsi." Timpal sang abang membuat Siska tertawa.


Siska ikut meringsek, keatas ranjang dan sesuai perintah. Ia tidur ditengah putra dan ayahnya itu. Ketiganya bener-bener tidur dengan Siska ngeloni putranya, dan bang Age memekuknya dari belakang. Sungguh, keluarga yang terlihat manis.


**


Hingga sore menjelang, Siska belum juga membuka matanya. Sepertinya Ia benar-benar kelelahan. Sang abang sampai tak tega membangunkannya untuk makan. Ia bahkan memindahkan putranya ke kamar sang Mamih, agar tak mengganggu istri imutnya itu.


Sampai malam menjelang barulah Ia terbangun. Ia meraba-raba kasur namun tak menemukan apapun disana. Hingga matanya membola kala mengingat sesuatu. "Astagfirulloh! Dede."


Ia yang tadi tidur ngeloni sang putra, tentu panik ketika tak mendapati dede didekapannya. Ia bangun dan mencari keberadaannya. Takut jatuh dari kasur. Pikirnya.


Nyawanya yang belum terkumpul sempurna membuatnya seperti linglung. Hingga sang abang yang baru keluar dari kamar mandi dibuat terkejut kala sang istri tiba-tiba menubrukan dirinya.


"Abang! Dede bang!" Dengan panik Siska terisak didada polos suaminya.


"Kenapa dede?"


"Dede hilang!" Balas Siska.


Bang Age tersenyum seraya membalas mendekapnya. Membiarkan sang istri menumpahkan air matanya, meski hati merasa lucu dengan tingkahnya.


**************


Ayo dong jempolnya digoyang. Ramaikan juga kolom komentarnya! Mak othor seneng bales komenan kaleann, berasa ada temen gitu🤭


.



Papih nya dede yang suka deui deui😂

__ADS_1



Timom nya dede yang digempur ampe ngempor😂


__ADS_2