Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 40 Merem melek


__ADS_3

Selang beberapa menit, mobilpun sampai diparkiran sebuah pusat perbelanjaan. Siska turun menggendong balita yang menjadi putra sambungnya itu. Namun balita itu berontak meminta diturunkan, dengan terpakasa Ia menurunkannya dan menggandeng tangan mungilnya.


Dengan ceria balita gembil nan menggemaskan itu berjalan beriringan dengan timomnya. Sang Papih yang sudah memarkirkan mobilnya, dengan cepat menyusul.


Ketiganya masuk dengan tangan baby Aska digandeng kedua orang tuanya. Terlihat begitu manis. Layaknya keluarga harmonis pada umumnya, senyumpun tak luntur dari bibir mereka. Hingga mereka tiba disebuah toko perlengkapan wanita.


"Ini abang serius, pengen aku pake baju kek gini?" Tanya Siska seraya membolak balikan baju yang menurutnya tak layak pake itu.


"He'em!" Jawabnya seraya ikut mencari, membantu memilih.


"Ini mah bang yang ada aku masuk angin." Timpalnya.


"Nggaklah! Kan katamu pake gamis gerah. Nah yang ini gak bakalan bikin gerah. Yang ada abang yang kegerahan." Tutur bang Age dan sukses dapat timpukan dari sang istri disertai tawa keduanya.


"Malu lah bang, harus pake baju kek gini. Kek gak ada baju aja?" Protesnya lagi.


"Kan pakenya cuma pas kita berdua aja!"


"Terus kalo aku masuk angin gimana?"


"Gak bakalan, kan abang angetin!" Timpalnya dan kembali dapat tampolan sang istri.


"Kalo gitu mah sekalian aja gak usah pake baju, telanjang aja udah."


"Nah! Itu lebih bagus." Timpal bang Age membuat keduanya tergelak.


Setelah melakukan drama panjang terlebih dahulu, akhirnya Siska pasrah membeli gaun-gaun tipis yang seolah kehabisan bahan itu dengan berbagai warna yang suaminya pilihkan. Tak lupa juga Ia membeli kain-kain penutup barang berharga yang kini jadi milik suaminya.


"Bajunya sekalian!" Titahnya.


"Nggak lah bang. Ntar lagi. Bajuku masih banyak." Tolak Siska.


"Emang gak mau koleksi? Biasanya kan cewek gitu?" Tanya bang Age memastikan.


Siska menghembuskan nafasnya panjang. Suaminya itu mengira dirinya gila belanja. Gak tau aja dia didesanya dulu bisa beli baju sebulan sekali aja, sudah alhamdulillah.


"Aku tuh anak yatim bang! Mana mampu mengoleksi baju. Lagian aku diajarkan untuk gak mubazir. Jadi gak ada niatan buat koleksi-koleksi gitu." Tuturnya membuat sang abang tersenyum.


Dua kali Ia mendapatkan istri dengan karakter yang sama. Dua kali pula Ia mendapatkan istri seorang gadis yatim. Hingga Ia bertekad untuk membahagiakan istrinya itu.


Ia usek pucuk kepala sang istri dan menciumnya. "Ya deh, terserah nyonya Agung aja!" Timpalnya membuat keduanya tergelak.


"Pih! Au Mama." Tiba-tiba Aska merengek menarik tangan sang Papih.


"Iya. Sayang kenapa hem?" Tanya bang Age seraya berjongkok mensejajarkan tubuhnya.


"De au Mama."

__ADS_1


"Dede mau ketemu Mama Ay?" Tanyanya lagi memastikan dan dijawab anggukan oleh balita gembil itu.


"Yau udah kita kerumah kak Ay aja yuk bang! Aku ingat terus baby Shaka yang kemaren merengek gak mau pulang. Belum sempet aku gendong juga." Ajak Sisak.


Baby Shaka yang merengek minta digendong onty imutnya tak diindahkan sang Mama, kala waktu itu Siska lagi jadi pengantin. Tentu dengan kebaya dan aksesoris yang Ia pakai, tak dapat menggendong tubuh montok dan menggemaskan baby Shaka. Membuat Siska terus teringat hal itu.


"Hemm.. Ya udah! Tapi kita makan dulu ya, udah siang juga!" Ajak bang Age seraya melirik jam dipergelangan tangannya.


Ketiganya naik ke lantai atas menuju foodcourt, memesan makanan cepat saji untuk mengisi perut yang ternyata sudah keroncongan akibat setengah hari mengelilingi mall itu.


**


Kini ketiganya sudah duduk didalam kijang besinya, dengan diiringi lagu anak-anak yang melantun membuat balita menggemaskan itu begitu ceria, dengan mengikuti lirik yang asal-asalan membuat kedua orang tuanya tertawa. Keadaan mobil begitu ramai dengan canda tawa mereka, hingga tak terasa mobil pun sampai dihalaman rumah bang Ar.


"Asslamualikum!!"


"Waalikimsalam!!"


Seorang wanita dengan perut yang membulat menghampiri mereka.


"Kakak!" Sapa Siska hendak memeluk sang kakak namun dicegat suaminya.


"Eh! Ntar dulu, tadi bilang apa kakak?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan Siska.


"Kok kakak sih. Sekarang kamu kakaknya. Panggil dia Ay aja udah!" Titah bang Age dan dijawab cebikan bibir si bumil.


"Tapi kan gak etis masa kamu yang panggil kakak sih."


"Ck! Kalo kalian kesini buat ribut, mening pulang aja sana! Berisik tau gak?" Protes Ayra.


"Idihh.. Gak sopan banget lu sama kakak sendiri pake ngusir." Ucap bang Age.


"Lagian kalian, masuk rumah orang pada ribut gak sopan!" Timpal Ayra gak amu ngalah.


"Lu tuh sama kakak ipar gak sopan!" Timpal bang Age lagi sama kerasnya.


Ini orang berdua kalo dibiarin ampe subuh juga bakalan gak berhenti adu mulut. Akhirnya Siska melerai keduanya dan mengajaknya masuk.


"Udah! Ayo masuk, malu sama tetangga!" Ajaknya menggandeng tangan keduanya dan menggiringnya masuk.


"Ayo! Ayo masuk! Anggap aja rumah sendiri." Ajak Siska seolah dirinyalah tuan rumahnya.


"Ehh!! Disini gue tuan rumahnya ya!" Protes Ayra membuat Siska dan sang abang tergelak.


Siska menghampiri kedua balita yang tengah main mobil-mobilan diatas karpet diruang tv.


"Hai dede Shaka?!" Sapanya.

__ADS_1


"Ti." Balasnya seraya berhambur memeluknya dan disambut Siska.


Aska yang merasa timomnya direbut, segera menghampirinya dan menarik tangan Shaka agar melepas pelukannya.


"Nda boweh, timom dede!" Jeritnya.


"Ti dede." Shaka tak mau melepasnya hingga terjadi rebutan disana.


"Udah-udah! Kalian gak boleh gitu. Berhenti ya! Kalo nggak timomnya pulang nih!" Titahnya pada kedua balita itu sedikit ancaman membuat mereka terdiam.


"Timom punya kalian berdua ya, jangan rebutan lagi oke!" Titahnya dan akhirnya dijawab anggukan keduanya.


Mereka pun kembali bermain ditemani Siska. Bang Age yang baru keluar dari kamar mandi ikut menyusul sang istri dan kedua balita itu.


"Sayang pulang yuk! Udah sore." Ajaknya pada sang istri.


"Bentar lah bang, baru juga nyampe." Jawab Siska.


Bang Age duduk disisi sang istri diatasa sofa dan menyenderkan kepalanya dipundak sang istri. "Abang tu ngantuk pengen tidur!" Ucapnya dengan manja.


"Ya tidur atuh bang! Tinggal merek, mimpi, ngorok deh." Timpal Siska dengan entengnya membuat sang suami berdecak kesal.


"Abang pengennya dikeloni."


"Kalo dikeloni yang ada abang bukan merem doang."


"Terus?"


"Jadinya merem melek." keduanya tergelak dengan penuturan Siska hingga si bumil yang membawa cemilan menaikan satu alisnya.


"Rame bener ngomongin apa sih?" Tanya Ayra seraya duduk disebelah mereka.


"Bumil gak usah kepo, ntar pengen praktekin susah tuh sama perut!" Ledek bang Age.


"Ck! Pada gak tau aja. Biar udah bulat kek gini gue tetep bisa ya, nyenengin suami."


"Emang bisa gitu? Pake gaya apa coba?"


"Pake gaya si nona manis makan pisang!' Balas Ayra tergelak, namun tidak dengan keduanya. Mereka melongo mendengar ucapan adiknya, lalu menggelengkan kepalanya.


***************


Ada yang ingat gaya bang Ar sama Ayra?🤣🤣


Mon maaf yaa readers, harusnya ini up malam🙏 Berhubung ada drama dikit, mak othornya baru bisa selesai in ini😪


Jangan bosen-bosen yaa nunggu abang duda sama adek imut! Jangan lupa juga like dan komennya! Vote dan bunga-bunganya boleh juga🤭

__ADS_1


__ADS_2