
"Hahhh~ Gimana masih bau gak?" Tanya bang Age dengan menghembuskan nafasnya tepat didepan wajah sang istri.
Bukan pertama kalinya Ia melakukan hal itu. Sudah berulang kali Ia melakukan hal sama, bahkan sudah menggosok gigi dan berkumur berulang juga.
"Nah, sekarang udah meningan." Ucap Siska dengan tersenyum lebar.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Akhirnya Ia bisa berhenti dari aktifitas yang membuat bagian mulutnya kebas. Ia rebahkan diri disisi sang istri dengan lengan yang menumpu diatas matanya.
Siska yang tengah asyik mencium aroma si boba, dibuat menoleh melihat sang suami yang nampak kelelahan. Ia yang tengah duduk langsung merebahkan diri menghadap suaminya.
"Bang!" Sapanya ragu.
"Hemm!!" Hanya deheman yang sang suami berikan.
Karena tak ada suara lagi dari sang istri, bang Age melepaskan lengan dari matanya dan menengok kesisinya. Ia menarik tubuhnya kesamping hingga bertemu dengan tubuh sang istri.
"Kenapa hem?" Tanyanya seraya membenahi anak rambut yang menjuntai diwajah cantiknya.
"Maaf ya bang! Hari ini pasti abang lelah karena aku." Tuturnya sendu.
Bang Age tersenyum mendemgar penuturan sang istri. Ia belai lembit pipi chubynya. "Gak ada kata lelah buat bahagiain kamu. Kamu adalah prioritas utama abang." Tuturnya dan mampu membiat senyum dibibir istrinya mengembang kembali.
"Kalo gitu aku mau sesuatu boleh?" Tanyanya dengan senyum semakin merekah.
Bang Age mencoba tersenyum, meski perasaannya tiba-tiba saja tak enak. Takut sang istri meminta yang aneh-aneh lagi padanya. "Apa?" Tanyanya menaikan satu alisnya.
"Emm.. Besok mantai yuk! Pengen lihat laut!" Ajaknya dengan pupil mata berbinar meminta persetujuan suaminya.
"Besok kan abang kerja." Balasnya.
"Abang mau kerja sendiri?" Tanya Siska membuat suaminya mengerutkan dahinya.
"Besok kan tanggal merah." Lanjutnya.
"Emang iya?" Tanya bang Age sedikit bingung. Pasalnya begitu banyak kesibukannya hari ini yang membuat dirinya lupa akan hal itu.
"Ya ampun! Kasihan abang hubby ku, sampai lupa tanggal." Kekeh Siska dengan menangkup wajahnya.
"Ya gimana dong? yang abang inget kan cuma kamu." Balasnya tersenyum dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Idihhh ngegembel." Ucap Siska membuat keduanya tergelak.
"Ya udah, sekarang kita tidur ya! Ini udah hampir pagi." Ajak bang Age dan dijawab anggukan oleh sang istri.
Ia tarik tubuh sang istri kedalam dekapannya dan mulai memejamkan matanya, hingga keduanyapun terlelap mengarungi dermaga mimpi.
.
.
"Udah siap?" Tanya bang Age pada dua orang tercintanya yang sudah stay duduk dikursi samping kemudi.
"Siap!!" Jawab keduanya serentak dengan gelak tawa yang menggema didalam kijang besinya.
Bang Age pun mulai Menyalakan mesin mobilnya, hingga mobilpun melesat meninggalkan halaman rumah. Didalam mobil, begitu riuh dengan gelak tawa ibu dan anak itu. Entah apa yang keduanya bahas, namun sepertinya begitu menarik.
Bang Age tersenyum melihat interaksi kedunya. Mereka begitu dekat, bahkan tak terlihat seperti ibu dan anak sambung. Ia begitu bersyukur mendapat istri yang mampu membagi cintanya dengan putranya.
Selang beberapa menit mereka pun sampai ditempat tujuan. Bang Age turun dan menggendong putranya dari pangkuan sang istri yang tengah terlelap. Keduanya berlenggang menuju bangku santai dengan payung lebar diatasnya.
Ia rebahkan tubuh gembil balitanya disana dengan bantal kecil sebagai penyangga kepalanya yang sudah disediakan timom kesayangannya. Tak lupa juga Siska memberi selimut tipis yang tadi sempat Ia bawa.
"Kamu tau aja deh keperluannya Aka. Abang mana inget sama hal kek gini?" Tutur bang Age tersenyum.
Ia dekap tubuh istrinya membelai rmabutnya dayang seraya membrikan ciuman dipucuk krpalanya bertubi-tubi.
Ditengah ke uwuannya, tiba-tiba suara cempreng begitu memekik diindera pendengaran keduanya. Keduanya menoleh melihat seseorang yang dari suaranya sudah tak asing lagi bagi mereka.
"Hallo epribadeh!!" Sapanya.
"Ck! Ngapain sih lu disini?" Tanya Age dengan nada tak ramah. "Lu juga?" Todongnya pada pria yang datang bersamanya.
"Ya elah bang! Sensi amat deh!" Protes Lia yang ikut mendaratkan bokongnya duduk di kursi sebelah pasangan yang sempat Ia ganggu.
Ivan melakukan hal yang sama, Ia duduk dikursi disamping gadis yang Ia akui sebagai pacarnya itu.
"Udah sii bang. Biarin aja mereka. Lagian kalo kita double date kek gini kan enak." Timpal Siska dengan bergelayut manja dilengan suaminya dengan senyum yang begitu manis.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang, melihat pupil berbinar dari sang istri membuat dirinya pasrah membiarkan bestie somplak dan kekasihnya bergabung disana.
__ADS_1
"Dede Aska, bobo ya?" Tanya Lia menengok kearah balita yang tengah tertidur pulas.
"Iya! Gara-gara tadi malam lu ngoceh mulu, dia jadi kebangun deh. Sekarang udah tepar lagi kan?" Tutur Siska dan dijawab cengiran kuda oleh Lia.
"Ya maaf, lagian lu sendiri kan yang nanya-nanya!" Elak Lia, membela diri.
"Eh! Emang iya kalian jadian?" Tanya Siska memastikan.
Lia hanya terdiam melirik pria disampingnya. Ia ingin tau sang pacar mengakuinya depan umum atau tidak?
Siska melirik keduanya bergantian dengan alis dan dagu yang Ia gerakan sebagai kode untuk meminta jawaban dari keduanya. Tak da jawaban dari Ivan membuat Lia menunduk. Mungkin itu hanya harapannya saja, untuk mendapat pengakuan dari pria yang sudah berhasil merenggut first kiss nya.
Ivan menoleh melihat gadisnya yang menunduk, lalu menggenggam tangnnya. "Dianya yang minta pacaran!"
Penuturan Ivan mmebuat Lia mendongak dengan dahi yang berlipat-lipat. "Kok aku? Kan bapak sendiri yang minta saya jadi pacar bapak?" Sungut Lia tak terima, bahkan Ia kembali mengganti nama panggilannya saking kesalnya.
Siska melongo mendengar perdebatan sepasang manusia dihadapannya. Bang Age hanya menghembuskan nafasnya panjang seraya memutar bola matanya malas. Pasalnya Ia tak ingin terlibat lagi dengan kesomplakan sahabat istrinya itu.
"Jadi?" Tanya Siska heran. Ia yang tadi malam mendapat curhatan dari sang bestie yang menyatakan keduanya pacaran, tentu jadi bingung sendiri.
Ivan tersenyum melihat raut muka kekasihnya. Ia meraih pundaknya hendak mendekapnya, namun tangan Lia segera menepisnya. Ia tetap kembali merangkulnya hingga Lia pun pasrah.
"Kok kamu marah?" Tanya Ivan.
"Au ah!" Timpal Lia dengan air muka yang sama.
Ivan semakin mengembangkan senyumnya. "Kamu sendiri kan yang bilang ingin pacaran?" Tanyanya.
"Iya. Tapi kan kamu yang maksa!" Timpalnya dengan sengit.
"Aku gak makaa minta pacaran. Aku kan mintanya nikah!" Timpal Ivan membuat Lia mendongak menatapnya merasa tak percaya.
Ivan terkekeh melihat ekspersi bingung gadis disampingnya. Lia tak mengeluarkan katanya lagi. Ia hanya menatap lekat wajah tampan didepannya. Hingga tanpa disadari Ia hendak menjangkau bibir yang kemarin mengajarkannya rasa baru yang baru Ia tau. Hingga jarak itu tinggal bebebrapa senti lagi, ia menghentikan aksinya.
Ia teringat dengan dua orang yang pasti tengah melihat adegan live dirinya.
"Kenapa?" Tanya Ivan.
"Mereka-" Lia menoleh dan menghentikan ucapannya kala melihat sepasang manusia didepannya yang tengah hanyut dalam ciumannya. "Set dah kita keduluan!" Gerutunya.
__ADS_1
**************
Ayo dong ramaikan! Jangan lupa kasih like dan komennya yaa😊 Yang belum nengok si sexy, yuk tengok! Makin hot jeletot🤣