Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 27 Jalan-jalan


__ADS_3

Hari ini rencananya bang Age akan mengajak gadisnya dan sang putra jalan-jalan. Setelah melakukan sarapan pagi yang penuh drama, ketiganya pun siap untuk berangkat.


Baby Aska yang tau akan diajak jalan-jalan sudah merengek dari sejak mereka duduk untuk memulai sarapan. Bahkan sang Mamih sempat kewalahan menenangkan cucunya yang rewel dan nangis kejer. Untung saja ada pawangnya, sang Onty dengan segala trik dan jurus emak-emaknya mampu membuat balita gembil itu kembali anteng. Hingga akhirnya mereka selesai sarapan.


**


"Dede mau kemana sih? Ganteng banget!" Goda Siska setelah memakaikan sepatu pada balita itu dan menarik kedua pipi gembilnya gemas.


"Au ayan Ti." Jawabnya dengan memeperlihatkan giginya yang belum sempurna itu, hingga nampak begitu gemas.


"Sama siapa?" Tanya Siska.


"Ama Ti." Timpalnya


"Onty gak ikut ya, dede sama Papih aja!" Goda Siska.


"Da. Ama Ti." Timpalnya melipat tangannya didada dengan cemberut membuat Siska tertawa dan menarik hidungnya gemas.


Ketika Siska tengah membujuk dedenya yang merajuk disofa ruang tamu, sang Papih yang sudah siap menghampiri mereka. "Yuk Ti berangkat! Kita tinggalin dedenya." Baru juga sang Onty berhasil membujuknya, eh sang Papih malah kembali menggodanya.


Baby Aska kembali merajuk dan meluruhkan air matanya, bukan jeritan yang keluar dari bibir mungilnya. Namun sebuah isakan pelan yang memiluakan. Dan jangan luapakan bibir yang begitu menggemaskan. Sudah kebayang gimana ekspresi baby Aska. Greget.


"Abang ih!" Siska memukul bahu sang abang yang duduk disebelahnya.


"Uhh gantengnya Onty! Sini-sini!" Siska membawa balita gembil itu kedalam dekapannya. "Udah ya sayang jangan nangis ya, katanya mau jalan-jalan!" Bujuk Siska, namun balita itu masih sesenggukan didadanya dengan mendekap erat tubuh Onty nya.


"Udah yaa ganteng, Papih cuma bercanda." Bujuknya dan akhirnya mampu membuat tangisnya reda. "Ntar kita jangan kasih sun Papihnya yaa!" Bujuk Siska melirik sang abang dengan seringainya membuat bang Age menelan salivanya saat mendapat ancaman seperti itu.


Siska melerai pelukannya, Ia hapus jejak kebasahan dipipi gembil itu. "Udah ya, jangan nangis lagi. Gantengnya Onty gak boleh nangis! Ntar gantengnya luntur loh!" Bujuk Siska menangkup wajahnya.


"Sun dong Onty nya!" Titah Siska menunjuk pipinya. Dan balita itu dengan segera mencium kedua pipinya dan tak lupa juga dengan bibirnya, membuat keduanya tertawa namun tidak dengan sang Papih.


Bang Age menekuk wajahnya kesal. Selain dapat ancaman, Ia harus merelakan benda kenyal yang sudah menjadi candunya itu ditikung bibir mungil sang putra. Ia sampai berdecak kesal melihat adegan didepannya. Masa iya, Ia harus cemburu dengan putranya sendiri. Siska yang melihat ekspresi abangnya itu, tentu semakin tergelak.


Setelah drama rebutan sang Onty berlalu, merekapun memutuskan untuk segera berangkat. Karena memang waktu semakin siang, jadi tak banyak waktu yang akan mereka habiskan bersama. Mengingat sang Onty yang harus pulang sore ini, karena Ia sudah harus masuk sekolah besok.


**


"Kita mau kemana bang?" Tanya Siska yang tengah memangku baby Aska di atas pahanya.

__ADS_1


"Kamu maunya kemana?" Tanya balik bang Age yang masih fokus dengan kemudinya.


"Aku gak tau, serah abang aja." Timpalnya.


"Mmm kita ke taman kota aja gimana?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan Siska.


"Boleh!"


Mobilpun melesat membelah jalan. Karena ini hari minggu, jalanan lumayan agak macet untuk dilalui. Hingga beberapa menit kemudian, mobilpun sampai di taman kota.


Ketiganya turun dengan baby Aska digendongan sang Papih. Mereka berjalan beriringan layaknya keluarga lengkap. Mereka terlihat begitu bahagia dengan canda tawa dan celotehan balita gembil digendongannya. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah kursi dan duduk disana.


"Dede mau beli apa?" Tanya bang Age.


"iot."


Kedua orang dewasa itu terdiam sejenak dan saling melirik, seolah bertanya apa?


"Iot apa de?" Tanya Siska.


"iot." Dengan kekeh balita itu terus mengatakan itu.


"De, iot itu yang kek gimna?" Tanya sang Papih ikut memastikan.


"Iot." Tegasnya lagi, membuat kedua orang tua itu menghembuskan nafasnya secara bersamaan.


"Iot apaan bang?" Tanya Siska.


"Abang juga gak tau."


"Masa abang gak tau? Abang kan bapaknya?"


"Emang iya abang bapaknya, tapi kan abang jarang maen sama dia. Mana ngerti juga!" Elak bang Age membuat Siska berdecak.


"Makanya abang tuh harus sering-sering luangin waktu buat dede. Biar abang tau apa aja kebiasaan dan kesukaannya." Omel Siska membuat bang Age terdiam.


Hal itu dibenarkan sendiri oleh bang Age. Kesibukannya bekerja membuat Ia menyerahkan sepenuhnya hak asuh sang putra pada sang Mamih. Ia juga jarang membawa putranya itu main keluar hingga Ia tak tau apa saja yang putranya sukai.


"Iya deh maaf! Abang kan kerja." Belanya, namun tak membuat Siska berhenti mendumel.

__ADS_1


"De, maafin Papih ya! Papih terlalu sibuk dengan kerjaan Papih, sampe lupa sama dede." Bang Age menangkup kedua pipi sang putra yang tengah dipangkuan Siska dan mencium keningnya. Hal itu sukses membuat Siska terharu. Perlu Ia akui, abangnya melakukan itu bukan semata mencari rupiah saja. Namun juga mencoba melupakan luka yang terlalu dalam dihatinya.


Siska menepuk-nepuk pundak sang abang untuk menguatkannya. "Udah, mulai sekarang abang harus lebih memperhatikan dede ya! Sementara aku masih belom bisa sama kalian, abang harus sebisa mungkin meluangkan waktu untuknya. Walau hanya sekedar mendengar dia berceloteh, misalnya. Setidaknya itu akan membuat dede merasa disayangi dan merasa tak jauh dari orang-orang tercintanya." Tutur Siska panjang lebar.


Bang Age tersenyum mendengarnya, ternyata adek imutnya yang sudah memberi warna baru dihidupnya itu sangat jauh berbeda dari usianya, hingga pemikirannya mengalahkan dirinya yang jauh diatas usia sang gadis. Ia usek pucuk kepala gadisnya seraya memberi kecupan disana membuat Siska tersipu.


"Ihh abang lihat sikon. Malu!" Peringat Siska ketik Ia mendapati orang-orang menatap kearah mereka.


"Biarin gak papa." Jawab bang Age santai.


"Isshh!" Siska mencubit roti sobeknya gemas hingga membuat abangnya tergelak.


"Ti au iot!" Lagi-lagi balita itu meminta sesuatu, layaknya misteri yang tak mampu mereka pecahakan.


"iot apa sih de? Pilot? Kapal-kapalan gitu?" Tanya Siska sembari memperagakan gerakan kapal diudara, namun balita gembil itu menggeleng.


"Es krim ya de?" Tanya sang Papih yang malah dapat timpukan dari gadisnya.


"Paan sih bang, jauh ih! Masa dari iot ke es krim?" Tanya Siska merasa tak masuk akal.


Baby Aska kembali menggeleng hingga membuat keduanya menghembusakan nafasnya frustasi.


"Apa yah bang? Aku bingung nih."


"Abang juga bingung. Coba tanya reders ada yang tau gak?"


"Ya udah kita ajak jalan aja, tuh banyak stand makanan! Biar nunjuk sendiri." Ajak Siska dan diangguki abangnya.


Keduanya berjalan dengan baby Aska kembali digendongan sang Papih. Menyusuri setiap stand dan menawarkannya pada sang putra.


"Tu Ti!" Sang baby menunjuk seorang kang dagang dengan gerobak biru yang ikut berjejer disana.


Keduanya berjalan mengikuti arah telunjuk balita itu, hingga sampai didepan gerobak itu barurah keduanya paham.


"Oh! Cilok!!" Ucap keduanya serentak, kemudian tergelak.


**************


Kadarieu-kadarieu🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa digoyang jempolnya! Ramaikan komentarnya readers😊 Mudah-mudahan ada yang khilaf, ada yang ngasih vote sama cilok buat mak othor gitu😁😁


__ADS_2