
"Apa???"
"Ibu dilamar pak kades? Serius bu?" Tanya Siska dan dijawab anggukan ibu.
"Terus alasan ibu dijemput pak kades, bukan karena aku?" Tanyanya lagi dan dijawab gelengan kepala sang ibu.
"Terus yang bikin ibu nangis apa?" Cecarnya lagi.
"Ibu bingung Sis!" Tuturnya sendu.
"Kok bingung? Bingung kenapa?" Tanya Siska yang ikut kebingungan.
"Kalo ibu terima, ibu merasa bersalah sama Ayah kamu. Ibu gak bisa khianati Ayah." Tutur Ibu dengan air mata yang sudah luruh. Siska kembali memeluk tubuh sang ibu dari samping.
"Ayah adalah cinta pertama ibu. Rasanya akan sulit menjalani hubungan dengan yang lain." Lanjutnya sesenggukan, membuat Siska ikut merasakan luka di hati ibunya. Ia usap punggung sang ibu untuk menenangkannya.
"Udah dong bu, jangan nangis! Ibu tinggal bilang aja sama pak kades kalo ibu gak bisa. Gampang kan?" Saran Siska.
"Gak segampang itu Sis." Timpalnya.
"Terus?"
"Masalahnya ibu juga gak bisa nolak."
"Lah kenapa? Apa ibu diancam?" Tanya Siska dan dijawab gelengan ibu.
"Terus?" Tanya Siska semakin bingung.
"Pak kades ganteng Sis. Sayang kalo ibu anggurin." Timpalnya membuat Siska mengaga dengan mata mengerjap berulang kali.
Ternyata penuturan sang ibu sukses membuat otaknya nge leg. Ia mencerna kata-kata yang keluar dari bibir sang ibu. Sebenarnya apa yang membuat sang ibu bersedih? Mau nolak apa mau nerima?"
"Jadi? Ibu? Astagfirulloh!" Siska masih tak percaya dengan apa yang ada dipikiran ibunya itu.
"Ya ibu bingung." Timpalnya.
Siska memegang pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Hingga terus memijitnya pelan. "Ya udah ibu fikirkan lagi! Aku jadi ikutan pusing. Aku ke kamar dulu." Tuturnya seraya berlenggang masuk ke kamarnya.
Ceklek
Pintu dibukanya dan menampakan sang suami dan putranya yang tengah meringkuk diatas kasur dengan layar pipih yang misuh-misuh meramaikan suasana kamar.
Sepertinya sebelum mengarungi dermaga mimpi si Papih mengajak putranya untuk menonton drama animasi anak untuk mengeloninya.
__ADS_1
Siska megambil layar itu dan mematikannya. Lalu menyimpannya keatas nakas. Ia duduk ditepi ranjang dengan terus memijit pelipisnya yang terasa semakin berat. Pikirannya melayang pada ucapan ibunya tadi. Apakah benar ibunya ingin menikah lagi? Ada rasa khawatir dihatinya.
Tiba-tiba lingkaran tangan diperutnya sukses mmebuatnya terkejot.
"Abang!" Sapanya seraya memegang lengan yang bertengger diperutnya. Bang Age menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri. Menciumi aroma shampo yang sudah menjadi candunya itu.
"Ada apa? Hem?" Tanyanya, masih dengan posisi yang sama.
Siska menghembuskan nafasnya berat, membuat sang suami menolehkan wajahnya melihat wajah murung sang istri. Ia lerai pelukannya berpindah ke sisi sang istri.
Ia pegang kedua bahunya dan mengarahkan kehadapannya. Namun Siska hanya menunduk menyembunyikan segala pikirannya yang angkurawut. Seperti biasa Siska selalu bisa menutupi segalanya. Bang Age meraih dagunya mendongakan wajahnya, agar mata keduanya bersitatap.
"Kamu gak mau cerita sama abang?" Tanyanya. Namun Siska hanya menghembuskan nafasnya panjang.
"Apa abang gak berhak tau permasalahan istri abang sendiri?" Tanyanya lagi. "Atau memang abang bukan orang yang pantas untuk mendengar segala keluh kesahmu?"
Siska berhambur memeluk tubuh tegap yang selalu nyaman untuknya bersandar. Mungkin sekarang waktunya bersandar beban hatinya juga. Bang Agr membalas mendekapnya dan membelai rambut indahnya.
"Abang harap gak ada yang ditutup-tutupi dari kita. Jangan hanya bahagiamu, sandarkanlah segala kesedihanmu hanya pada abang!" Titahnya dan dijawab anggukan Siska.
"Jadikanlah abang sebagai suami, Ayah, teman, partener dalam segala hal untukmu!" Tuturnya lagi dan Siska semakin mengeratkan pelukannya.
Lama keduanya hanyut dalam pelukan yang kian menghangatkan. "Kalo kek gini terus, jadi pengen ngobrak ngabrik martabak deh!" Goda bang Age.
"Isshhh abang mah!" Siska melerai pelukannya dan memukul manja dada suaminya. Hingga membiat bang Age tertawa.
Siska menghembuskan nafasnya terlebih dahulu untuk memulai ceritanya. "Tadi tuh..." Akhirnya Siska menceritakan apa yang terjadi pada ibunya hingga membuat sang suami tertawa.
"Ihh bang kok diketawain ih?" Protes Siska.
"Ya abisnya lucu sama ibu. Emang bener ngomong gitu?" Timpalnya disela gelak tawanya.
"Iya kek gitu." Timpal Siska kembali murung.
Bang Age kembali menangkup wajahnya. "Terus kenapa yang sedih? Apa kamu gak ingin kalo ibu nikah lagi?" Tanya bang Age.
"Bukan gak ingin sih. Itu mah terserah ibunya aja. Cuma.." Siska tak memeruskan ucapannya membiat sang suami menaikan alisnya sebelah.
"Apa?"
"Aku takut bang!" Timpalnya, hingga membuat sang suami semakin mengerutkan dahinya.
"Takut kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut. Aku takut ibu disakiti. Aku takut ibu gak bahagia. Aku takut."
Bang Age mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya. "Kamu jangan takut! Jika emang ibu mau nikah lagi, membina rumah tangga lagi. Kamu harus izinin. Biarin ibu punya kehidupannya sendiri!" Nasihat bang Age.
"Coba kamu bayangin, jika kamu diposisi ibu. Sekarang tu ibu pasti kesepian ditinggal kamu. Gak ada saudara, gak ada anak lagi, apalagi cucu. Kita bikin gak jadi-jadi ya?" Tutur sang abang dengan sedikit candaan untuk mencairkan suasana. Dan suksesembuat Siska tersenyum.
"Seperti katamu pada abang dulu. Bukan untuk menggantikan, tapi untuk melengkapi. Mungkin ini takdirnya ibu dan pak kades untuk saling melengkapi." Tuturnya dan dijwab anggukan Siska.
"Apa pak kades, benar-benar tulus sama ibu? Apa dia gak bakalan nyakitin ibu? Apa dia bisa bahagiain ibu?" Cecar Siska.
"Tergantung. Kita lihat dulu aja kesungguhan pak kades! Jika emang dia tulus sama ibu, dia pasti memperjuangkannya. Nah dari sana kita bisa melihatnya. Dan tugas kita hanya berdoa, semoga Ibu bahagia, dengan bagaimanapun keadaannya." Tutur bang Age begitu bijaknya.
Siska berhambur kembali pada dada bidang sandarannya itu. Ternyata setelah menumpahkan segala keluh kesahnya. Hatinya sedikit tenang. Namun ada rasa aneh dikepalanya. 'Kenapa kepalaku pusing terus ya?' Batinnya. Namun Ia tetap terlihat baik-baik saja untuk tak membuat khawatir suaminya.
**
Kini keluarga kecil itu tengah berkumpul diruang tv, setelah mengadakn makan malam kesorean. Karena kebiasaan dirumah ibu, makan malam diundur dijam sebelum matahari terbenam.
Ketika mereka tengah bercanda, tiba-tiba suara ketukan pintu dan salam terdengar dari depan mengalihkan perhatian mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa itu?" Tanya Age.
"Entah!" Jawab Siska mengedikan bahu dan tetap fokus bercanda dengan memeluk dede Aska.
"Sis! Buka pintunya!" Teriak ibu dari dapur.
"Ya udah abang yang buka pintunya." Bang Age berlenggang kedepan membukakan pintu untuk si tamu.
Ceklek!
"Waalaikumsalam!" Timpal bang Age mengerenyitkan dahinya tak mengenal siapa yang bertamu kerumah ibu mertuanya.
"Cari siapa ya?" Tanya bang Age.
"Kamu siapa?" Bukannya menjawab Ia malah balik bertanya.
"Saya Agung. Suaminya-" Bang Age belum sempat meneruskan kata-katanya. Tiba-tiba saja.
Gubrakkkk!!
***************
__ADS_1
Ayo gaisss!!! Jangan lupa like dan komennya! Vote dan bunga-bunganya buat bu Titin yang dilamar🤭
Satu lagi, abis teraweh yaa😊