Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 33 Nikah?


__ADS_3

Bang Age yang berencana akan mengunjungi kediaman sang pujaan selepas isya, mengurungkan niatnya. Ia yang sudah tak sanggup lagi menahan kerinduannya, segera berangkat lebih awal. Niat hati ingin memberi kejutan dengan menjemput sang gadis diacaranya itu malah berujung emosi.


Ia yang mendapat pesan dari sang gadis, kalau tempat acaranya pindah, langsung menancap gas ke alamat yang diberikan gadisnya. Ketika sampai ditempat tujuan, sang abang mengerenyitkan dahinya heran. Sepi? Seperti Siska tadi, Ia juga keheranan melihat tempat sepi itu.


Ia mencoba mengetuk pintu, namun tak ada satupun yang membuka pintu. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak menentu, dengan hati-hati Ia membuka pintu itu. Matanya membola melihat kondisi ruangan itu. 'Siapa yang nikah?' Hingga pikirannya tertuju pada gadisnya itu. 'Gadis imut gue!'


Ketika Ia hendak kembali keluar, Ia mendengar teriakan sang gadis menggema disebuah ruangan. Sang abang yang panik mencari sumber suara itu, hingga semakin dekat Ia juga mendengar suara seorang pria. Darahnya mendidih, pikirannya melayang membayangkan apa yang menimpa gadisnya itu.


Hingga Ia sampai didepan pintu kamar. Ia yang hendak membuka pintu memgurungkan niatnya, ketika pintu sudah ditarik lebih dulu dari dalam dan menampakan seorang pemuda yang akan keluar. Karena emosinya sudah membuncak mencapai ubun-ubunnya, tanpa basa-basi Ia memberikan bogeman mentah padanya.


Bogeman bertubi-tubi dan segala macam umpatan kasar Ia layangkan pada pemuda didepannya, hingga Ia terkapar dilantai. Tanpa memperdulikannya yang terkapar, Ia lebih memperdulikan gadisnya yang menangis histreris dan mencoba menenangkannya.


Setelah dirasa cukup tenang, bang Age melerai pelukannya. Is hapus jejak kebasahan dipipinya yang berantakan itu. "Kamu gak diapa-apain dia kan?" Tanyanya dan dijawab gelengan sang gadis.


"Terus ini kenapa ampe terluka kek gini?" Tanyanya mengelus rambutnya sayang.


"Tadi kena ini." Siska menunjuk kepala ranjang yang tadi Ia hantam. "Pusing bang!" Ucapnya.


Bang Age mengelus rambutnya seraya menghembuskan nafasnya panjang. "Ya udah abang obati dulu ya!" Sang abang hendak memegang luka yang terbalut namun dicekal gadisnya itu.


"Jangan bang! Aku takut lihat darah lagi." Larang Siska.


Bang Age tersenyum mengelus pipi sang gadis. "Gak papa! Kamu nya merem aja ya!" Titahnya.


"Tapi kan?" Siska masih enggan untuk membiarkan sang abang mengobati lukanya.


"Gak papa! Kalo lukanya diobati, jadi cepat sembuh. Gak berdarah lagi." Bujuk sang abang.


Siska menghembuskan nafasnya pasrah dan menganggukan kepalanya. Ia mulai memejamkan matanya, membiarkan sang abang mengobati lukanya.


Rangga yang tengah duduk disofa tersenyum kecut melihat pemandangan didepannya. Ia terus memperhatikan interaksi keduanya dengan membersihkan luka dihidung dan ujung bibirnya juga. Ia terus menghembuskan nafasnya panjang untuk menekan rasa yang menyesakan dadanya melihat ke uwuan manusia yang asyik sendiri dengan dunia mereka, bahkan sepertinya mereka melupakan keberadaan dirinya.


Sang abang menempelkan plester dibagian akhir pengobatannya. "Nah udah!" Bahkan sang abang mencium plester yang baru saja tertempel.


"Udah buka matanya." Titahnya hingga mata indah itu terbuka sempurna.


Siska memegang kening yang sudah abangnya obati itu. "Kok masih pusing sih bang?" Tanyanya membuat sang abang menghembuskan nafasnya kasar.


"Abang kan obati lukanya, bukan pusingnya." Timpalnya.


"Aku kira sekalian sama pusingnya."

__ADS_1


"Kalo mau sekalian pusingnya hilang, yuk ikut abang!" Ajaknya.


"Kemana?"


"Kita ke KUA." Keduanya tergelak membuat Rangga disofa sana berdecak kesal.


"Udah sana kalian pulang! Berisik!" Tuturnya dingin dengan melipat tangan didada.


"Cih! Enak aja lu main usir. Lu harus tanggung jawab, udah nyulik calon istri orang sembarangan lagi." Omel sang abang.


"Terus, itu diluar apaan? Kok kek ada nikahan?" Tanya bang Age yang baru teringat dengan suasana diluar sana.


"Gue mau ajak Siska nikah. Eh dia malah milih cowok tua, duda lagi." Timpal Rangga membuat sang abang meradang dan hendak bangkit untuk menghajar cowok tengil yang mengesalkan baginya itu.


Namun Siska segera mencegahnya. "Udah bang! Jangan berantem!"


"Tapi dia udah kurang ajar. Masa mau nikahin aja gadis imutnya abang, abang gak terima!"


Siska terus menenangkan sang abang, agar tak ada perkelahian disana. "Udah lah bang! Lagian nikahnya gak jadi. Akunya aja gak mau. Pak utadz nya juga udah kabur."


Bang Age menghela dan menghembuskan nafasnya berulang kali untuk menetralkan amarah dihatinya.


"Ck! Itu juga, tapi gak semarah tau kamu mau dinikahin. Lagian emang bener abang udah tua. Tua-tua menggoda lagi." Jawaban sang abang sukses membuat Siska tertawa.


Siska menangkup wajah masam sang abang dengan tawa yang masih melekat dibibirnya. "Abang tau. Aku suka yang tua." Ucapnya. "Lebihh.. Eurggghh." Siska menirukan cakaran macan didepan wajah sang abang, hingga membuat sang abang tersenyum dan menarik gadisnya kedalam dekapannya.


"Makasih! Udah nolak cowok lain buat abang. Tetaplah kek gini. Jangan berubah!" Tuturnya seraya mengelus rambutnya.


"Gak akan bang! Aku kan bukan cat women." Timpal Siska cekikikan hingga membuat sang abang semakin melebarkan senyumnya.


Ehemmm!!!


Suara deheman membuyarkan keuwuan mereka. Hingga membuat sang abang kembali berdecak kesal.


"Ck! Ganggu aja sih. Udah lu gue lepasin, sono gak usah ganggu!" Titah sang abang pada cowok didepannya.


"Iya! Iya gue pergi. Gue cuma mau minta maaf! Maafin gue ya Sis, gue gak maksud buat nyakitin lu. Soal luka lu itu, gue bener-bener gak sengaja. Dan buat lu juga bang! Maaf udah ganggu cewek lu." Tutur Rangga.


"Cih! Gue masih kesel sama lu. Tapi karena lu mau ngakuin kesalahan lu, gue maafin! Dan itu baru namanya laki." Ucap bang Age menarik satu sudut bibirnya dan Rangga mengikutinya.


"Ya udah sono lu pergi! Ganggu kita aja." Usir sang abang.

__ADS_1


"Cih! ngusir! Kalian yang harus pergi sana. Ini rumah gue." Timpal Rangga membuat bang Age melirik sana sini dan menghembuskan nafasnya.


"Iya de, kita dirumah orang. Yuk pulang!" Ajaknya pada sang gadis dan dijawab anggukan gadisnya.


Keduanya bangun dengan bang Age menggenggam erat tangan gadisnya erat. Menggandengnya untuk mengikutinya. Namun sebelum keluar Ia kembali berbalik, melihat kearah cowok yang masih berdiri dengan memasukan tangan disaku celananya.


"Kalo mau lamar gadis itu jangan kek gitu! Lu bikin yang uwu, bukan bikin gadis spot jantung." Tuturnya membuat si pemuda memutar bola matanya malas.


Keduanya berlenggang meninggalkan kamar itu dan keluar meninggalkan rumah itu pula dengan kijang besi sang abang.


**


"Tadi beneran kan kamu gak diapa-apain tuh cowok tengil?" Tanya sang abang yang tengah fokua dengan kemudinya.


"Gak bang! Dia gak ngapa-ngapain kok. Malah dia ngajak nikah juga baik-baik, terus aku tolak." Tutur Siska. "Kalo soal luka ini." Siska memegang keningnya. "Dia gak sengaja mendorongku ampe nyamber kepala ranjang."


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang, Ia tarik kepala sang gadis dan menyenderkannya dibahunya setelah mencium kening yang terluka tadi. "Maafin abang ya, gak bisa jagain kamu!" Sesalnya.


"Gak papa bang! Ini bukan salah abang."


"Besok kamu harus siap-siap!"


"Buat apa?" Tanya Sisk heran.


"Buat bikin kamu berada didekat abang, dua puluh empat jam!" Balasan sang kekasih membuat Ia tersipu, hingga keduanya pun tertawa.


***************


Besok up nya dijam sahur yaa, soalnya kita mau bikin part ngamer😂 Biar kita terhindar dari dosa gitu, takut baper🤭


Jangan lupa juga kencengin vote nya!! Mau melepas lajang tuh abang duda🤭**


.



Ini yang siap lepas masa lajang lagi🤭



Ini yang gak akan berubah🤭

__ADS_1


__ADS_2