
Pagi ini dikeluarga baru itu, gelak tawa terdengar begitu renyah disebuah kamar. Ibu baru dan putranya tengah menertawakan sang Papih yang berhasil keduanya kerjai.
Dengan usilnya Siska mengajak putra kesayangannya menngerjai sang suami yang masih terlelap. Keduanya dengan mengendap-endap layaknya maling yang takut tertangkap basah, mencoba melukis diwajah pria yang masih anteng dengan mimpinya itu.
Siska menyuruh sang putra memulai lebih dulu. Dengan menggunakan spidol warna milik nya, Aska mulai membuat karyanya. Keduanya cekikikan melihat hasil karya Aska.
"Suuutt! Gak boleh berisik!" Ucap Siska pelan. Ia menempelkan jari telunjuknya dibibir memberi isyarat dan menggoyangkan telunjuk itu didepan putranya.
"Ya, nda boweh!" Aska ikut memeperagakan gerakan timom nya itu seraya berbisik.
"Giliran timom ya?" Siska mengambil alih spidol itu dan dijawab anggukan Aska.
Ia juga mulai melukis karyanya disana. Hingga membuat keduanya cekikikan, hingga si empunya wajah bergeliyat hendak membuka matanya. Entah apa yang keduanya gambar diwajah tampan pria kesayangan mereka, namun sepertinya tak dihiraukan sang Papih.
Bang Age mengerjapkan matanya perlahan, pemandangan pertama yang Ia lihat adalah sang istri dan putranya yang tengah menyunggingkan senyuman manisnya.
"Selamat pagi abang hubby!" Sapa Siska dengan senyum yang entahlah, terlihat aneh dimata sang suami.
"Mat di ban aby!" Sama putranya dengan wajahnya yang begitu menggemaskan.
"Dede gak usah ikutin timom! Dede mah Papih aja ya!" Titah Siska dan dijawab anggukan putranya. Membuat Siska gemas dan mengusek pucuk kepalanya.
"Mat di Pih!" Ulangnya dan langsung dapat ciuman bertubi-tubi dari Papihnya yang sudah duduk terbangun.
Siska kembali melipat bibirnya, kala melihat wajah sang abang yang begitu berantakan. Karya abstraknya bersama sang putra sungguh patut diacungi jempol.
Sang suami yang melihat tingkah aneh sang istri melipat dahinya. "Kenapa?" Tanyanya.
"Nggak!" Jawab Siska dengan senyumnya.
"Mau juga?" Tanyanya lagi dan hanya dijawab senyuman Siska.
Bang Age yang berfikir sang istri menginginkan morning kiss nya tersenyum. Tanpa aba aba Ia mneyambar bibirnya sekilas, lalu ke kedua pipinya dan terakhir didahinya lama. Hingga membuat bocah disana menarik tangan sang Papih keras.
"Pih! Nda boweh!" Aska mengangkat telunjuknya seraya menggoyangkannya disertai gelengan kepalanya. Membuat kedua orang tua itu tertawa.
Ia menarik lengan timomnya seraya memeluknya. "Timom dede, Pih nda boweh!" Ucapnya berpeluk manja pada lengan ibu barunya itu.
Bang Age terkekeh. 'Gini amat ya gue, mesti rebutan ama anak sendiri. Huhh nasib-nasib!' Batinnya.
Namun tak ayal Ia tersenyum dan mengusek kepala putranya gemas. "Ya deh! Siang punya dede ya, malam punya Papih." Tuturnya membuat Siska tergelak.
Bang Age turun dari kasur hendak masuk kamar mandi, namun langkahnya terhenti kala dirinya terliht di cermin meja rias. Ia menoleh dan matanya membola. Ia semakin mendekat cermin dan meraba raba wajahnya. "Muka gue?"
__ADS_1
Seketika tawa Siska pecah diikuti sang putra juga. Keduanya tergelak tanpa mau tau wajah masam pria yang sudah sukses keduanya kerjai.
Bang Age mendekat kembali pada dua orang tercintanya. "Kalian yah, bener-bener minta dicium!" Tuturnya menaiki ranjang membuat keduanya berhamburan hendak melarikan diri.
Namun bang age segera menangkap keduanya. "Mau kemana hah?" Ia menangkap sang istri, memeluknya erat dari belakang.
Siska tergelak kala sang suami menggelitik perutnya. "Ampun bang! Ampun!"
Siska terus tergelak seraya meminta ampun, namun sang suami tak melepaskannya dan malah ikut tergelak.
Aska yang hendak kabur keluar kamar mengurungkan niatnya kala melihat timomnya tertangkap dan meminta ampun. Ia yang melihat itu tentu tak tega. Kasihan timomnya. Pikirnya.
Dengan inisiatif Ia mengmabil bantal kecil disofa dan memukuli punggung sang Papih. "Nda boweh tiomom dede, pa-pain nda boweh!" Keduanya berhenti dan melihat putranya yang berusaha memukul keras Papihnya disertai lelehan air dipipi chubby nya.
Keduanya melerai pelukan dan beralih menenangkan putranya. Siska menghapus jejak kebasahan dipipinya. "Uhh! Sayangnya timom! Gak papa ganteng, timom gak papa! Sini-sini peluk timom." Ia merentangkan tangannya meminta balita gembil itu masuk kedalam dekapannya.
Aska berhambur memeluk tubuh timomnya dengan isak tangis yang memilukan. Begitu sayangnya Ia pada timomnya itu, hingga tak kuasa melihatnya seperti tengah teraniyaya oleh Papihnya.
"Cup! Cup! Sayang jangan nangis lagi tadi tu cuma bercanda. Ya!" Siska terus mengelus kepala putranya itu sayang.
Siska melerai pelukannya dan menangkup wajahnya. "Kita bales Papihnya ya! Dede gelitiki juga. Mau?" Bujuknya dan dijawab anggukan olehnya. Membuat Siska tersenyum dan melirik sang suami.
Bang Age menghembuskan nafasnya pelan. "Iya deh Papih pasrah!" Ia merebahkan tubuhnya telentang diatas kasur.
"Udah-udah cepetan kalian mandi udah siang!" Titah Siska.
"Yuk atuh berjamaah!" Ajak bang Age seraya merangkul pundak aang istri.
"Issshh... Aku udah mandi bang. Abang aja sana sama dede!" Titahnya.
"Kapan? Kok gak ajak abang?" Tanya sang abang.
"Tadi subuh. Udah aku ajak, abangnya aja anteng ngorok ." Timpalnya membuat keduanya tertwa.
"Dede mandinya sama Papih ya! Timomnya bikin sarapan buat dede."Titahnya pada sang putra.
"Nda, au timom." Jawabnya.
"Mandinya sama Papih ya! Dede jangan keseringan mandi sama timom!" Ucap bang Age.
"Emang kenapa bang?" Tanya Siska heran.
"Tangan kamu keseringan pegang punya dede, junior kan cemburu." Timpalnya membuat Siska tergelak.
__ADS_1
Balita gembil itu hanya melirik bergantian kedua orang tuanya, merasa tak mengerti dengan ucapan mereka.
Setalah melakukan ritual mandi Ayah dan anak itu keluar kamar dengan berpakaian rapih. Sang Papih menggandeng tangan putranya dengan senyum yang tak luntur dari bibir keduanya. Mereka berlenggang menuju meja makan dan disambut wanita baru yang akan stay mengisi hari-hari mereka.
"Pada kemana?" Tanya bang Age seraya mendudukan putranya dikursi.
"Mamih sama Papih lagi nganterin ibu pulang. Mereka udah sarapan duluan. Ibu juga titip salam buat abang sama dede." Timpal Siska yang tengah menyendokan nasi goreng pada piring suaminya dan diiyakan sang abang.
"Kenpa buru-buru pulang?" Tanya sang abang.
"Banyak orderan katanya." Timpal Siska dan dijawab oh ria oleh suaminya.
Siska juga mengambil nasi gorengnya untuk dirinya dan sang putra. Mereka memulai makannya dengan khidmat. Siska bergantian menyuapi putranya dan juga dirinya. Hingga bang Age dengan inisiatif memakan makanannya dengan cepat.
Dan setelah selesai, Ia menyuapi sang istri. Siska tersenyum mendapati kembali perlakuan manis suaminya. Hingga tak terasa makanan mereka pun tandas.
**
Kini ketiganya berada didalam mobil. Bang Age mengajak istri dan putranya untuk membeli keperluan mereka di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu.
"Emang mau beli apa sih bang?" Tanya Siska yang duduk di bangku samping kemudi dengan putranya.
"Beli keperluan kamu sama dede." Jawab bang Age yang tengah fokus dengan kemudinya.
"Perasaan keperluan aku masih komplit kok bang."
"Keperluan kamu masih kurang. Ada yang harus dibeli."
"Apa?" Tanya Siska heran.
"Gamis malam." Balasnya, hingga mendapatkan pukulan manja dari sang istri dan keduanya pun tergelak.
**************
Jangan lupa ya readers! Like dan komennya😊 vote sama bunga-bunga bermekaran juga boleh🤭 Ngelunjak nih mak othor🤣
Tapi yaa makasih buat kalean yang selalu stay nemenin mak othor🙏 Makasih untuk semua dukungannya🙏
Ini yang udah double😂
__ADS_1
Ini yang suka double😂