Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 94 Belum beruntung


__ADS_3

Sepasang suami istri itu sekarang sudah siap diatas ring pertempurannya. Mereka juga kembali melakukan pemanasan lagi untuk memulai acara buka puasa yang kemarin sempat tertunda.


"Huh! Aku degdegan bang!" Ucap Siska yang kembali berkeringat dingin.


"Udah kamu rileks aja! Biar si jack aja yang tegang." Timpal bang Age.


"Tapi bang, tetep aja aku takut. Kata mereka tragedi empat puluh hari itu, melebihi malam pertama."


"Lebih apanya?"


"Lebih sakitnya, lebih enaknya!"


"Gak bakalan sakit. Percaya deh sama abang!" Bujuknya.


"Kok abang tau?" Tanya Siska heran.


"Ya tau lah. Ini kan udah lebih dari empat puluh hari, jadi gak bakalan sakit." Tuturnya dan sukses dapat tampolan dilengannya.


"Isshh abang nih. Gak kek gitu juga konsep nya." Protes Siska membuat sang abang tertawa.


"Ya udah lah kita coba aja!" Ajaknya.


Bang Age hendak mengarahkan si junior pada nonanya, namun Siska mencegahnya. "Kenapa lagi sih?" Tanya bang Age.


"Beneran gak sakit kan?" Tanyanya membuat sang suami menghembuskan nafasnya panjang.


"Kan belum dicoba. Kita coba dulu lah!" Timpalnya dan kembali akan memulai aksinya. Namun Siska kembali mencegahnya membuat sang abang menghembuskan nafasnya frustasi. "Apalagi?"


"Itu pintu udah dikunci belum? Takutnya ada yang masuk." Tanya Siska.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Udah!" Balasnya singkat menahan hasrat yang sudah mencapai ujung tombaknya. Ia kembali akan memulai aksinya, hingga lengkingan tangisan bayi berhasil membuatnya ambyar.


Ia tenggelamkan wajahnya di sisi ceruk sang istri, dengan menghentakkan kaki yang mendadak lemas.


"Udah bang! Ntar sambung lagi." Ucap Siska mendorong pelan tubuh suaminya, namun bang Age tak juga bergerak.


"Kalo abang gak kuat. Solo aja dulu ya!" Kekeh Siska.


Bang Age bangkit dari tubuh istrinya, dengan wajah amburadul Ia berlenggang ke kamar mandi. Sepertinya Ia harus mengadakan pergelaran solo disana.


Siska terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya. Sebenarnya Ia tak tega melihatnya. Namun sang putri adalah mayoritas utamanya sekarang. Ia raih bathrob untuk dipakainya. Tak ada waktu untuknya memakai pakaiannya.


Ia ambil tubuh putri cantiknya dari dalam box. Mulai menggendongnya dan mulai menyusuinya. Merasa ada yang aneh dengan sesapannya, Ia usap dahi dan lehernya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Ya ampun! Dede beneran panas." Ucap Siska panik. Namun Ia teringat kembali ucapan dokter untuk tak khawatir dan segera mengambil tindakan.

__ADS_1


"Bang!" Panggilnya berteriak.


Bang Age membuka pintu kamar mandi seraya melongokan wajahnya setelah mendengar teriakan sang istri. "Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah yang masih sama.


"Ini dede nya bneran panas. Cepet ambil obat sama plester penurun demamnya bang!" Titah Siska.


Bang Age yang mendengar itu tentu ikut panik. Ia buru-buru keluar dan melupakan handuknya. Siska yang melihatnya sampai menepuk jidatnya.


"Ya ampun bang! Itu handuknya dipakai dulu!" Pekik Siska kala melihat sijunior melambai dibawah sana.


Bang Age melihat dirinya sebentar, lalu mengambil handuk yang menggantung ditempatnya. Lalu melilitkannya dipinggangnya. Ia mencari kantong kresek dari sang dokter tadi di sofa, beralih ke nakas. Namun tak juga ketemu.


"Tadi abang taruhnya dimana?" Tanya Siska.


Bang Age terdiam sejenak seraya berfikir. "Dimana ya?"


"Oh iya! Masih ketinggalan dimobil keknya." Ucapnya hendak keluar kamar, namun Siska kembali mencegatnya.


"Tunggu bang!"


"Apalagi?" Tanyanya.


"Abang pake dulu jubah mandinya. Aku gak rela abang harus sedekah roti sama tetangga." Protesnya membuat sang suami terkekeh.


Ia berlenggang keluar kamar setelah mengambil kunci mobilnya. Siska masih kembali mengechek suhu tubuh putrinya yang semakin panas. Ia buka kancing bajunya, membiarkannya telanjang sesuai intruksi dari sang dokter tadi.


Tak lama bang Age datang membawa kantong kresek berisi obat dan plester penurun panas dari sang dokter. Ia ikut duduk ditepi ranjang bersama sang istri. Membantu menempelkan plesternya didahi putri cantiknya dan menciumnya.


"Cepet sembuh cantiknya Papih!" Ucapnya membuat Siska tersenyum. Ia begitu bangga memiliki suami dan ayah siaga disisinya.


"Abang ambilin dulu makan bentar ya!" Ucapnya dan dijawab anggukan Siska.


Bang Age berlalu kedapur untuk mengambil makanan untuk sang istri, sebelum meminum obat. Dokter belum menganjurkan bayi cantik itu minum obat. Jadi timomnya lah, yang akan menggantikannya.


"Nih makan dulu! Abang suapin yah!" Ucap bang Age mulai menyuapinya.


Dengan telaten bang Age menyuapi sang istri yang sibuk menyusui. Sang putri masih tak mau melepaskan miminya hingga pergerakan timomnya terbatas.


Tak lama setelah selesai meminum obatnya, putri cantiknya juga melepaskan miminya. Ia pun akhirnya tertidur kembali.


Siska menidurkan sang putri kembali dibox nya. Bang Age berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah menidurkan putri cantiknya Siska hendak mengenakan pakaiannya kembali. Namun tiba-tiba layar pipihnya berdering, membuat Ia menghentikan aktifitasnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


Hingga nomor sang adik ipar terpampang disana. Ia tekan icon hijau untuk menerima panggilannya.


"Iya kak?"

__ADS_1


"Hmm ya udah. Maaf ya ngerepotin!"


"Oke!"


*


Panggilan singaktpun berakhir. Hingga bang Age keluar dari kamar mandi dan menghampirinya.


"Siapa yang?" Tanyanya.


"Kak Ay! Katanya Aka gak mau pulang. Mau nginep disana dia." Jawab Siska seraya memakai bajunya.


Bang Age memeluk sang istri dari belakang. "Bagus deh! Jadi gak ada yang ganggu kita." Ucapnya seraya melesakan wajahnya diceruk sang istri.


"Isshh abang nih! Ada dede Kia tuh!" Tunjuk Siska seraya mengeplak lengan kekar suaminya.


"Gak papa. Dede Kia masih kecil, belum ngerti. Kalo si Aka, kita kek gini auto kejengkang abang kena tarikan dia." Tuturnya membuat sang istri tergelak.


Aska yang sudah mengerti, suka sekali rebutan timom bersama sang Papih. Ia begitu sensitif, kala sang Papih mergelayut manja ditimomnya.


"Oh iya bang, Aka kek nya sayang banget ya sama Sensen? Apa dia bakal sayang sama dede Kia juga ya?" Tanyanya.


"Kamu ini. Ya iyalah. Dede Kia kan adeknya. Sama Sensen, sepupunya aja sayang. Apalagi sama adeknya sendiri." Tutur bang Age dan dijawab senyuman sang istri.


"Sekarang dia lebih suka main sama sepupunya, bukan karena dia gak sayang sama dede. Tapi de Kia masih terlalu kecil. Dia masih belum bisa diajak main. Ntar kalo dede Kia udah bisa diajak main, Aka pasti mengajaknya juga." Lanjutnya dan dibalas senyuman oleh sang istri.


"Kita lanjut ya!" Ajaknya.


"Lanjut apa?" Goda Siska.


"Unboxing buka puasa." Balasnya dan mulai menyerang ceruk memabukan yang selalu membuatnya semangat untuk menyelaminya.


Tangannya hendak membuka baju sang istri yang baru saja Ia kenakan. Namun belum juga baju itu lepas dari tangannya tiba-tiba suara sang putri kembali membuatnya menghembuskan nafasnya panjang.


"Sabar bang! Dedenya emang lagi rewel. Ntar kita coba lagi." Tutur Siska membuat bang Age berdecak kesal.


Siska terkekeh melihat ekspresi suaminya. Ia berlalu menghampiri putrinya hingga terbesit ide untuk menggoda suaminya.


"Bang?!" Sapanya membuat suaminya mendongak dengan menaikan alisnya sebelah seolah bertanya apa?


"Maaf anda belum beruntung!"


*************


Ramaikan crazy up nih🤭 Kasih mak othor semangat yaa!! Biar si abang bisa unboxing🤣

__ADS_1


__ADS_2