
Wajah tampan Rei kian tegang, terlihat dari bulir air yang tiba-tiba mengucur dari dahinya. Ia terus mencoba memutar otaknya, mengingat kembali persyaratan apa yang belum Ia penuhi dari calon mertuanya itu. Namun sepertinya tak ada titik terang yang menjelaskan dimemorinya mengenai hal itu.
Bang Age terkekeh melihat wajah tampan yang penuh kegundahan didepannya itu. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik ditelinga calon menantunya.
"Permintaan, untuk menjaga dan mencintai princess ku. Apa kau sudah siap?"
Seketika Rei melongo mendengar penuturan calon mertuanya itu. Sedangkan bang Age melipat bibirnya seraya kembali ketempatnya dengan posisi santainya dan wajah tanpa dosanya.
Sungguh ingin sekali Rei menarik kerah baju pria didepannya. Jika saja Ia tak membutuhkan restu dan wali nikah calon istrinya, mungkin sudah pasti Ia lakukan. Sudah mah dari sejak pagi Ia begitu gugup, bahkan Ia sampai melupakan sarapannya. Sekarang ditambah lagi dengan kelakuan calon mertuanya, sungguh membuat konsentrasinya semakin ambyar. Ia hanya menarik dan menghembudkan napasnya panjang untuk menetralkan kegugupnnya agar tak salah saat melantunkan kalimat ijabnya.
Ibu yang melihat keringat yang bercucuran diwajah putranya segera berinisiatif menyekanya. Hingga Rei menoleh kearahnya dan disambut senyuman dari wanita yang begitu tulus menyayangi dan membesarkannya itu.
"Santai aja jangan gugup ya! Selangkah lagi, cita-cita kamu buat memepersunting wanita pilihan kamu terwujud." Pesan ibu pelan dan disambut senyum oleh putra bungsunya.
Rei kembali menghembuskan napasnya pelan, tiba-tiba hatinya begitu tenang mendengar pesan dari sang ibu.
**
__ADS_1
Setelah serangkaian acara penyambutan, kini acara inti pun akan segera dimulai. Sang mempelai wanita dipersilahkan turun menuju tempat sakral yang sudah diduduki calon mempelai pria, wali beserta saksi dan juga pak penghulunya.
Semua mata tertuju pada calon mempelai yang berbalutkan kebaya putih dengan riasan wajah yang begitu memukau, serta siger yang bertengger dikepalanya. Semua terpana menatap kagum padanya tak terkecuali si calon mempelai pria yang tak berkedip sama sekali.
Kia dituntun Sena dan Jingga menuju kursi yang tersedia disebelah Rei. Memasangkan kain putih nan tipis untuk menutupi kepala keduanya. Kia hanya menunduk, merasa malu karena begitu banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan memuji. Hingga Ia melirik sekilas pada calon suami disampingnya, Ia semakin menunduk kala sang pria terus menatapnya dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
Eheemm!!!
Deheman keras dari pak penghulu sukses membuat si calon mempelai pria gelagapan dan seketika mengalihkan atensinya kedepan. Semua orang terkekeh melihat kelakuannya, hingga sang penghulu ikut menggodanya.
Kia semakin menunduk menyembunyikan rona dipipinya. Lain hal denga Rei yang juga menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Baiklah kita mulai aja acaranya! Nak Rei apa sudah siap?" Tanya pak penghulu.
"Iya. Pak! Saya siap!" Balas Rei dengan tegas.
Setelah permintaan restu dan wali dari memepelai wanita pada ayahandanya, juga pembacaan syahadat. Acara ijab pun dimulai. Bang Age memilih menikahkan sendiri putrinya, tanpa ingin diwakili. Dengan mengikuti arahan dari pak penghulu terlebih dahulu.
__ADS_1
Jabatan tangan mulai dilakukan oleh kedua pria yang akan berganti status dari adik kakak ipar, menjadi mertua dan menantu itu. Suasana tampak khidmat, menyambut acara ijab qabul yang siap digelar.
"Bissmilahirrohmanirrohim, Ananda Reihan Adya Darmawan bin Rama Darmawan saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Azkia Gisellya Arumi binti Agung Putra Aruman, dengan mas kawin dari engkau berupa berlian dua puluh empat karat, uang tunai sebesar seratu juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Azkia Gisellya Arumi binti Agung Putra Aruman dengan mas kawinnya tersebut tunai."
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!!!"
"Alhmadulillah!!!"
Brukkkkk!!!!!
******************
Jangan lupa tinggalkan jejaknyaa yaa🤗
__ADS_1