
Siska mengerjapkan matanya kala nafas hangat seseorang mengenai wajahnya. Ketika kesadarannya kumpul, Ia terkejot dan dengan reflek menendang seseorang yang tengah berbaring disisinya hingga terjungkir dilantai.
Braakkk!!!
Awww!!!
"Astagfirullohaladzim!"
"Abang!" Pekiknya berhambur kelantai mendekati suaminmya.
"Ya ampun bang! Maafin aku, aku gak sengaja!" Sesalnya seraya membantu membangunkannya.
"Kenapa abang ditendang sii?" Tanya bang Age meringis dengan memegang pinggangnya yang kemungkinan encok.
"Abangnya gak ada uang!" Jawabnya terkekeh. Entah kenapa pertanyaan sang abang mengingatkannya pada sebuah lagu. Membuat sang abang berdecak.
Siska membawa sang suami duduk diatas sofa. "Maaf bang! Tadi tuh reflek. Lagian abang sii ngagetin aja! Tiba-tiba tidur disamping aku. Aku kira maling, ya aku tendang." Tuturnya membut sang suami memberenggut.
"Jahat banget sii. Masa disamain sama maling?" Gerutunya.
"Abang kan maling!" Timpal Siska membuat sang suami melayangkan tatapan tajamnya. "Maling hati aku maksudnya." Lanjutnya tergelak dan sukses dapat dekapan suaminya.
"Kalo itu sih bener. Bahkan abang rela jadi tawanan. Tawanan cinta kamu seumur hidup." Timpalnya membuat Keduanya tergelak.
"Kenapa coba abang dikira maling?" Tanya bang Age.
"Kelihatan dari matanya, suka banget nyuri hati aku." Timpal Siska membuat keduanya kembali tergelak.
"Aissshh udah pinter ngegembel ya?" Godanya mencubit hidungnya gemas.
"Isshh abang!" Siska mengusap hidungnya yang kemungkinan memerah. Dengan segera sang suami mencium hidungnya membuat Siska tersenyum.
"Dari dulu kali bang. Abangnya aja gak pernah baper kalo aku gembelin." Timpal Siska.
"Kapan kamu gembelin abang, kek nya gak pernah?" Tanya sang abang sembari mengingat-ingat.
"Emm, emang iya. Lupa aku!" Timpal Siska cekikan kala Ia megingat, memang tak pernah menggombali si abang duda yang sekarang jadi suaminya itu.
Si abang dengan gemas kembali menarik hidung istrinya membuatnya menjerit dan memukul tangan suaminya. Namun sebelum sang istri mengomel, Ia sudah membekapnya dengan ciumannya. Lama keduanya saling menye sap, menye cap, bertukar saliva, bertukar rasa hingga keduanya kehabisan oksigen, barulah keduanya saling melepaskan tautannya.
Senyum pun terukir dari bibir keduanya, hingga membuat bang Age semakin gemas dan kembali mengecup bibir ranum itu lembut. "Manis!" Ucapanya membuat keduanya tergelak.
"Kamu ketakutan ya, ampe ngira abang maling?" Tanya bang Age.
"Ya, gimana aku gak ngira maling, aku kan kunci pintunya. Abang darimana coba bisa masuk?" Tanya balik Siska.
__ADS_1
"Nih!" Bang Age mengangkat sebuah kunci kehadapan sang istri. Membuat sang istri mengerenyitlan dahinya heran.
"Itu kunci apa bang? Perasaan kunci depan aku gantung ditempatnya. Terus lagi bentuknya bukan kek gitu?" Tanya Siska heran.
"Tuh!" Bang Age menunjuk jendela kaca balkon dengan dagunya. "Ini tu kunci urgent." Timpalnya, dijawab oh ria dan anggukan dari sang istri.
"Mencurigakan?" Selidik Siska memindai sang abang dari ujung rambut sampai bawah membuat sang suami menaikan satu alisnya.
"Apa?" Tanyanya keheranan.
"Jangan-jangan abang suka nyeleneh ya dari kak Icha! Ampe nyiapin kunci urgent segala?" Selidik Siska lagi dan sukses mendapatkan sentilan dijidatnya dari sang abang.
"Awww!! Abang ihh.. KDRT mulu ya!" Ringis Siska mengusap jidatnya. Untuk pertama kalinya lagi setelah mereka uwu, sang abang menyentil jidatnya.
Dengan cepat sang abang mencium kening yang Ia sentil. "Lagian kamu sii, masa abang disamain sama buaya?" Tuturnya.
Ia pegang kedua bahu sang istri menghadap kekehnya. "Maafin abang ya!" Ucapnya dan mencium kembali keningnya lama.
"Kamu tu gemesin banget!" Ucapnya menjewel sebelah pipinya. Membuat Siska tersenyum. "Gini ya, istri abang yang imut-imut kek marmut."
"Ihh kok marmut sii?" Protes Siska membuat sang suami tertawa.
"Iya deh iya, nggak! Yang imut, cantik, manis wae pokok namah lah." Ralatnya membuat Siska tertawa.
"Buat abang dalam suatu hubungan hanya dua hal yang menjadi kunci dan perlu dipertahankan didalamnya, yaitu kejujuran dan kepercayaan!" Tuturnya. "Jika kita memiliki itu, kebahagiaan tak perlu lagi untuk diragukan." Lanjutnya membuat Siska tersenyum.
Dengan gemas bang Age mengusek pucuk kepalanya. Hingga suara balita mengalihkan atensi mereka.
"Timom!" Rengeknya.
Keduanya tersenyum melihat muka bantal sang putra yang menghampiri keduanya. Aska berhambur memeluk timomnya dan langsung dapat belaian lembut darinya dan mengangkat tubuhnya ke pangkuan timomnya.
"Gantengnya timom, kenapa bangun? Ini kan masih dini hari, masih gelap. Bobo lagi ya sayang!" Tutur Siska seraya terus memebelai lembut kepalanya.
"Nda. Au timom." Tuturnya, dan langsung didekap timomnya seraya menepuk pahanya pelan.
"Ya udah bobo lagi ya!" Titah Siska.
**
"Oh iya bang, sampe lupa. Gimana keadaan kak Ay sama dedenya?" Tanya Siska penasaran.
"Alhamdulillah, udah selamat dua-duanya." Timpalnya.
"Alhamdulillah!"
__ADS_1
"Cewek apa cowok bang?" Tanya Siska lagi.
"Baby girl."
"Ihh pasti gumush banget yaa?" Siska sudah misuh-misuh membayangkan wajah lucu keponakan barunya membuat suaminya tersenyum.
"Kita juga bikin yuk!" Ajak bang Age dan sukses dapat timpukan sang istri.
"Kita kan udah bikin mulu."
"Kalo misalnya kita cepet diberi kepercayaan, apa kamu udah siap?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan sang istri dengan senyumnya.
"Tentu. Aku pengen cepat hamil, terus ngidam yang bikin abang keleyengan." Timpalnya cekikikan dan sukses dapet usekan manja dikepalanya.
"Masa ngidam direncanain. Ada-ada aja kamu tu." Tuturnya membuat keduanya tergelak, hingga balita yang tengah didekapan Siska terbangun.
"Pih. De ayi apa?" Tanyanya.
"Dede bayinya Mama Ay." Timpal sang Papih.
"De, au de ayi timom ya!" Celotehnya membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Iya! Dede doain ya, smoga timom cepet dikasih dede bayi disini!" Tutur sang Papih mengelus perut istrinya dan diikuti balita itu juga.
Siska sampai mendekap gemas tubuh sang putra dan menciumi wajahnya gemas. "Timom sayang dede. Buat timom dede sudah lebih dari cukup. Tapi jika Tuhan kasih rezeki lebih. Timom lebih bersyukur lagi." Tuturnya dan langsung dapat dekapan sang suami dari samping dan ciuman dipucuk kepalanya.
"Ya udah dede cepet bobo lagi. Biar Papih sama timom bikin dede bayi buat dede yah!" Titahnya dan sukses dapat senggolan dari sang istri.
Dan seolah mengerti balita menggemaskan itu menganggukan kepalanya dan mencoba memejamkan matanya seraya mendekap timom kesayangannya.
Hingga tak membutuhkan waktu lama, Aska benar-benar terlelap terbuai mimpi didekapan timomnya.
Bang Age mengangkat tubuh putranya dan memindahkannya ke atas kasur disisi Shaka. Ia cium keningnya lama dan kembali menyelimuti keduanya.
Setelah selesai menidurkan putranya Ia kembali menghampiri sang istri. "Kita lanjut ya!" Goda bang Age yang sudah mengukung tubuh sang istri dibawahnya dengan bibir yang siap mensosor wajah cantik istrinya. Hinga tiba-tiba.
"Mama!" Rengekan balita sukses membuat konsentrasi mereka ambyar.
*************
Mon maaf ya readers telat up🙏 Mak othor lagi sibuk dulu dengan dunia nyata🙈 Segini dulu ya, besok kita lanjut😊
Jangan lupa jejak kalean reders! Like dan komen seperti biasa yaa!! Terus tu besok hari senin, kasih vote nya boleh ya🤭 Biar semangat gitu mak othornya😍😍
__ADS_1
Dibonusan dede Aska😘😘😘