
Siska dan bang Age akhirnya sampai di bale desa. Banyak warga yang sedang berkerumun dipekarangan luar aula. Mereka tengah menyaksikan sesuatu yang sepertinya menarik didalam sana. Dengan perasaan khawatir Siska hendak menerobos kerumunan itu.
"Eh! Ini dia nih biang keladinya." Ucap salah seorang wanita paruh baya, membuat atensi mereka berpindah pada pasangan itu.
Grasak grusuk mulai terdengar disana, membuat Siska menghembuskan nafasnya panjang. "Sebenarnya ini ada apa?" Tanya Siska setenang mungkin.
"Masih nanya ada apa? Kamu gak nyadar apa kesalahan kamu?" Tanya si ibu tadi.
"Kesalahan aku? Kesalahan yang mana bu?" Tanya Siska dengan menaikan satu alisnya.
"Cih! Kamu pembawa sial buat desa kita. Masih gak nyadar juga." Celanya.
"Maaf Ibu! Anda yang sopan ya! Jangan bicara sembarangan!" Selak bang Age. Ia yang sedari tadi hanya menyimak, merasa tak terima sang istri dicela dihadapan khalayak umum.
"Tuh lihat ibu-ibu, dia sampe bawa sugar dady nya kesini. Sama buntutnya pula." Tuturnya dengan tawa remeh melihat kearah bang Age yang tengah menggendong Aska. Memprovokasi warga disana.
Bang Age hendak melayangkan ucapannya. Namun Siska menahannya. Sudah dipastikan kata-kata pedas suami yang mecapai level teratas, yang ngalahin boncabe itu akan jadi bom dan menggencarkan disana. Bang Age pun menurut dan tetap diam sesuai intruksi istrinya.
Siska tersenyum menanggapinya. "Bu Ningsih yang terhormat. Apa belum cukup anak ibu yang terhormat itu mendapat karma dari setiap ucapan ibu? Kenapa ibu selalu menyimpulkan sesuatu tanpa mencari faktanya terlebih dahulu?" Tutur Siska membuat bu Ningsih si komentator, yang suka jadi kompor itu berdecih.
"Fakta? Ini dihadapan kita fakta. Terus tuh ibu kamu gak bisa jawab kalo kita nanya. Kenapa coba?" Timpalnya.
"Oke! Sekarang aku yang akan jawab setiap pertanyaan dari kalian. Silahkan siapa yang mau tanya?" Tantang Siska. Ia sudah terlanjur gereget sama ibu nyinyir satu ini. Sudah dulu kakak angkatnya yang sekarang jadi adik iparnya, yang dinyinyirin. Eh sekarang Ia juga kebagian.
"Oke! Sekarang kamu jawab. Kemana aja kamu selama ini? Terus kenapa pulang bawa-bawa pria dan anak kecil. Hah?"
"Jadi itu yang kalian selalu tanyakan pada ibuku? Oke kita jawab satu persatu." Tutur Siska. "Ibuku gak pernah jawab karena aku yang memintanya." Ucapnya menjeda kalimat.
"Aku gak pulang-pulang, karena aku emang harus tinggal dengannya. Karena-"
"Karena kamu sugar baby nya." Selak bu Ningsih.
"Cukup bu! Anda benar-benar gak sopan. Tau apa ibu tentang kami? Seenaknya ngomong kek gitu. Ucapan ibu tidak menandakan kelayakan ibu menjadi seorang Ibu. Saya yakin, kehidupan ibu yang selalu mengomentari dan kepo dengan urusan orang lain, jauh lebih buruk dari kehidupan orang yang ibu fitnah." Tutur bang Age dengan nada begitu tegas.
"Sekarang saya tanya sama ibu. Apa ibu benar-benat tau apa hubungan saya dengan Siska?" Tanya bang Age namun bu Ningsih masih terdiam mendengar penuturannya tadi yang begitu menohok. "Nggak kan?"
"Sekarang saya akan jawab pertanyaan kalian semua. Kemana Siska selama ini. Dia ada bersama saya. Mengikuti saya. Karena apa? Karena saya suaminya." Tuturnya membuat semua orang tercengang. Misuh-misuh kembali terdengar dari warga disana.
__ADS_1
"Dan kenapa ibu gak mau memberitahu kebenarannya. Karena memang kami masih merahasiakan ini, sampai Siska menerima ijazahnya. Tau lah bagaimana kalian, kalo tau Siska yang baru lulus sekolah langsung menikah. Pastinya salah satu dari kalian akan mempersulitnya untuk mendapatkan ijazah. Iya kan?" Tutur bang Age panjang kali lebar.
"Mana buktinya kalo kalian menikah?" Tanya seseorang dari sana.
Bang Age mengambil hp nya dari saku, mencari foto pernikahan mereka dan memperlihatkannya pada mereka. Ia juga memegang tangan sang istri dan memperlihatkan cincin kawin mereka.
"Gimana sudah jelaskan? Udah gak pada kepo lagi kan? Sekarang saya tekankan pada kalian semua, jangan terpengaruh sama kompor yang akan membuat kalian terbakar dan meledak sendiri. Heran! Cari gosip kok dikompor, disosial media noh!" Tutur bang Age membuat Siska tersenyum. Untung saja gak ada yang menimpali, kalo saja ada level cabe setannya bisa keluar.
Bu Ningsih yang terlanjur malu dan kesal, berlenggang keluar dari kerumunan membuat mereka bersorak sorai ramai. Hingga pintu aula terbuka keras membuat atensi mereka teralihkan.
Brakkk!!!
Sekejap mereka hening. Melihat siapa yang membuka pintu tak kira-kira.
"Ibu?" Siska berhambur mendekap sang Ibu yang tampak memucat. "Ibu gak papa? Kenapa wajah ibu pucat sekali?" Tanya Siska khawatir.
"Ibu gak papa. Ayo kita pulang!" Ajak menyeret tangan putrinya. "Tapi bu." Siska tak meneruskan ucapannya, Ia juga menarik tangan sang suami untuk mengikutinya.
Ketiganya pergi beriringan meninggalkan tempat itu. Membuat mereka melongo melihatnya, hingga suara pak kades kembali mengalihkan perhatinnya.
"Neng Titin! Neng, tungguin aa!" Teriak pak kades, membuat mereka tercengang dengan panggialn aneh yang disematkan pak kades pada ibunya Siska itu.
"Pak! Bapak kenapa?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Kalian ngapain pada ngumpul disini? Bubar sana!" Titahnya.
"Kita lagi nungguin sidangnya bapak. Apa udah selesai pak?" Tanyanya lagi.
"Selesai apanya?" Tanya balik pak kades.
"Sidangnya? Bukannya bapak sedang menyidang bu Titin perihal anaknya?" Tanyanya lagi.
"Saya menyidang emaknyanya, bukan anaknya."
"Lah kok gitu pak?"
"Kan yang mau saya lamar emaknya bukan anaknya."
__ADS_1
"Lahhh....." Jawab mereka serempak.
"Jadi ini bukan sidang soal Siska yang gak pulang pak?"
"Bukan! Udah-udah kalian bubar, bikin kesel aja!" Titahnya membubarkan kerumunan disana. Sorak sorai kembali terdengar dari mereka. Ternyata bener mereka terlalu percaya dengan kabar dari kompor.
Sementara itu ketiga orang yang sudah membubarkan diri lebih awal dari sana, sudah sampai dirumahnya. Mereka memasuki rumah dengan ibu yang masih tak mengeluarkan katanya.
Siska ikut duduk dimeja makan disamping sang ibu. Bang Age membiarkan keduanya berbicara, dan dirinya lebih memilih beristirahat bersama putranya.
"Bu! Maafin aku ya! Semua ini gara-gara aku. Kalo aja aku dan abang gak cepet-cepet nikah, ibu gak mungkin dapet comoohan dari warga." Tuturnya sendu.
"Ibu pasti lelah ya mendapat pertanyaan dari mereka. Sampe harus dipanggil ke bale desa segala lagi." Lanjutnya.
"Maafin aku ya, udah bikin ibu sedih!" Tuturnya memeluk sang ibu dari samping, namun ibu masih enggan mengeluarkan kata-katanya.
"Bu? Kenapa ibu diam aja?" Tanya Siska menoleh melihat wajah sang ibu.
"Bu!" Panggilnya lagi. "Apa yang pak kades katakan? Apa kata-kata pak kades menyinggung ibu?" Tanya Siska semakin khawatir dengan diamnya sang ibu.
Hingga akhirnya ibu menoleh. "Sis?"
"Iya bu. Ibu kenapa? Ngomong dong sama aku?" Tanya Siska semakin tak karuan melihat air yang keluar begitu saja dari ujung mata ibunya.
"Sis?" Cicitnya.
"Iya. Kenapa?" Tanya Siska semakin panik.
"Ibu dilamar pak kades!" Balasan sang ibu sukses membuat Ia melongo dengan mata membulat.
**************
Makasih yaa yang udah stay nunguin up nya🙏🙏 Jangan kasih kendor, buat ninggalin jejaknya yaa😘😘
Ini yang punya mulut pedas, selevel boncabe🔥
__ADS_1
Ini yang dinyinyirin kompor🤣