Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Bujuk sogokan


__ADS_3

Terlihat wajah cantik Kia memberenggut kian kusut, menatap tajam kearah cermin yang memantulkan wajah tampan yang tersenyum lebar padanya. Sungguh Ia masih kesal pada kelakuan sang suami. Bagaimana tidak? Kia yang tak bisa berjalan memasuki kamar mandi, tentu segera digendong oleh pria yang resmi merenggut kesuciannya itu.


Namun tanpa Kia duga, sang suami malah menggoda dirinya. Ia bahkan tak bisa protes kala Rei menyerangnya tanpa ampun didalam kamar mandi. Hingga Kia hanya pasrah dan ikut menikmati aktifas menyenangkan yang sayang sekali untuk dilewatkan.


"Udah dong sayang, jangan marah lagi! Hem?" Bujukan Rei untuk kesekian kalinya tak membuat sang istri luluh juga.


Dengan telaten, kini Ia tengah mengeringkan rambut sebahu milik sang istri didepan meja rias.


"Om kan udah minta maaf! Itu tuh reflek dari naluri. Maafin ya!" Bujuknya lagi. Namun Kia masih dengan posisi yang sama, tanpa mau menanggapi.


Rei mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah cantik sang istri dan menatapnya dari cermin. "Kamu tau, dirimu adalah candu buat om. Entah kenapa menyentuhmu membuat om tak bisa berhenti" Ucapnya pelan. Kia hanya berdecak kesal sebagai jawaban.


Rei terkekeh mendapati sang istri yang sulit Ia bujuk, hingga terbesit sebuah ide diotak kecilnya. "Atau gini aja, sebagai gantinya kamu boleh meminta apapun yang kamu mau. Gimana?" Tawarnya mencoba bernegosiasi.


Kia terdiam sejenak dengan mata yang menyipit. Rei yang mengerti sang istri meminta penjelasan segera menyelak, sebelum sang istri berkomentar.


"Shoping? Gimana?" Tawar Rei lagi dengan menaik turunkan alis.


"Apapun?" Tanya Kia memastikan.


"Apapun." Balas Rei.


"Sepuasnya?" Tanya Kia lagi.


"Sepuasnya." Balas Rei dengan nada mempertegas.

__ADS_1


Senyum diwajah cantik itu terukir, hingga membuat Rei dapat bernapas lega. Dengan segala bujuk rayu, sogokan adalah cara jitu untuk membujuk gadis kesayangannya itu.


Sedetik lengkungan dibibir itu bertahan, hingga kemudain kembali menekuk. "Nggak!"


Satu kata yang keluar dari mulut sang istri kembali membuat Rei resah. Ia yang berpikir sang istri sudah memaafkannya dan berhasil Ia bujuk, ternyata salah.


"Ayolah sayang. Om janji beneran, apapun itu yang kamu mau om turutin. Asal maafin ya!" Bujuk Rei yang sudah begitu frustasi.


Ia bingung harus membujuk dengan cara apalagi. Ada sedikit rasa menyesal karena tak dapat menahan diri dan memaksa sang istri melakukan itu. Bukan kah Ia harus mengerti, bahwa untuk yang pertama itu akan menyakitkam untuk gadis yang masih perawan? Namun Ia begitu egois dan hanya memikirkan keinginannya sendiri. Dalam hati Ia terus merutuki dirinya yang sangat tak peka akan keadaan.


Ia peluk tubuh sang gadis dari belakang dan menenggelamkan wajah dibahunya. "Maafin om! Om egois, gak seharusnya om kek gitu. Maaf sudah menyakitimu." Sesal Rei.


Masih tak da jawaban dari bibir sang gadis, membuat Rei kian frusatsi. Ia hanya bisa pasrah menerima kemarahan dari sang istri.


"Siapa bilang aku gak mau belanja?" Pertanyaan Kia sukses membuat sang suami mendongak dan menatap dirinya dari cermin.


Terlihat senyum mengembang dari wajah cantik itu yang telihat begitu manis. Rei teramangu sejenak, hingga kemudian senyuman lebar terukir pula dari bibirnya.


"Janji ya om! Apapun?" Tantang Kia memperingati. Takut-takut sang suami akan mengibulinya lagi, Ia pun menanyakan penjelasan itu sedetail mungkin.


"Apapun!" Balas Rei dengan hati yang begitu lega. Sekarang Ia tak peduli lagi jika isi kartunya akan terkuras habis untuk kesenangan sang istri.


Bagi Rei membahagiakan sang istri adalah tujuan utama hidupnya kali ini. Ia tak akan membatasi apapaun yang membuat gadis tercintanya tersenyum.


"Senyummu lebih berharga dari apapun yang aku punya."

__ADS_1


Penuturan Rei membuat Kia tersenyum lebar. Hatinya begitu mengahangat mendengar pengungkapan itu. Ia begitu merasa dicintai oleh pria yang baru dua hari menjadi imamnya itu.


"Uhh so sweet!" Pekik Kia seraya mendekap kepala sang suami, hingga menempel dengan kepalanya.


Rei benar-benar bahagia melihat senyum itu kembali. Ia usek pucuk kepala sang istri dengan gemas. Hingga keduanya tergelak bersama.


"Ya udah mau berangkat sekarang? Sambil cari tempat buat makan malam?" Tanya Rei.


"Boleh!" Balas Kia. "Apa ada kursi roda?" Tanyanya.


Rei mengerutkan dahinya heran dan bertanya. "Buat apa?"


"Buat aku pake." Balas Kia.


"Hah?! Kenapa?" Tanya Rei yang masih tak mengerti dan sedikit khawatir.


"Sinona masih sakit om! Gak bisa jalan. Dengan pake itu aku bisa berkeliling mall."


****************


Hadeuh manten ngempor🤣🤣


Jangan kelupaan jejaknya yaa!! Ntar dikasih up lagišŸ™ˆ


Eh, lapak si sexy udah up yaa, yang kangen silahkan mampiršŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2