Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 84 Papih siaga


__ADS_3

Pekikan suara bayi, membuat seorang ayah tang baru terlelap kembali terjaga. Dengan siaga Ia bangun dari tidurnya dengan mata yang masih sulit Ia buka. Ia mengucek matanya dengan berjalan mendekati baby box.


"Princess nya Papih kenapa? Pengen mimi ya?" Tanya bang Age dengan mencoba untuk menggendongnya.


Namun sepertinya putrinya itu pipis. Dengan ilmu yang sudah sengaja Ia pelajari untuk menjadi ayah siaga. Ia mencoba mengganti popoknya yang sudah meluber.


Dengan ketellatenannya, bahkan keringat yang sudah bercucuran. Akhirnya Ia berhasil menggantinya.


"Oke! Selesai." Ia sampai harus menyeka keringat yang mengucur melewati lekukan rahangnya.


"Gimana? Cantiknya Papih udah nyaman kan?" Tanyanya seraya menggendongnya dan menciumi pipi bulatnya.


Selain belajar mengganti popok Ia juga mencoba menggendongnya. Ia merasa menyesal dulu saat putra sulungnya masih bayi, Ia tak bisa menggendongnya. Hingga akhirnya Ia bertekad untuk belajar semuanya. Agar bisa membantu sang istri pula.


Ia bawa putrinya menuju ranjang dan mendudukan dirinya ditepi ranjang dengan menggoyangkan bahu sang istri untuk membangunkannya.


"Yang bangun dulu! Dede kek nya mau mimi." Titah bang Age hati-hati, takut sang istri terkejut.


"Hemm" Siska hanya bergumam dengan mata yang juga sulit terbuka.


Waktu yang masih menunjukan pukul dua, tentu membuat siapa saja enggan membuka mata. Namun mendengar tangisan putrinya membuatnya dengan terpaksa membuka matanya lebar-lebar.


"Pelan-pelan bangunnya!" Peringat bang Age yang melihat sang istri tergesa membangunkan dirinya.


Siska tersenyum pada sang suami, seraya mengucek terlebih dahulu matanya.


"Kenapa dede mau mimi ya?" Tanya Siska seraya mengelus pipi cantiknya.


Ia buka sebelah bongkahan buah yang begitu menantang mata suaminya itu. Hingga sang suami dengan susah payah menelan salivanya kuat-kuat. Sungguh godaan yang hampir merobohkan imannya.


Ia segera menyerahkan sang putri yang dengan sigap diterima istrinya. Bayi cantik itu dengan semangat sudah dapat meraih pucuk kehidupannya dan meng hi sapnya dengan lahap.


Siska tersenyum dengan mengelus kepalanya sayang. Meski masih sedikit sakit, namun sekuat tenaga Ia menahannya.


Bang Age tersenyum melihat pemandangan didepannya. Hal yang dulu pernah Ia impikan kini terwujud sudah. Ia yang sempat sakit mendengar tangisan bayi, kini tangisan itu benar-benar membuatnya bahagia.


Sudah beberapa menit, namun bayi cantik itu belum juga mau melepaskan pucuk timomnya. Ia masih meminum banyak isi bongkahan itu, hingga yang tadinya begitu menantang, sekarang sedikit mengendur.


Karena terlalu lama, Siska sampai beberapa kali menahan matanya agar tak tertutup. Bukan hanya mata, namun Ia juga menahan tubuhnya agar tak tersungkur kedepan.


Bang Age yang melihat itu tentu tak tega. "Yang! Coba posisinya kamu menghadap sana!" Titahnya menunjuk arah kiri ranjang.


"Ngapain?" Tanya Siska heran.

__ADS_1


"Udah cepetan! Belakangin abang nya kesini!" Titahnya lagi


Akhirnya Siska pasrah mengikuti titah suaminya. Ia bergeser dan duduk membelakangi suaminya. Tanpa Ia duga sang suami ikut duduk membelakanginya, hingga tubuhnya tertahan oleh punggung lebar suaminya.


"Kamu harus relax, sandarin aja! Abang akan stay disini." Titah bang Age membuat sang istru tersenyum.


Siska mengusekan ranbutnya pada punggung sang suami. "Makasih ya, abang sayang!" Ucapnya.


Bang Age ikut tersenyum seraya mengelus kepalanya dari samping dengan sayang. "Gak perlu berterima kasih. Ini udah menjadi tugas kita untuk menjadi orang tua siaga dan saling berbagi dalan segala hal." Tuturnya.


Keduanya tertawa kecil seraya Siska menyandarkan kepalanya pada punggung lebar suaminya.


Hingaa akhirnya putri kecilnya melepaskan pucuk yang sekarang sudah menjadi miliknya itu. Ternyata hanya si Papih yang masih terjaga, timomnya sudah tertidur bersandar dipungggung suaminya.


Bang Age tersenyum seraya mebangunkannya pelan. "Yang! Bangun!"


Siska terkesiap hingga hampir saja tersungkur kalau saja sang suami tak menahannya. "Maaf bang! Mataku gak bisa diajak melek." Ucapnya.


"Gak papa. Sini! Abang tidurin dulu dedenya." Ia mengambil alih sang putri dari pangkuan istrinya dan membawanya kembali untuk ditidurkan dalam baby box nya.


Siska sudah kembali merebahkan dirinya kala matanya sudah benar-benar tak dapat Ia buka. Mungkin karena ini pertama untuknya, Ia pun belum terbiasa karenanya.


Bang Age kembali mendekati ranjang, ikut merabahkan diri disamping sang istri. Ia tersenyum melihat istrinya sudah kembali memasuki alam mimpinya.


Ia belai pucuk kepalanya dan mencium pucuknya. Ia tarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga sang istri.


Ia pun ikut melesakan kepalanya keatas bantal. Memeluk tubuh yang masih berisi itu kedalam dekapannya. Mulai memejamkan matanya hingga Ia pun ikut memasuki alam mimpinya.


.


.


Keadaan pagi kembali ramai kala seseorang yang sudah berkunjung pagi-pagi sekali menghebohkan seisi rumah.


"Assalamualaikum!" Teriaknya memasuki rumah seraya diikuti pria disampingnya yang membawa bingkisan kado.


"Walkumsalam! " Jawab ibu yang baru saja keluar kamarnya.


"Ya ampun! Lia!" Pekik sang ibu girang. Pasalnya sudah lama Ia tak bertemu dengan sahabat putrinya itu.


Lia menubrukan dirinya pada sang ibu dengan salam cipika cipikanya terlebih dahulu.


"Kamu apa kabar?" Tanya Ibu seraya melerai pelukannya dan menggiringnya keatas sofa.

__ADS_1


"Ya udah bu duduk dulu! Pegel akunya." Protes Lia.


Ketiganya mendudukan diri disofa dan mengobrolan. Obrolan ya didominasi kedua wanita itu membuat sang pria hanya diam memeperhatikan keduanya.


"Sekali lagi ibu ucapin selamat.ya!" Ucap ibu dan diiyakan Lia.


"Oh iya bu, Siska belum bangun?" Tanya Lia yang belom melihat mama baru itu.


"Kek nya masih tidur. Entah jam berapa mereka tertidur." Ucap ibu dan dijawab anggukan kepala oleh Lia.


Hingga pintu kamar terbuka dan nampaklah balita gemas ya baru bangun dari tidurnya. Muka bantalnya tak membuat ketampanannya pudar.


"Aka! Sini sayang." Ajak ibu pada cucu sulungnya.


Aska menurut dan mendudukan dirinya disamping neneknya. Ia memindai tamu yang Ia tau itu siapa.


"Hai Dede Aska? Inget gak sama onty Lia?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh si tampan membuat mereka tersenyum.


"Bu boleh cubit pipinya dikit ya? Gemes nih!" Tanya Lia.


"Jangan dong, ntar nangis lagi!" Timpal Ibu.


"Gak bakalan, dikit aja bu. Ya, ya ngidam nih!" Tuturnya.


Setelah libuaran bersma dipantai waktu itu, sepasang kekasih itu sekarang sudah mengganti statusnya menjadi sepasamg suami istri.


"Masa ngidam pengen cubit anak-anak?" Heran ibu menggelengka kepalanya.


"Tapi beneran bu, aku gemes banget pengen cubit." Tanpa meminta persetujuan, Ia sudah mendaratkan kedua tanganya menjewel gemas pipi bulat balita tampan itu.


Balita tampan itu sedikit mengaduh bahkan sampai berkaca-kaca. Ingn sekali dirinya menangis, namun mendengar penuturan dari sahabat timomnya itu. Membuat Ia mengurungkan niatnya.


"Ethhh! Gak boleh nangis!" Ucap Lia seraya menggoyangkan jari telunjuknya memberi kode.


"Anak cowok gak boleh cengeng. Apalgi dia bakalan jadi imam. Harus kuat! Oke!" Tuturnya dan dijawab anggukan balita tampan itu.


"Good! Oh iya dede mau gak?" Tanya Lia menggantungkan kalimatnya.


"Apa?" Tanya Aska penasaran.


"Jadi calon mantunya onty?" Tanyanya dan hanya dibalas kerutan dahi oleh bocah tampan itu.


Lia tergelak seraya mengusek pucuk kepalanya, kala melihat ekspresi menggemaskan dari bocah yang sudah Ia klam calon mantunya itu.

__ADS_1


**************


Monmaaf, up nya telat! Mak othor nya sibuk euy😅 Dimaklumi aja yaa😊 Yuk jejaknya jangan lupa ya, Kasih like dan komennya! Kalo boleh kasih hadiah sama vote boleh lahh🤭


__ADS_2