
Hari ini sepasang orang tua dan para bocilnya sudah sampai dikediaman sang adik. Acara kunjungan yang akan mereka lakukan kemarin harus diskip, karena insiden bengkel dadakan yang dilakukan bang Age untuk membantu sahabat mereka. Waktu yang semakin sore, membuat mereka harus terpaksa kembali ke rumah ayah Dedes.
*
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam!"
Pintu terbuka hingga nampaklah dari dalam keramaian dua bocah yang asyik berlarian.
"Aka!" Pekik gadis kecil dari salah satu bocah disana seraya berhambur memeluk bocah tampan yang baru memasuki ambang pintu.
"Kak Rei, apa kabar? Kangen gak sama Sensen?" Tanyanya seraya melepaskan dekapannya.
Rei tersenyum dan mengusek kepalanya gemas. "Baik! Kangen dong!" Ucapnya membuat gadis cantik itu tersenyum lebar. "Sensen apa kabar?" Tanyanya.
"Aku baik kak! Aku juga kangen sama kak Rei." Balasnya seraya kembali memeluknya.
Ternyata interaksi keduanya menjadi pusat perhatian kedua adik kakak yang sedari tadi menonton adegan itu, Keduanya sudah cemberut dengan wajah yang kian ditekuk.
Kia menyerobot ketengah, memisahkan pelukan keduanya. "Nda boweh peyuk-peyuk ini om dede!" Protesnya membuat Sena mencebikan bibirnya.
Sepasang orang tua itu tergelak melihat tingkah para bocahnya. Merekapun menengahi mereka dan mengajaknya untuk masuk bergabung dengan para orang tua lainnya diruang tengah.
"Kak kita main dihalaman belakang yuk!" Ajak Sensen menggandeng tangan Rei seraya menyeretnya untuk mengikutinya.
Dan hal itu kembali membuat balita cantik itu merengek. "Kak Sen, om na dede!" Pekiknya seraya berlari mengikutinya.
Kedua bocah tampan dan satu balita ikut menyusul mereka. Seperti biasa, Lia datang pagi-pagi kerumah ayah Dedes untuk mengantar putri kecilnya bermain bersama kakak beradik itu. Membiarkannya dekat bersama bocah tampan yang sudah Ia klam calon mantunya dan adiknya juga.
Disinilah mereka, deretan bocah kecil yang tengah diasuh oleh Rei. Bocah tertua dari para bocah disana. Dengan senang hati Ia mengawasi mereka bermain.
"Kak! Mau main bola?" Ajak Shaka.
"Emm boleh!" Jawab Rei.
"Oke. Aku sama Aka ya. Kak Rei sendiri gak papa?" Tanya Shaka.
"Iya gak papa, yuk!" Ajak Rei.
Aska hanya menuruti keinginan sepupu dan om nya untuk bermain bola basket. Ia yang tak banyak protes hanya ikut aturan sepupunya itu.
Para gadis yang tengah sibuk dengan boneka barbie ditangannya berhenti sejenak dan memilih ikut mensuport mereka. Layaknya anggota cheerleader, Sena sudah heboh membawa pompom ditangannya dari dalam rumah. Ia membagikan pompom itu pada kedua balita cantik itu.
__ADS_1
"Nih! Kita jadi cheerleader nya yaa?" Ajak Sena pada keduanya dan disambut wajah bingung mereka.
"Ni buat apa?" Tanya Kia.
"Ini tuh buat dukung mereka. Buat bikin semangat." Balas Sena dan dijawab oh ria oleh kedua balita itu, namun masih dengan wajah bingungnya.
"Ihh kalian itu. Gini aku ajarin!" Sena mulai menggerakan tangannya kekiri dan kanan, bersorak kencang dengan hebohnya. Kakinya ikut Ia jingkrakan sesuai dengan gerakan tangannya.
Kedua balita itu mengikuti gerakan yang diajarkan Sena. Meski gerakannya amburadul, mereka tetap bersorak senang dengan gerakan yang mereka buat snediri.
*
Sementara itu, para bocah tampan sudah siap ditengah lapang kecil lengkap dengan satu ring bertengger disana. Hingga permainan pun dimulai. Sorak sorai terdengar riuh dari ketiga gadis kecil yang menjadi cheeleader nya itu.
"Kak Rei! Ayo kak Rei!" Sorak Sena.
"Om! Ayo om!" Kia tak mau kalah untuk menyoraki om nya.
"Kamu sorakinnya Aka aja. Biar aku yang sorak kak Rei!" Titah Sena.
"Nda. Aku mau soyak om!" Tolaknya.
Kedua gadis itu terus berdebat memperebutkan siapa yang harus mereka soraki. Keduanya tak mau kalah ingin sama-sama menyoraki bocah tampan tertua disana.
Teriakan Vani mampu membuat kedua gadis itu menghentikan aktifitasnya. Keduanya serentak menoleh melihat permainan dari ketiganya.
"Yey! Aka menan!" Pekik Kia.
"Katanya kamu mau dukung kak Rei? Kok malah senang Aka yang menang?" Tanya Sena.
"Nda papa kak Sen. Meweka menan cemua. Aku na kan cayang meweka cemua!" Balas Kia membuat Sena cemberut.
Mereka pun terus bersorak sampai petandingan pun berhenti. Ketiga bocah tampan itu harus menghentikan permainannya kala Shaka merajuk dan tak mau main lagi. Dengan alasan, karena Ia tak bisa mencetak poin satupun. Akhirnya kedua bocah tampan yang kalem dan penyabar pun mengalah pada bocah tampan yang manja itu dan mengakhiri pertandingannya.
"Ah! Aka mah gak seru. Masa baru aja mulai udahan?" Protes Sena.
"Biarin! Aku gak mau main lagi. Cape!" Balas Shaka dengan wajahnya yang ditekuk.
"Gara-gara gak bisa nyetak poin, malah udahan. Payah!" Ledek Sena.
"Enak aja! Serah aka dong! Bawel." Balas Shaka lagi.
Kedua bersaudara ini kalau sudah mulai, mereka tak akan berhenti kalau tak ditengahi. Acara saling ledek sudah biasa terdengar dari mereka.
__ADS_1
Rei dan Aska hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Berbeda lagi dengan kedua gadis kecil itu, yang hanya asyik melihat adu argumen dari keduanya seraya duduk dan memakan cemilan yang disediakan Mama Ay.
Akhirnya Rei turun tangan dan berusaha menenghinya. "Udah-udah! Jangan kek gitu." Lerainya.
"Sesama saudara gak boleh ribut-ribut! Kita harus akur, saling sayang, saling membantu. Tuhan gak suka sama orang yang suka bertengkar." Tuturnya.
"Entar apa De?" Tanyanya pada Kia.
"Ntan doca!" Balasnya membuat Rei tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya gemas.
Kedua bersaudara itu hanya terdiam seraya wajah yang masih sama-sama ditekuk. Dengan lipatan tangan didadanya dan sama-sama membuang wajah kelawan arah.
"Pinter dede." Balas Aska ikut memgusek kepalanya.
"Iya don. Dede pinten kek Aka." Balasnya membuat sang kakak tersenyum.
"Aka Sen cama aka Sha, nda boweh wibut! Hawus cayang. Kek gini!" Tutur Kia seraya memeluk sang kakak. "Cayang Aka!"
Memang benar, dua bersaudara ini selalu akur tak pernah ribut. Kia yang manja tak pernah membuat sang kakak marah apalagi mengeluh. Ia akan semakin memanjakan adiknya.
Dan hal itu berbanding terbalik dengan dua bersaudara, putra putrinya bang Ar dan Ayra. Mungkin karena jarak lahir mereka yang terlalu dekat yang membuat mereka layaknya tom and jery. Jika dekat mereka selalu ribut, namun jika jauh mereka akan saling mencari dan saling merindukan.
"Jadi, baikan ya!" Bujuk Rei pada keduanya.
Keduanya masih tak ada yang mau mengalah. Mereka hanya saling tatap-tatapan.
"Ayo salaman!" Rei mengambil tangan Shaka dan Sena dan menyatukannya.
"Ayo bilang apa?" Tanya Rei.
"Maaf kak!" Ucap Sena.
"Sha?" Tanya Rei kala Shaka tak mengucapakan apapun.
"Iya!" Balasnya singkat.
Akhirnya para bocah itu kembali akur dan bermain lagi. Mereka memutuskan untuk menggambar digazebo halaman. Hingga suara seseorang mengalihkan atensi mereka.
"Hai boleh gabung?" Tanyanya, hingga membuat mereka menoleh.
***************
Jangan lupakan jejaknya yaa gaiss! Ayo ramaikan! Tunggu up selanjutnya yaa🤗
__ADS_1