
Flash back on
Drrtt... Drrtt...
Dering ponsel dari atas nakas sukses mengganggu tidur seorang pemuda yang baru memejamkan matanya. Ingin Ia mengabaikan panggilan itu. Namun sepertinya si pemanggil pantang menyerah. Hingga setelah beberapa kali berbunyi dengan terpaksa Ia pun mengangkatnya.
Rei menekan icon hijaunya tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Belum juga Ia menyapa, suara dari sebrang sana sudah ngoceh terlebih dahulu.
"Buruan bangun! Buka pintunya! Nih kaki gue udah pegel berdiri mulu." Omel seseorang dari sebrang sana.
Rei mengerenyitkan dahinya heran seraya melihat nama yang tertera dilayar pipihnya dengan mata tang masih sulit Ia buka. Hingga samar-samar nama sang kakak ipar tertera dilayarnya dan sukses membuat Ia membolakan matanya.
"Hallo Rei! Hallo! Buruan sii, buka pintunya!" Omelnya setengah berteriak.
"Hah?! I-iya!" Balas Rei sedikit gugup.
Ia bangkit dari tidurnya dengan sedikit memijit pelipisnya yang terasa berat. Sepertinya baru sebentar Ia meemjamkan matanya, hingga membuat kepalanya sedikit keleyengan. Tak ingin membuat kakak iparnya menunggu lebih lama lagi, Ia pun terpaksa bangkit dari ranjangnya dan berjalan gontai keluar kamar hingga tiba didepan pintu depan.
Ceklek!
Pintu dibukanya, hingga nampaklah sang kakak yang sudah berkacak pinggang didepan pintu.
"Lama amat sih? Ngapain dulu?" Tanya bang Age, yang sepertinya lebih terdengar sebuah omelan.
"Iya. Ini aku baru bangun." Balasnya seraya menguap dan mempersilahkan sang kakak masuk.
"Cepet kita harus pulang sekarang!" Ajak bang Age.
"Sekarang?" Tanya Rei shok dan diangguki sang kakak.
Ia menghembuskan nafasnya panjang, lalu atensinya teralihkan pada sebuah benda berbentuk lingkaran yang menempel di dinding. Matanya membulat sempurna kala Ia melihat jarumnya yang menunjukan waktu masih sepertiga malam.
"Jam segini?" Tanyanya lagi merasa tak percaya. Jarum jam yang masih diangka tiga membuat Ia berulang kali bertanya hingga tetap diiyakan sang kakak.
"Udah kamu siap-siap, kita pulang!" TItah bang Age.
__ADS_1
"Tapi kan?" Belum selesai Rei protes, bang Age sudah memasuki kamar ponakan yang sekarang juga menjadi pacarnya.
Rei menghembuskan nafasnya pasrah. Ia pun berlenggang ke kamarnya dan duduk sebentar ditepi ranjang. Ia masih tak percaya sang kakak menjemput gadisnya dipagi buta seperti ini. Ia tidak mungkin ikut pulang sekarang, mengingat pekerjaannya yang hampir saja selesai dan hanya tinggal melewati satu tahap lagi. Mustahil jika Ia harus meninggalkannya. Namun mengingat perjodohan gadisnya, Ia tak ingin sampai kehilangannya. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk menyelesaikannya nanti. Ia segera bergegas membereskan barang-barangnya dan keluar dari kamarnya.
Sesuai dugaannya, ayah dua anak itu sudah menggendong putrinya ala bridge style. Ada rasa sedikit tak terima pria didepannya menyentuh gadisnya, namun Ia segera menepis itu. Ia mengingat kembali pria dihadapannya itu adalah ayahnya, jadi tak ada alasan untuknya cemburu.
"Udah siap?" Tanya bang Age dan dijawab anggukan Rei.
Akhirnya mereka pun keluar dan pergi meninggalkan tempat itu.
Flash back off
*
Kia menganga tak percaya, kala netranya memindai kesetiap sudut ruangan. Hingga Ia bener-bener sadar, jika Ia memang berada dikamarnya sendiri. Hembusan napas panjang dikeluarkan gadis cantik itu dengan kepala menunduk pasrah. Sang timom yang melihatnya pun terkekeh, pastilah putrinya itu shok. Jangankan Kia sendiri, timomnya sendiri tak kalah shok melihat kelakuan suaminya itu.
"Udah! Sekarang kamu mandi, kamu belum sarapan. Timom siapin sarapannya ya!" Ucap timom seraya membelai sayang rambut putrinya dan dijawab anggukan pasrah olehnya.
Sang timom hendak bangkit namun tangannya ditahan putrinya. "Tunggu mom!" Ucapnya mendongak.
"Apa om ikut?" Tanyanya hati-hati. Ia begitu takut akan jauh dari pacarnya itu. Takut sang Papih benar-benar menculiknya dari Pria kesayangannya.
Timom menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan putrinya. "Nggak! Dia gak ikut." Balas timom sekenanya.
"What?" Pekik Kia. Ia kaget bukan kepalang, mendengar sang pacar yang merangkap jadi omnya itu tak ikut.
Entah apa yang akan terjadi padanya, jika tak ada sang om yang akan siaga untuknya. Tidak ada yang akan mencegah acara perjodohan itu. Kia kembali menunduk dengan wajah kian kusut. Dan hal itu membuat sang timom cekikikan tanpa suara.
"Udah sekarang kamu cepet mandi, takutnya ntar calon suami kamu jemput. Terus kamunya masih kucel. Kan gak etis?" Goda sang timom.
Seketika wajahnya kembali mendongak menatap wajah timomnya yang menjengkelkan. "Ihh timom!! Aku gak mau. Aku menolak dijodohin. Titik!" Protesnya kesal dengan wajah semakin berantakan.
"Ini perintah. Gak ada penolakan. Titik!" Balas sang timom, hingga membuatnya semakin kesal.
Tanpa dosa timomnya tergelak, seraya meninggalkan ruangan itu. Setelah keluar, Ia kembali membuka pintunya sedikit dan melongokan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan lupa mandi! Dandan yang cantik! Kamu udah kek anak ayam." Titahnya dengan nada ledekan.
"Timom!!!" Pekik Kia seraya melempar bantal boba sang legenda, kearah timomnya yang sudah kembali menutup pintu dengan tawa meledak diluar kamarnya.
Sungguh penuturan sang timom membuatnya ingin menenggelamkan diri kedasar samudra antartika. Perintah yang tak dapat Ia tolak membuatnya frustasi sendiri. Ingin rasanya Ia menolak mentah-mentah rencana gila kedua orang tuanya, namun itu akan mustahil baginya.
Bukan bangkit dan memebersihkan diri, Ia justru kembali menenggelamkan diri ke dalam kain putih yang akan kembali membawanya ke tepi dermaga mimpi. Namun baru saja Ia menutup diri dengan kain tersebut. Suara pintu terbuka mengganggu indera pendengarannya.
"Aku males! Aku gak mau mandi. Timom keluar aja sana! Aku mau tidur lagi." Teriaknya dibalik kain itu.
Namun suara langkah kian mendekat membuat Ia kesal, lalu membuka selimutnya seraya bangkit dan mendudukan diri.
Deg!
Kia terpaku kala sebuah benda kenyal sukses mendarat dibibirnya. Matanya membola melihat seseorang dihadapannya.
"Selamat pagi Dede pacar!" Sapanya dengan senyuman manis yang mampu memporak porandakan hati gadis yang kini mematung ditempatnya. Hingga usekan sayang dirambutnya sukses mengembalikan kesadarannya.
"Om pacar!!" Pekiknya kegirangan.
Namun Rei segera menutup bibir ranum itu dengan telunjuknya. "Suutt!! Jangan kenceng-kenceng. Belum saatnya mereka tau!" Balasnya dan dijawab anggukan mengerti oleh Kia.
Dengan senyuman yang kian mengembang Kia menubrukan dirinya kedalam dekapan sang pacar, memeluk tubuh kekar itu dengan erat. "Aku kira om gak ikut." Tuturnya sendu.
Rei tersenyum dan membelai rambut pirang sang gadis, seraya mendekapnya tak kalah erat. "Mana mungkin om gak ikut. Mana rela juga om membiarkan kamu jalan sama cowok lain." Balasnya dan sukses membuat Kia tersenyum lebar.
"Jadi kita kabur aja om?" Tanya Kia dengan melerai pelukannya.
"Ya nggak lah! Kita lihat cowok mana yang jadi pilihan papih kamu. Apa dia lebih baik? Om juga pengen buktiin sama papih kamu. Kalo cinta kita gak salah." Balas Rei dan disambut senyuman sang gadis. "Bahagiamu hanya dipelukanku!" Lanjutnya.
****************
Maaf ya kemarin gak up, harusnya bab ini up tadi malam. Berhubung mak othornya sibuk, jadi maafin aja yaa😁
Jangan lupa jejaknya yaa. Biasakan setelah baca klik jempolnya, oke🤗
__ADS_1