Love Abang Duda

Love Abang Duda
lLU OM! Gagal akting


__ADS_3

Hembusan nafas panjang kembali terdengar dari pria tampan itu. Setelah kepergian sang gadis kekamar mandi. Kini Ia tengah menunggunya dimeja makan untuk sarapan.


Setelah lulus sekolah menengah atas, Kia memilih untuk kuliah dkota besar dan tinggal bersama omnya disana. Kini mereka hanya tinggal berdua diapartemen yang dibeli Rei dari hasil kerja kerasnya. Jarak kampus yang tak jauh dari tempat tinggal Rei, membuat bang Age menitipkan putri tercintanya pada adik iparnya itu.


Hampir setahun mereka tinggal bersama. Tak ada yang berubah dari mereka masih tetap seperti dulu. Rei masih memanjakan ponakannya itu seperti bisanya. Keduanya selalu kompak dalam hal apapun. Dan kali ini sesuatu tiba-tiba saja membuat keduanya canggung.


Rei dibuat bingung dengan keadaannya saat ini. Jika harus jujur, setiap hari Ia selalu berusaha menahan diri untuk tak mengungkapkan rasa yang menurutnya salah itu.


Namun nyatanya kalimat keramat yang dilontarkan sang gadis, hampir membuatnya goyah dan ingin mengungkapkan hal yang sama.


Hingga Ia terus berpikir keras mengenai hal itu. Jika Ia membenarkan rasa itu, dampaknya begitu besar. Semua keluarganya akan terkena dampak dari keegoisan hubungan mereka. Akhirnya Ia memutuskan untuk mencoba mengubur rasa itu secara perlahan.


Tak tak tak


Suara heels yang menghampirinya sukses membuyarkan lamunannya. Rei mencoba tersenyum seperti biasa, namun tidak dengan Kia. Wajahnya medadak datar tanpa menatap sang om.


"Aku berangkat!" Pamitnya.


"Tunggu de! Makan dulu!" Cegatnya lembut dengan mencekal lengan sang gadis.


"Gak om! Teman aku udah nunggu." Balasnya masih dengan nada yang sama.


Kia menarik tangannya dan berlalu pergi tanpa menatapnya sedikitpun. Rei menghembuskan nafasmya panjang seraya mengusap wajahnya kasar. Ia tau pastilah gadisnya itu tengah merajuk dan merasa kecewa padanya.


"Kenapa kamu gak ngerti de?"


*


Sementara itu, didalam lift. Kia terus menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali seraya mengibaskan tangan pada wajahnya yang tiba-tiba memanas dan mencoba menetralkan degup jantungnya.


"Okey Kiy tenang. Lu gak boleh baper lihat wajah om yang kek tadi. Om harus sedikit dikasih pelajaran biar ngerti. Lu harus bisa buktiin, kalo cintanya om emang buat lu. Semangat!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


"Om lihat aja! Seberapa lama lagi, om bisa menghindari ini?" Tuturnya dengan seringai tipis menghiasi wajahnya.


Ternyata Kia sengaja bersikap seperti itu pada sang om, untuk memberi pelajaran padanya. Padahal sudah jelas termihat dari matanya, sang om memiliki rasa yang sama padanya namun Ia malah menyangkalnya.


**


Goresan pensil diatas kertas itu sama sekali tak dilihat siempunya. Tangannya disana, namun pikirannya entah kemana. Hingga tanpa disadari, bukan sketsa bangunan yang Ia coretkan. Namun sketsa wajah seorang gadis lah yang Ia gambar disana.


Rei mengambil kertas dengan goresan hitam yang membentuk wajah cantik, yang kini membuat harinya ambyar. Ia pandangi sketsa itu hingga lengkungan manis dibibirnya terbentuk dengan sempurna.


"Kalo kek gini terus, aku gak akan bisa kerja." Kekehnya.


"Kia!" Cicitnya seraya memejamkan mata dan satu tangan yang Ia bawa kedepan dadanya. Untuk merasakan degup jantung yang tak berdegup kencang.


Ia bangkit dari duduknya dan kembali menatap sektsa itu. "Baiklah! Rasanya gak sanggup kalo harus lama-lama kamu cuekin!" Ucapnya seraya berbicara pada kertas itu.


Ia bangkit, mengambil kunci mobilnya. Dan berlenggang keluar dari tempat tinggalnya. Lalu pergi mengendarai sang kijang besi.


Tak berselang lama mobil yang Ia kendarai sampai didepan gerbang sebuah kampus. Matanya memindai area dimana tempat sang gadis suka singgahi. Hingga senyumnya terbentuk kala Ia melihat gadis dengan rambut sebahu yang Ia yakini keponakannya.


Ia memaksa keluar untuk menghampiri sepasang manusia yang sepertinya tengah asyik disebuah bangku yang bertengger disana.


"De?" Sapanya.


Seketika sang gadis menoleh serempak bersama teman laki-lakinya. "Om!" Cicitnya.


"Kita pulang!" Ajaknya seraya menggenggam tangan sang gadis dan hendak menariknya.


"Tunggu!" Cegat pemuda yang tengah bersama sang gadis. "Kiy, katanya kita mau makan siang bareng?" Tanyanya.


Kia hendak membalasnya. Namun Rei segera menyelaknya. "Dia ada janji lain. Maaf! Kita pulang duluan." Ucapnya dengan wajah dibuat sebiasa mungkin.

__ADS_1


Akhirnya Ia bisa menarik tangan sang gadis, hingga Ia mengkutinya. Tanpa Rei tau Kia berbalik melihat pada pemuda yang tadi bersamanya dengan senyuman dibibirnya. Ia mengangkat jari telunjuk dan jari jempolnya berbentuk O, dengan mata berkedip manja seraya bilang 'Oke!'.


Sang pemuda disana ikut tersenyum dan melakukan hal yang sama. Sungguh temannya itu begitu aneh menurutnya. Saat semua gadis begitu menggilainya, justru gadis itu tak tertarik padanya dan malah memilih omnya sendiri.


Namun hal itu tak terlalu Ia pikirkan. Ia memang tak ingin berkomitmen dengan wanita manapun. Cassanova yang disandangnya saat ini begitu Ia nikamti. Aiden, teman lelaki satu-satunya Kia yang selalu menemaninya. Tak ada lagi yang mau berteman dengannya karena wajah cantiknya, kecuali dia.


.


Didalam mobil Rei masih terdiam tak bersuara. Begitupun Kia, namun Ia terus melipat bibirnya melihat ekspresi dari sang om. Hingga bibirnya gatal untuk menggodanya.


"Om kenapa jemput aku? Aku kan bisa pulang sama Iden." Tutur Kia memulai obrolannya.


"Nggak! Lagi pengen aja." Jawabnya. Suaranya sudah terdengar lebih lembut namun masih dengan cengkok yang sama.


"Emangnya kita mau kemana?" Tanya Kia lagi.


Sekuat apapun Ia ingin cuek pada pemuda disampingnya, tetap saja Ia tak bisa lama-lama mendiamkannya. Tanpa Ia sadari, rencananya hancur begitu saja.


Rei menarik satu sudut bibirnya mendengar nada bicara sang gadis yang sudah kembali. "Ke suatu tempat." Balasnya membuat Kia menaikan satu alisny penasaran. "Dan kamu, pasti menyukainya." Lanjutnya seraya menoleh dan tersenyum lebar. Lalu kembali fokus kedepan.


Kia melongo melihat senyum sang om, hingga Ia tersadar sesuatu. 'Ya ampun! Akting gue.' Batinnya memberenggut kesal. 'Huh! Gagal deh' batinnya terus merutuki dirinya sendiri.


Rei terus menyunggingkan senyumnya. Tau kalau gadisnya itu tak benar-benar marah. Membuat hatinya tenang seketika. Ia sudah tau merajuknya sang gadis takan lama. Apalagi jika Ia bisa menyogoknya. Seperti saat ini, mengajaknya jalan-jalan akan membuatnya senang kembali.


Kia hanya menghembuskan nafasnya panjang seraya menatap keluar jendela agar tak menatap sang om. Karena semalaman Ia tak bisa tidur nyenyak karena tragedi pernyataan cintanya pada sang om yang membuatnya harus begadang. Akhirnya Ia pun terlelap.


Hingga tak terasa mobilpun sampai ditempat tujuan. Rei tersenyum melihat gadisnta yang tak terusik sama sekali. Ia rapihkan anak rambut yang menjuntai dipipinya dan menciun keningnya. "Tetaplah seperti ini dan jangan pernah berubah! Om lebih sayang sama kamu de." Gumamnya.


********************


Yuk jejaknya yuk!! Ramaikan yaa🤭

__ADS_1



Ini om Rei sama dede Kia😍😍


__ADS_2