Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Cabi-Casu


__ADS_3

Seorang gadis terus berguling ke kanan dan ke kiri diatas kasurnya. Lengkungan bibir terukir sempurna di wajah cantiknya. Pekikan kecil terus melantun dari bibir mungilnya. Membayangkan Ia akan bersama dengan sang kekasih dalam status yang selama ini menjadi impiannya, tentu suatu anugerah yang harus Ia syukuri.


"Ya ampun ini bener-bener kek mimpi. Nikah?" Ucapnya bermonolog sendiri.


"Aaaa!!!"


Lagi dan lagi pekikan itu terus terdengar. Ia sampai menggigit boneka yang berada didekapannya, hingga suara dering dari layar pipih mengalihkan perhatiannya.


Ia raih benda itu diatas nakas. Seyumnya semakin mengembang kala nama Om Pacar, terpampang disana. Dengan semangat Ia tekan icon hijaunya hingga wajah tampan sang kekasih terpampang jelas didepan matanya.


"Iya om!" Sapanya dengan menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan yang hampir keluar dari bibirnya.


"Belum tidur?" Tanya Rei dari sebrang telepon dengan senyum yang membuat hati Kia semakin tak menentu.


"Belum. Kek nya aku gak bakalan bisa tidur om." Balasnya hingga sang pacar terkekeh disebrang sana.


"Kenapa?" Godanya.


"Gak pengen aja!" Ucapnya, membuat sang pacar tertawa. "Kalo aku tidur, takut nanti bangun semuanya hanya mimpi." Lanjutnya.


"Kamu tu ya, jangan kek gitu, harus tidur! Bentar lagi, doa kamu yang memaksa Tuhan untuk menjodohkan kita itu beneran terwujud." Tutur Rei. Hingga senyuman bahagia terukir dari keduanya.


"Ya udah, tidur ya! Udah malam." Titahnya dan dijawab anggukan sang pacar.


"Iya, om juga!" Balasnya.


"Selamat malam Dede pacar." Ucap Rei.


"Bukan dede pacar, om!" Sangkal Kia.


Rei mengerutkan dahinya tak mengerti. "Kok bukan?" Tanyanya.


"Dede Cabi." Balas Kia hingga sang pacar terkekeh.


"Tau nggak om, apa artinya?" Tanya Kia dan dijawab gelengan pria tampan yang sama sekali tak melunturkan senyumannya.

__ADS_1


"Apa?"


"Dede calon bini." Balas Kia, kemudian tergelak.


Begitupun Rei, Ia ikut tertawa mendengar penuturan gadisnya dengan gelengan kepala. Hingga suara gedoran pintu dan pekikan seseorang dari balik pintu membuat sang gadis segera menutup panggilannya, tanpa berpamitan pada sang kekasih.


"Iya mom!" Teriak Kia membalas panggilan sang timom dari luar kamarnya.


"Cepat tidur, udah malam! Inget, lagi dipingit!" Titah sang timom seraya memperingatinya.


"Iya mom!" Teriaknya lagi.


Kia berdecak kesal mendengar peringatan dari wanita tecinta yang memberi aturan itu pada dirinya dan sang kekasih. Bahkan didalam aturan itu keduanya dilarang keras untuk saling menghubungi. Sungguh timomnya ini membuat dirinya ingin mencari cctv, lalu melambaikan tangan pada benda itu.


"Ngeselin banget sih timom. Peraturan apa coba kek gitu. Masa cuma nelpon aja gak boleh." Gerutunya dengan hembusan napas kasar.


Ia mengecek kembali benda pipihnya, lalu mengetik sesuatu dinomor yang tadi memnggilnya.


Me : Selamat malam Om Casu!


Tring!


Om pacar : Selamat malam Dede Cabi!


Balasan chat dari sang kekasih membuat Kia kegirangan. Meski tak banyak emoticon hati seperti yang Ia berikan, namun hanya dengan satu karakter saja sudah membuat gadis cantik itu melebarkan senyumnya.


Ia peluk benda itu seraya memejamkan matanya. Ia biarkan tubuhnya telentang tanpa kain tebal yang menyelimutiny. Hingga tak berselang lama Ia pun terlelap dan mungkin sudah memasuki dermaga mimpinya.


**


"Selamat pagi mom!" Sapa sang gadis dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


Ia memasuki dapur menghampiri sang timom yang tengah sibuk dengan wajan dan spatulanya. Mencium pipi wanita kesayangannya itu dari belakang, kemudian memeluknya.


Timom tersenyum mendapati perlakuan dari anak gadisnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Kemudian, mengusap tangan yang bertengger didadanya.

__ADS_1


"Makasih! Timom sama papih selalu memberikan yang terbaik buat aku. Maaf udah meragukan kalian dan maaf juga belum bisa jadi putri kebanggaan kalian!" Tutur Kia menenggelamkan wajahnya dipunggung timomnya. Menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.


"Kamu, gak perlu minta maaf apalagi berterima kasih. Timom sama papih hanya menjalani kewajiban dan tugas kami sebagai orang tua." Balas sang timom.


"Semua orang tua itu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun kami, kami hanya mencoba menjadi orang tua yang disayangi anak-anaknya." Lanjutnya, hingga pelukan itu kian erat.


"Kamu tau? Putra putri timom sama papih itu udah menjadi kebanggan. Karena apa? Karena kalian selalu patuh dan berbakti pada kami. Kalian selalu sayang dan memprioritaskan keluarga. Dan kami bangga memiliki kalian!" Lanjutnya, hingga Kia sudah sesegukan dibelakangnya.


"Dede sayang timom!" Cicitnya menahan isak tangisnya.


"Timom lebih sayang kamu." Balas sang timom yang ikut meluruhkan bulir hangat dari ujung matanya.


Ditengah drama haru yang diciptaakn dua wanita beda generasi itu, deheman dari seseorang mengalihkan atensi mereka. Hingga keduanya menoleh dan tersenyum melihat siapa yang menghampiri mereka.


"Lagi pada ngedrama ya? Serius bener." Tanyanya dengan nada ledekan.


"Papih!!!" Kia melepaskan pelukanya dari sang timom dan beralih berhambur kepelukan lelaki hebat, yang selalu jadi kebanggannya itu.


"Dede sayang Papih!" Ucapnya kembali menyembunyikan tangis di dada bidang papihnya.


Sang papih membalas mendekap tubuh princess kesayangannya. Tubuh yang serasa baru kemarin Ia timang dan gendong, kini ternyata sudah besar. Bulir hangat dari ujung matanya ikut jatuh. Ia belai lembut surai pirangnya dan menciumi pucuk kepalanya.


"Makasih pih! Makasih!" gumam sang gadis disela isak tangisnya.


"Papih lebih sayang sama dede. Jadilah istri yang baik untuk suamimu nanti. Ingatlah hal baik yang papih dan timom ajarkan padamu. Smoga kebahagiaan selalu mengiringi hidupmu." Pesan papih dan diangguki putri cantiknya itu.


Lama keduanya berpelukan meluapkan rasa sayang antara anak dan orang tua. Sang timom pun ikut hanyut dan terus memperhatikan keduanya, hingga Ia melupakan sesuatu yang masih mengepul diatas wajannya.


"Bau apa ini?" Ia mengendus-endus dan berbalik. Matanya membelakak melihat nasi goreng yang sudah kering diatas penggorengannya..


"Astagfiruloh!! Nasi gorengku." Pekiknya dan segera mematikan kompornya.


Pekikannya mampu membuat ayah dan putrinya terlonjak. Mereka serentak menoleh dan melepaskan dekapannya. Tanpa dosa keduanya malah tergelak, menertawakan sang timom yang mendumel tak jelas.


*************

__ADS_1


Maaf ya baru up, sibuk dunia nyata dulu aku🤭 Jangan lupa jejaknya yaa🤗


__ADS_2