Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 104 Paling kuat


__ADS_3

Rumah Ayah Dedes mendadak ramai setelah kedatangan anak cuucnya. Kini keluarga besar itu tengah menikmati makan siang yang sudah ibu siapkan dari sebelum mereka datang. Semua tampak hadir disana kecuali Rangga.


"Si sulung kemana pak?" Tanya Papih pada besannya.


"Dia keluar. Katanya mau jemput pacarnya." Jawab Ayah Dedes.


"Emang bener dia punya pacar?" Tanya Siska yang masih penasaran dengan saudara yang pernah mengajaknya menikah dulu, yang tentu saja tak pernah diketahui sama sekali oleh orang tua mereka.


Ibu mengangguk dan mengiyakan ucapan putrinya.


"Siapa bu?" Siska makin kepo dengan pria yang Ia yakini belum bisa move on darinya itu. Hingga tatapan tajam didapati dari suaminya.


Siska yang melihat itu hanya menggenggam tangan suaminya dibawah meja seraya tersenyum manis padanya.


"Ituh anaknya pak Samsul. Si Silvi." Jawab ibu dan dibalas oh ria serta anggukan olehnya.


"Bukannya dulu kalian sekelas ya?" Tanya Ayah Dedes.


"Kalo sama Rangga kita sekelas. Tapi kalo Silvi dia adek kelas." Balas Siska, seraya berfikir sejenak.


Pasalnya Silvi memanglah gadis yang selalu mengejar Rangga dulu, namun Rangga menolaknya mentah-mentah. Si gadis yang tau Rangga menyukai dirinya, sempat melabraknya dulu. Dan sekarang mereka pacaran? Wah amazing! Takdir memang tak ada yang tau. Pikirnya.


Rematan ditangan membuatnya tersadar dari lamunanya dan sontak membuatnya menoleh. Ia menyunggingkan senyuman manisnya walaupun dibalas wajah dingin sang suami.


Acara makan siang pun selesai. Kini mereka sudah meninggalkan meja makan untuk aktifitas masing-masing. Ayah mengajak Papih untuk melihat empang ikan miliknya yang akan menjadi obyek tempat untuk keduanya menghabiskan waktu bersama. Sedangkan para ibu tengah membersihkan sisa makan siang mereka. Dan para bocah yang sudah ngibrit keluar rumah bersama om nya.


Siska yang tak melihat sang suami bersama dengan kedua ayahnya, memutuskan untuk mencarinya. Ia meninggalkan aktifitasnya dan membiarkan kedua ibunya untuk menyelesaikannya. Tau sang suami dimana Ia pun menyambanginya.


Ceklek!


Ia buka pintu kamar yang akan menjadi tempatnya istirahat bersama sang suami. Memasuki kamar nan luas lengkap dengan kamar mandi didalamnya. Jendela dengan kaca besar yang mengarah kehalaman belakang.


Netranya menangkap sosok yang Ia cari tengah merebahkan diri diatas kingsize dengan posisi tengkurap. Ia tersenyum melihat sang suami yang dapat Ia tebak pastinya tengah merajuk.


Ia mendekati ranjang dan menindih tubuh tegap suaminya dan memeluknya. "Mau aku nyanyiin gak?" Tanyanya.


"Hemm!" Hanya gumaman yang diberikannya tanpa ada pergerakan apapun.


"Abang jangan marah-marah. Nanti abang lekas tu-"


"Aaaaa!!"

__ADS_1


Belum selesai nyanyiannya, sang suami membalikan badannya dan sukses membuat Siska yang masih diatas tubuhnya menjerit karena terkejut.


"Abang ihh ngagetin!" Pekiknya seraya memukul dada suaminya dan segera dicekal sang suami dengan raut wajah yang masih sama.


"Kenapa kalo abang tua? Mau cari yang muda? Mau cari yang lebih kuat?" Cecarnya membuat Siska melipat bibirnya.


"Emangnya ada ya, yang lebih kuat dari abang?" Goda Siska dan sukses dapat decakan dari suaminya.


Siska tergelak melihat raut wajah masam suaminya. Ia tangkup kedua pipinya seraya mendekatkan wajahnya.


"Setua apapun abang, bahkan sampe rambut abang memutih duluan. Aku gak peduli. Karena aku hanya ingin abang. Dan selamanya abang!"


Gombalan receh Siska ternyata mampu membuat suaminya menyunggingkan senyum. Ia tarik tengkuk sang istri dan menyambar bibir ranum yang selalu memuja dirinya itu.


Menye sapnya lembut, menyusuri rasa manis didalamnya. Hingga decapan begitu merdu terdengar diruangan nan luas itu. Satu tangannya dibiarkan bergeliyara menyusup kedalam baju sang istri, membelai lembut kulit punggungnya dan sampai dikunci cangkang semangka favoritnya hingga terbuka.


Keduanya hanyut dalam ciuman lembut yang kian menuntut. Hingga pintu yang terbuka keras membuyarkan konsentrasi mereka.


Braaakk!!!


"Timom!!"


Pekikan gadis kecil mampu mrmbuat mereka melepaskan pagutannya, dan segera Siska bangkit dari tubuh suaminya. Mendudukan diirnya di kasur sebelah suaminya.


"Timom ma Pih napain?" Tanya gadis kecil yang serba ingin tau itu.


"Nggak! Tadi timom lagi niup mata Papih, kelilipan." Jawabnya dengan senyum menahan malu.


Untuk pertama kali sang putri mencyduk aktifitas mereka. Karena untuk pertama kali mereka lupa mengunci pintu. Untung saja baru tahap pemanasan, coba kalau sudah tahap sapa menyapa? Entah penjelasan apa yang akan mereka berikan pada putri kecilnya yang super kepo itu.


"Oh! Diuwan ada pacan om nda timom." Celoteh balita cantik itu memberitahunya.


"Oh ya?" Tanya Siska antusias dan dijawqb anggukan putrinya.


Ia melirik sebentar pada sang suami yang tengah menutup matanya dengan lengan seolah terlelap.


"Ya udah. Dede keluar duluan ya! Timom mau niup dulu mata Papih. Kek nya beum sembuh deh." Titahnya seraya mengusap rambutnya dan dijawab anggukan gadis cantik itu.


Setelah putrinya berlenggang kembali keluar kamar, Ia beralih menatap sang suami yang sepertinya semakin merajuk kala aktifitasnya yang harus kena skip.


"Bang!" Sapanya seraya menggoyangkan bahunya pelan.

__ADS_1


Bang Age masih terdiam tanpa mau menjawab sahutan sang istri. Si jack yang sudah siap membuatnya benar-benar kesal.


Siska menghembuskan nafasnya panjang kala tak dapat jawaban dari suaminya. Ia berdiri dan berlenggang pergi, namun baru saja langkahnya mendekati pintu. Suara sang suami membuatnya menyunggingkan senyum.


"Kamu mau kemana? Abang gak nyuruh kamu pergi?" Tanyanya seraya bangkit dari tidurnya.


Siska berbalik seraya melipat bibir. "Aku gak akan kemana-kemana kok!" Balasnya.


"Terus ngapain kamu disitu? Kalo gak mau keluar?" Tanyanya.


Siska tersenyum lebar. Ia berbalik dan memutar kunci pintunya. Kemudian kembali mendekati sang suami seraya membawa kunci itu ditangannya. Ia naik kembali ke atas tubuh suaminya seraya mengacungkan kunci kehadapn suaminya.


"Biar gak kena skip lagi." Tuturnya tersenyum dan sukses membuat suaminya menyeringai.


Tanpa kata lagi Ia mulai menyambar bibir yang terpaksa Ia lepas tadi. Kembali memberikan serangan yang mampu membuat keduanya melayang. Tangannya dengan cepat melepas kain yang membungkus tubuh indah sang istri.


Hingga kain-kain sudah berhamburan tak tentu arah. Siap menyatukan diri dengan membiarkan sang istri menjadi leadernya.


"Siap jadi leader?" Tanya bang Age.


"Oke!" Balas Siska seraya tersenyum.


Keduanya mulai menyatu, menyelami rasa yang selalu sama. Menggali kelegitan disetiap tempo memabukan. Hingga suara sexy terlantun merdu membuat resah siapa saja yang mendengar.


Siska menghentikan sejenak aksinya, meraup oksigen banyak-banyak untuk kembali memanjakan si jack. Dengan nafas tersendat Ia membisikan sesuatu ditelinga suaminya.


"Biarpun diluar sana banyak yang lebih kuat dari si jack. Tapi martabak spesial hanya menginginkan si jack seorang."


Penuturan Siska terdengar seperti sengatan di indera pendengaran suaminya. Membuat gairahnya kian membuncak.


Ia membalikan posisi dan berganti menjadi leadernya. "Dan si jack hanya menginginkan martabak spesial." Balasnya menyeringai.


Ia pun memulai aksinya menggempur sang istri tanpa ampun. Hingga si jack takluk dan sukses menyemburkan lahar panasnya didalam sana.


Terdengar nafas yang sudah senen kemis dari keduanya, disertai peluh yamg membanjiri tubuhnya.


"Mau cari yang lebih kuat?" Goda bang Age seraya mengusap keringat didahi sang istri dan dijawab gelengan olehnya.


"Nggak! Si jack udah yang paling kuat!" Ucapnya terengah-engah.


***************

__ADS_1


Yuk ramaikan! Siap main sama bocil-bocil yang meriweuh🤭😁😁


__ADS_2