Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 123 Ulang tahun


__ADS_3

Tak terasa waktu kian bergulir, balita cantik itu sekarang sudah memiliki panggilan berbeda. Bukan balita lagi, sekarang iya lebih disapa gadis kecil. Diulang tahunnya yang sekarang, gadis cantik itu sudah berpenampilan dengan anggunnya. Diusianya yang sekarang, Ia tentu sudah bisa memilih apa yang ingin Ia pakai tanpa mau dibantah.


"De, lipstiknya terlalu nyala. Ganti nih sama yang ini." Timom terus berusaha memberi saran pada putri satu-satunya itu.


"Gak mom! Bagusan yang ini." Balas Kia tak mau kalah.


Siska sampai nenepuk jidatnya mendapati sang putri yang begitu keras kepala itu. "De, warna itu lebih cocok buat tante-tante. Timom aja gak mau pake." Protesnya.


"Ihh timom gak update. Ini tuh tren jaman now!" Balasnya tetap memoleskan lipstik dengan warna merah menyala itu diatas bibir tipisnya.


Siska kembali menghembuskan nafasnya panjang. Entah seperti siapa gadis kecilnya ini. Dulu sewaktu Ia masih kecil, Ia mana tau soal makeup dan kawan-kawannya. Bahkan Ia mengenal makeup pas masuk kelas sebelas menengah atas, waktu dimana Ia puber dan ingin mengenal sosok suaminya.


Nah ini putrinya yang baru memakai seragam putih merah, centilnya warbiyaasa. Kebanyakan gaul dengan Sensen ternyata membuat gadis kecil ini, mengikuti gayanya.


Berbeda dengan Vani sahabatnya, biarpun mereka selalu bersama. Bagaikan upin dan ipin, namun Ia tak pernah mengikuti sepupu sahabatnya itu. Ia lebih suka dengan dirinya yang introvert dan tak mau menunjukan kecantikannya pada siapa pun. Hanya Kia yang tau tentang dirinya. Vani hanya fokus belajar dan belajar, samapai Ia dijuluki siswi terpintar dikelasnya.


"Kamu tuh ya, kenpa harus ngikutin gaya Sensen sih? Coba tuh lihat Vani!" Ucap timom menunjuk gadis kecil yang kalem dan tengah sibuk dengan gadeget ditangannya.


"Vani kalem, gak neko-neko, gak menor-menor kek kamu!" Ucapnya membuat Kia mencebikan bibirnya.


Vani mendongakam wajahnya mendengar namanya dipanggil oleh ibu sahabatnya itu. "Iya timom?"


"Kamu kasih tau sama Kia, gimana jadi perempuan anggun itu? Pusing timom lama-lama!" Tutur sang timom memegang kepalanya yang kemungkknan terasa akan jatuh bergelinding.


"Udah sekarang kamu siap-siap, para tamu udah nungguin!" Titahnya pada sang putri. "Van bantu Kia menghapus lipstiknya ya! Timom keluar duluan!" Titahnya pada gadis kalem itu dan hanya dijawab anggukan oleh Vani.


Setelah timomnya keluar, bibir Kia kian maju dengan gerutuan yang membuat sahabatnya tersenyum tipis.


"Timom ngeselin ih! Aku kan pengen tampil cetar dihari spesial aku." Gerutunya kesal.


"Udah kamu turutin aja kata timom. Biasanya nih, kata-kata orang tua tuh yang terbaik. Lagian dosa loh gak nurutin kata orang tua." Nasihat Vani seraya mengambil tissue basah untuk membantu sahabatnya menghapus kembali lipstik ala tante-tante itu.


"Iya sih! Tapi kan aku mau tampil cantik didepan om. Kalo aku gak cantik. Om pasti punya pacar. Aku gak mau!" Jelasnya.

__ADS_1


"Kita tuh masih kecil, jangan ngurusin urusan orang gede. Biarin aja kak Rei punya pacar. Dia kan udah gede." Balas Vani dengan telaten melakukan tugasnya.


"Itu masalahnya, aku gak mau om punya pacar. Ntar aku gak bisa main lagi sama om." Ucap Kia kian cemberut dan dijawab senyum serta gelengan dari Vani.


Setelah berbagai macam persiapan kini sang putri yang menjadi pemeran utamanya pun keluar. Semua tamu menatap kagum pada gadis kecil nan cantik, yang mengenakan dres warna biru muda selututnya. Dengan aksen dan pernak pernik yang menghiasi kain itu, menambah keanggunan ditubuh mungi itu. Kakinya dibalut slop cantik berwarna navy dengan hak dua sentinya. Rambutnya dicepol rapih dengan mahkota kecil diatas kepaalnya.


Sungguh putri bang Age ini menyedot perhatian para tamu undangan. Suasana begitu ramai kala Kia sudah menaiki podium untuk acara tiup lilinnya. Dengan pesta bertemakan princess, membuat semua teman-temannya ikut memakai berbagai dress berupa-rupa dengan topi kerucut yang dibagikan panitia.


Cake besar dengan warna senada dengan dressnya, begitu terlihat cantik dengan gambar tokoh princess dingin yang dapat membuat semua benda membeku. Tak lupa pula dengan lilin besar bertuliskan angka tujuh bertengger disana.


"Baiklah kita mulai acara tiup lilinnya!" intruksi dari sang MC membuat mereka dengan serentak menyanyikan lagu ulang tahun untuk pemeran utama hari ini.


Dengan ditemani kedua orang tua, keluarga dan sahabatnya. Kia berdiri dengan senyuman manis yang tak luntur dari bibirnya.


Fiuuuhhh~


Lilin yang terbakar akhirnya padam juga. Tepuk tangan dan sorak sorai begitu menggema diruangan nan luas itu. Kini tinggal memotong kuenya. Timom membantu untuk memotong beberapa bagian kecil untuk putrinya bagikan pada orang-orang tersayangnya.


Kini potongan keempat sudah ada ditangannya. Sudah dapat diketahui, potongan itu untuk siapa. Hingga Ia sudah didepan orangnya suara tepuk tangan kembali menggema.


"Nih om! Kue keempat buat om tersayang." Pekiknya dengan berhambur pada remaja dihadapannya dan memeluknya erat.


Rei tersenyum lebar mendapati perlakuan manis itu. Ia membalas mendekapnya dan mengusek pucuk kepalanya gemas seraya mendaratkan bibirnya disana.


"Selamat ulang tahun kesayangannya om! Sekarang udah gede ya? Udah esde juga." Kekehnya.


Segala doa terbaik diucapkan bocah remaja yang kini memasuki kelas sembilan itu. Semua tampak ikut bahagia dengan bertambahnya usia gadis cerewet yang selalu membuat reseh semua orang itu.


Kini acara dilanjutkan dengan acara game, bagi-bagi undian. Semua tampak antusias untuk mendapat giliran. Berbeda dengan para temannya, gadis kecil yanh satu ini hanya asyik dengan gadget ditangannya dengan mendudukan diri diayunan yang sedikit jauh dari keramaian. Entah apa yang tengah Ia lakukan, hanya dirinya lah dan Tuhan yang tau aktifitasnya.


"Ngapain disini?" Pertanyaan seseorang dari belakangnya sukses membuatnya terlonjak dan segera memyembunyikan benda ditangannya.


"Aka?" Sapanya kaget.

__ADS_1


Aska berpindah dan berdiri didepannya. "Kamu ngapain disini? Teman-teman kamu pada ngumpul disana?" Tanyanya.


Vani tersenyum dan memggelengkan kepalanya. "Aku lagi pengen sendiri kak." balasnya.


"Tiap hari kamu sendiri mulu, kali-kali main lah sama mereka!" Titahnya dan hanya dibalas senyuman oleh Vani.


Aska ikut duduk diayunan sebelahnya. Dan hal itu membuat Vani keheranan. "Aka ngapain disini?" Tanyanya.


"Nemenin kamu." Balasnya.


"Aku gak papa sendiri, udah biasa. Ntar juga aku bakal tetap sendiri." Ucap Vani seraya mengayunkan sedikit tubuhnya.


Penuturan Vani sukses membuat Aska menoleh. "Kok bilang gitu?" Tanyanya.


Vani menghentikan ayunanya dan menoleh melihat wajah tampan bocah disampingnya. "Besok aku sama Papa dan mama, mau pindah." Ucapnya membuat Aska shok.


"Pindah? Kemana?" Tanyanya.


"Entah! Aku juga gak tau. Yang jelas aku akan jauh dari kalian." ucapnya sendu.


Aska hanya terdiam menanggapinya, bingung harus bilang apa. Nyatanya pertemanan mereka sangat dekat. Ia akan sangat kehilangan sosok yang setiap pagi mengganggu hari-harinya.


"Aku punya sesuatau buat aka." Ucapnya membuyarkan lamunan Aska.


"Apa?" Tanyanya. Vani menyerahkan gadgetnya pada bocah disampingnya.


"Ntar kalo aku pergi, ingat aku ya kak! Vanilla kesayangan aka." Ucapnya tersenyum.


***************


Jadi, pindahnya Ivan dan keluarga awal-awal goyahnya perusahaan Rendi. Ia harus dipindah kerjanya ke anak perusahaan yang jauh dari sana. Selang setahun, perusahaan Rendi benar-benar down dan Ia bersama keluarga hanya bertahan disatu perusahaan kecil itu bersama Ivan. Nah dari sini awal mula Aska begitu overptotektif pada Sena, dan rasa sayang Aska tak tumbuh dengan semestinya pada sepupunya itu.


Siap-siap bentar lagi kita teruskan keuwuan mereka di CMDK season 2 yaa!! Nantikan😉

__ADS_1


__ADS_2