Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 126 Cerita Hanna


__ADS_3

Siska menggenggam erat tangan Hanna yang bertengger diatas meja. Tau pasti banyak luka yang gadis itu rasakan.


"Kembalilah! Dia masih menunggumu." Ucap Siska.


"Entahlah!" Ucapnya menggelengkan kepala. "Aku gak yakin." Lanjutnya.


"Kenapa?" Tanya Siska.


"Aku bukan Hanna yang dulu lagi." Balasnya menunduk dengan senyum yang menunjukan kalau dia tak baik-baik saja.


Siska yang melihat itu merasa heran. Apa yang sebenarnya terjadi? Terlihat dari raut wajahnya, banyak hal yang telah gadis itu lalui.


"Maksudnya?" Tanyanya semakin penasaran.


"Aku bukan gadis lagi." Jawabnya tersenyum miris. Siska membolakan matanya merasa shok dengan jawaban gadis didepannya.


"Ma-maksudnya, ka-kamu istri orang?" Tanya Siska dengan gagap.


Hanna menggelengkan kepalanya. "Mungkin jika begitu akan terdengar lebih baik." Jawabnya dengan ekspresi yang sama.


Siska dibuat semakin shok dengan menutup mulutnya. Hanna yang melihat ekspresi yang ditunjukan oleh wanita didepannya mengerti. Hal ini yang Ia takutkan sejak awal, kala betemu lagi dengan mereka.


"Itulah kenapa, aku gak bisa kembali. Aku hanya wanita kotor, yang gak akan pantas untuk Rangga." Ucapnya sendu, bahkan air matanya sudah jatuh membasahi pipi cantiknya.


Tubuhnya bergetar hebat mengingat hal itu. Seberapa pun Ia berusaha melupakn itu, tetap saja kejadian itu masih membekas diotak dan hatinya. Siska yang melihat itu segera mendekat kesebelahnya dan mendekap erat tubuh ringkih itu.


Membiarkan gadis itu menumpahkan rasa sakitnya. Siska hanya mengusap surai hitamnya sayang seraya menepuk-nepuk punggungnya pelan. Membiarkan sang gadis tenang dalam dekapannya.


Setelah dirasa tenang, Siska melerai pelukannya dan menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu. Lalu nerapihkan rambutnya yang berantakan.


"Jika kamu udah siap, kamu boleh cerita sama kakak!" Ucap Siska dan dijawab anggukan Hanna.


Hanna menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali, untuk menetralkan hatinya. Sekuat mungkin Ia akan memberikan penjelasan pada wanita yang sudah Ia anggap kakaknya ini.


"Darimana ya aku memulainya?" Kekehnya.


Siska tersenyum menanggapi itu. "Mau dari A dulu boleh, mau langsung ke Z, monggo!" Canda Siska membuat suasana sedikit santai.


"Jadi, waktu ayah membawaku pergi. Aku sedikit tak terima. Namun karena niat ayah ingin bertaggung jawab pada anak-anaknya aku menghargai itu. Ya meski caranya sedikit memaksa." Kekehnya lagi.


"Ayah benar-benar menekanku untuk belajar dan belajar agar aku fokus untuk ujian akhir. Sampai dia harus menyita ponselku. Hingga akhirnya aku lulus dengan nilai terbaik, dan ayah sudah menyiapkan universitas terbaik pula untukku." Lanjutnya.


"Aku hanya diizinkan untuk menghubungi bang Haris aja. Bahkan aku baru tau bunda sakit setelah aku menghubunginya."


"Aku gak bisa menentang ayah. Meski hanya untuk menjenguk bunda. Dia hanya memberi kesempatan untukku melakukan VC dengan bunda. Bahkan setiap hari, sampai aku melihat bunda sembuh kembali."

__ADS_1


"Aku melewati hari-hariku seperti biasa, sampai suatu hari-" Hanna tak meneruskan ucapannya, Ia kembali mrnghembuskan napasnya kasar.


"Udah jangan diterusin. Nih ninum dulu!" Ucap Siska seraya menyodorkan minumannya.


Hanna menerimanya dan menegaknya hingga tandas. Sepertinya cerita panjangnya, benar-benar membuat Ia dehidrasi.


"Jangan dipaksain! Udah ntar lagi." Larang Siska memberi pengertian.


"Nggak! Kakak harus tau semuanya. Aku udah anggap kak Siska seperti kakak ku sendiri." Ucapnya dan hanya ditanggapi hembusan napas panjang dari Siska.


Akhirnya Ia membiarkan sang gadis melanjutkan ceritanya.


"Aku dititipkan pada seorang cowok yang ayah percaya. Dia juga kuliah diuniversitas yang sama denganku. Ayah tak pernah melarangku kemanapun asal sama dia. Sampai suatu hari,"


"Dia menodaiku!" Jatuh kembali air mata Hanna mengingat hal itu. "Dia-" Suaranya kembali tercekat hanya isak tangis lagi yang keluar.


Siska kembali menarik tubuh itu kedalam dekapannya. Kembali mencoba menenangkannya.


"Dia merenggut apa yang selama ini aku jaga. Sesuatu yang akan kuserahkan kelak pada suamiku. Dia mengambil itu." Lirihnya dengan tangis yang memilukan.


"Aku bersalah sama Rangga, aku berdosa sama dia. Aku gak bisa menjaga kepercayaannya. Aku-aku-" Lagi-lagi napasnya tersendat hingga kata-katanya kembali terputus.


"Suuutt!! Jangan bicara lagi! Tenangkan dirimu oke!" Ucap Siska seraya menepuk-nepuk pundaknya.


"Udah jangan nangis lagi! Kamu harus semangat! Semua orang pasti punya masalalu. Apapun masalalu kita, jadikan itu sebagai pelajaran dan motivasi untuk kita kembali bangkit dan juga maju. Kejarlah cintamu! Kakak yakin hati Rangga masih tetap sama." Ucap Siska.


"Nggak kak! Aku gak mungkin kembali padanya. Dia terlalu sempurna untuk wanita cacat sepertiku." Balas Hanna tersenyum kecut.


"Siapa bilang?"


Suara seorang pria mengalihkan atensi mereka. Hanna membelakakkan matanya, kala melihat siapa yang tengah berjalan mendekat kearahnya.


"Rangga!" Cicitnya.


Ia berdiri melihat pria yang selama ini Ia rindukan. Pria yang setiap malam menghantui tidurnya. Pria yang sekuat mungkin Ia hindari. Dan sekarang Ia berdiri tepat didepannya. Air matanya kembali lolos melihat wajah dengan tatapan yang sama seperti empat tahun silam.


Tanpa kata lagi Rangga mendekat dan mendekap erat tubuh gadis yang begitu Ia rindukan. Menumpahkan rasa bahagia kala Ia dapat melihat kembali gadis yang selalu Ia nantikan kehadirannya.


"Aku merindukanmu." Lirih Rangga dengan air matanya tak dapat Ia bendung.


Hanna membalas memeluk tubuh tegap itu tak kalah erat, kembali menyembunyikan tangisnya didada bidang sang pria. Kali ini sepertinya tangis bahagia lah yang Ia tumpahkan.


Siska tersenyum melihat itu, Ia melihat sang suami yang memasuki kafe bersama putra putrinya dengan senyum yang mengembang dari wajah tampan itu. Ia menjauh dari pasangan itu dan memdekati keluarga kecilnya.


"Ehh! Gak boleh dilihat!" Siska merentangkan tangannya agar kedua putra putrinya tak melihat itu dan menutup wajahnya.

__ADS_1


"Timom! Paan sih!" Protes Kia.


"Jangan lihatin om sama onty. Gak baik!" Balasnya.


"Gak baik kenapa? Mereka kan cuma peluk-peluk." Protesnya lagi.


"Pokoknya gak boleh! Udah kita duduk disana. Timom pesenin makanan kesukaan kalian ya!" Bujuknya dan tak ayal membuat bocah cerewet itu kegirangan.


Sang papih dan aka nya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis kecil itu. Siska menatap tajam suaminya. Membuat bang Age menaikan satu alisnya.


"Hem, apa?" Tanyanya.


"Kenapa bawa mereka kesini sih bang?" Bisiknya. Ketika keduanya mengekori putra putrinya menuju meja.


"Abang kan pengen tau juga drama si kulkas bucin." Jawab bang Age terkekeh.


"Isshh abang nih!" Protes Siska membuat sang suami tertawa kecil. "Jadi abang yang kasih tau tuh bocah?" Tanyanya dan dijawab anggukan sang suami.


"Jadi gini,"


Flashback on


Bang Age yang melihat istrinya membawa sang gadis memasuki kafe berinisiatif menelpon adik iparnya.


"Hallo Ga! Lu cepetan kesini!"


"Kemana?"


"Ke kafe xxx. Cepetan gue tunggu!"


"Ngapain sih, ganggu orang aja!"


"Udah pokonya lu cepetan kesini. Kalo nggak, si ayah bakal nikahin lu besok sama si Siti."


"Ck! Iya, iya!"


"Buruan gue tunggu diparkiran!"


Flashback off


*****************


Ayo jejaknya, masih mau up nih🤭


Gak jadi ditamatin yaa!! Setelah beres tentang bang Rangga, mau langsung tancap ke kisah Kia aja🤗

__ADS_1


__ADS_2