Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Undangan resepsi


__ADS_3

Satu bulan berlalu, pernikahan om dan Kia belum diketahui publik. Karyawan kantor pun tak ada yang tau kalo pria tampan itu sudah beristri. Banyak karyawan cantik yang begitu mendamba pria yang kian hari kian segar itu. Tak tau saja mereka, kesegaran yang didapatnya berasal dari sang istri yang terus memberinya energi lebih.


"Pagi, pak Rei! Saya bawa sarapan spesial buat pak Rei." Seorang gadis yang tak jua berhenti mengganggunya terus memberikan perhatian pada pria yang kini tengah duduk disebuah kursi putar.


Tanpa seizin Rei, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sang gadis main nyelonong begitu saja.


"Maaf bu Desy! Apa anda gak bisa, kalo masuk ruangan itu ketuk pintu dulu?" Peringat Rei untuk kesekian kalinya.


Setiap hari Ia harus menghadapi tingkah absurd dari karayawannya itu. Meski Ia sudah beberapa kali memperingatkan agar sang gadis tak memberinya apapun, tetap saja Ia selalu memberikan apapun pada pria tampan pujaan hatinya itu.


"Maaf pak! Sudah kebiasaan." Ucap Desy cengengesan.


Sungguh ingin sekali Rei menendang sang gadis dari ruangannya, konsentrasi Ia ambyar ketika Ia kembali didatangi gadis itu. Ia hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah sang gadis.


"Silahkan pak Rei, nikamtin sandwich spesial buatan saya." Ucap Desy seraya membukakan kotak bekal yang Ia bawa didepan meja Rei.


"Maaf bu Desy, saya sudah sarapan." Tolak Rei dengan halus. Ia mencoba menekan rasa kesal dihatinya.


"Gak apa-apa, cicipi sedikit aja!" Rayu bu Desy lagi.


Rei menghembuskan napas kasar. Kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. "Maaf bu Desy. Saya gak bisa makan bekal bu Desy. Saya sudah kenyang dan perut saya sudah tak menerima lagi." Tegas Rei.


"Ya ampun pak, dikit aja! Ini tuh enak loh!" Bujuk bu Desy lagi.


Rei sampai memijit pelipis yang tiba-tiba terasa berdenyut. Kemudian helaan napas kasar kembali terdengar dari bibir pria itu.


"Lagian siapa sih yang masakin pak Rei? Sampe masakan saya ditolak? Masakan saya tuh paling enak." cerocos bu Desy membuat Rei semakin meradang. Merasa sang istri diremehkan Ia pun mulai berkomentar.

__ADS_1


"Ibu mau tau siapa yang masakin saya?" Tanya Rei dan diangguki bu Desy.


"Istri saya!" Balas Rei.


Hal itu sukses membuat gadis itu membulatkan matanya. "Istri? Pak Rei punya istri?" Tanya bu Desy dan dijawab anggukan pria itu.


Bu Desy tertawa mendengar itu. Tentu saja Ia tak percaya akan hal itu. "Mana mungkin pak Rei udah nikah?" Tanya gadis itu tanpa menghentikan tawa.


"Kenapa? Bu Desy gak percaya?" Tanya Rei.


Bu Desy menggeleng seraya menahan tawa yang tak mau berhenti itu. "Nggak lah pak! Pak Rei kalo mau ngehindari saya gak gitu caranya."


Rei mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Dan memberikan benda berbentuk kertas itu kehadapan sang gadis.


"Minggu depan, silahkan datang ke acara resepsi pernikahan saya."


"Ini?" Tanya sang gadis merasa tak percaya. Apalagi pemandangan pertama yang Ia lihat adalah foto preweed kedua mempelai.


Ia sampai menutup mulut dan mata yang sudah berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seraya bergumam. "Nggak mungkin!" Lirihnya.


"Saya harap bu Desy mengerti. Lihat!" Rei memeperlihatlan cincin kawin yang tersemat dijari manisnya. Hal yang membuat gadis itu semakin mematung.


"Saya sudah menikah satu bulan yang lalu. Itu kenapa saya tak merespon perhatian ibu. Sekarang ada hati yang harus saya jaga." Balas Rei.


"Saya harap bu Desy mau datang ke acara kami dan memberikan doanya untuk kami." Lanjutnya.


Tanpa menjawab gadis itu berlari keluar meninggalkan ruangan Rei dengan raungan tangis yang membuat karyawan lain keheranan.

__ADS_1


Setelah kepergian bu Desy, seorang pria memasuki ruangan Rei setelah mendapatkan izin dari penghuninya. "Bu Desy kenapa pak Rei?" Tanya sang pria.


"Entah lah pak Edo. Sepertinya dia patah hati." Balas Rei hingga membuat pria yang bernama Edo itu melongo.


"Pak Rei, nolak bu Desy?" Tanya pak Edo.


"Saya gak nolak dia." Balas Rei membuat pak Edo semakin heran.


"Lah terus?"


"Dia gak nyatain apa-apa sama saya. Saya cuma jelasin siapa yang sudah membuatkan sarapan buat saya dan memberikan ini." Jelas Rei seraya memberi kertas yang sama yang tadi diberikan pada bu Desy kepada pak Edo.


"Widih, pak Rei mau nikah?" Tanya pak Edo.


"Bukan mau, tapi saya sudah nikah. Itu tu undangan resepsinya." Penuturan Rei membuat pak Edo juga terkejut.


"Ya ampun pak Rei, selamat ya! Saya baru tau." Ucap pak Edo mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rei.


"Iya maksih pak Edo. Kalo boleh, tolong bagikan ini juga buat yang lain. Itupun kalo pak Edo gak keberatan." Tutur Rei dan disambut senang pak Edo.


"Tentu saja. Nanti saya bagikan!"


"Baiklah, terima kasih pak!" Balas Rei.


Pak Edo pun keluar dengan membawa tumpukan undangan untuk karyawan lain juga. Rei tersenyum, akhirnya Ia bisa mempublish pernikahannya sekarang.


******************

__ADS_1


Jangan lupalan jejaknya yaa gaiss🤗


__ADS_2