
Siska melongo mendengar penuturan pria disebrang sana. "Dikira mau marawis bang, pake gamis segala? Gerah atuh kalo tidurnya tertutup?" Timpal Siska.
Namun Ia berfikir sejenak, lalu memperhatikan penampilannya. "Astagfirulloh!!!" Kagetnya membuat bang Agung tersenyum.
"Abang tadi lihat aku kek gini?" Tanyanya shok dan dijawab anggukan bang Agung. "Terus lihat pa-" Iya tak meneruskan ucapannya dan menutup mulutnya dengan mngedipkam matanya berulang kali.
Hal itu justru membuat bang Agung tertawa merasa gemas dengan adek imutnya itu. Kalau dekat ingin sekali Ia sentil jidat yang sudah seperti candu baginya itu.
Siska menunduk menyembunyukan pipinya yang terasa panas dan mungkin juga memerah. Ia merasa malu pada abang Agenya itu. Untuk pertama kalinya Ia memperlihatkan paha mulusnya didepan lawan jenisnya.
"Makanya pake baju tuh yang bener. Untung aja gue yang nelpon. Kalo cowok lain gimana coba?" Omel bang Agung.
"Iya maaf! Tapi kan emang kek gini aku tiap malam. Terus lagi aku gak pernah nerima telpon dari siapapun dipagi hari, kecuali sekarang sama abang. Jadi gak ada yang lihat aku berpenampilan kek gini." Tutur Siska panjang lebar.
Tanpa keduanya sadari, keduanya tengah memberikan perhatian dan pengertian satu sama lain. Namun ego keduanya masih terlalu tinggi untuk mengakui itu.
"Cih. Paha burik kek gitu aja dipamerin!" Ledek bang Agung.
"Enak aja bilang burik? Paha mulus gini juga. Mau lihat lagi? Nih!" Tantang Siska merasa tak terima. Siska mengangkat Hpnya tinggi-tinggi meperlihatkan kakinya yang dilipat memenuhi layar Hpnya.
"Eeehh apa-apaan sih lu, gak usah!" Namun sayangnya, Ia terlanjur melihatnya. Bang Agung segera menjauhkan Hp nya dari wajahnya yang seketika memerah.
'Sialan tuh bocah! Kalo deket bahaya! Bisa khilaf gue. Mana mulus banget lagi.' Gerutunya dalam hati.
"Gimana bang masih gak percaya kalo pahaku no burik-burik!" Tanya Siska.
"Iya! Iya gue percaya. Udah gak usah dijauhin lagi Hp nya deketin aja!" Titahnya yang masih menjauhkan Hpnya, agar tak melihat pemandangan lucknut itu.
Siska kembali mendekatkan Hpnya. "Ya nih dideketin bang, biar gak kangen ya!" Timpal Siska dengan cengiran kudanya.
Ia yang begitu polos merasa tak berdosa dan santai-santai saja. Berbeda dengan bang Agung, yang sudah beberapa kali menghela nafasnya kasar.
"Lu bener-bener yah!" Bang Agung kembali menghembuskan nafasnya kasar.
"Napa sih bang? Aneh deh." Tanya Siska heran, namun tak ada jawaban dari abangnya itu.
"Eh! Dede Aska maaf ya Onty anggurin. Ntar deh kapan-kapan Onty apelin." Timpalnya tergelak sendiri, membuat baby Aska disebrang sana ikut tertawa mengoceh tak jelas.
"Idihh ngapelin cenah. Kek tau aja diapelin." Sindir bang Agung.
__ADS_1
"Tau lah! Ini aku pagi-pagi lagi diapaelin sama dua cowok sekaligus malah." Timpal Siska cekikikan.
Bang Agung mencebikan bibirnya, namun tak ayal tersenyum juga.
"Katanya kangen? Terus mau kapan kesini?" Tanya bang Agung.
"Emm.. Gak tau juga. Besok aku mulai ujian. Mungkin ntar kalo libur panjang." Jawab Siska dan diangguki bang Agung.
"Atau gak abang sama dede aja kesini. Gak etis juga kalo cewek yang nyaperin mulu." Ucap Siska.
"Idiihh ngapain juga gue mesti nyamperin lu. Gak ada kerjaan banget." Protes bang Agung.
"Ya kali ngobatin rindunya aku sama dede gitu. Ya kan de. Kangennn!!!" Rengek Siska dengan manjanya. Dengan wajah yang begitu menggemaskan menurut pria dihadapan layarnya itu.
Membuatnya semakin gereget, apalagi melihat panyunan itu, ingin rasanya Ia tampol pake bibir. Eh!
"Ck. Udah gak usah kek gitu! Ngeri gue lihatnya." Membuat Siska mencebikan bibirnya dan semakin membuatnya maju beberapa senti. Bang Agung yang melihatnya sampai mengusap wajahnya.
"Udah ntar kalo lu libur, langsung kesini! Sekarang cepetan sana lu mandi. Cewek kok jorok banget." Omelnya.
"Tapi kan masih kangen!" Timpal Siska.
"Janji ya!" Ucap Siska girang dan diiyakan bang Agung. Ia yang tak bisa lama-lama melihat ekspresi menggemaskan adek imutnya itu, tentu lebih memilih mengakhiri panggilannya. Bahkan tanpa basa basi lagi Ia langsung menutupnya.
Setelah sambungan terputus, bang Agung lagi-lagi menghela nafasnya kasar. Ia berjalan membawa baby Aska yang tiba-tiba rewel kala wajah Siska tak dilihatnya. Memberikan putranya itu pada sang Mamih.
Ia berjalan memasuki kamarnya, mendudukan dirinya ditepi ranjang. Bayangannya kembali pada gadis imutnya itu.
"Ya ampun! Gue kenapa sih? Napa tu bocah nongol mulu? Mana ngegemesin banget lagi." Ia sampai mengusap wajahnya kasar.
Ia beralih menatap wajah mendiang sang istri yang terpampang jelas diatas nakas. Lalu Ia ambil foto itu. "Maafin abang ya Cha! Abang gak maksud buat hianatin kamu. Tapi entah kenapa tu bocah ngintil mulu diotak abang? Abang bingung Cha?" Keluhnya pada foto itu.
Beberapa hari ini, entah kenapa dirinya terus memikirkan gadisnya itu. Kata-kata penyemangatnya selalu terngiang ditelinganya. Hingga saat tadi pagi Ia memberanikan diri untuk menelponnya, dengan berdalih sang putra yang merindukannya. Padahal Ia ingin mendengar kembali suara itu.
**
Siang harinya, seorang gadis tengah mondar mandir layaknya setrikaan diteras depan. Sang Ibu yang tengah menyiram tanaman sampe berhenti melihat kelakuan putrinya itu.
"Kamu kenapa Sis? Ibu pusing lihat kamu mondar mandir terus." Omel Ibu.
__ADS_1
"Aku lagi nunggu seseorang bu." Timpal Siska.
"Siapa?" Tanya Ibu penasaran.
"Isshh ibu mah kepo! Ada lah."
Ibu hanya mencebikan bibirnya dan kembali ke rutinitas awalnya. Tiba-tiba sebuah motor matic memasuki halaman rumahnya. Si tamu menyapa ibu lebih dulu, bahkan mencium takzim tangannya. Kemudian Ia menghampiri Siska yang sudah duduk dikursi teras.
"Hai Sis?!" Sapanya ikut duduk dikursi sebrang Siska.
"Haii! Ada apa Ga?" Tanya Siska.
"Nih!" Ia menyodorkan beberapa buku dimeja. "Gue udah rangkum semua pelajaran buat ujian besok. Lu baca ya!" Titahnya dan dijawab anggukan Siska.
"Tadi malam gue telepon, lu kek gak semangat. Apa lu sakit?" Tanya Rangga dengan perhatiannya.
"Nggak! Itu tuh gue udah ngantuk banget." Timpal Siska dan dijawab oh ria pemuda disisi sebrangnya itu.
"Sekarang lu sibuk gak? Kita jalan yuk! Sekalian cari makan siang. Gimana?" Ajak Rangga.
"Gue-" Belum selesai ucapannya, Hpnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia lihat layar pipih itu dan seketika senyumnya mengembang. Ia menerima panggilan itu seraya memberi kode pada Rangga 'Bentar'.
"Haii dede? Udah mimi belom?" Tanyanya girang.
"Udah. Lu lagi ngapain?" Tanya si abang Age.
"Lagi nyantai aja nih diluar." Timpalnya.
Rangga yang merasa penasaran mendengar suara lelaki dari sebrang telepon, melongokan wajahnya hingga masuk dilayar.
Deg!
'Wah hama!' Batinnya.
*************
Gak bosen-bosen yaa ngingetin readers buat ninggalin jejak😁
Kasih like dan komennya! Vote dan taburan bunganya juga boleh😊
__ADS_1