Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 96 Besanan


__ADS_3

Gelak tawa begitu renyah dari ibu dua anak yang tengah mendengarkan curahatan kakak iparnya. Ia sampai mengeluarkan air mata dan memegang perutnya, saking lepasnya Ia tertawa.


"Ada-ada aja sih! Terus mereka ngerti gak?" Tanya Ayra disela tawanya.


"Entah! Kek nya nggak deh. Buktinya mereka makin nanya kemana-kemana." Jawab Siska seraya memberikan mimi pada putrinya.


"Itu mah fix. Mereka bukan pengen tau ke uwuan kalian, tapi pengen cari tau titik ributnya kalian." Tutur Ayra.


"Iya kek nya. Tapi udahlah gak penting juga." Timpal Siska. "Oh iya, katanya Mamih mau kesini?" Tanyanya.


"Mamih lagi ikut arisan sama ibu. Entah kesini atau nggak! Kalo Aysa katanya mau kesini sama Agel juga." Balas Ayra dan dijawab anggukan Siska.


"Sebelah mana yang disuntik?" Tanya Ayra memperhatikan keponakan cantiknya.


"Ini dikaki kanan." Jawab Siska dan diangguki Ayra.


"Ini sih gak seberapa, dulu waktu Shaka imunisasi DPT satu, dia rewelnya ampe berhari-hari." Tutur Ayra dan dijawab anggukan Siska. "Dan parahnya lagi, gue ampe gak mandi-mandi." Lanjutnya.


"Hah? Kenapa?" Tanya Siska.


"Ya dia nya gak mau digantiin. Nempel mulu. Yang biasanya nemplok dipapa nya, kalo lagi rewel gak mau digantiin dia." Tutur Ayra.


"Bener-bener harus sabar ya!" Tutur Siska dan dijawab anggukan oleh Ayra.


"Tapi ya, aku salut sama kalian. Shaka sama Sensen kan, jarak lahirnya dekat ya? Gimana caranya mengurus mereka sekaligus?" Tanya Siska merasa takjub. Pasalnya Ia yang menjaga satu bayi aja udah kerepotan. Nah ini dua, luar biasa. Pikirnya.


"Bisalah. Kan Akanya sama ibu." Balas Ayra cekikikan dan membuat mereka tertawa.


Ditengah obrolan mereka. Datang dua wanita memasuki rumah.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Kalian kesini bareng?" Tanya Ayra.


"Iya. Sengaja irit bensin!" Balas Agel membuat mereka tergelak.


"Idihh! Sultan ngirit!" Ledek Siska.


"Kalo mau jadi crazy rich emang harus gitu Sis!" Balas Agel.


"Iya deh. Aku mau belajar ngirit juga biar jadi sultan kek kak Aysa!" Balas Siska dan hanya ditanggapi senyuman dan gelengan dari wanita yang sudah tak menunjukan wajah datarnya itu.


"Nty Sen ana?" Tanya balita cantik yang sedari tadi diam memperhatikan emak-eamknya.


"Sensen ada dikamar Aka. Kalian susul gih!" Titah Ayra pada kedua balita yang tampak kalem itu dan dijawab anggukan Jinjin.

__ADS_1


"Ma. Aku mau main sama Sen boweh?" Tanya balita cantik itu meminta izin terlebih dahulu pada sang Mama.


"Iya sayang. Boleh! Jangan nakal ya!" Ucap Agel memberi pesan pada putri cantiknya seraya mengusek pucuk kepalanya.


Berbeda dengan Jingga yang meminta izin terlebih dahulu dengan sang Mama. Balita tampan yang kalem dengan wajah datarnya hanya nyelonong begitu saja, tanpa berkata apapun mengekori Jingga dari belakang.


Semua emak-emak disana hanya menggelengkan kepalanya melihat bocah tampan yang begitu dingin itu.


"Apa dirumah, dia juga kek gitu?" Tanya Siska heran dan dijawab anggukan Aysa.


"Amazing!" Ucap Siska seraya menggelengkan kepalanya membuat mereka keheranan.


"Kenapa?" Tanya Ayra.


"Pasti dirumah tentram banget. Gak ada ribut-ribut nangis." Tutur Siska membuat mereka tertawa.


"Justru itu. Rumah jadi sepi. Kek gak punya anak!" Balas Aysa.


"Kenapa gak bikin lagi?" Tanya Siska seraya menidurkan bayi cantiknya di sofa, disisinya.


"Tiap hari juga bikin. Ya gak Sa?" Goda Ayra dan hanya dibalas senyuman saudara sepupunya itu.


"Tapi buat jadinya butuh proses." Balas Agel membuat mereka kembali tertawa.


"Oh iya Sis. Gimana tragedi empat puluh harinya? Lu gak kabur kan?" Tanya Agel.


"Ya udah lu titip aja dulu si cantik sama Mamih biar gak ganggu." Timpal Ayra disela tawanya.


"Idihh malu lah! Emang aku kak Ay, yang nitipin anak sama mertua buat buka puasa?" Ledek Siska membuat mereka semakin tergelak.


*


Sementara para emak-emak tengah sibuk dengan pembahasan buka puasa. Para bocah tengah sibuk dengan mainan yang keluar semua dari dalam box.


"Ihh Aka itu puna aku. Ciniin!" Pekik Sena kala sang kakak mengambil boneka minions dari tangannya.


"Nda. Pinjam dulu!" Elaknya.


"Aka ihh!!" Rengek Sena, namun sepertinya sang kakak sungguh asyik sekali menggoda adiknya.


"Sha! Nda boleh gitu. Kasih dede!" Titah Aska menenengahi. Namun Shaka semakin menjulurkan lidahnya.


Sena sudah berlinang air mata kala sang kakak tak mau juga memberikan mainannya. Sungguh kakak jahara.


Aska mencoba menenangkan sang adik dengan membrrinya mainan lain. Namun Sena masih tetap cemberut, tak mau diganti. Sementara itu, Shaka yang asyik meledek sukses dapat tarikan dikupingnya dari balita cantik disampingnya. Hingga Ia melepaskan boneka kuning itu dan langsung diambil oleh Abi.


"Aww!! Aww!! Cakit!" Pekiknya. "Epasin Jin, cakit!" Pintanya.

__ADS_1


Akhirnya Jingga melepaskan tarikannya. Seraya menatap Shaka tajam. "Nda boweh gitu cama Sen!" Ucapnya seraya menggelengkan jari telunjuk didepan wajahnya.


Shaka cemberut dengan menganggukan kepalanya kala melihat air muka Jingga. Jingga tersenyum seraya menepuk-nepuk rambut Shaka. "Nah gitu! Pinten!" Ucapnya membuat Shaka ikut tersenyum.


Sementara itu, Abi yang mengambil boneka kuning dari tangan sepupunya segera memberikannya pada Sena. "Janan nanis! Nih!" Ucapnya.


Sena yang tengah menunduk pun mendongak dan segera menyambar boneka kuning itu dan dipeluknya. "Maacih Bi!" Ucapnya seraya memeluk tubuh Abi, hingga senyum tipis dari wajah datar itu tersungging manis.


"Bi ebat!" Ucapnya seraya mengacungkan jempolnya disertai senyuman manisnya. Setelah Ia melepaskan pelukannya.


"Nih! Aka bawa boneta lain." Ucap Aska kala dirinya keluar sebentar untuk mencari boneka lain dari kamar timomnya.


"Nda mau kak! Dah dapet agih. Nih! Bi ambin Aka." Balas Sena seraya menunjukan boneka kuning yang sekarang sudah kembali ditangannya.


"Hmm ya udah!" Balas Aska dengan wajah cemberutnya.


"Cini kak! Boba na buat aku!" Jingga merebut boneka boba yang dipegang Aska hingga membuatnya tersenyum.


"Janan pada lebutan lagi ya! Kita main baleng!" Ucap Aska dan dijawab senyum dan anggukan kedua balita cantik itu, tapi tidak dengan kedua balita tampannya.


"Kita main bola aja kak! Bocen aku!" Ajak Shaka.


"Diluan panas. Dicini aja!" Tolak Aska.


"Nda mau. Pokona mau main bola. Ayo!" Ajak Shaka memaksa dengan menyeret tangan sepupunya.


Dengan terpaksa Aska mengikuti langkah Shaka, mereka keluar diikuti ketiga balita juga dibelakangnya.


"Eh kalian mau kemana?" Tanya Mama Ay.


"Main bola, Ma!" Jawab Shaka.


"Jangan diluar panas!" Larang Mama Ay, namun mereka tetap memaksa keluar.


Ayra hanya menghembuskan nafasnya panjang. Sungguh susah sekali mengatur putranya itu.


"Kenapa?" Tanya Agel.


"Gue bingung sama putra gue. Susah banget buat diatur." Balasnya seraya melihat mereka yang bermain diluar.


"Suatu hari nanti, dia butuh pendamping yang sabar dan bijak." Penuturan Ayra membuat Agel melirik kearah Ayra, begitupun sebaliknya. Hingga keduanya tersenyum penuh arti.


"Siap besanan?" Tanya Ayra, lalu keduanya pun tergelak.


****************


Mari-mari ramaikan! Masih ada lagi ntar malan di up yaa😊 Yuk stay cyun! Buat nemenin si abang buka puasa euyy🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2