Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 102 Aka yang baik!


__ADS_3

Suara deru mobil terdengar hingga ruang tv. Kedua balita cantik itu berebut ingin melihat siapa yang hendak menyambangi rumah itu dari kaca jendela.


"Yey!! Aka puwang!" Jerit Kia dengan jingkrakannya diikut Vani juga.


Keduanya berlari kearah depan pintu untuk menyambut sang kakak yang keluar dari sebuah mobil bersama dua saudaranya. Mereka pulang sekolah dengan dijemput sopirnya bang Ar.


"Assalamualaikum!" Sapa ketiga bocah itu serempak.


"Waalikumsalam!" Balas kedua ibu yang ikut menyambutnya.


Keetiganya menyalimi takzim kedua ibu itu bergantian. Senyum terukir dari bibir Siska. Ia begitu bangga dengan dirinya sendiri, bisa mendidik putranya menjadi anak yang begitu sopan.


"Aka!" Pekik Kia seraya merentangkan tangannya meminta pelukan dari kakak tersayangnya.


Aska tersenyum dan segera mendekap tubuh mungil adiknya. Tak lupa ciuman diwajah chuby nya diberikan sang kakak.


"Dede nakal gak?" Tanya Aska seraya melepaskan dekapannya dan mengusap rambutnya.


"Nda don. Dede pinten, kek Aka!" Jawabnya membuat mereka tersenyum.


"Jangan cuma Aka aja! Peluk Sensen juga dong!" Pinta Sena pada saudara sepupunya itu.


Kia tersenyum dan berhambur memeluk tubuh saudaranya, membuat keduanya tertawa bersama.


Sementara para bocah tengah sibuk dengan dunianya, timom dan sahabatnya berlenggang ke dapur untuk membuat makan siang.


Kedua bocah cantik itu melerai pelukannya. "Aka Sha? Mau peyuk juda?" Tanya Kia pada sepupunya satu lagi yang hanya terdiam seraya melipat tangannya didada.


"Ck! Nggak mau!" Tolaknya dengan berdecak kesal melihat ke lebayan saudara-saudaranya itu menurutnya.


Kia hanya memanyunkan bibirnya mendengar jawaban sepupunya yang tak asyik itu menurutnya.


Ditengah kehebohan mereka, Vani hanya terdiam dengan melirik mereka satu persatu tanpa mau ikut nimrung. Ia yang memang kurang dekat dengan saudara-saudara sahabatnya itu, merasa malu pada mereka.


"Hai Vani!" Sapa Sena. "Ihh! Makin cantik deh!" Pujinya seraya menjewel kedua pipinya gemas, membuat Vani menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Yuk kita main boneka-bonekaan!" Ajak Sena dan dijawab anggukan kedua balita itu.


Merekapun bermain didepan tv dengan keadaan yang sudah berantakan disana. Para gadis sibuk dengan boneka ditangan masing-masng. Dan kedua bocah tampan yang sibuk merangkai lego ditangannya.


Sementara itu didapur, kedua ibu tengah berperang dengan aci yang meminta loncat dari wajan. Dengan menggunakan tutup panci, Lia masih enggan mendekatinya.


"Lu sih, harusnya tu minyaknya jangan dibuat matang dulu." Protes Siska.


"Lu nya baru ngomong sih, gue nya kan gak tau!" Sangkal Lia.

__ADS_1


Dug tak tak!


Para aci memaksa meloncat sampai tutup panci yang dipakai untuk nenutupinya terangkat ke atas.


"Udah cepetan! Matiin! Matiin kompornya!" Pekik Siska seraya mendorong tubuh Lia untuk mendekarti komppr.


"Iya! Iya! Ini juga mau dimatiin." Balas Lia.


Dengan ragu Lia mencoba mendekati kompor. Keringatnya jatuh bercucuran kala langkahnya hampir mendekati meja dimana benda itu menghasilkan api. Takut-takut terkena semburan minyak, Ia pun membawa tutup panci cadangan untuk menghadang wajahnya. Hingga dengan cepat Ia matikan kompornya dan segera ngibrit menjauh.


Huhh~~


Helaan nafas panjang dihembuskan keduanya kala melihat wajannya sudah terdiam tak mengeluarkan suara letusan lagi. Siska mendekat dan membuka tutup itu. Ia angkat gerobombolan aci yang sudah mengembang itu dan meniriskannya.


"Alhamdulillah! Selamat!" Ucap Lia seraya memegang dadanya dan sukses membuat keduanya tergelak.


Keduanya selesai membuat cemilan favorit mereka semasa sekolah setelah sebelumya memasak terlebih dahulu untuk para bocil mereka. Cimol yang dibaluri penyedap dan bubuk cabe begitu menggiurkan dimata keduanya.


Setelah berbagai persiapan dan penyajian, kini kedua ibu dan para bocilnya bersiap untuk makan siang. Dengan drama berebut kursi terlebih dahulu, akhirnya mereka pun menikmati makanannya tanpa ada seorangpun yang mengeluarkan kata. Hingga suasana pun hening dan hanya denting sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar.


Setelah selesai dengan makan siangnya, Shaka dan Sena berpamitan pulang. Sang Mama yang menelpon sudah misuh-misuh disebrang sana kala tau kedua buah hatinya malah mampir terlebih dahulu pada rumah timomnya.


Kini menyisakan Aska dan kedua balita yang tengah menyusun tumpukan blok disana.


"Ini salah! Bukan kek gini." Aska mengambil tumpukan yang ditumpuk balita cantik disisinya seraya memasangkannya dengan benar.


"Yeyy! Aka ebat! Maacih ya!" Ucapnya dan dibalas senyuman dan usekan dirambutnya dari si bocah tampan nan kalem itu.


"Aka! Puna aku wusak!" Rengek Kia.


Dengan sabar sang kakak memperbaiki tumpukan yang dibuat sang adik. Tak pernah sedikitpun bocah tampan itu mengeluh meski adiknya selalu menyusahkannya. Ia selalu berusaha menjadi kakak yang baik yang mau mengalah pada adiknya.


Ditengah kesibukannya, tiba-tiba kepala seseorang bersandar dibahunya dan membuat Ia menoleh. Ia tersenyum mendapatai Vani sudah terlelap dibahunya. Ia hanya bisa terdiam tanpa mau membangunkan atau pun memindahkannya. Ia hanya bisa melirik dari samping wajah imut yang terlelap itu begitu menggemaskan.


Hingga sang Mama datang menghampirinya. "Ya ampun! Vani tidur ya?" Tanyanya dan diangguki Aska.


"Bentar-bentar!" Lia mengambil layar pipih dari saku celananya dan mengarahkan pada keduanya.


"Oke! Senyum kak!" Intruksinya.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


"Uhhh gumushnya! So sweet!" Pekik Lia begitu heboh mengabadikan momen yang begitu manis menurutnya.


Aska hanya menghembuskan nafas pasrah kala ibu dari gadis kecil disampingnya memotret keduanya. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendapati tingkah si ibu ini.

__ADS_1


"Maaf Onty, bahu Aka pegel. Boleh pindahkan Vaninya?"


Akhirnya setelah sekian lama melihat Mama Lia sibuk sendiri dengan layar pipihnya, Aska pun memberanikan diri untuk bicara.


Lia pun terlonjak mendengar penuturan bocah tampan yang Ia klam calon mantunya itu. "Ya ampun! Maafin mama kak! Mama lupa!" Sesalnya seraya mengangkat Vani dan memindahkannya kesofa.


Aska pun menghembuskan nafasnya panjang seraya menggerakan bahunya yang terasa kebas. Sungguh biarpun gadis itu kecil, namun tetap saja terasa berat dipundaknya.


Ia berlalu ke kamarnya untuk mengambil sesuatu dari sana dan kembali membawanya keluar.


"Nih! Ti." Ternyata Ia membawa selimut kecil untuk sang gadis.


Lia menganga merasa tak peracaya dengan perhatian calon mantunya itu. Ia meraih selimut itu dengan perasaan terharu. "Ya ampun kak! Kamu baik banget. Makasih ya sayang! Calon mantunya mama." Ucapnya seraya mengusek kepalanya.


Aska hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Lia pun menyelimuti putrinya yang sama sekali tak terusik.


*


Sementara sahabatnya sudah terlelap, namun Kia sama sekali tak ingin menyusulnya ke alam mimpi. Ia masihh asyik bermain dengan tumpukan blok ditemani sang kakak.


"Dede gak mau bobo?" Tanya Aska.


"Nda. Dede nda nantuk!" Balas Kia.


"Kenapa? Tuh lihat! Vani aja bobo." Balas Aska.


"Vani mbo, ada Aka peneyan na. Bica banun agi."


Aska mengerenyit kurang memahami ucapan adiknya. "Maksudnya?" Tanyanya.


"Isshh! Maktudna Vani putina, Aka paneyan na." Jelasnya. "Tewus kao aku mbo nda ada paneyanna." Lanjutnya.


Aska pun mengangguk baru memahami ucapan adik kecilnya. Ternyata adik kecilnya tengah membahas putri tidur.


"Terus pangeran dedenya kemana?" Godanya.


"Nda ada cini." Balasnya.


"Emang dimana?" Godanya lagi.


"Ada di deca." Balas balita cantik itu, hingga sang kakak terkekeh, karena tak memahami hal itu.


*****************


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss๐Ÿ˜Š

__ADS_1



Ini Aka yang paling baik๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2