
Blush!
Merona sudah pipi chuby itu. Sungguh penuturan sang kekasih menghangatkan seluruh tubuhnya.
"Ihh om!!" Rengek Kia tertunduk malu.
Rei terkekeh dengan ekspresi gadisnya. "Kenapa? Emang bener kan." Ucapnya tersenyum.
"Coba kamu rasain!" Titahnya seraya menggenggam erat tangan yang masih bertengger di dadanya. "Ini bahkan lebih aneh." Tuturnya, hingga sang gadis mendongak dengan menaikan satu alisnya.
"Kenapa?" Tanya Kia heran.
"Perasaan ini semakin hari semakin tak bisa dikendalikan. Hanya menyebut namamu saja, jantung ini semakin tak menentu." Jelas Rei begitu serius.
"Aisshh. Udah deh gak usah gombal mulu." Ucap Kia kembali tersipu.
"Siapa yang gombal? Ini tuh serius!" Balas Rei.
"Tapi itu kedengarannya asing. Kek bukan om, yang aku kenal." Protes Kia.
"Emang bukan." Balasnya lagi, hingga sang gadis mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Hah?!"
Rei tersenyum seraya membelai rambut Kia dengan sayang. "Sekarang kan bukan om lagi." Ucapnya.
Lalu mencondongkan wajahnya mengikis jarak dengan sang gadis. "Tapi, calon suami kamu." Ucapnya dengan menatap dalam gadisnya.
Kia ikut tersenyum lebar mendengar penuturan om yang sekarang sudah resmi menjadi calon suaminya itu. Sungguh ingin rasanya Ia teriak, mengitari komplek. Mengumumkan kebahagiaannya yang tak bisa diukur dengan apapun. Namun Ia masih tak sanggup jika harus dikejar satpam rumah pak Anwar yang selalu sigap dengan gonggongannya kala mendengar suara lengkingan siapapun. Jadi Ia biarkan saja rasa bahagianya hanya dirasa oleh dirinya dan sang pacar.
Rei hendak menggapai kembali benda kenyal yang selalu menarik perhatiannya itu. Hingga tinggal beberapa mili meter lagi, tarikan ditelinga didapatinya. Keduanya mengaduh mendapatkan cubitan panas dikulit tebal yang mampu membuat konsentrasi keduanya ambyar.
"Aaaww! Aww! Sakit." Pekik serentak keduanya.
"Bagus ya, main sosor-sosoran aja! Hem?" Omel seorang wanita dengan gemasnya.
"Aww!! Timom, apa-apan sih, sakit!" Protes Kia.
"Apa-apaan, apa-apaan! Kalian yang apa-apaan?" Omelnya lagi. "Jadi gini kelakuan kalian saat jauh dari kita? Hah?" Cecarnya tanpa mau melepas jewelan ditelinga keduanya.
"Aduh mom sakit. Om aja yang dijewel aku mah jangan!" Protes Kia lagi.
"Kenapa jangan? Kamu juga sama aja!" Balas sang timom.
"Nggak mom, sakit lepasin! Itu om duluan. Aku gak tau apa-apa, aku mah ngikut aja! Beneran, om yang ajar-" Protenya lagi dan langsumg membekap mulutnya dengan sebelah tangan, karena sudah keceplosan.
__ADS_1
Ia melirik kearah sang pacar yang sudah menatapnya lesu. Kia menunjukan muka memelas pada pria kesayangannya, seolah meminta maaf.
Rei hanya menghembuskan napasnya panjang. Sepertinya Ia harus mempersiapkan telinganya untuk mendengarkan ceramah panjang kali lebar yang akan dilontarkan oleh sang kakak yang sudah berganti jabatan menjadi calon ibu mertuanya. Ia sudah pasrah, wanita didepannya pastilah akan mengadu pada ayah dan ibunya, bahkan mungkin juga pada suaminya.
"Kalian itu ya! Huh!" Ucap timom kesal seraya melepas tarikan tangan didaun telinga keduanya, lalu berkacak pinggang.
Timom merasa tak habis pikir pada keduanya. Membayangkan mereka bersama dan satu atap selama hampir setahun ini, membuat pikiran ibu dua anak ini melanglang buana hingga membayangkan hal yang tidak-tidak. mungkinkah hal itu sering keduanya lakukan? Ataukah mereka juga melakukan lebih dari itu? Pikirnya.
Sungguh mebayangkannya saja, sudah membuat darahnya mendidih. Otaknya penuh dengan prasangka curiga dan juga banyak hal negatif lainnya. Matanya menatap nyalang pada pemuda didepannya.
"Katakan! Sejak kapan?" Tanyanya dengan nada perintah dan tegas. Hawa mendadak dingin dan menusuk, dari tatapan wanita yang masih saja imut diusianya itu.
Rei membalas tatapan itu. Ia tak boleh takut. Apa yang sudah dilakukannya, memanglah harus dipertanggung jawabkan olehnya. "Hubungan kami gak sejauh itu kak." Balas Rei.
"Oh ya? Apa perkataanmu bisa dipercaya?" Tanya timom yang masih tak percaya padanya.
"Menurut kakak? Apa aku orang seperti itu?" Bukan menjawab Rei kembali bertanya padanya.
Timom menghembuskan napasnya kasar. Perasaannya benar-benar kacau. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat.
"Maafin aku kak! Gak seharusnya aku kek gitu." Sesalnya. Namun tak ada jawaban dari wanita yang masih terdiam seraya menunduk itu.
Kia sudah menunduk lesu, merasa bersalah pada sang pacar karena ucapannya yang terpeleset tadi. Yang akhirnya menyebabkan sang timom murka.
"Aku mohon kak, jangan kasih tau yang lain! Aku gak bisa jauh dari dede." Pintanya dengan wajah memohon.
Begitupun Kia, Ia sampai mendongak dan menatap tak percaya sang timom yang tiba-tiba saja membawa bahasa abege didepannya. Sang timom yang biasanya lembut didepannya mendadak kembali keusia abege nya, sungguh hal yang luar biasa. Pikirnya.
Berbeda dengan shoknya Rei. Jika sang kakak sudah mengeluarkan bahasa kerajaannya, dapat dipastikan dia bener-bener marah padanya. Sudah lama bahasa itu baru terdengar lagi, sejak dirinya menginjak dewasa bahasa itu sudah hilang entah kemana.
"Kak?" Cicitnya.
"Jangan panggil gue kakak!" Tegasnya.
"Mom?!" Kini Kia yang bersuara.
"Diam!" Tegasnya lagi, hingga sang gadis benar-benar terdiam tak berkutik.
"Lu tau apa kesalahan lu?" Tanyanya pada Rei dan dijawab anggukan olehnya.
"Iya!"
"Apa?" Tanyanya lagi.
"Udah mengajarkan dede hal yang tidak seharusnya." Balas Rei sedikit ragu.
__ADS_1
"Terus?"
"Maafin aku. Aku salah!" Sesalnya menundukan pandangannya.
"Satu hal lagi kesalahan lu." Ucapnya hingga kedua anak manusia itu mendongak menatap kearahnya.
Sang timom menghembuskan napasnya panjang. "Panggilan lu. Coba ulang!" Titah.
"Ka, kakak?!" Ucap Rei dengan hati-hati.
"Udah dibilangin jangan panggil kakak!" Tegasnya hingga kembali membuat keduanya diam.
"Lu denger baik-baik!" Ucapnya lagi membuat mereka sedikit tegang.
"Mulai sekarang, lu harus panggil gue," Lanjutnya dan menjeda kalimatnya membuat mereka semakin tegang.
"Timom!!!"
Kata terakhir dari wanita didepannya membuat kedua anak manusia itu melongo.
"Gue bukan kakak lu lagi. Sekarang gue calon mertua lu! Panggil gue yang sopan." Lanjutnya.
Alih-alih mereka sudah dibuat tegang, eh ujung-ujungnya membuat sang gadis tergelak. Penuturan timomnya membuat Kia bener-bener memecahkan tawanya. Rei benar-benar tercengang dengan penuturan kakak yang sekarang harus Ia akui sebagai calon ibu mertuanya itu. Ia ikut tersenyum menanggapi hal itu. Setelah sekian purnama, Ia baru melihat lagi kesomplakannya.
"Udah jangan pada ketawa!" Titahnya hingga sang putri menghentikan tawanya.
Kia berhambur memeluk tubuh wanita hebatnya itu dan mencium pipinya. Hingga membuat sang timom risih. "Udah ah geli."
"Makasih ya timom! Aku kira timom bakal ngamuk-ngamuk." Ucap Kia.
"Timom mana bisa ngamuk-ngamuk. Emang papih kamu!" Balasnya dan kembali mendapat dekapan hangat dari putrinya.
"Tapi kalian harus inget! Timom gak suka dan gak pengen lihat kalian kek gitu lagi." Lanjutnya memperingati.
"Iya. Mom! Gak lagi. Makasih ya, gak kasih hukuman buat kita." Balas Kia.
"Siapa bilang gak dikasih hukuman?" Sangkal Timom.
"Lah, emang mau dikasih hukuman apa?" Tanya Kia.
"Hukumannya," Timom menjeda ucapannya dan menyeringai, membuat sejoli itu kembali tegang. "Kalian dipingit!" Lanjutnya.
**************
Sepi amat yaa? Apa ceritanya udah gak menarik lagi, apa gimana ini?
__ADS_1
Yuk dong ramaikan! Mak othor kesepian iniš¤§