
Sorak sorai dari penonton kembali riuh. Dengan kebucinan yang ditunjukan keduanya, membuat mereka melupakan status yang Rei sebutkan tadi.
"Jadi gimana menurut kalian, ini sah tidak?" Tanya sang MC.
"Sah!!!" Teriak penonton dengan serempak.
Kia melebarkan senyumnya dan menubrukan diri kedalam dekapan sang kekasih. Hingga tepuk tangan kembali riuh.
Azril berdecih seraya meninggalkan tempat itu dan kembali pada sang gadis yang siap menceramahinya. Azril tetap berjalan pergi dengan perasaan kesalnya, tanpa mendengar omelan kekasihnya.
Setelah acara tanda tangan dan penyerahan, sepasang kekasih dengan status ponakan om itu, memutuskan kembali pulang.
"Gak nyangka ya om, kita bisa menang." Ucap Kia ketika mereka sudah berada didepan motornya.
"Iya. Hampir aja tadi kamu jatuh. Maafin om ya!" Sesal Rei dengan tangan yang mengusek kepalanya.
"Gak papa om. Aku kan gak jatuh. Lagian, kalo aku jatuh, kita akan jatuh bersama. Karena aku akan selalu berpegang erat pada om." Balas Kia, hingga sang pacar pun menyunggingkan senyuman manisnya.
Perkataan sang gadis mengandung makna lain yang dapat Ia jabarkan. Ia genggam sebelah tangan gadisnya dan memabawanya kedepan bibirnya dan mendaratkan kecupannya disana.
Hal itu kembali membuat Kia tersipu. Perlakuan sang pacar selalu menjadikannya wanita yang begitu spesial. Rei memasangkan helm pada gadisnya, lalu padanya bergantian sebelum keduanya menaiki sang kuda besi dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
**
"Assalamualaikum!"
Kia memasuki rumah yang terlihat sepi. Ia celingukan melihat tak ada siapaun yang Ia jumpai disana. Dengan wajah keheranan, Ia menerobos kesetiap ruangan mencari si penghuni rumah. Namun nyatanya nihil.
"Pada kemana, sepi amat?" Tanyanya pada diri sendiri. "Apa timom sama papih kerumah om Rangga ya?" Tanyanya lagi.
Ia berlenggang kedalam kamarnya dan menyimpan paper bag yang didapatnya tadi. Karena terlalu penasaran, Ia pun memutuskan untuk mengunjungi rumah sang om untuk mencari kedua orang tuanya.
Ia berjalan keluar pagar menuju rumah yang hanya terhalang satu rumah, dari rumahnya itu. Hingga kakinya sampai didepan halaman omnya itu. Dahinya mengerenyit heran melihat mobil yang bertengger disana, entah mobil siapa Ia pun tak mengenalinya.
Ia masuk melalui dapur, tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Mengendap-endap untuk menguping pembicaraan orang-orang didalam sana yang sudah terdengar ke arah dapur. Ia berdiri dibalik tembok, melihat siapa saja yang ada disana. Hingga matanya membola melihat kepala yang sudah dipastikan itu adalah seorang wanita, dengan hijab yang Ia pakai.
Keadaan kursi yang membelakanginya, membuat Ia tak begitu jelas melihat siapa yang tengah duduk disana.
"Pokoknya, kali ini kamu harus nurut sama Ayah." Ucap seorang pria yang Ia yakini itu suara kakeknya.
__ADS_1
"Tapi yah. Aku bisa nentuin pilihan aku sendiri." Balas Rei.
"Ayah sudah memberimu waktu, tapi kamu selalu menyia-nyiakan hal itu." Tutur Ayah Dedes lagi. Rei hanya terdiam tak menimpali itu.
"Pokoknya kamu harus terima perjodohan ini." Tegas ayah Dedes.
"Nggak!"
Ucap Kia dengan lantang. Dan sukses membuat mereka menoleh dengan serentak. Gejolak dihati Kia kian membara. Ia keluar dari tempat persembunyiannya, menghampiri mereka yang tengah duduk disofa.
Deg!
Kia melihat siapa wanita yang tadi membelakanginya hingga kerutan didahinya begitu kentara. 'Ini kan? Ya ampun!' Batinnya terkaget, dengan melirik keseluruh wajah yang tengah menatapnya.
"Kenapa de?" Tanya sang timom.
"Hah?! Itu, itu," Kia tampak ragu untuk menjawab.
"Kenapa kamu bilang nggak?" Tanya papih.
"Itu. Maksudnya," Ia masih mencari jawaban yang pas. 'Kenapa gue bilang kek gitu sih? Isshhh' Batinnya merutuki dirinya sendiri.
"Itu maksudnya. Nggak, nggak boleh kalo tanpa sepertujuan aku. Iya gitu." Balasnya dengan senyum yang sangat Ia paksakan.
Rei menarik satu sudut bibirnya melihat ekspresi gadisnya itu. Tapi tidak dengan mata orang-orsng disana yang seolah menyelidik.
Kia mendudukan diri dilengan sofa disebelah sang pacar. "Om! Awas ya, harus lewat ujian aku dulu." Ucapnya dengan tatapan yang mengancam ke arah om rasa pacarnya itu.
Rei tersenyum seraya megusek poni gadisnya. "Iya!" Ucapnya dan tentu saja interaksi keduanya jadi perhatian kedua orang tua mereka.
"Oh iya. Kakek sama nenek kapan datang?" Tanya Kia menyalimi takzim tangan keduanya, untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Belum lama kok. Dede apa kabar?" Tanya bu Titin.
"Baik, nek!" Balas Kia.
"Onty Al disini?" Tanyanya pada wanita berhijab yang sempat Ia curigai akan menjadi calonnya sang pacar dan menyaliminya takzim pula.
"Iya, Onty mau pergi ke mall nih. Sekalian mampir dulu sebentar. Soalnya om Haris ada rapat urgent bentar sama om Rangga." Balas Onty Al, istrinya om Haris. Lalu dijawab anggukan Kia.
__ADS_1
"Terus siapa lagi yang mau dijodohin sama om?" Tanya Kia dengan nada sedikit kesal.
Timom tersenyum melihat ekspresi putrinya itu. "Kenapa? Mau kamu gagalin lagi?" Ledeknya.
Kia berdecak kesal dengan mencebikan bibirnya, hingga semua orang disana tersenyum melihat betapa manjanya putri bang Age ini.
"Dia gadis cantik, baik, penurut, meski sedikit cerewet." Jelas bu Titin dengan sedikit kekehan dibelakangnya dan disambut tawa yang lainnya.
Kia menunduk, menyembunyikan matanya yang tiba-tiba saja memerah dan memanas. Hingga genggaman ditangannya yang berada disela sofa membuat Ia menoleh dan menatap si pelaku. Rei tersenyum dan mengedipkan matanya pelan memberi kode, bahwa semuanya baik-baik saja. Kia tersenyum dan sekuat tenaga mencoba menahan genanagan air dimatanya agar tak terjatuh.
"Kamu cuma nanya calon istrinya Rei? Gak mau nanyain calon suami kamu?" Tanya sang papih.
"Nggak!" Balasnya singkat.
"Yakin? Gak penasaran? Dia ganteng loh, kek oppa oppa korea gitu." Goda sang timom.
"Nggak! Aku gak penasaran. Gak mau tau juga." Tolak Kia dengan nada sinis.
"Emang kek gimana orangnya, nenek jadi penasaran ya?" Goda bu Titin.
"Beuh pokoknya anaknya ganteng, baik, penurut juga, kalem pokoknya suami idaman banget pokoknya." Cerocos timom dengan menggebu.
"Jadi abang bukan suami idaman nih?" Protes sang papih pada istrinya itu dengan nada tak terima.
"Kalo abang bukan idaman lagi. Udah terterter pokoknya." Balas timom dengan nada menggoda suaminya dan bergelayut manja dilengannya.
Sang papih tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya dan tanpa ragu mencium keningnya dihadapan semua orang. Dan hal itu sukses membuat mereka tertawa. Namun tidak dengan Kia, Ia semakin memberenggut kesal dengan kelakuan papihnya.
"Terserah aku gak peduli. Mau dia ganteng kek oppa oppa korea juga terserah." Ucapnya seraya bediri. Hingga atensi beralih padanya.
"Kalian jahat sama dede juga sama om!" Ucapnya yang sudah tak bisa menahan kekesalan dihatinya.
"Kami punya pilihan sendiri. Tapi kenapa kalian tega banget?" Tuturnya yang sudah tak sanggup menahan genangan air matanya, hingga luruh sudah menerobos melewati pipinya.
"Kenapa kalian gak tanya bagaimana hati aku?" Tanyanya. "Hatiku sudah tertata rapih dan berada ditempat yang tepat." Lanjutnya.
****************
Maaf ya, kalo alurnya tak sesuai harapan kalian🙏 Ini alur sudah aku rencanain dari dede Kia orok dan gak mungkin aku ubah🤗 Makasih buat kalean yang selalu stay nemenin mak othor yang receh ini😘😘
__ADS_1