Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 87 Tragedi 40hari


__ADS_3

Tawa dari ke lima wanita itu pecah dan menggema didalam kamar yang luas itu. Untung saja sang bayi tengah tertidur pulas. Hingga Ia tak terganggu sama sekali oleh suara bising dari emak-emak rempong yang tengah berghibah disana.


"Emang gak ada muleus dulu yaa Sis?" Tanya Agel menghentikan tawa mereka.


"Itu tu mules, aku kira mau buang air. Eh ternyata yang Pengen keluar baby." Jawab Siska.


"Tapi ya, kebanyakan tuh mules kontraksi dulu berjam-jam. Bahkan ada yang berhari-hari." Timpal Rila.


"Ya tuh kek lu Feb. Kontraksi ampe dua hari. Gak kebayang gue!" Tutur Ayra bergidik ngeri. Merasakan kontraksi sehari aja, rasanya sungguh warbiyasa.


"Iya. Ampe gue gak sanggup mau nambah lagi." Timpal Feby.


"Padahal Feb gak papa lah kita nambah lagi. Ntar kita bisa barengan!" Bujuk Rila.


"Entah lah gue masih takut sama rasa sakitnya." Jawab Feby.


"Lu juga harus nambah Gel. Katanya pengen punya baby boy?" Tanya Ayra.


"Gue sih pengen. Tapi Juna nya gak mau." Jawab Agel.


"Wah kek nya, Juna bener-bener trauma deh!" Timpal Feby.


"Ya kakak bayangin aja! Ditarik pisangnya gitu, kak! Mening cuma gak mau punya anak doang. Coba kalo ampe gak mau bersilaturahmi lagi. Kan bahaya?" Tutur Siska ikut menimpali membuat mereka kembali tergelak.


"Iya yah! Bisa-bisa sawah lu kekeringan Gel." Ledek Ayra dan hanya ditanggapi senyuman olehnya.


"Lu juga harus siap-siap Sis, buat ngerasain tragedi empat puluh hari." Tutur Rila.


Siska menautkan alisnya. "Apa itu?" Tanyanya heran.


"Lu bakal ngerasain sensasi dahsyat melebihi malam pertama." Timpal Feby.


"Rasanya pulen-pulen ngeunah." Timpal Ayra.


"Dan lu gak boleh kabur!" Timpal Agel pula.


Siska yang baru ngeuh, tersenyum ngeri melihat keempat sahabatnya itu. "Pernah denger sih! Itu tuh Sakit apa enak?" Tanyanya.


"Ya sakit-sakit enak!" Timpal Ayra cekikikan.


"Jangan gitu dong lu! Ntar kek Feby lagi." Protes Agel.


"Kenapa sama kak Feby?" Tanya Siska.


"Dia kita kibulin." Jawab Rila dengan bertos ria dengan Ayra diiringi gelak tawa.


"Gimana? Giman?" Tanya Siska jadi semakin kepo.

__ADS_1


"Mereka ngibulin dia!" Jawab Agel menunjuk Feby yang sudah mencebikan bibirnya. "Bilang kalo empat puluh hari itu sakit! Ampe suaminya mau buka puasa. Dianya malah kabur. Kena skip tuh buka puasanya, ampe bulan-bulan. Untung aja lakiknya bucin, kalo nggak udah belok kerumah tetangga tuh!" Tuturnya dan sukses membuat mereka tergelak.


Feby mencebikan bibirnya menimpali tawa ledekan sahabat-sahabatnya membuat mereka semakin semangat tergelak.


"Dasar lucknut lu semua. Tega bener nakut-nakutin gue. Ampe gue harus nge mut si pisang tiap malam, biar dia bisa tidur." Penuturan Feby semakin membuat mereka tak berhenti tertawa.


Siska sampai tak berhenti mengeluarkan air matanya, seraya memegang perutnya mendengarkan curhatan mereka. Sungguh, kalo saja sahabat somplaknya belum pulang dan ikut gabung disana. Dapat dipastikan sampe subuh mereka gak bakalan berhenti tertawa.


"Terus sebenarnya gimana tragedi empat puluh hari itu?" Tanya Siska setelah mereka menghentikan tawanya.


"Sebenarnya, gak ada yang perlu dikhawatirin dari empat puluh hari itu. Seperti biasa kita melakukannya. Cuma sensasinya aja, agak berbeda." Jawab Agel.


"Bedanya gimana?" Tanyanya lagi.


"Bedanya tu, ya karena empat puluh hari." Timpal Rila tergelak.


"Ihh seius lah kak!" Protes Siska.


"Kek kita, gimana ngerasa malam pertama aja. Deg degan gitu. Kalo malam pertama kan deg degan karena belum tau. Nah kalo ini, deg degan karena takut nonanya sakit." Jelas Ayra.


"Bayangan-bayangan ketika kita lahirin bayi itu yang jadi faktor utamanya, Sis!" Timpal Feby.


Bayangan kemarin benar terlintas dibenak Siska, bahkan nonanya masih terasa ngilu dibawah sana. Ia sampai menelan salivanya kuat-kuat. Hingga otaknya terus berkelana dan sampai pada si junior yang berdiri tegak dan begitu membuat sesak nonanya.


Ia tutup telinga dengan tangannya seraya memejamakan mata, lalu reflek berteriak. "Ohh noo!!!"


"Woy! Lu kenapa?" Tanya Feby menyentuh kedua bahu Siska hingga Ia tersadar.


Dan hal itu juga mampu membangunkan bayi cantiknya. Ayra berlalu mendekati baby box untuk mengambil ponakan cantiknya dan membawanya bergabung dengan mencoba menenangkannya hingga bayi cantik itu diam.


"Lu kenapa?" Tanya Rila.


Siska menarik dan membuang nafasnya berulang kali. Jantungnya berdegup dengan kencang memikirkan hal yang belum seharusnya Ia pikirkan.


"Ini semua gara-gara tragedi empat puluh hari." Gerutunya.


Mereka tergelak mendengar gerutuan Siska. Sepertinya nona si ibu baru ini ikutan baper dengan pembahasan mereka.


"Udah! Jangan dulu dipikirin, baru juga sehari. Masih tiga puluh sembilan hari, Sis!" Ledek Agel membuat Siska mencebikan bibirnya. Coba saja mereka tak membahas tentang itu. Tak mungkin otaknya singgah sampai disana.


"Udah timom jangan cembelut telus. Dede Kia mau mimi nih!" Ucap Ayra dengan suara dibuat kecil hingga membuat mereka tek henti tertawa.


Siska tersenyum dan dengan sigap menerima bayi cantiknya yang diserahkan adik iparnya. Lalu mulai memberinya mimi.


"Itu miminya langsung banyak ya Sis?" Tanya Rila.


"Iya. Dari sebelum lahiran udah banjir aja." Jawab Siska.

__ADS_1


"Itu sih, kek nya efek dari disedot mulu sama Papihnya." Sindir Feby membuat mereka kembali tertawa.


"Tapi bener tuh kak. Abang suka iseng banget sedot-sedot ampe tersedak dia." Penuturan Siska semakin membuat suasana riuh.


Hingga salah satu balita dari mereka membuka pintu kamarnya dan menghampiri mereka.


"Mama!" Sapa seorang balita cantik menaiki ranjangnya.


"Ada apa sayang? Kok kesini?" Tanya Ayra pada putri bungsunya.


"Aku mau acak maen tete Kiy." Tuturnya.


"Dedenya bobo sayang. Kan ada Jinjin. Kenapa gak main sama Jinjin aja?" Tanya Ayra lagi.


"Cin bobo Ma. Abis usin ama Aka Sha. Ape nanis. Cekayang bobo deh!" celotehnya membuat emak-emak disana tersenyum mendengar celotehan balita cantik itu.


"Terus Jinjin nya sama siapa sayang?" Tanya Agel.


"Ama om Cun, Ti!" Timpalnya.


"Kenapa gak main aja sama yang lain. Kan ada kak deril juga?" Tanya Rila.


"Aku nda mau maen ama meweka!" Prtotesnya dengan menekuk wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Ayra.


"Aku tu pucing Ma. Diyebutin muwu." Protenya lagi membuat mereka tertawa.


Sungguh tingkah balita cantik ini begitu mirip dengan sang Mama. Biarpun mereka tak tumbuh bersama dari kecil. Namun sudah dipastikan Ayra kecil cerminan Sensen sekarang.


"Aku na mau maen kak Eyiy. Nda boweh ama Aka na. Kesen aku." Celotehnya membuat mereka geleng-geleng kepala demgan tawa yang tak berhenti dari mereka.


"Emang Aka yang mana, yang ngelarang dede Sen main?" Tanya Feby.


"Aka besal." Jawabnya. Dan sukses membuat mereka terkekeh mendengarnya.


"Emang siapa aka besal?" Tanya Rila.


"Itu kak Aska." Jawab Siska.


"Aska kek nya posesif banget ya sama adek nya?" Tanya Agel.


"Iya. Aka tuh lucu banget, suka banget rebutin Sensen. Apalagi sama Abi." Ucap Siska menjeda terlebih dahulu ucapannya seraya menutup buahnya yang sudah dilepas putrinya.


"Mereka tuh udah kek lakik sama pebinor. Rebutan istri cantik!" Lanjutnya, hingga ibu-ibu itu kembali tergelak mendengar ucapan Siska.


*************

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss!! Like dan komen jangan ketinggalan! Yang Mau kasih hadiah sama vote boleh banget🤗


__ADS_2